- Tidak seorang pun dari 86 peserta memenuhi kriteria diagnosis sarkopenia.
- Jalan kaki menjadi olahraga utama bagi 84,88 persen peserta, dengan rata-rata olahraga 1,33 jam sehari.
- Sebanyak 74,42 persen peserta memiliki persentase lemak tubuh yang berlebih dan 67,44 persen mengalami obesitas viseral.
- Sebanyak 39 peserta tergolong bugar, sedangkan 47 peserta tergolong prarapuh.
- Peserta mendaftar sukarela lewat akun WeChat rumah sakit, cara yang cenderung menarik lansia yang lebih sehat.
Daftar Isi
Oktober 2023, sebuah rumah sakit di Sanya mulai memeriksa lansia pendatang dari utara. Pemeriksaan itu berjalan sampai Januari 2024. Selama empat bulan tersebut, 86 orang berusia 60 tahun ke atas ditimbang, diukur lemak dan ototnya, diuji genggaman tangannya, dan dihitung kecepatan langkahnya. Semuanya datang ke Pulau Hainan untuk melewatkan musim dingin.
Catatan pemeriksaan itu kemudian ditulis enam peneliti, yakni Bing Liang, Xiaoning Sun, Beibei Wang, Ting Yang, Jiaojiao Xing, dan Qing Xu. Artikel mereka berjudul Body composition, sarcopenia, and frailty among Northern seasonal migrant older adults: a cross-sectional study dan terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang sudah diterima. Para penulis bekerja di Hainan Hospital of P.L.A General Hospital di Sanya dan di Chinese P.L.A General Hospital di Beijing.
Tahun 2021, Ketika Penduduk Tua Melewati 14 Persen
Para penulis memulai kisahnya dari angka kependudukan. Pada 2021, penduduk Tiongkok berusia 65 tahun ke atas sudah lebih dari 14 persen. Bagian itu, tulis mereka, masih akan terus membesar. Sekitar tahun 2035, jumlah lansia di negeri itu diperkirakan melampaui 400 juta orang, kira-kira 30 persen dari seluruh penduduk.
Di tengah penuaan itu muncul satu pola hidup baru. Lansia dari wilayah utara yang dingin berpindah ke selatan yang lebih hangat selama bulan-bulan musim dingin, lalu pulang kembali. Para peneliti menyebut mereka lansia migran musiman. Pola itu mereka sandingkan dengan fenomena yang di negara-negara Barat dikenal sebagai snowbird.
Hainan menjadi tujuan utama. Iklim dan lingkungannya, menurut naskah itu, menarik ratusan ribu lansia migran setiap tahun. Kelompok ini tumbuh cepat. Namun gambaran dasar kesehatannya belum jelas, sebab riset tentang lansia migran masih langka dan data mengenai mereka yang melewatkan musim dingin di Hainan sangat kurang.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Oktober 2023 sampai Januari 2024, 86 Orang Datang ke Sanya
Mereka yang diperiksa berasal dari delapan wilayah utara. Yang terbanyak datang dari Liaoning, yakni 32,56 persen, disusul Beijing 24,42 persen dan Heilongjiang 19,77 persen. Dari 86 peserta, 39 orang laki-laki dan 47 orang perempuan. Hampir tiga dari empat peserta berusia 65 sampai 79 tahun.
Kelompok usia 60 sampai 64 tahun mengisi 19,77 persen, sedangkan yang berusia 80 tahun ke atas hanya 5,81 persen. Semua peserta semula tinggal di kota dan seluruhnya memiliki jaminan sosial. Pendapatan bulanan yang mereka laporkan berada di antara 3.001 dan 5.000 yuan.
Kebiasaan pindah musiman itu bukan hal baru bagi mereka. Rata-rata peserta sudah menjalaninya selama 4,91 tahun. Sebagian besar tidak merokok, yaitu 83,72 persen, dan 82,56 persen tidak minum alkohol. Meski begitu, 65,88 persen mempunyai riwayat penyakit, dan 51,16 persen melaporkan riwayat penyakit kronis dalam keluarga.
Para peserta ditanya tentang kegiatan fisik mereka selama tiga bulan terakhir tinggal di Hainan. Jawabannya hampir seragam. Jalan kaki menjadi olahraga utama bagi 84,88 persen peserta, kira-kira lima dari enam orang. Rata-rata mereka berolahraga 1,33 jam sehari.
Olahraga lain disebut oleh bagian yang lebih kecil. Daftarnya berenang, senam, menari, taichi, tenis meja, yoga, latihan beban, joging, bersepeda, dan qigong. Para peneliti mencatat bahwa pilihan itu didominasi kegiatan aerobik ringan. Catatan tersebut menjadi penting ketika hasil pengukuran tubuh keluar.
Alat ukur yang dipakai juga memperkirakan usia tubuh setiap peserta. Hasilnya, 54,7 persen peserta punya usia kalender yang lebih tinggi daripada usia tubuhnya. Sebanyak 16,3 persen punya usia yang sama. Sisanya, 29,1 persen, punya usia kalender yang lebih rendah daripada usia tubuhnya.
Saat Hasil Ukur Keluar, Lemak Memenuhi Catatan
Angka pertama yang menonjol adalah lemak. Sebanyak 74,42 persen peserta memiliki persentase lemak tubuh yang berlebih, kira-kira tiga dari empat orang. Pada laki-laki angkanya 76,92 persen, pada perempuan 72,34 persen. Indeks massa tubuh di atas standar tercatat pada 73,26 persen peserta, sedangkan 8,14 persen tergolong kurus.
Lemak itu banyak tersimpan di rongga perut. Sebanyak 67,44 persen peserta mengalami obesitas viseral dan 1,16 persen lainnya obesitas viseral berat. Hanya 3,49 persen yang lemaknya terutama berada di bawah kulit. Persentase lemak tubuh, massa lemak, dan luas lemak viseral juga tercatat naik seiring usia.
Otot memberi gambaran yang berbeda. Massa otot rendah ditemukan pada 33,33 persen laki-laki dan 25,53 persen perempuan. Di sisi lain, hampir separuh laki-laki, 48,72 persen, masuk golongan otot yang berkembang baik. Pada perempuan, golongan itu hanya diisi 4,26 persen.
Kemudian datang hasil yang paling tegas. Tidak seorang pun dari 86 peserta memenuhi kriteria diagnosis sarkopenia, yaitu susutnya massa dan kekuatan otot karena usia. Massa otot semua peserta berada di atas batas. Akan tetapi, 12 orang atau 13,9 persen menunjukkan genggaman tangan yang lebih lemah dan digolongkan sebagai kemungkinan sarkopenia.
Selisih genggaman di antara dua kelompok itu lebar. Peserta dengan kemungkinan sarkopenia rata-rata menggenggam 21,64 kilogram, sedangkan peserta dengan kekuatan otot normal 30,04 kilogram. Dalam hal lain keduanya serupa. Indeks massa tubuh, lemak, massa otot, lingkar betis, dan kecepatan jalan tidak berbeda bermakna.
Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah
Sesudah Uji Gizi dan Uji Kerapuhan
Pemeriksaan gizi menemukan tujuh orang yang berisiko kekurangan gizi. Peserta lainnya berstatus gizi normal. Tubuh ketujuh orang itu lebih kecil dalam hampir semua ukuran. Indeks massa tubuh mereka 20,12, sedangkan kelompok bergizi normal 24,42. Massa lemak mereka 12,22 kilogram berbanding 18,77 kilogram.
Luas lemak viseral kelompok berisiko itu 75,20 sentimeter persegi, jauh di bawah 109,01 pada kelompok normal. Ototnya pun lebih tipis. Indeks massa otot rangka anggota gerak mereka 7,18 berbanding 8,15, dan lingkar betisnya 31,78 sentimeter berbanding 34,97 sentimeter. Namun kekuatan genggam dan kecepatan jalan mereka tidak berbeda bermakna.
Bagi para peneliti, temuan itu menunjukkan dua ujung gizi hadir bersamaan dalam satu kelompok, yakni kelebihan dan kekurangan. Keduanya, tulis mereka, sama-sama membuat otot rentan, tetapi lewat jalan yang berbeda. Karena itu mereka menilai penapisan gizi dan penanganan perlu disesuaikan orang per orang.
Uji kerapuhan menghasilkan pembagian yang hampir seimbang. Sebanyak 39 peserta tergolong bugar, sedangkan 47 peserta tergolong prarapuh, tahap sebelum rapuh. Artinya, lebih dari separuh kelompok ini sudah berada di tahap awal itu, padahal mereka aktif bergerak setiap hari.
Dua kelompok tersebut mirip dalam jenis kelamin, indeks massa tubuh, massa lemak, massa otot, dan luas lemak viseral. Perbedaannya ada pada fungsi. Genggaman peserta prarapuh rata-rata 27,47 kilogram, sedangkan peserta bugar 30,54 kilogram. Kecepatan jalan mereka 1,25 meter per detik, berbanding 1,45 meter per detik.
Hitungan lanjutan para peneliti menguatkan pola itu. Langkah yang lebih cepat dan genggaman yang lebih kuat masing-masing berkaitan dengan kemungkinan prarapuh yang lebih rendah. Kaitan tersebut tetap ada setelah usia dan jenis kelamin ikut diperhitungkan.
Sesudah Angka Terkumpul, Enam Peneliti Membacanya
Liang dan rekan-rekannya lebih dulu memasang batas. Temuan ini, tulis mereka, tidak berarti perpindahan musiman menjadi penyebab langsung pola tubuh tersebut. Yang mereka sajikan adalah potret ciri lansia yang berpindah pada musim dingin. Dari potret itu, mereka menyoroti rajinnya berolahraga yang hadir bersama susunan tubuh yang kurang baik.
Penjelasan mereka bertumpu pada jenis olahraganya. Jalan kaki, taichi, senam, dan menari mungkin tidak memberi rangsangan yang cukup untuk menjaga massa dan kekuatan otot ketika usia bertambah. “Tidak semua aktivitas fisik setara dalam efek perlindungannya,” tulis Bing Liang dan lima rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Tentang lemak viseral, mereka berhati-hati. Penanda peradangan, asupan makan, dan metabolisme otot tidak diperiksa, sehingga penjelasan cara kerjanya masih berupa dugaan. Berdasarkan pustaka yang ada, mereka menduga lemak viseral menghasilkan zat pemicu peradangan yang dapat mempercepat pemecahan otot. Dugaan itu, kata mereka, perlu dibuktikan oleh riset berikutnya.
Mereka juga menduga kerapuhan dalam kelompok ini berkaitan dengan hal-hal yang dihadapi selama berpindah. Daftarnya berubahnya pola makan, bergesernya rutinitas hidup, tidak akrabnya mereka dengan layanan kesehatan setempat, dan terbatasnya akses ke sarana olahraga yang terstruktur. Massa otot yang terjaga, simpul mereka, tidak menjamin kekuatan fungsinya.
Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh
Sesudah Januari 2024, Hal yang Masih Menunggu
Batas penelitian diuraikan panjang oleh penulisnya sendiri. Pemeriksaan hanya memotret satu waktu, sehingga tidak dapat menunjukkan sebab dan akibat. Data sebelum peserta berpindah juga tidak tersedia. Susunan tubuh diukur dengan alat impedansi bioelektrik, yang menurut mereka kurang akurat untuk menakar massa otot secara tepat.
Cara menjaring peserta ikut memengaruhi hasil. Peserta mendaftar sukarela lewat akun WeChat rumah sakit, dan cara itu cenderung menarik lansia yang lebih lincah dan lebih sehat. Menurut para penulis, angka kemungkinan sarkopenia dan kerapuhan pada lansia migran musiman secara luas kemungkinan besar lebih tinggi daripada yang mereka temukan.
Jumlah peserta yang 86 orang juga membatasi kekuatan hitungan untuk kelompok kecil, misalnya tujuh orang yang berisiko kekurangan gizi. Kegiatan fisik hanya dilaporkan sendiri oleh peserta, dan asupan makan, terutama protein, tidak dicatat. Hasilnya pun belum tentu berlaku bagi lansia yang tidak berpindah atau yang berpindah ke tempat lain.
Dari situ para peneliti menyusun anjuran. Pemantauan dini dan penapisan kerapuhan secara berkala mereka rekomendasikan, dengan ukuran sederhana seperti kekuatan genggam dan lingkar betis. Latihan beban yang terstruktur, protein yang cukup, dan vitamin D mereka sebut berpeluang membantu, walau manfaatnya bagi kelompok ini masih perlu diuji.
Langkah berikutnya sudah mereka sebutkan. Diperlukan penelitian jangka panjang untuk menjelaskan bagaimana perpindahan musiman memengaruhi kesehatan otot dan fungsi tubuh dari waktu ke waktu. Sampai penelitian itu ada, catatan terakhir tetap berhenti pada Januari 2024: 86 lansia, tanpa sarkopenia, dan 47 orang di antaranya prarapuh.















