- Sebanyak 46,4 persen dari 74.881 pasien dewasa di rumah sakit itu masuk kategori obesitas.
- Diabetes tipe 2 tercatat pada 34 persen pasien berbadan normal dan 56 persen pasien obesitas tingkat ketiga.
- Hubungan berat badan dan penyakit kardiometabolik umumnya lebih kuat pada pasien di bawah 50 tahun.
- Nyeri punggung menjadi penyakit yang paling sering tercatat pada 2023 dan 2024.
- Para penulis meminta hubungan yang mereka laporkan dibaca sebagai gambaran, bukan sebab-akibat.
Daftar Isi
Di rumah sakit Angkatan Bersenjata di selatan Arab Saudi, setiap kunjungan pasien meninggalkan jejak yang sama: nomor rekam medis, jenis kelamin, usia, tinggi badan, berat badan, nama penyakit, dan tanggal datang. Sejak Januari 2017 sampai April 2025, jejak itu menumpuk menjadi 956.547 catatan kunjungan milik 74.881 orang dewasa. Dari tumpukan itu terbaca satu hal. Hampir separuh dari mereka hidup dengan obesitas.
Angka itu dilaporkan Jaber Abdullah Alshahrani dan rekan-rekannya dalam artikel berjudul Rising obesity and shifting disease patterns in Saudi Arabia: a nine-year population-based analysis of chronic disease burden and multimorbidity profiles, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Alshahrani adalah konsultan kedokteran keluarga di Armed Forces Hospitals Southern Region, sistem rumah sakit yang rekam medisnya mereka baca.
Tempat itu melayani personel militer beserta tanggungan mereka. Layanannya mencakup semua spesialisasi, dan ia menjadi rujukan bagi pasien dari Sharurah, Najran, Jizan, serta daerah di sekitarnya. Orang datang dan pergi dari layanan itu sepanjang waktu. Karena itu para penulis menyebutnya populasi layanan kesehatan yang dinamis, bukan satu rombongan tetap yang diikuti dari awal sampai akhir.
Kolom Tinggi dan Berat Badan
Dua kolom di rekam medis itu menjadi pintu masuk: tinggi dan berat badan. Berat dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi dalam meter menghasilkan indeks massa tubuh. Para penulis lalu memakai klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia. Angka 18,5 sampai 24,9 tergolong normal, 25,0 sampai 29,9 berat badan berlebih. Obesitas dibagi tiga tingkat: 30,0 sampai 34,9, lalu 35,0 sampai 39,9, dan 40,0 ke atas.
Hasilnya begini. Hanya 20,9 persen pasien, atau 15.664 orang, yang berat badannya normal. Sebanyak 32,7 persen berat badannya berlebih. Sisanya, 46,4 persen, masuk kategori obesitas. Obesitas tingkat pertama mencakup 26,6 persen pasien atau 19.892 orang. Tingkat kedua 13,3 persen, yakni 9.966 orang. Tingkat ketiga, yang paling berat, 6,5 persen atau 4.886 orang.
Susunan laki-laki dan perempuan ikut berubah dari satu kategori ke kategori berikutnya. Laki-laki lebih banyak di kelompok normal dan berat badan berlebih, masing-masing 61 persen dan 59 persen. Perempuan mengisi 55 persen kelompok obesitas tingkat pertama, 68 persen tingkat kedua, dan 73 persen tingkat ketiga. Usia pun berbeda. Rata-rata pasien berbadan normal berumur 46,2 tahun, sedangkan pasien di kategori obesitas sekitar 53 tahun.
Daftar Penyakit di Rekam Medis
Kolom berikutnya adalah nama penyakit. Di seluruh pasien, diabetes melitus tipe 2 tercatat pada 47 persen orang, hipertensi pada 32 persen, nyeri punggung pada 31 persen, gagal jantung pada 17 persen, dan asma pada 12 persen. Begitu pasien dipilah menurut berat badannya, angka-angka itu bergerak naik seperti anak tangga.
Diabetes tipe 2 tercatat pada 34 persen pasien berbadan normal. Pada obesitas tingkat ketiga angkanya 56 persen, lebih dari separuh. Hipertensi naik dari 23 persen menjadi 43 persen. Gagal jantung naik dari 12 persen menjadi 21 persen. Kenaikan itu sudah terlihat pada kelompok berat badan berlebih, yang mencatat diabetes 45 persen dan hipertensi 31 persen.
Setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan, jaraknya tetap lebar. Dibanding pasien berbadan normal, pasien obesitas tingkat ketiga memiliki peluang 2,47 kali untuk tercatat mengidap diabetes tipe 2 dan 2,60 kali untuk hipertensi. Untuk gagal jantung peluangnya 2,02 kali. Pada pasien berat badan berlebih, angkanya 1,59 kali untuk diabetes dan 1,53 kali untuk hipertensi.
Penyakit itu juga jarang datang sendirian. Para penulis menghitung jumlah penyakit kronis yang tercatat pada tiap orang. Pasien berat badan berlebih menanggung 6 persen lebih banyak penyakit daripada pasien berbadan normal. Pada obesitas tingkat pertama selisihnya 11 persen, tingkat kedua 17 persen, tingkat ketiga 21 persen. Tiap tambahan satu tahun usia menambah 1 persen. Perempuan menanggung sedikit lebih ringan daripada laki-laki.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Nyeri Punggung, Stroke, dan Usia Muda
Tidak semua baris di daftar itu naik. Nyeri punggung tercatat pada 32 persen pasien berbadan normal dan 33 persen pasien berat badan berlebih, tetapi hanya 26 persen pada obesitas tingkat ketiga. Peluangnya pada kelompok paling berat itu 0,77 kali kelompok normal. Padahal, tulis para penulis, pustaka yang sudah mapan mendukung hubungan positif yang kuat antara obesitas dan nyeri punggung.
Mereka menawarkan dua kemungkinan. Pasien di kelas obesitas yang lebih tinggi umumnya lebih tua dan mungkin punya urusan kesehatan lain yang lebih mendesak. Kemungkinan kedua, keluhan otot dan rangka pada orang dengan obesitas berat kurang dikenali, atau dianggap akibat berat badannya tanpa diagnosis resmi.
Stroke bergerak ke arah serupa. Angkanya 3,0 persen pada pasien berbadan normal dan 1,7 persen pada obesitas tingkat ketiga. Para penulis meminta temuan ini dibaca dengan hati-hati. Menurut mereka, angka itu bisa mencerminkan bias penyintas, perbedaan pemakaian layanan kesehatan, atau salah klasifikasi, bukan efek perlindungan dari obesitas.
Beberapa baris lain juga tidak lurus. Infertilitas dan gangguan cemas lebih sering tercatat pada pasien berbadan normal atau berat badan berlebih, lalu menurun seiring naiknya indeks massa tubuh. Asma relatif stabil, tetapi mencapai 15 persen pada obesitas tingkat ketiga. Depresi jarang tercatat, hanya 79 orang. Peluangnya lebih tinggi hanya pada obesitas tingkat ketiga, dengan taksiran yang menurut para penulis tidak presisi karena kasusnya sedikit.
Kolom usia memberi petunjuk lain. Ketika pasien dipisah menjadi dua, di bawah 50 tahun dan 50 tahun ke atas, hubungan antara berat badan dan penyakit kardiometabolik umumnya lebih kuat pada kelompok yang lebih muda. Pada kelompok yang lebih tua hubungan itu melemah, meski tetap bermakna secara statistik. Contoh yang disebut para penulis adalah diabetes tipe 2 dan hipertensi.
Bagi para penulis, pola itu menunjukkan risiko kardiometabolik terkait obesitas yang muncul lebih dini dan lebih menonjol pada usia muda. Mereka mengaitkannya dengan bukti yang kian banyak bahwa kelebihan lemak tubuh pada masa dewasa muda mempercepat gangguan metabolik. Paparan terhadap faktor risiko pun bisa berlangsung lebih lama sepanjang hidup.
Laki-laki dan perempuan menunjukkan arah yang sama, tetapi kekuatannya berbeda untuk penyakit tertentu. Pada laki-laki, obesitas lebih kuat terkait dengan hipertensi dan asam urat. Pada perempuan, kaitan dengan diabetes tipe 2 lebih menonjol di sebagian besar kategori berat badan. Perbedaan menurut usia dan jenis kelamin itu bermakna untuk diabetes tipe 2, hipertensi, dan gagal jantung.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Tiga Kelompok Pasien
Dari daftar penyakit yang sama, para penulis menemukan tiga kelompok pasien dengan pola berbeda. Kelompok pertama berisi 24.704 orang, 33 persen dari seluruh pasien. Inilah kelompok tertua dan paling terbebani penyakit. Rata-rata usianya 62 tahun dan rata-rata indeks massa tubuhnya paling tinggi, 31,3. Kelompok kedua berisi 19.086 orang atau 25,5 persen, dengan rata-rata usia 55 tahun dan indeks massa tubuh 30,6.
Kelompok kedua itu tidak seberat kelompok pertama. Para penulis menduga isinya orang paruh baya dengan penyakit kronis yang baru muncul atau sudah menetap, terutama diabetes tipe 2 dan hipertensi. Kelompok ketiga adalah yang terbesar: 31.091 orang atau 41,5 persen. Rata-rata usianya 40 tahun dan indeks massa tubuhnya 29,0, paling rendah di antara ketiganya.
Kelompok termuda itu tampak memikul beban penyakit paling ringan. Namun para penulis tidak menganggapnya aman. Usia dan indeks massa tubuh mereka, tulis para penulis, mengisyaratkan kemungkinan risiko penyakit di kemudian hari. Kelompok ini mungkin mewakili tahap awal, ketika penyakit belum tampak.
Tiga pola itu menunjukkan betapa beragamnya beban penyakit terkait obesitas. Orang dengan indeks massa tubuh yang mirip bisa memiliki keadaan kesehatan yang sangat berbeda. Bagi para penulis, keragaman itu mendukung pemilahan pasien menurut risikonya dalam perencanaan kesehatan masyarakat dan layanan klinis, bukan satu strategi yang seragam untuk semua.
Tanggal Kunjungan Tahun demi Tahun
Kolom tanggal kunjungan memungkinkan rekam medis itu dibaca tahun demi tahun, dari 2017 sampai 2024. Bagian pasien yang masuk kategori berat badan lebih tinggi secara keseluruhan bertambah, meski naik turun. Semua tingkat obesitas dan berat badan berlebih memuncak pada 2018, turun pada 2019 sampai 2020, lalu naik lagi perlahan. Pada 2024 angkanya lebih tinggi daripada tahun-tahun awal.
Daftar penyakit ikut bergeser. Diabetes tipe 2 dan hipertensi paling banyak tercatat pada awal periode, lalu menurun perlahan setelah 2019. Nyeri punggung terus naik dan menjadi penyakit yang paling sering tercatat pada 2023 dan 2024. Gagal jantung menurun perlahan, sedangkan asma naik sedikit pada tahun-tahun terakhir.
Lonjakan catatan penyakit pada 2018 tidak dibaca para penulis sebagai lonjakan penyakit yang sesungguhnya. Kemungkinan besar, tulis mereka, itu mencerminkan perubahan pemakaian layanan atau cara pencatatan rekam medis elektronik. Mereka lalu membuang data 2017 dan 2018 dan menghitung ulang. Pola 2019 sampai 2024 tetap sama, dengan kenaikan di semua tingkat obesitas.
Naiknya nyeri punggung pun mereka tafsirkan dengan hati-hati. Kecenderungan itu, menurut para penulis, mungkin mencerminkan makin banyaknya orang yang mencari pertolongan untuk gangguan otot dan rangka, atau kesadaran masyarakat yang meningkat. Pergeseran semacam ini mereka sebut sebagai alasan pentingnya pemantauan yang berkelanjutan.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Batas Satu Rumah Sakit Militer
Semua angka tadi berasal dari satu sistem rumah sakit rujukan yang pasiennya sebagian besar berhubungan dengan militer. Para penulis mengakui hasilnya mungkin tidak sepenuhnya berlaku bagi penduduk Arab Saudi yang lebih luas. Angka-angka itu juga bergantung pada ketepatan dan kelengkapan diagnosis yang dicatat para klinisi, yang cara mencatatnya bisa berbeda antarorang dan antarwaktu.
Ada pula kolom yang tidak tersedia. Rekam medis itu tidak memuat aktivitas fisik, pola makan, kebiasaan merokok, pemakaian obat, maupun keadaan sosial ekonomi pasien. Urutan waktu antara obesitas dan penyakit penyertanya juga tidak dapat dipastikan. Karena itu para penulis meminta hubungan yang mereka laporkan dibaca sebagai gambaran, bukan sebab-akibat.
Kalimat simpulan mereka memuat batas itu sekaligus kegunaannya. “Meskipun kesimpulan sebab-akibat tidak dapat ditarik dari studi observasional ini, temuan ini memberikan bukti penting bagi surveilans yang berkelanjutan dan menyoroti kelompok-kelompok prioritas untuk pencegahan dan perhatian klinis,” tulis Jaber Abdullah Alshahrani dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari sana mereka menarik tiga implikasi. Kenaikan obesitas di semua tingkat menuntut prakarsa kesehatan masyarakat untuk pencegahan dan penanganan dini. Pemeriksaan indeks massa tubuh secara rutin perlu dipadukan dengan alat prediksi risiko di ruang praktik. Pola tiga kelompok pasien tadi, menurut mereka, menawarkan kerangka untuk memilah pasien dan merancang jalur perawatan yang lebih pribadi.
Di rekam medis rumah sakit di selatan Arab Saudi itu, kolom berat badan dan kolom nama penyakit kini terbaca berdampingan. Para penulis menutup naskahnya dengan menyebut perlunya strategi kesehatan masyarakat yang peka terhadap usia dan jenis kelamin, upaya pencegahan dini, serta penanganan klinis berbasis risiko, di Arab Saudi dan di tempat lain yang keadaannya sebanding.















