- Sepanjang 2024, klinik Salud Digna memeriksa mata 3.695.039 orang di seluruh 32 negara bagian Meksiko.
- Sebanyak 980.718 orang atau 26,5 persen punya kelainan refraksi yang bisa dikoreksi kacamata tetapi belum ditangani.
- Rabun dekat yang belum dikoreksi paling banyak, ditemukan pada 376.701 orang atau 10,2 persen pasien.
- Sebanyak 32.962 orang atau 0,9 persen pasien sudah terganggu penglihatannya, tertinggi pada usia 80 tahun ke atas.
- Para penulis menyatakan hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasikan ke seluruh penduduk Meksiko.
Daftar Isi
Sepanjang 2024, klinik Salud Digna memeriksa mata 3.695.039 orang di Meksiko. Pemeriksaan berlangsung dari 1 Januari sampai 31 Desember di seluruh 32 negara bagian. Dari catatan itu, 980.718 orang punya kelainan refraksi yang bisa dikoreksi kacamata tetapi belum ditangani. Angkanya 26,5 persen, lebih dari seperempat pasien.
Catatan itu disusun Abraham García-Gil, Beatriz Itzel Hernández-Jurado, Marco Antonio Luna-Ruiz-Esparza, Perla Lorena Ayón-Sicaeros, Eduardo Espinoza-Angulo, Héctor Machado-Jiménez, Humberto Gómez-Campaña, Linda Nasser-Nasser, Abraham Campos-Romero, dan Jonathan Alcántar-Fernández. Artikel mereka berjudul Clinic-based prevalence of uncorrected refractive errors and associated visual impairment: a nationwide cross-sectional study of 3.6 million outpatients in Mexico, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1022 tahun 2026.
Para penulis bekerja di departemen inovasi dan riset, departemen optometri, serta direksi medis Salud Digna di Culiacan, Sinaloa. Linda Nasser-Nasser berasal dari Visión Cirugía Ambulatoria di Monterrey, Nuevo Leon. Penelitian ini didanai Salud Digna, tanpa dana dari luar.
Sebelum 2024, Beban yang Sudah Tercatat
Pada 2007, kerugian produktivitas dunia akibat gangguan penglihatan dari kelainan refraksi yang tidak atau kurang dikoreksi ditaksir 121,4 miliar dolar internasional. Taksiran yang dikutip para penulis itu belum menghitung orang berusia di atas 50 tahun.
Sejak 2015, Salud Digna menjadi penyedia kacamata terdepan di Meksiko. Organisasi nirlaba ini mengoperasikan lebih dari 200 fasilitas rawat jalan di seluruh negeri. Dari catatan pemeriksaan mata di jaringan itulah data penelitian ini berasal.
Pada 2020, sekitar 295 juta orang di dunia mengalami gangguan penglihatan sedang sampai berat. Proyeksinya naik menjadi 474 juta pada 2030. Kelainan refraksi yang belum dikoreksi disebut sebagai penyebab utama beban itu, dan lebih banyak mengenai orang lanjut usia di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Tahun yang sama, Sensus Penduduk dan Perumahan Meksiko mencatat 2.691.338 orang melaporkan gangguan penglihatan. Taksiran lain menyebut 11,01 juta orang Meksiko, atau 8,7 persen penduduk, buta atau terganggu penglihatannya. Kelainan refraksi menyumbang 2,61 juta kasus di antaranya.
Kacamata sebenarnya tersedia sebagai jalan keluar yang hemat biaya. Namun di seluruh dunia hanya 36 persen orang dengan kelainan refraksi yang punya akses ke kacamata yang sesuai. Di Meksiko sendiri, menurut para penulis, penelitian berskala nasional yang mencakup semua kelompok usia masih langka.
Yang ada sebelumnya adalah penilaian lokal. Pada pelajar usia 12 sampai 15 tahun di Meksiko barat laut, rabun jauh yang belum dikoreksi tercatat 24,7 persen, astigmatisme 19,8 persen, dan rabun dekat 2,0 persen. Pada pelajar usia 15 sampai 18 tahun, angkanya 36,1 persen, 29,2 persen, dan 1,5 persen.
Januari sampai Desember 2024, Hampir 3,7 Juta Mata Diperiksa
Pasien yang diperiksa sepanjang 2024 berusia 5 sampai 99 tahun. Sebanyak 1.529.784 orang, atau 41,4 persen, mengaku tidak memakai kacamata dan tidak punya catatan pemeriksaan mata sebelumnya. Dari kelompok inilah kasus kelainan refraksi yang belum dikoreksi dikenali.
Rata-rata usia kelompok itu 39,3 tahun. Perempuan berjumlah 921.062 orang atau 60,2 persen, laki-laki 608.722 orang atau 39,8 persen. Sebanyak 1.520.575 orang, setara 99,4 persen, menyatakan belum pernah menjalani evaluasi oleh dokter mata.
Sebagian datang dengan riwayat penyakit lain. Sebanyak 107.911 orang atau 7,0 persen menyebut pernah didiagnosis diabetes. Sebanyak 122.401 orang atau 8,0 persen melaporkan riwayat tekanan darah tinggi. Para penulis menyebut keduanya faktor risiko utama gangguan pada mata.
Keluhan terbanyak adalah pandangan jauh yang buram, dilaporkan 909.000 orang atau 59,4 persen. Pandangan dekat yang buram dilaporkan 750.118 orang atau 49 persen. Sementara itu, 324.364 orang atau 21,2 persen menyatakan tidak merasakan gejala apa pun.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Kelainan refraksi, menurut naskah itu, muncul ketika panjang sumbu bola mata tidak sepadan dengan kekuatan optiknya, sehingga bayangan di retina menjadi buram. Jenis utamanya tiga: hiperopia atau rabun dekat, miopia atau rabun jauh, dan astigmatisme yang timbul dari ketidaksimetrisan optik. Astigmatisme kerap hadir bersama salah satu dari dua jenis lainnya.
Hasil hitungan setahun itu 980.718 kasus. Negara bagian dengan angka tertinggi adalah Baja California Sur, yakni 43,8 persen. Tlaxcala menyusul dengan 38,1 persen. Angka nasional di jaringan klinik itu 26,5 persen.
Hasil Pertama, Rabun Dekat Paling Banyak
Rabun dekat yang belum dikoreksi ditemukan pada 376.701 orang, atau 10,2 persen pasien. Angka tertingginya di Tabasco, 20 persen. Rabun jauh yang disertai astigmatisme menyusul dengan 258.583 kasus atau 7,0 persen, tertinggi di Tlaxcala dengan 13,2 persen.
Rabun jauh tanpa astigmatisme tercatat 235.285 kasus, atau 6,4 persen. Zacatecas mencatat angka tertinggi, 10,2 persen. Rabun dekat yang disertai astigmatisme ditemukan pada 61.171 orang atau 1,7 persen, dengan puncak di Baja California Sur sebesar 4,5 persen.
Astigmatisme saja paling sedikit. Jumlahnya 48.978 kasus, atau 1,3 persen pasien. Tlaxcala kembali berada di urutan teratas dengan 3,9 persen, disusul Baja California Sur dengan 2,2 persen.
Para penulis merangkum urutan itu dalam simpulan mereka. “Hiperopia muncul sebagai kelainan refraksi belum terkoreksi yang paling banyak ditemukan di klinik, sedangkan miopia dan miopia-astigmatisme sangat umum pada anak-anak dan dewasa muda,” tulis Abraham García-Gil dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari Usia di Bawah 10 Tahun sampai 80 ke Atas
Urutan menurut usia dimulai dari anak di bawah 10 tahun. Pada kelompok ini rabun jauh dengan astigmatisme mencapai angka tertingginya, 12,8 persen pada anak perempuan dan 14,1 persen pada anak laki-laki. Astigmatisme saja juga paling tinggi di usia ini, 4,4 persen pada kedua jenis kelamin.
Anak perempuan di bawah 10 tahun mencatat angka kelainan refraksi belum terkoreksi tertinggi di antara semua kelompok perempuan, yaitu 32,3 persen atau 17.132 anak. Para penulis mengingatkan bahwa miopia dan astigmatisme pada anak kecil dikenal sebagai faktor risiko ambliopia, gangguan penglihatan yang akibatnya berlangsung seumur hidup.
Pada usia 10 sampai 19 tahun, rabun jauh memuncak. Angkanya 11,97 persen pada perempuan dan 9,2 persen pada laki-laki. Temuan ini, tulis para penulis, sejalan dengan laporan terdahulu tentang anak sekolah di Meksiko dan menegaskan perlunya program pemeriksaan mata berbasis sekolah.
Usia 20 sampai 29 tahun menjadi titik terendah bagi beberapa jenis. Astigmatisme turun ke 1,2 persen pada laki-laki dan 0,75 persen pada perempuan. Rabun dekat berada di bawah 1 persen. Rabun dekat dengan astigmatisme tercatat 0,5 persen pada laki-laki dan 0,28 persen pada perempuan.
Angka keseluruhan paling rendah ada pada usia 30 sampai 39 tahun, yakni 23,5 persen pada laki-laki dan 22,1 persen pada perempuan. Meski begitu, rabun jauh dan rabun jauh dengan astigmatisme disebut tetap tinggi sampai usia 40 tahun. Menurut para penulis, kelompok ini adalah bagian penduduk yang paling aktif secara ekonomi.
Memasuki usia 40 sampai 49 tahun, laki-laki mencapai puncaknya, 34,1 persen atau 71.002 orang. Rabun dekat pada perempuan juga memuncak di rentang ini, 19,3 persen. Pada laki-laki, puncak rabun dekat datang satu dasawarsa kemudian, di usia 50 sampai 59 tahun, sebesar 19,8 persen.
Pada usia 60 sampai 69 tahun, rabun jauh menyentuh angka terendah, 1,53 persen pada perempuan dan 2,25 persen pada laki-laki. Rabun jauh dengan astigmatisme juga paling rendah di rentang ini. Angkanya 2,21 persen pada perempuan dan 3,2 persen pada laki-laki.
Pada usia 80 tahun ke atas, rabun dekat dengan astigmatisme mencapai puncak, 5,39 persen pada perempuan dan 5,63 persen pada laki-laki. Para penulis mencatat rabun dekat paling banyak ditemukan pada orang lanjut usia. Bagi kelompok ini, gangguan penglihatan berkaitan erat dengan turunnya kualitas hidup, naiknya risiko penurunan kognitif, serta kerentanan jatuh dan patah tulang.
Menurut jenis kelamin, laki-laki mencatat angka lebih tinggi di semua kelompok usia kecuali di bawah 10 tahun. Para penulis menambahkan satu catatan. Kekuatan hubungan antara jenis kelamin dan kelainan itu mereka nilai lemah.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Tahap Berikutnya, Penglihatan yang Sudah Terganggu
Dengan kriteria Organisasi Kesehatan Dunia, para penulis menemukan 32.962 orang yang penglihatannya sudah terganggu terkait kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Angka itu setara 0,9 persen pasien. Rata-rata usia mereka 49,3 tahun, dan 60,1 persen adalah perempuan.
Sebanyak 98,4 persen dari mereka belum pernah menjalani evaluasi oleh dokter mata. Diabetes dilaporkan 15,7 persen, hipertensi juga 15,7 persen. Pandangan jauh yang buram dikeluhkan 70,2 persen dan pandangan dekat yang buram 56,7 persen, sedangkan 13,6 persen tidak melaporkan gejala.
Menurut tingkatnya, gangguan ringan tercatat 22.858 kasus atau 0,62 persen. Gangguan sedang 9.683 kasus atau 0,26 persen. Gangguan berat 421 kasus atau 0,01 persen. Hidalgo mencatat angka tertinggi secara keseluruhan, 1,8 persen, disusul Coahuila dengan 1,6 persen.
Hidalgo juga teratas untuk gangguan ringan, 1,27 persen. Coahuila memimpin pada gangguan sedang dengan 0,66 persen dan gangguan berat dengan 0,09 persen. Para penulis menulis bahwa warga di kedua negara bagian itu mungkin belum menerima perawatan mata yang memadai, dan penyebabnya perlu diteliti lebih lanjut.
Urutan usia kembali terlihat. Angka terendah ada pada usia 40 sampai 49 tahun, 0,42 persen pada perempuan dan 0,4 persen pada laki-laki. Puncaknya pada usia 80 tahun ke atas, 6,1 persen pada perempuan dan 6,2 persen pada laki-laki. Kelompok tertua ini juga tertinggi di semua tingkat keparahan.
Jenis kelainannya ikut dicatat. Rabun jauh dengan astigmatisme menyumbang 43,7 persen kasus gangguan ringan dan 38,5 persen kasus gangguan sedang. Pada gangguan berat, rabun dekat menjadi penyebab terbanyak dengan 35,4 persen.
Para penulis lalu menyandingkannya dengan angka kawasan. Di Amerika Latin, sekitar 7,2 juta orang hidup dengan gangguan penglihatan terkait kelainan refraksi yang belum dikoreksi, setara 1,4 persen. Angka itu mereka sebut sebanding dengan 0,9 persen yang ditemukan di jaringan klinik Salud Digna.
Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Sesudah Hitungan Selesai, Batas dan Usulan
Perbedaan antarnegara bagian belum dijelaskan sampai tuntas. Para penulis menyebut kemungkinan peran kondisi sosial-ekonomi, prasarana kesehatan, urbanisasi, dan sikap budaya terhadap perawatan mata. Baja California Sur dan Tlaxcala, tulis mereka, mungkin punya akses layanan optometri yang terbatas atau literasi kesehatan yang lebih rendah.
Batas penelitian dinyatakan terbuka. Pasien yang tercatat adalah orang yang datang sendiri mencari layanan diagnostik di Salud Digna. Karena itu, tulis García-Gil dan rekan-rekannya, hasilnya “tidak dapat langsung digeneralisasikan ke seluruh penduduk Meksiko.” Naskah aslinya berbahasa Inggris.
Ada tiga batas lain. Data ketajaman penglihatan tanpa koreksi tidak tersedia, sehingga kemungkinan salah klasifikasi tidak bisa disingkirkan sepenuhnya. Data presbiopia, kelainan refraksi yang penting pada orang lanjut usia, tidak ada. Variabel sosial-ekonomi juga tidak tercatat, sehingga kesenjangan sosial tidak bisa dianalisis.
Simpulan mereka menyinggung keadaan data di negeri itu. “Di Meksiko, data tentang kelainan refraksi, terutama yang belum dikoreksi, masih langka, dan informasi kesehatan yang dibutuhkan untuk perencanaan yang efektif belum memadai,” tulis García-Gil dan rekan-rekannya.
Usulan mereka menyusul sesudah itu. Kerja sama sektor publik dan swasta perlu diperkuat agar warga dan komunitas lebih berdaya soal kebutuhan perawatan mata, dan agar akses ke layanan kesehatan mata membaik. Program pemeriksaan di sekolah, beserta pelatihan bagi guru dan petugas kesehatan sekolah, juga mereka sebut mendesak.
Catatan terakhir tetap berasal dari 2024. Dari 3.695.039 orang yang diperiksa di klinik Salud Digna tahun itu, 980.718 punya kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Sebanyak 32.962 orang sudah terganggu penglihatannya.















