- Sebanyak 54,7 persen orang dewasa Kirgistan belum pernah mendengar hepatitis B maupun hepatitis C.
- Hepatitis B dikenal 43,7 persen orang dewasa, sedangkan hepatitis C hanya dikenal 29,2 persen.
- Salah paham bahwa kedua virus menular lewat jabat tangan dianut 33 persen dan lewat menyentuh benda 35 persen.
- Hanya 11,6 persen orang dewasa yang melaporkan pernah divaksin hepatitis B.
- Internet, dokter, dan jejaring sosial menjadi tiga sumber informasi kesehatan yang paling dipercaya.
Daftar Isi
- Sebelum 2024: potongan angka dari Bishkek dan donor darah
- Tahun 2024: Aung dan rekan mengetuk pintu rumah
- Lebih dari 20 tahun vaksin bayi diduga membuat hepatitis B lebih dikenal
- Yang dipahami benar dan yang keliru tentang penularan
- Temuan Aung yang berbeda dari studi terdahulu: pengurus rumah tangga
- Sejak tes diperluas: seperempat lebih sudah diperiksa
- Batas survei 2024 dan tempatnya dalam rantai riset
Pada 2022, sekitar 254 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B dan 50 juta orang dengan hepatitis C. Kedua penyakit itu bersama-sama mencatat 2,2 juta kasus baru dan 1,3 juta kematian dalam setahun, padahal vaksin hepatitis B yang ampuh dan obat penyembuh hepatitis C sudah tersedia. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 4,5 juta kematian dapat dicegah dalam sembilan tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah lewat vaksinasi, tes, pengobatan, dan pendidikan.
Angka-angka itu menjadi titik berangkat Su N. Aung, Aibek Bekbolotov, Nazira Usmanova, dan sebelas peneliti lain dalam artikel Hepatitis B and hepatitis C awareness, knowledge, and practices among adults in the Kyrgyz Republic—results from a nationally representative survey, 2024, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Mereka antara lain berasal dari Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat serta Republican Center for Bloodborne Viral Hepatitis and HIV Control di Bishkek, dan menyoroti unsur keempat dalam daftar tadi, yakni seberapa banyak orang dewasa Kirgistan mengenal kedua penyakit itu.
Jawabannya datang dari 5.243 orang dewasa yang ditemui di rumah mereka pada pertengahan 2024, di tujuh wilayah dan dua kota besar negeri itu. Sebanyak 43,7 persen pernah mendengar hepatitis B, sedangkan yang pernah mendengar hepatitis C hanya 29,2 persen. Mereka yang mengenal keduanya 27,6 persen. Sisanya yang paling besar: 54,7 persen, lebih dari separuh, belum pernah mendengar satu pun dari dua virus itu.
Sebelum 2024: potongan angka dari Bishkek dan donor darah
Sebelum survei itu, pengetahuan tentang hepatitis di Kirgistan tersusun dari kepingan yang terpisah. Sirosis hati, tulis para penulis, termasuk penyebab kematian utama di negara tersebut, tetapi data berbasis populasi tingkat nasional mengenai seberapa banyak orang dewasa mengidap hepatitis B dan hepatitis C belum tersedia. Yang ada hanyalah taksiran dari berbagai arah, masing-masing dengan cakupan yang terbatas.
Sebuah survei darah berskala kecil di ibu kota Bishkek pada 2018 mendapati hepatitis B kronis pada 2,2 persen dan hepatitis C pada 3,8 persen orang yang diperiksa, sejalan dengan taksiran sebelumnya dari pemeriksaan donor darah. Sebuah tinjauan tahun 2015 menaksir angka nasional hepatitis B kronis jauh lebih tinggi, yakni 10,3 persen. Adapun perkiraan berbasis model menyebut tiga persen orang dewasa sedang terinfeksi virus hepatitis C.
Di antara angka-angka itu ada satu hal yang belum pernah diukur sama sekali. Riset yang dirujuk naskah ini mengaitkan pengetahuan hepatitis yang rendah dengan angka tes yang rendah. Akan tetapi, pengetahuan dan praktik orang Kirgistan sendiri terkait kedua penyakit itu belum pernah dinilai. Survei 2024 menjadi yang pertama mengisinya.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Tahun 2024: Aung dan rekan mengetuk pintu rumah
Dari 6.090 orang dewasa yang dituju, 5.261 bersedia diwawancarai dan 5.243 di antaranya masuk hitungan. Mereka berusia 18 sampai 94 tahun, dengan rata-rata 45 tahun. Wawancara berlangsung tatap muka dalam bahasa Rusia atau Kirgiz. Sebanyak 38 persen menyebut dirinya pengurus rumah tangga, sedangkan 33,6 persen bekerja di luar rumah.
Hasil utamanya dirangkum penulis korespondensi naskah itu, Su Aung dari Epidemic Intelligence Service dan Division of Viral Hepatitis CDC di Atlanta, bersama para rekannya dalam satu kalimat. “Dalam studi pertama yang menilai kesadaran, pengetahuan, dan praktik terkait hepatitis B dan hepatitis C pada orang dewasa di Republik Kirgiz ini, kesadaran keseluruhan atas hepatitis B maupun hepatitis C rendah,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Rendahnya tidak merata. Di antara perempuan, 53,1 persen pernah mendengar hepatitis B dan 36,9 persen pernah mendengar hepatitis C. Di antara laki-laki angkanya 33,6 persen dan 21 persen. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang perempuan mengenal hepatitis B tercatat 1,94 kali peluang laki-laki, dan untuk hepatitis C 1,88 kali.
Bangku sekolah memberi jarak yang serupa. Di kalangan lulusan pendidikan tinggi, 57,1 persen pernah mendengar hepatitis B dan 41,9 persen hepatitis C. Pada lulusan sekolah menengah, kelompok terbesar dalam survei, angkanya 36,9 persen dan 22,7 persen. Mereka yang tidak menamatkan sekolah menengah berada paling bawah: 19,2 persen dan 11 persen.
Tempat tinggal ikut menentukan. Di kota Bishkek, 57,5 persen orang dewasa pernah mendengar hepatitis B dan 45,8 persen hepatitis C. Di wilayah Issyk-Kul hanya 18,5 persen dan 8,6 persen. Kota Osh mencatat angka terendah untuk hepatitis C, yakni 7,1 persen. Untuk pengetahuan, para penulis menduga perbedaan antarwilayah bersumber dari banyak hal sekaligus, termasuk beda kota dan desa serta akses layanan kesehatan.
Lebih dari 20 tahun vaksin bayi diduga membuat hepatitis B lebih dikenal
Mengapa hepatitis B lebih sering terdengar daripada hepatitis C? Para penulis menawarkan dua kemungkinan. Pertama, hepatitis B secara keseluruhan lebih banyak ditemukan di Kirgistan daripada hepatitis C. Kedua, vaksinasi hepatitis B untuk bayi beserta kampanye yang menyertainya, termasuk penyuluhan kepada orang tua, sudah berjalan lebih dari 20 tahun di negeri itu dan agaknya ikut memperkenalkan nama virus tersebut kepada khalayak.
Riwayat itu pula yang dipakai untuk membaca angka vaksinasi. Hanya 11,6 persen orang dewasa yang melaporkan pernah divaksin hepatitis B. Vaksinasi untuk semua bayi baru lahir diperkenalkan pada 1998 sampai 2001, sehingga sebagian besar peserta lahir sebelum masa itu, dan mereka yang divaksin semasa bayi mungkin tidak mengetahuinya. Vaksin untuk orang dewasa lama sangat terbatas, sampai Desember 2022 ketika vaksinasi gratis bagi usia 23 sampai 65 tahun tersedia di klinik layanan primer.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Yang dipahami benar dan yang keliru tentang penularan
Pernah mendengar belum berarti memahami. Pertanyaan pengetahuan hanya diajukan kepada mereka yang mengenal penyakitnya: 2.371 orang untuk hepatitis B dan 1.596 orang untuk hepatitis C. Di kelompok ini jalur penularan utama dikenal baik. Sekitar 94 persen tahu kedua virus menular lewat darah, dan sebanyak itu pula tahu virus berpindah lewat jarum dan alat suntik yang dipakai bergantian.
Kekeliruan muncul pada hal-hal yang sebenarnya tidak menularkan. Untuk hepatitis B, hanya 62,9 persen yang menjawab benar bahwa makanan bukan jalur penularan, 67,6 persen untuk berjabat tangan, dan 65,1 persen untuk menyentuh benda di tempat umum. Naskah mencatat salah paham bahwa kedua virus menular lewat jabat tangan dianut 33 persen dan lewat menyentuh benda 35 persen. Hanya sekitar seperempat yang tahu bahwa mencuci tangan bukan cara mencegah hepatitis B atau C.
Sedikit sekali yang menjawab benar seluruhnya. Semua pertanyaan penularan hepatitis B dijawab tepat oleh 24,6 persen, dan semua pertanyaan pencegahannya oleh 19,4 persen. Untuk hepatitis C angkanya 28,2 persen dan 4,2 persen. Salah paham semacam itu, menurut para penulis, penting diluruskan karena dapat menambah stigma dan diskriminasi terhadap pengidap.
Soal vaksin dan kesembuhan memperlihatkan pola yang sama. Sebanyak 84,6 persen tahu hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin, tetapi hanya 17,6 persen yang menjawab benar bahwa vaksin bukan cara mencegah hepatitis C. Sebanyak 67,9 persen tahu hepatitis C dapat disembuhkan. Untuk hepatitis B, hanya 23,3 persen yang menjawab benar bahwa penyakit itu tidak dapat disembuhkan. Sekitar 63 persen tahu seseorang bisa terinfeksi tanpa menunjukkan gejala.
Temuan Aung yang berbeda dari studi terdahulu: pengurus rumah tangga
Siapa yang paling tertinggal? Di antara orang yang sudah mengenal penyakitnya, laki-laki lebih besar peluangnya berpengetahuan rendah daripada perempuan, dan lulusan sekolah menengah lebih besar daripada lulusan pendidikan di atasnya. Studi-studi terdahulu yang dirujuk naskah ini juga secara konsisten mengaitkan pendidikan lebih tinggi dengan pengetahuan hepatitis B yang lebih baik, sementara temuan tentang beda laki-laki dan perempuan kurang seragam.
Pada dua hal lain naskah ini mencatat perbedaan dengan riset sebelumnya. Pengurus rumah tangga berpeluang 1,58 kali lebih besar berpengetahuan rendah soal hepatitis B dibanding orang yang bekerja, dan 1,43 kali untuk hepatitis C. Studi lain tidak menemukan kaitan bermakna antara status kerja dan pengetahuan hepatitis. Para penulis menduga kaitan di Kirgistan dipengaruhi faktor lain, termasuk pendidikan dan norma budaya.
Usia paruh baya juga menonjol. Orang berumur 50 sampai 59 tahun berpeluang 1,96 kali lebih besar berpengetahuan rendah tentang hepatitis B dibanding kelompok 18 sampai 29 tahun, sedangkan untuk hepatitis C peluang serupa tampak pada umur 40 sampai 49 tahun. Riset terdahulu soal usia, catat para penulis, hasilnya beragam. Orang yang lebih muda mungkin punya akses lebih luas ke sumber informasi kesehatan, terutama internet dan media sosial.
Sejak tes diperluas: seperempat lebih sudah diperiksa
Sebanyak 28,6 persen orang dewasa melaporkan pernah dites hepatitis B dan 24,5 persen pernah dites hepatitis C. Para penulis membacanya sebagai cerminan perluasan tes di Kirgistan dalam beberapa tahun terakhir, sambil menegaskan bahwa cakupan yang jauh lebih tinggi masih diperlukan. Tes dan pengetahuan berjalan beriringan: di antara yang pernah dites hepatitis B, 68,8 persen mengenal penyakit itu, berbanding 33,8 persen pada yang belum.
Kaitan paling kuat ada pada tes hepatitis C. Mereka yang belum pernah menjalaninya berpeluang 2,54 kali lebih besar berpengetahuan rendah soal hepatitis B dan 2,43 kali soal hepatitis C. Namun arah hubungannya tidak dapat ditentukan. Para penulis menyatakan tidak bisa memastikan apakah tes mendahului pengetahuan, atau justru pengetahuan yang mendorong orang mau dites.
Survei itu juga menanyakan kebiasaan sehari-hari yang berpotensi menambah risiko. Sebanyak 70,9 persen pernah berbagi gunting kuku dengan anggota keluarga dan 62,7 persen berbagi gunting perawatan diri. Hampir separuh, 48,6 persen, memiliki tindik, dan 15,7 persen pernah menjalani hijama atau bekam. Berbagi pisau cukur dan sikat gigi jauh lebih jarang, masing-masing 7,4 persen dan 6,9 persen.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Batas survei 2024 dan tempatnya dalam rantai riset
Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Seluruh jawaban dilaporkan sendiri oleh peserta sehingga rentan terhadap bias ingatan dan kecenderungan menjawab yang dianggap pantas. Perilaku berisiko seperti menyuntik narkoba, yang diakui 0,4 persen peserta, jarang dilaporkan, dan itu mungkin terkait rasa takut akan stigma karena pertanyaan diajukan langsung oleh petugas. Survei satu waktu ini juga tidak dapat menetapkan sebab-akibat.
Batas lain menyangkut siapa yang ditanya. Pertanyaan pengetahuan hanya diberikan kepada peserta yang pernah mendengar penyakitnya, dan faktor lain yang tidak terukur mungkin ikut memengaruhi hasil. Meski begitu, para penulis menekankan bahwa sangat sedikit studi pengetahuan dan praktik hepatitis yang melibatkan peserta sebanyak ini dan mewakili seluruh penduduk dewasa satu negara.
Naskah itu menempatkan dirinya sebagai pengisi celah. Hepatitis B dan C masih banyak ditemukan di negara-negara Asia Tengah, tetapi studi tentang kesadaran dan pengetahuan di kawasan ini langka, terlebih untuk hepatitis C. Satu pembanding yang disebut: hampir 20 persen peserta tidak tahu kedua virus dapat menular lewat hubungan seksual, angka yang menurut para penulis lebih rendah daripada di Yordania dan Ethiopia selatan.
Dari sana mereka menarik saran. Sebanyak 73,7 persen peserta menyatakan berminat pada informasi kesehatan, dan tiga sumber yang paling dipercaya adalah internet, 87,4 persen, dokter dan tenaga kesehatan lain, 81 persen, serta jejaring sosial, 79,6 persen. Kampanye yang disebarkan lewat tiga saluran itu, tulis para penulis, dapat meningkatkan pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan hepatitis di Kirgistan.
Simpulan naskah itu merumuskan mata rantai yang baru ditambahkan. “Survei representatif nasional pertama di Republik Kirgiz ini menunjukkan perlunya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang hepatitis B dan, terutama, hepatitis C,” tulis Aung dan rekan-rekannya. Temuan itu, tambah mereka, juga menandakan perlunya memperluas layanan tes gratis untuk kedua penyakit dan vaksinasi hepatitis B.















