- Sembilan kajian yang membandingkan harga dengan kota terdekat mencatat pangan di wilayah terpencil 30 sampai 160 persen lebih mahal, rata-rata 48,8 persen.
- Ongkos angkut dan bahan bakar paling sering disebut sebagai penyebab, oleh sembilan kajian.
- Toko swasta di komunitas terpencil dilaporkan 15 persen lebih mahal daripada toko milik komunitas.
- Pada 1991, subsidi 50 persen untuk harga buah dan sayur dibiayai dengan menaikkan harga rokok di toko yang sama.
Daftar Isi
- Jarak sebagai jawaban: tujuh belas dari dua puluh kajian berhenti di sana
- Ongkos sebagai jawaban: angkutan, bahan bakar, dan toko yang kecil
- Toko swasta: lima belas persen lebih mahal di komunitas yang sama terpencilnya
- Toko komunitas: rokok yang dinaikkan agar sayur bisa turun
- Kebijakan yang datang: subsidi ongkos angkut untuk tiga puluh barang pokok
- Bukti yang tertinggal: angka yang tak saling cocok dan batas sebuah tinjauan
Sebuah toko di pedalaman Northern Territory dan Western Australia yang terputus musim hujan sampai lima bulan setahun dan sebuah hitungan statistik dari Queensland tampak membicarakan dua hal yang berlainan. Yang pertama bercerita tentang gudang, stok timbunan, dan pesawat angkut yang mahal. Yang kedua bercerita tentang angka: keterpencilan menjelaskan 58 persen variasi harga sekeranjang pangan sehat. Keduanya ternyata menunjuk ke persoalan yang sama.
Kajian 1991 dan kajian 2002 itu termasuk dalam 20 artikel yang dihimpun Emma van Burgel, Chloe Martin, Jane Dancey, Beau Cubillo, Francis Nona, Eddie Miles, Megan Ferguson, Georgia Day, dan Julie Brimblecombe dalam Drivers of food cost in outer regional, remote, and very remote Australia: a systematic scoping review, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Monash University, Menzies School of Health Research, The University of Queensland, dan Queensland University of Technology, serta dua lembaga komunitas.
Tinjauan itu menyisir kajian telaah sejawat tentang harga pangan di wilayah yang dalam klasifikasi Australia disebut outer regional, remote, dan very remote, terbit antara 1987 dan 2022. Pertanyaannya bukan lagi apakah pangan di sana mahal. Jawaban itu sudah berulang selama empat dekade. Yang dicari adalah apa yang membuatnya mahal, dan seberapa jauh jawaban itu sudah dibuktikan.
Taruhannya tidak kecil. Hanya 10,1 persen penduduk Australia tinggal di wilayah ini, tetapi orang Aboriginal dan Torres Strait Islander membentuk 30 persen penduduk wilayah remote dan very remote, dibanding 2,2 persen di metropolitan. Beban penyakitnya 233 tahun hidup yang hilang karena sakit atau kematian dini per 1.000 orang, dibanding 174 di kota besar. Beban diabetes orang Aboriginal dan Torres Strait Islander enam kali lipat.
Pasokannya pun berbeda. Supermarket besar terpusat di kota dan wilayah inner regional, sedangkan kebutuhan pangan di wilayah terpencil sebagian besar dipenuhi toko swasta atau toko milik komunitas. Toko-toko kecil itu, tulis para penulis, punya daya beli terbatas dan harus berhadapan dengan jalur pasok yang panjang dan terpencil. Biaya yang lebih tinggi itu akhirnya muncul di meja kasir.
Jarak sebagai jawaban: tujuh belas dari dua puluh kajian berhenti di sana
Sisi pertama cerita ini sederhana. Tujuh belas dari 20 kajian menyebut keterpencilan sebagai faktor yang memengaruhi harga pangan, dan 12 kajian tidak menyebut faktor lain sama sekali. Polanya konsisten dari kajian tertua sampai terbaru. Makin terpencil sebuah toko, makin mahal pangan yang dijualnya, entah dibandingkan dengan kota besar atau dengan pusat regional terdekat.
Besarnya selisih pun tercatat. Sembilan kajian yang membandingkan harga dengan kota terdekat mencatat pangan di wilayah terpencil 30 sampai 160 persen lebih mahal, rata-rata 48,8 persen. Di komunitas Aboriginal dan Torres Strait Islander yang terpencil, sekeranjang pangan bisa sampai 50 persen lebih mahal daripada di pusat distrik. Di Northern Territory, selisih itu 40 persen pada 2023.
Selisihnya juga tidak merata di rak toko. Kajian-kajian tahun 2014 mencatat jurang harga paling terasa pada pangan yang mudah rusak, yakni buah, sayur, dan susu. Sebuah kajian tahun 2016 menemukan selisih yang lebih lebar lagi bila harga di toko terpencil dibandingkan dengan harga produk generik di kota. Barang yang paling dibutuhkan untuk makan sehat justru paling jauh jaraknya dari harga kota.
Masalahnya, catatan sepanjang empat dekade itu kebanyakan berhenti pada kata jarak. “Mereka yang tinggal di wilayah outer regional hingga very remote Australia membayar lebih mahal untuk pangan, tetapi bukti empiris yang rinci tentang pendorong harga pangan yang lebih tinggi masih kurang,” tulis Emma van Burgel dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Ongkos sebagai jawaban: angkutan, bahan bakar, dan toko yang kecil
Sisi kedua muncul ketika para penulis kajian diminta menjelaskan angkanya sendiri. Di bagian pembahasan, 17 kajian soal keterpencilan menyebut sejumlah penyebab. Ongkos angkut dan bahan bakar paling sering disebut sebagai penyebab, oleh sembilan kajian. Daya beli dan skala ekonomi toko disebut enam kajian, biaya operasional toko empat kajian, jenis toko dan kurangnya persaingan masing-masing tiga.
Penyebab lain lebih jarang muncul. Cuaca, produk generik yang terbatas, pangan yang terbuang, bongkar muat ganda, dan letak pusat distribusi masing-masing disebut oleh kurang dari 18 persen kajian. Namun, semua itu umumnya berupa komentar penulis, bukan hasil pengukuran. Hanya tiga kajian yang benar-benar menjadikan angkutan sebagai temuan, dan ketiganya kualitatif, dari Northern Territory dan Western Australia.
Isi ketiga kajian itu konkret. Pendinginan selama perjalanan jauh menjadi soal, begitu pula jenis angkutannya, entah tongkang, truk, atau pesawat. Kajian 1991 di Northern Territory mencatat tingginya pangan busuk ketika buah dan sayur dikirim lewat laut. Kajian 2014 di Western Australia mencatat 46 persen manajer toko menyebut angkutan dan ongkos kirim sebagai masalah paling umum di balik harga tinggi.
Cuaca menyambung rantai yang sama. Kajian 1991 menautkan harga tinggi dengan komunitas yang terputus selama musim hujan, sehingga harus memakai angkutan udara yang mahal agar pangan tetap tersedia. Toko juga terpaksa menimbun stok lebih banyak, yang menambah beban gudang dan pangan terbuang. Kajian 2014 menambahkan kondisi jalan yang rusak oleh banjir musiman.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Toko swasta: lima belas persen lebih mahal di komunitas yang sama terpencilnya
Pada pasangan kedua, jaraknya sama tetapi tokonya berbeda. Dua kajian tahun 2016 menyebut jenis toko sebagai penentu harga. Toko swasta di komunitas terpencil dilaporkan 15 persen lebih mahal daripada toko milik komunitas. Perbandingan itu berasal dari dua toko swasta jenis convenience dan lima toko milik komunitas di wilayah very remote South Australia.
Di Queensland, pola serupa tampak di semua kategori keterpencilan. Pangan di supermarket secara statistik nyata lebih murah daripada di toko spesialis dan toko independen. Para penulis kajian itu menunjuk rantai pasok supermarket yang dominan, yang bisa memanfaatkan skala ekonomi dan menyerap ongkos angkut sehingga harga tetap lebih rendah daripada toko independen di wilayah terpencil.
Toko kecil juga menghadapi soal lain. Satu kajian kualitatif tahun 2015 di wilayah outer regional Tasmania mencatat ketergantungan pada pangan impor dari luar negeri ketimbang produk lokal. Kajian 2017 di Western Australia menyebut kurangnya persaingan sebagai pendorong harga, serta toko yang memakai produk kelas dua demi mendapat harga lebih murah. Kajian yang sama menyebut keputusan toko ikut menaikkan harga, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Toko komunitas: rokok yang dinaikkan agar sayur bisa turun
Di sisi lain, toko komunitas punya alat yang tidak dimiliki hitungan jarak. Tiga kajian membahas subsidi silang, yakni kombinasi subsidi dan kenaikan harga untuk mendorong pembelian pangan sehat dan menekan pembelian pangan tidak sehat. Pada 1991, subsidi 50 persen untuk harga buah dan sayur dibiayai dengan menaikkan harga rokok di toko yang sama.
Ferguson dan rekan-rekannya pada 2018 mencatat besaran perubahan harga akibat subsidi silang berkisar 5 sampai 25 persen. Hasilnya tidak selalu searah. Lee dan rekan-rekannya pada 2016, di wilayah very remote South Australia, mendapati barang diskresioner dalam keranjang justru selisih harganya lebih kecil dibanding pusat regional ketimbang pangan sehat, walaupun subsidi silang sudah berjalan.
Kajian yang sama tetap mencatat kabar baik. Subsidi silang membantu mempersempit selisih harga buah dan sayur antara pusat regional dan toko terpencil dari 2008 sampai 2014. Pada kasus kedua ini, harga ternyata bisa digeser dari dalam toko, bukan hanya ditentukan dari jauhnya jalan. Namun, geseran itu tetap berlangsung di atas ongkos yang sudah tinggi sejak awal.
Ongkos itu dirinci McMillan pada 1991. Ada biaya menimbun stok tambahan selama musim hujan, biaya merawat peralatan toko, dan listrik yang mahal. Kajian 1991 dan 2018 sama-sama menempatkan biaya operasional sebagai pendorong ekonomi yang penting di wilayah terpencil. Toko komunitas bisa menata harga, tetapi tidak bisa menghapus beban yang ditanggungnya.
Baca juga Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan
Kebijakan yang datang: subsidi ongkos angkut untuk tiga puluh barang pokok
Dari 20 kajian, sebelas mengusulkan campur tangan pemerintah, termasuk subsidi untuk pangan pokok, buah, dan sayur. Delapan meminta pemantauan harga diperluas, empat menyarankan pembenahan angkutan dan logistik, dua meminta pasokan pangan lokal ditambah. Satu kajian tahun 1991 meminta komunitas Aboriginal dilibatkan dalam penyusunan kebijakan. Tiga penyelidikan parlemen, pada 2009, 2020, dan 2023, juga menyoroti ongkos angkut.
Kebijakan itu kini datang. Low Cost Essentials Subsidy Scheme akan mensubsidi ongkos angkut 30 barang pokok di toko very remote yang melayani mayoritas warga Aboriginal dan Torres Strait Islander dan ikut skema itu. Para penulis mencatat, ini pertama kalinya subsidi pemerintah nasional menurunkan harga barang pokok bagi toko komunitas. Queensland juga meluncurkan potongan ongkos angkut yang langsung dinikmati pembeli di kasir.
Para penulis menyambut langkah itu, tetapi dengan catatan. “Subsidi ongkos angkut mungkin bukan tanggapan kebijakan yang paling berkelanjutan terhadap tingginya ongkos angkut sebagai pendorong tingginya harga pangan, tanpa bukti bernuansa tentang apa yang menentukan tingginya ongkos angkut itu,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Skema itu pun tidak menyentuh wilayah outer regional.
Pengalaman Kanada menjadi pembanding yang disebut dalam naskah. Food Mail Program, yang menanggung sebagian ongkos kirim pangan sehat ke komunitas terpencil, memang menurunkan harga pangan sehat, tetapi pangan tetap tidak terjangkau. Di Kanada utara, kurangnya persaingan di sektor angkutan terpencil juga menyulitkan tawar-menawar harga, keadaan yang menurut para penulis mirip dengan pedalaman Australia.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Bukti yang tertinggal: angka yang tak saling cocok dan batas sebuah tinjauan
Tinjauan ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri. Protokolnya tidak didaftarkan, istilah tentang pendorong harga tidak dimasukkan ke pencarian sehingga kajian yang relevan bisa terlewat, dan hanya literatur telaah sejawat yang dipakai. Kesaksian di penyelidikan parlemen tidak ikut ditinjau. Mutu semua makalah juga tidak dinilai, sehingga tinjauan ini memetakan penyebab yang disebut, bukan menguji mana yang paling kuat.
Ada pula angka yang bisa diperiksa pembaca. Naskah menulis tujuh belas dari 20 kajian sebagai 80 persen, padahal hitungannya 85 persen, dan paragraf berikutnya memang menulis 85 persen. Sembilan kajian pembanding harga ditulis 40 persen, padahal sembilan dari 15 kajian kuantitatif adalah 60 persen dan dari 20 kajian 45 persen.
Kategori daya beli toko, enam kajian, ditulis 50 persen, sementara kategori lain di kalimat yang sama dihitung dari 17 kajian, misalnya empat kajian 24 persen dan sembilan kajian 53 persen. Dengan patokan itu, enam kajian semestinya sekitar 35 persen. Naskah juga menyatakan terbuka bahwa salah satu penulisnya bekerja di Community Enterprise Queensland, pengelola 27 toko di wilayah terpencil.
Di antara dua jawaban itu, jarak dan ongkos, tinjauan ini tidak memilih pemenang. Jarak tercatat konsisten selama empat dekade, dari kajian tertua 1987 sampai yang terbaru 2022. Ongkos angkut, biaya toko, dan jenis toko lebih sering disebut sebagai dugaan daripada diukur. Toko yang terputus musim hujan dan angka 58 persen dari Queensland tetap menunjuk ke arah yang sama, tetapi jalan di antaranya belum banyak dipetakan.















