Hampir Seperlima Orang Dewasa di Desa Kenya Idap Darah Tinggi

A A

Petugas memasang manset tensimeter manual di lengan seorang perempuan di Lamu, pesisir Kenya [Foto: Safari Doctors (foto Tojo Andrianarivo)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Hipertensi ditemukan pada 18,1 persen dari 1.046 orang dewasa yang diperiksa di Kakum-Kombewa, Kenya barat.
  • Sebanyak 423 orang atau 40,4 persen dirujuk ke fasilitas kesehatan karena tekanan darah atau gula darahnya tinggi.
  • Di antara yang sudah terdiagnosis, 69 persen penderita hipertensi masih memerlukan tinjauan klinis lanjutan.
  • Aktivitas fisik di bawah 150 menit per pekan dan riwayat keluarga bertahan dalam model statistik.
Daftar Isi
  1. Hampir satu dari lima orang dewasa ternyata hidup dengan darah tinggi
  2. Klinik yang sanggup memeriksa berada lima belas kilometer jauhnya
  3. Sudah terdiagnosis, tetapi masih perlu tinjauan klinis lanjutan
  4. Usia, ukuran tubuh, dan riwayat keluarga terkait darah tinggi dan diabetes
  5. Pemeriksaan di depan pintu sebagai awal dari rangkaian perawatan

Lima menit duduk tenang, lalu manset tensimeter digital Omron M2 dililitkan di lengan atas kiri. Pemeriksaan itu tidak berlangsung di rumah sakit, melainkan di rumah warga Kakum-Kombewa, sebuah wilayah pedesaan di Siaya County, Kenya barat, dan alatnya dipegang kader kesehatan yang sudah dilatih. Bila angka pertama tinggi, tekanan darah diukur tiga kali dengan jeda satu menit, lalu dirata-rata. Kadar gula darah kapiler diperiksa dengan glukometer On-Call Plus.

Dari Desember 2024 sampai Juni 2025, pemeriksaan semacam itu menyinggahi 816 rumah tangga dan 1.046 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas. Hasilnya, 423 orang atau 40,4 persen harus dirujuk ke fasilitas kesehatan karena tekanan darah atau gula darahnya tinggi, untuk dikonfirmasi oleh tenaga kesehatan di sana.

Temuan itu dicatat Sylvester Ogutu dan rekan dari University of Antwerp, Belgia, dan Jaramogi Oginga Odinga University of Science and Technology, Bondo, Kenya, dalam artikel Prevalence of hypertension, diabetes, and associated risk factors in a rural community in Western Kenya: a population-based cross-sectional survey. Naskahnya dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026. Mereka mengukur berapa banyak warga yang hidup dengan darah tinggi, diabetes, atau keduanya, termasuk yang belum pernah tahu dirinya sakit.

Hampir satu dari lima orang dewasa ternyata hidup dengan darah tinggi

Kasus diketahui dan kasus baru di Kakum-KombewaHipertensi: Kasus diketahui 13,9, Baru dikonfirmasi 4,2; Diabetes: Kasus diketahui 8,7, Baru dikonfirmasi 2,3; Komorbid (hipertensi + diabetes): Kasus diketahui 4,9, Baru dikonfirmasi 2,5.Kasus diketahui dan kasus baru diKakum-KombewaPersen dari 1.046 orang dewasa (Tabel 3)Kasus diketahuiBaru dikonfirmasi048121613,94,2Hipertensi8,72,3Diabetes4,92,5Komorbid(hipertensi +diabetes)Prevalensi total: hipertensi 18,1; diabetes 11,0; komorbid 7,4 persen
Sumber: Sylvester Ogutu dan rekan, Prevalence of hypertension, diabetes, and associated risk factors in a rural community in Western Kenya: a population-based cross-sectional survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sebanyak 145 orang, atau 13,9 persen, sudah tahu bahwa mereka mengidap hipertensi sebelum kader datang. Pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan menambah 44 orang lagi, atau 4,2 persen, yang baru dikonfirmasi. Gabungan keduanya membawa angka darah tinggi di komunitas itu ke 18,1 persen dari seluruh orang dewasa yang diperiksa.

Diabetes mengikuti pola serupa. Ada 91 orang atau 8,7 persen yang sudah lebih dulu terdiagnosis, dan 24 orang atau 2,3 persen yang baru dikonfirmasi lewat rujukan, sehingga totalnya 11,0 persen. Untuk warga yang mengidap keduanya sekaligus, tercatat 51 orang atau 4,9 persen kasus lama dan 26 orang atau 2,5 persen kasus baru, dengan total 7,4 persen.

Para peneliti merangkum angka itu dengan ukuran yang mudah dibayangkan. Mereka menulis bahwa “hampir satu dari lima orang dewasa mengidap hipertensi, satu dari sembilan mengidap diabetes, dan satu dari tiga belas hidup dengan kedua kondisi itu sekaligus” (terjemahan dari naskah berbahasa Inggris). Penderita yang mengidap keduanya dilaporkan terpisah, tidak dihitung ganda pada kelompok satu penyakit.

Menemukan kasus yang belum terdiagnosis menjadi salah satu tujuan penelitian ini. Para pengidap kasus baru itu belum pernah didiagnosis ketika kader datang ke rumahnya, dan baru diketahui sakit setelah pemeriksaan di rumah disusul konfirmasi di fasilitas kesehatan. Dalam simpulannya, para peneliti menyebut beban hipertensi dan diabetes di komunitas pedesaan itu cukup besar, baik yang sudah diketahui maupun yang sebelumnya tak terdiagnosis.

Baca juga Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan

Klinik yang sanggup memeriksa berada lima belas kilometer jauhnya

Kakum-Kombewa dihuni sekitar 5.600 orang di 1.335 rumah tangga yang tersebar di 11 desa. Sebagian besar warganya hidup dari bertani kecil-kecilan, menangkap ikan, dan berdagang di sektor informal, dengan tingkat sosial ekonomi yang umumnya rendah. Tiap desa dilayani satu kader kesehatan, sedangkan fasilitas kesehatan di wilayah itu hanya tiga: dua dispensary dan satu pusat kesehatan.

Fasilitas pemerintah terdekat yang mampu memeriksa darah tinggi dan diabetes adalah Boro Health Centre, sekitar 15 kilometer dari Kakum-Kombewa. Para peneliti mencatat jarak itu menjadi hambatan besar bagi warga yang butuh pemeriksaan rutin dan kontrol teratur. Dispensary di wilayah itu kerap bekerja dengan kemampuan diagnosis, layanan laboratorium, dan persediaan obat yang terbatas.

Siaya sendiri dipilih karena beban penyakitnya tinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan yang dikutip para peneliti, penyakit tidak menular menyumbang hampir 40 persen kematian dan separuh rawat inap di county itu. Siaya juga berada di peringkat keempat prevalensi HIV dan peringkat kedua kasus baru HIV secara nasional.

Dari 423 orang yang dirujuk, 385 orang atau 91,0 persen menuntaskan rujukannya. Sebanyak 122 di antaranya ternyata sudah pernah didiagnosis, sedangkan 263 lainnya belum pernah. Dari 263 orang tanpa diagnosis sebelumnya itulah muncul 44 kasus hipertensi, 24 kasus diabetes, dan 26 kasus yang mengidap keduanya.

Sudah terdiagnosis, tetapi masih perlu tinjauan klinis lanjutan

Temuan lain datang dari mereka yang sudah lebih dulu terdiagnosis. Di antara peserta itu, 69 persen penderita hipertensi dan 66,7 persen penderita yang mengidap keduanya masih memerlukan tinjauan klinis lanjutan setelah pemeriksaan di rumah. Para peneliti membacanya sebagai tanda adanya celah dalam kepatuhan, pemantauan, dan tindak lanjut.

“Diagnosis saja tidak menjamin penyakit dikelola dengan efektif,” tulis Sylvester Ogutu dan rekan, dalam terjemahan dari naskah berbahasa Inggris itu. Karena itu mereka menilai tindak lanjut di tingkat rumah tangga, yang dipimpin kader kesehatan dan anggota keluarga yang merawat, perlu ditanam di dalam layanan kesehatan primer. Menurut mereka, langkah itu penting agar penyakit tetap terkendali di luar dinding fasilitas kesehatan.

Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat

Simpulan naskah menegaskan hal yang sama. Pada orang yang sudah terdiagnosis, angka tekanan darah dan gula darah yang tidak normal memperlihatkan tantangan dalam mengendalikan penyakit. Para peneliti menunjuk pentingnya dukungan kepatuhan berobat, perubahan gaya hidup, dan pemantauan risiko yang berkelanjutan bagi kelompok ini.

Usia, ukuran tubuh, dan riwayat keluarga terkait darah tinggi dan diabetes

Peserta penelitian didominasi perempuan, yakni 732 orang atau 70,0 persen, dan hampir separuhnya, 497 orang atau 47,5 persen, berusia 50 tahun ke atas. Pada kelompok usia itu, 42,3 persen mengidap hipertensi dan/atau diabetes. Pada peserta di bawah 30 tahun, angkanya 29,9 persen.

Pola yang mirip terlihat pada ukuran tubuh. Pada kelompok obesitas ringan, 53,6 persen mengidap hipertensi dan/atau diabetes, sementara pada kelompok berat badan normal angkanya 33,3 persen. Pada kelompok dengan rasio pinggang terhadap tinggi badan berisiko tinggi, angkanya 47,9 persen, dan pada kelompok lingkar pinggang berisiko tinggi 42,0 persen.

Riwayat keluarga dan kebiasaan bergerak juga menonjol. Dari 325 peserta yang orang tua atau saudara kandungnya mengidap darah tinggi, diabetes, atau penyakit jantung, 44,3 persen mengidap hipertensi dan/atau diabetes, dibanding 32,9 persen pada yang tanpa riwayat itu. Pada peserta yang beraktivitas fisik kurang dari 150 menit per pekan, angkanya 44,4 persen, sedangkan pada yang mencapai 150 menit atau lebih 33,9 persen.

Porsi peserta dengan hipertensi dan/atau diabetes per kelompokObesitas ringan 53,6; Pinggang-tinggi risiko tinggi 47,9; Aktivitas < 150 menit/pekan 44,4; Ada riwayat keluarga 44,3; Usia 50 tahun ke atas 42,3; Berat badan normal 33,3; Tanpa riwayat keluarga 32,9; Usia di bawah 30 tahun 29,9.Porsi peserta dengan hipertensi dan/ataudiabetes per kelompokPersen dalam tiap kelompok (Tabel 5)0204060Obesitas ringan53,6Pinggang-tinggi risiko tinggi47,9Aktivitas < 150 menit/pekan44,4Ada riwayat keluarga44,3Usia 50 tahun ke atas42,3Berat badan normal33,3Tanpa riwayat keluarga32,9Usia di bawah 30 tahun29,9
Sumber: Sylvester Ogutu dan rekan, Prevalence of hypertension, diabetes, and associated risk factors in a rural community in Western Kenya: a population-based cross-sectional survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika faktor-faktor itu diuji bersama dalam model statistik, hanya sebagian yang bertahan. Aktivitas fisik di bawah 150 menit per pekan berhubungan dengan peluang lebih tinggi mengidap hipertensi dan/atau diabetes, dengan rasio odds 1,81 dibanding yang cukup aktif. Riwayat keluarga juga bertahan, dengan rasio odds 1,64.

Perempuan justru memiliki peluang lebih rendah dibanding laki-laki, dengan rasio odds 0,58. Usia 50 tahun ke atas berada di batas kebermaknaan dengan rasio odds 1,56, sementara rasio pinggang-pinggul, lingkar pinggang, rasio pinggang-tinggi, kategori indeks massa tubuh, merokok, dan alkohol tidak menunjukkan hubungan bermakna dalam model itu. Para peneliti mencatat desain potong lintang membatasi penarikan simpulan sebab-akibat dari angka-angka ini.

Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi

Pemeriksaan di depan pintu sebagai awal dari rangkaian perawatan

Para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan. Tidak semua orang yang dirujuk menuntaskan rujukannya, sehingga jumlah kasus terkonfirmasi bisa lebih rendah dari keadaan sebenarnya. Dominasi peserta perempuan, sekitar 70 persen, juga membatasi penerapan temuan ini pada laki-laki.

Pemeriksaan dilakukan dalam satu kunjungan, dan kebiasaan seperti merokok atau berolahraga dilaporkan sendiri oleh peserta. Analisisnya juga tidak memperhitungkan pengelompokan per rumah tangga dan pembobotan desain survei, sehingga angka prevalensi dan hasil model statistiknya menggambarkan sampel penelitian, bukan perkiraan berbobot untuk seluruh penduduk. Para peneliti menegaskan data mereka tidak sepenuhnya mewakili pedesaan Kenya barat, sehingga temuannya mungkin tidak berlaku di luar komunitas ini, meski tetap relevan bagi wilayah pedesaan yang serupa.

Dari temuan itu, mereka menganjurkan penguatan skrining dan program pencegahan penyakit tidak menular di tingkat komunitas. Kader kesehatan, yang kini sudah diprofesionalkan dalam sistem kesehatan Kenya, perlu diprioritaskan untuk pelatihan, supervisi, dan penyediaan alat diagnosis yang terjangkau. Penguatan skrining rutin dan keterhubungan dengan layanan primer, tulis mereka, dapat memperbaiki deteksi dini dan penanganan di wilayah pedesaan serupa.

Di Kakum-Kombewa, menurut para peneliti, “skrining komunitas berfungsi bukan sebagai peristiwa sekali jadi, melainkan sebagai rangkaian perawatan yang menghubungkan deteksi dengan rujukan dan tindak lanjut” (terjemahan). Menurut mereka, pendekatan itu menegaskan nilai panduan dan perangkat penilaian risiko yang baku dan disesuaikan untuk penjangkauan setempat, sehingga pasien yang sempat lepas dari layanan formal dapat dikenali sejak dini dan dirangkul kembali.

Bagikan

Baca Juga

Serangan Drone di Pasar Darfur Tewaskan Lebih dari 100 Orang
Tundu Lissu Akhiri Mogok Makan Setelah Diizinkan Temui Pengacara
Perang Iran Ancam Ketahanan Pangan Afrika, Harga Pupuk Melonjak
Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 160 Orang
Joseph Kabila Pimpin Koalisi Pemberontak Baru Lawan Tshisekedi
Perdagangan RI-Mozambik Naik 57,5 Persen, Wamendag Dorong IM-PTA