- Dari 485 peserta, 341 orang atau 70,3 persen tergolong mengalami CVS, kira-kira tujuh dari sepuluh orang.
- Angkanya lebih tinggi pada mahasiswa, yakni 199 orang atau 74,0 persen, dibandingkan 142 orang atau 65,7 persen pada staf.
- Hampir sepertiga staf, yakni 32,9 persen, masuk kategori praktik rendah, sedangkan pada mahasiswa hanya 16,4 persen.
- Hubungan antara praktik pencegahan dan gejala yang lebih ringan hanya bermakna pada staf pendukung.
Daftar Isi
- Sebelum Tantipanjaporn: tujuh dari sepuluh pengguna layar
- Tahun 2026: 485 orang di satu kampus Phitsanulok
- Nyeri mata di urutan teratas pada kedua kelompok
- Staf lebih tahu, mahasiswa lebih rajin mencegah
- Dari Gondar ke Phitsanulok: tahu belum tentu melakukan
- Praktik pencegahan, satu-satunya yang terkait gejala
- Batas riset Naresuan dan mata rantai berikutnya
Di zaman teknologi, layar komputer, tablet, dan ponsel sudah menjadi hal yang lumrah di ruang kuliah maupun di meja kerja. Perangkat digital mengubah isi pekerjaan dan menaikkan produktivitas, tetapi ikut membawa risiko baru bagi kesehatan kerja dan kesehatan masyarakat. Akibat yang paling sering muncul dari pemakaian layar berkepanjangan adalah computer vision syndrome atau CVS, yang juga dikenal sebagai ketegangan mata digital.
Latar itulah yang membuka naskah Tadpong Tantipanjaporn, Soranun Surapad, Kwanjira Yatong, Kiattisak Satamunai, Pattraporn Chomchey, Sudawadee Yasaka, Pantip Hinhumpatch, Kanpitcha Kiatkitroj, dan Sutthisaranyupong Chanyo, berjudul Knowledge, attitude, practice and symptoms of computer vision syndrome: a comparative study among university students and support staff. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Sebagian besar penulisnya berasal dari Naresuan University di Phitsanulok, Thailand.
CVS, tulis mereka, adalah sekumpulan gejala pada mata dan di luar mata yang timbul karena menatap layar digital terlalu lama. Di dalamnya termasuk mata tegang, sakit kepala, pandangan kabur, mata kering, sampai nyeri leher dan bahu. Gejala itu memburuk karena layar digital menuntut kerja mata yang khas, antara lain huruf yang kurang tajam dan kontras yang rendah.
Sebelum Tantipanjaporn: tujuh dari sepuluh pengguna layar
Angka yang sudah beredar sebelum riset ini terbilang tinggi. Sebuah tinjauan sistematis yang dirujuk para penulis mencatat 69,0 persen peserta di berbagai penelitian mengalami CVS, dengan rentang dari 12,1 sampai 97,3 persen. Karena itu mereka menyebutnya salah satu masalah kesehatan kerja terpenting abad ke-21. Di kalangan mahasiswa, penelitian potong lintang di berbagai negara melaporkan angka antara 73,7 dan 89,7 persen.
Thailand punya catatannya sendiri. Penelitian Wangsan dan Upaphong terhadap mahasiswa Chiang Mai University, sebagaimana dirujuk naskah ini, menemukan 81 persen mahasiswa mengalami CVS. Penyebab yang dicatat antara lain jarak pandang kurang dari 20 sentimeter, silau layar, kecerahan layar yang rendah, jeda antarkelas yang kurang, dan bertambahnya waktu di depan layar selama kuliah daring. Riset Seresirikachorn dan Thiamthat melaporkan 70,1 persen mahasiswa mengalaminya.
Staf kampus menghadapi tekanan yang lain bentuknya. Mereka biasanya menatap monitor meja terus-menerus selama enam sampai delapan jam kerja. Penelitian pada pekerja kantor pengguna komputer di Sri Lanka mencatat 67,4 persen mengalami CVS dalam setahun, dan 88,4 persen meja kerja di sana tidak memenuhi standar ergonomi. Di Etiopia, angkanya 78,8 persen pada staf akademik universitas.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Tingsa, Chaikittiporn, dan Pongpan lebih dulu meneliti staf pendukung universitas di Provinsi Lampang, Thailand. Mereka melaporkan 37,5 persen peserta mengalami CVS berat, dan faktor utamanya adalah bekerja di depan komputer lebih dari lima jam sehari tanpa jeda yang cukup. Yang belum ada, menurut Tantipanjaporn dan rekan-rekannya, adalah perbandingan langsung. Kebanyakan penelitian menelaah mahasiswa atau pegawai secara terpisah, tidak keduanya sekaligus dengan alat ukur yang sama.
Tahun 2026: 485 orang di satu kampus Phitsanulok
Celah itu yang mereka isi. Sebanyak 485 pengguna komputer meja dan laptop di sebuah universitas di Provinsi Phitsanulok diminta mengisi kuesioner tentang pengetahuan, sikap, kebiasaan pencegahan, dan 16 gejala mata. Mereka terdiri atas 269 mahasiswa sarjana dan 216 staf pendukung. Kedua kelompok sama-sama didominasi perempuan, tetapi usia rata-ratanya terpaut jauh, 21 tahun pada mahasiswa dan 40 tahun pada staf.
Cara mereka memakai komputer juga tidak sama. Hampir sembilan dari sepuluh mahasiswa, tepatnya 89,2 persen, memakai laptop, sedangkan 87,0 persen staf bekerja dengan komputer meja. Staf menatap layar lebih lama, rata-rata 6,8 jam sehari, dibandingkan 5,0 jam pada mahasiswa. Para penulis sejak awal menduga perbedaan pola paparan itu akan mengubah hubungan antara apa yang diketahui seseorang dan apa yang dirasakan matanya.
Hasil pertamanya sejalan dengan angka-angka terdahulu. Dari 485 peserta, 341 orang atau 70,3 persen tergolong mengalami CVS, kira-kira tujuh dari sepuluh orang. Angkanya lebih tinggi pada mahasiswa, yakni 199 orang atau 74,0 persen, dibandingkan 142 orang atau 65,7 persen pada staf. Skor gejala rata-rata mahasiswa juga lebih tinggi, 14,13 berbanding 11,81, dan kedua selisih itu bermakna secara statistik.
Nyeri mata di urutan teratas pada kedua kelompok
Dari 16 gejala yang ditanyakan, tiga yang skornya paling berat pada seluruh peserta adalah nyeri mata, rasa ada benda asing di mata, dan pandangan kabur. Urutan gejala yang paling kerap muncul sedikit berbeda. Sebanyak 26,8 persen peserta menjawab sering merasakan nyeri mata, 22,3 persen sering merasa ada benda asing di mata, dan 21,4 persen sering mengalami mata kering.
Ketika dipisah per kelompok, nyeri mata tetap menjadi gejala terberat bagi mahasiswa maupun staf. Pada mahasiswa, gejala berikutnya adalah rasa ada benda asing dan gatal. Pada staf, urutan kedua dan ketiga ditempati pandangan kabur dan rasa ada benda asing. Skor gatal, mata berair, mata merah, kelopak terasa berat, dan perasaan bahwa penglihatan memburuk tercatat lebih tinggi pada mahasiswa.
Para penulis menempatkan temuan itu di samping riset yang lebih besar. Tinjauan sistematis dan meta-analisis Ccami-Bernal dan Soriano-Moreno atas lebih dari 66.000 peserta menunjukkan prevalensi CVS 76,1 persen pada mahasiswa, lebih tinggi daripada 67,9 persen pada populasi umum dan 69,2 persen pada kelompok pekerja. Sebuah penelitian perbandingan di Arab Saudi juga melaporkan mahasiswa lebih banyak mengalami pandangan jauh yang kabur dan mata berair berlebihan dibandingkan pegawai.
Mengapa mahasiswa lebih banyak mengeluh, para penulis hanya menawarkan dugaan. Sekitar 90 persen mahasiswa dalam riset ini memakai laptop, yang menurut pustaka rujukan mereka sering digunakan dalam kondisi tidak ergonomis, sedangkan staf umumnya mendapat meja kerja standar. Mahasiswa juga kerap memakai beberapa perangkat sekaligus dengan posisi tubuh bercampur, duduk maupun berbaring. Faktor-faktor itu, mereka akui, tidak diukur dalam penelitian ini.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Staf lebih tahu, mahasiswa lebih rajin mencegah
Gambaran lain muncul ketika pengetahuan disandingkan dengan kebiasaan. Staf lebih paham soal CVS, dengan skor pengetahuan rata-rata 7,7 dari 10, sedangkan mahasiswa 6,6. Sebanyak 59,3 persen staf masuk kategori pengetahuan tinggi, sedangkan pada mahasiswa hanya 29,4 persen. Skor sikap terhadap pencegahan pun lebih baik pada staf, 31,4 berbanding 26,0.
Kebiasaan sehari-hari berjalan ke arah sebaliknya. Skor praktik pencegahan mahasiswa lebih tinggi, 27,5 berbanding 25,6. Hampir sepertiga staf, yakni 32,9 persen, masuk kategori praktik rendah, sedangkan pada mahasiswa hanya 16,4 persen. Secara keseluruhan, sebagian besar peserta berada di tingkat sedang, baik untuk pengetahuan, sikap, maupun praktik. Hanya satu orang dari 485 peserta yang praktik pencegahannya tergolong tinggi.
Hubungan ketiganya pun tidak lurus. Pada seluruh peserta, pengetahuan dan sikap berjalan seiring, tetapi praktik pencegahan justru berhubungan terbalik dengan keduanya. “Menariknya, pengetahuan yang lebih tinggi dan sikap yang positif tidak berubah menjadi praktik yang lebih baik; yang teramati justru hubungan terbalik,” tulis Tantipanjaporn dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Setelah kelompok dipisah, terlihat dari mana pola itu berasal. Pada staf, semakin tinggi pengetahuan dan semakin positif sikap, semakin rendah skor praktik pencegahannya. Pada mahasiswa, pengetahuan dan sikap tidak berhubungan bermakna dengan praktik. Para penulis menamai gejala ini knowledge-practice decoupling, yaitu terlepasnya pengetahuan dari praktik, dan menyebutnya sangat menonjol pada staf pendukung.
Dari Gondar ke Phitsanulok: tahu belum tentu melakukan
Penjelasan yang ditawarkan para penulis menunjuk ke tempat kerja. Staf, menurut mereka, mungkin berhadapan dengan sejumlah hambatan, seperti jadwal yang tidak lentur dan terbatasnya kesadaran atasan tentang ketegangan mata. Monitor meja yang tetap, tempat duduk yang kaku, dan tugas yang terus-menerus dapat mengalahkan niat untuk mencegah. Lama-kelamaan, staf menahan rasa tidak nyaman pada mata demi memenuhi tuntutan pekerjaan.
Pola serupa pernah dicatat peneliti lain yang mereka rujuk. Tafese dan Nega meneliti pekerja pengolah data di University of Gondar, Etiopia barat laut. Para pekerja itu punya pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap ergonomi komputer, tetapi praktiknya berada di bawah skor rata-rata. Sebuah penelitian pada mahasiswa kedokteran melaporkan 71,0 persen memahami arti CVS, namun hanya 25,5 persen yang menerapkan jarak pandang ideal.
Ada pula titik temu dengan riset pada remaja sekolah di Dehradun, India, yang melaporkan pengetahuan dan sikap berhubungan positif, sama seperti di Phitsanulok. Koefisien korelasi yang dilaporkan penelitian di Dehradun itu 0,519, sedangkan pada seluruh peserta di Phitsanulok 0,528. Pada mahasiswa saja koefisiennya 0,355, dan pada staf 0,482.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Praktik pencegahan, satu-satunya yang terkait gejala
Ketika semua faktor dihitung bersama pada seluruh peserta, hanya satu yang berhubungan bermakna dengan skor gejala, yaitu praktik pencegahan. Semakin baik praktiknya, semakin rendah skor CVS. Pengetahuan, sikap, usia, jenis kelamin, lama memakai komputer, dan jenis komputer tidak menunjukkan hubungan bermakna. Namun daya jelas model itu rendah, dan para penulis menyatakan ketiga variabel tadi mungkin tidak cukup untuk menggambarkan risiko CVS sepenuhnya.
Pemisahan kelompok kembali memberi gambaran yang lebih rinci. Hubungan antara praktik pencegahan dan gejala yang lebih ringan hanya bermakna pada staf pendukung. Pada kelompok itu, frekuensi mengistirahatkan mata juga berkaitan dengan skor gejala yang lebih rendah. Pada mahasiswa, model yang sama tidak bermakna secara statistik. Para penulis menduga, perangkat jinjing dan lingkungan yang berganti-ganti membuat manfaat tambahan dari praktik pencegahan formal berkurang.
Dari situ lahir saran yang berbeda untuk tiap kelompok. Universitas, tulis mereka, perlu melangkah lebih jauh daripada sekadar kampanye penyadaran. Bagi staf, mereka mengusulkan jeda singkat yang diwajibkan dan meja kerja yang ergonomis. Bagi mahasiswa, perbaikan lingkungan belajar, termasuk anjuran memakai penyangga laptop. Peran pimpinan dan pihak terkait mereka sebut sangat penting.
Batas riset Naresuan dan mata rantai berikutnya
Para penulis mencatat sendiri batas-batas temuan mereka. Penelitian dilakukan di satu universitas sehingga belum tentu berlaku di tempat lain. Gejala dilaporkan sendiri oleh peserta tanpa pemeriksaan mata, sehingga angka yang muncul menggambarkan keluhan yang dirasakan, bukan diagnosis klinis. Pada staf yang lebih tua, gejala presbiopia bisa tumpang-tindih dengan CVS. Pencahayaan, silau, kelembapan ruangan, pemakaian lensa kontak, serta ponsel dan tablet tidak ikut diukur.
Rancangan potong lintang juga tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Bisa jadi, tulis mereka, orang yang matanya sangat tegang justru mulai menjalankan praktik pencegahan sebagai cara bertahan. Untuk memastikan urutan waktunya diperlukan penelitian yang mengikuti peserta dalam jangka panjang, dilengkapi pengukuran optometri. Mereka juga mengusulkan agar riset berikutnya memasukkan dosen dan peneliti, dan mencermati alat kecerdasan buatan yang makin menyatu dengan pekerjaan kampus.
Dalam rantai riset yang dimulai dari angka-angka prevalensi di Chiang Mai, Lampang, Sri Lanka, dan Etiopia, penelitian ini menambahkan satu mata rantai, yaitu perbandingan langsung dua kelompok di kampus yang sama. Simpulannya ditulis para penulis sendiri. “Pada akhirnya, praktik pencegahan muncul sebagai satu-satunya variabel bermakna yang berhubungan dengan CVS, yang menegaskan perlunya intervensi yang berfokus pada perubahan perilaku praktis, bukan sekadar menambah pengetahuan,” tulis mereka.















