- Sepanjang 2018 hingga 2024 tercatat 273 cedera, dan luka sayat menjadi jenis tersering dengan 48,6 persen.
- Total biaya kompensasi selama tujuh tahun melewati 3,1 juta dolar Australia.
- Waktu kerja yang hilang karena cedera melewati 3,63 juta jam.
- Jumlah cedera memuncak 73 kasus pada 2023, lalu turun ke 44 kasus pada 2024.
Daftar Isi
Luka sayat paling sering menimpa pekerja sebuah perusahaan daging Australia. Sepanjang 2018 hingga 2024, perusahaan itu mencatat 273 cedera kerja. Menurut jenisnya, luka sayat paling banyak, yakni 48,6 persen. Biaya kompensasi seluruh cedera itu melewati 3,1 juta dolar Australia, sementara waktu kerja yang hilang lebih dari 3,6 juta jam.
Catatan itu disusun Bree Renfrew dari School of Nursing and Midwifery, University of Newcastle, bersama rekan dari Western Sydney University dan La Trobe University. Hasilnya terbit dengan judul Injury trends, costs, and lost time in an Australian meat processing facility: a retrospective analysis di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Sumbernya catatan keselamatan kerja, laporan kepegawaian, dan catatan keuangan dari dua lokasi milik satu perusahaan pengolahan daging merah. Kedua lokasi memakai definisi, tata cara pelaporan, dan proses kompensasi yang sama. Sekitar 95 persen pekerjanya laki-laki, dengan usia rata-rata sekitar 35 tahun.
Dalam makalah itu, operasi daging merah berarti penyembelihan, pemisahan tulang, perapian, dan pengemasan daging sapi serta domba. Para peneliti menyebut pengolahan daging salah satu sektor paling berisiko di Australia. Pekerjanya terpapar bahaya seperti pemakaian pisau terus-menerus, ruangan bersuhu rendah, dan mengangkat karkas.
Makalah itu juga mengutip data nasional sebagai pembanding. Manufaktur umum mencatat sekitar 9,6 klaim cedera serius per satu juta jam kerja. Fasilitas pengolahan daging mencatat 19 sampai 29 klaim untuk jumlah jam kerja yang sama.
Luka Sayat Teratas
Luka sayat menempati urutan pertama dengan 48,6 persen. Menurut para peneliti, cedera jenis ini terutama berupa sayatan pisau dan luka tusuk. Luka sayat bersama gangguan otot-rangka disebut sebagai dua jenis cedera yang paling umum.
Urutan kedua ditempati gangguan otot-rangka akibat kerja, sebesar 27,7 persen, yang berisi keseleo, terkilir, dan cedera karena gerakan berulang saat menangani barang dengan tangan. Dua jenis teratas itu bersama-sama mencakup lebih dari dua pertiga seluruh cedera. Di bawahnya ada cedera jaringan lunak, berupa memar dan trauma ringan tanpa kerusakan struktur tubuh, sebesar 15,5 persen.
Tiga jenis sisanya jauh lebih jarang. Luka bakar tercatat 3,6 persen dan umumnya terjadi karena paparan panas saat proses kerja. Benda asing yang tertanam dan harus dikeluarkan secara medis tercatat 2,7 persen.
Cedera kritis paling sedikit, hanya 1,8 persen. Isinya kasus berat, seperti cedera kepala traumatis dan amputasi. Walau jarang, menurut para peneliti, sumbangan cedera ini pada total biaya dan waktu hilang tidak sebanding dengan jumlah kasusnya, karena parah dan pemulihannya lama.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Tagihan 3,1 Juta Dolar
Total biaya kompensasi selama tujuh tahun melewati 3,1 juta dolar Australia. Seluruh angka biaya dinyatakan dalam dolar Australia nilai 2024. Gangguan otot-rangka dan luka sayat menjadi dua jenis termahal, bersama-sama lebih dari 1,63 juta dolar.
Jumlah itu lebih dari separuh total biaya kompensasi. Gangguan otot-rangka mahal karena masa pulihnya panjang, butuh fisioterapi, dan ada kewajiban membayar upah selama pekerja absen lama. Luka sayat umumnya tidak terlalu parah, tetapi biayanya menumpuk karena sangat sering terjadi dan sesekali memerlukan tindakan operasi.
Biaya melonjak pada 2020 dan 2021, bersamaan dengan masa pandemi COVID-19. Para peneliti menegaskan penyebab lonjakan itu tidak dianalisis. Penyebabnya juga tidak bisa disimpulkan dari data deskriptif semacam ini.
Klaim Paling Mahal
Satu klaim cedera kritis pada 2021 melampaui 685.000 dolar Australia. Tabel biaya mencatat klaim tertinggi tahun itu sebesar 685.806 dolar. Angka yang sama juga menjadi klaim tertinggi untuk seluruh periode 2018 sampai 2024.
Pada tahun yang sama, cedera kritis memiliki rata-rata klaim tertinggi, lebih dari 87.000 dolar per kasus. Luka sayat, yang jauh lebih sering, rata-ratanya 28.433 dolar per klaim pada 2021. Menurut para peneliti, cedera rutin pun tetap bisa mahal.
Gangguan otot-rangka sempat melonjak ke rata-rata 75.126 dolar per klaim pada 2020. Penyebab kenaikan itu tidak dianalisis. Cedera jaringan lunak naik ke rata-rata 16.590 dolar pada 2024, yang menurut para peneliti menunjukkan hasil yang beragam.
Rata-rata itu perlu dibaca hati-hati. Untuk seluruh 273 kasus, rata-rata klaim 11.374 dolar, sedangkan mediannya 1.094 dolar. Para peneliti menyajikan rata-rata hanya sebagai konteks, karena angka itu sangat peka terhadap segelintir klaim yang mahal.
Jutaan Jam Hilang
Waktu kerja yang hilang karena cedera melewati 3,63 juta jam, termasuk absen langsung dan dampak tak langsung seperti tugas yang dibatasi dan pemindahan tenaga kerja. Gangguan otot-rangka menyumbang bagian terbesar, sekitar 1,30 juta jam. Cedera kritis menyusul dengan sekitar 1.003.481 jam, lalu luka sayat dengan sekitar 935.098 jam.
Luka sayat biasanya membuat pekerja absen lebih singkat, tetapi beberapa kasus mencatat waktu hilang lebih tinggi. Akibatnya sesekali muncul lonjakan. Cedera jaringan lunak menghabiskan sekitar 347.091 jam, luka bakar sekitar 27.712 jam, dan benda asing sekitar 19.839 jam.
Cedera kritis jarang terjadi, tetapi sangat mengganggu, dan sumbangannya pada waktu yang hilang tidak sebanding dengan jumlah kasusnya. Para peneliti melihat hubungan kuat antara biaya klaim dan waktu yang hilang. Menurut mereka, pola itu menegaskan bahwa pemulihan yang panjang mendorong beban keuangan, terutama pada cedera berat.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Naik Lalu Turun
Pada 2018 hanya tercatat 7 cedera, lalu melonjak menjadi 35 kasus setahun kemudian. Angkanya tercatat 21 kasus pada 2020, 36 kasus pada 2021, dan 57 kasus pada 2022. Puncaknya 73 kasus pada 2023, sebelum turun ke 44 kasus pada 2024.
Laju cedera hanya bisa dihitung untuk 2020 sampai 2024, karena data jumlah pegawai 2018 dan 2019 tidak tersimpan. Per 100 tahun-pegawai, lajunya 2,82 pada 2020, 5,58 pada 2021, dan 9,28 pada 2022. Laju itu mencapai 13,01 pada 2023, lalu 4,74 pada 2024.
Untuk 2023, rentang kepercayaan 95 persen laju itu berkisar 10,20 sampai 16,36, sedangkan untuk 2024 berkisar 3,44 sampai 6,36. Para peneliti memakai laju ini hanya untuk menggambarkan pola. Laju itu tidak dimaksudkan untuk perbandingan statistik atau menilai program perusahaan.
Waktu hilang kumulatif terbanyak terjadi pada 2020 dan 2021. Pada 2024, total waktu yang hilang berkurang. Para peneliti tidak menarik kesimpulan apa pun tentang program perusahaan dari penurunan itu.
Bukan Ukuran Program
Perusahaan itu memperkenalkan asesmen pra-kerja dan intervensi dini yang dipimpin fisioterapis. Di industri pengolahan daging, asesmen pra-kerja berjalan dua tahap: kuesioner riwayat kesehatan dan cedera, lalu pemeriksaan fisioterapi tatap muka. Pemeriksaan itu menguji antara lain kekuatan genggam, jongkok, mengangkat beban, dan pendengaran.
Penurunan dari 73 menjadi 44 kasus tidak dibaca sebagai hasil program itu, karena desain penelitiannya deskriptif. Waktu pengenalan program hanya dicatat sebagai konteks. Para peneliti menyebut faktor lain yang mungkin ikut berperan, seperti staf yang lebih stabil, pemulihan operasi, dan cara pelaporan. Angka juga mungkin sekadar kembali ke rata-rata setelah tahun yang tinggi pada 2023.
Ringkasan makalah itu ditutup dengan simpulan tentang beban cedera. “Cedera kerja di pengolahan daging menimbulkan dampak operasional dan ekonomi yang besar, terutama didorong oleh klaim luka sayat yang sering terjadi dan klaim terkait otot-rangka,” tulis Renfrew dan rekan dalam ringkasan makalahnya, diterjemahkan bebas.
Batas Penelitian
Datanya hanya dari dua lokasi dalam satu perusahaan, sehingga para peneliti mengakui hasilnya mungkin tidak bisa digeneralisasi. Penelitian ini juga tidak memakai uji statistik inferensial. Ketiadaan uji itu serta faktor pengganggu seperti pergantian pekerja dan perubahan manajemen membatasi tafsiran sebab-akibat. Cara pelaporan cedera juga mungkin berubah dari waktu ke waktu dan ikut memengaruhi tren.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Mereka menyarankan desain ulang ergonomi, pelatihan memegang pisau, dan latihan fisik sesuai tugas dimasukkan ke orientasi pekerja baru serta program rutin. Langkah itu disebut mungkin memberi manfaat tambahan.
Mereka menyebut beberapa desain yang layak dipakai, seperti stepped-wedge, deret waktu terputus, atau uji acak berkelompok. Pemantauan jangka panjang juga diperlukan untuk melihat apakah efek sebuah program bertahan.
Untuk menguji manfaatnya, para peneliti meminta riset prospektif atau terkontrol di banyak lokasi, dengan data jumlah pegawai yang tersimpan lengkap setiap tahun. Catatan tujuh tahun ini, tulis mereka, menggambarkan sebaran jenis cedera, biaya, dan waktu hilang di dua lokasi satu perusahaan, tanpa menunjuk sebab.















