- Selama 12 minggu, anak yang mendapat program itu absen sehari penuh rata-rata 3,38 hari.
- Anak di kelompok pembanding, yang masih menunggu giliran, absen 6,62 hari.
- Hanya 15,9 persen anak di kelompok program yang masih melewati ambang, berbanding 55,7 persen di kelompok pembanding.
- Secara keseluruhan tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara jumlah modul dan hasil kehadiran pada minggu ke-12.
- Angka absen dalam uji ini tidak diambil dari catatan sekolah.
Daftar Isi
- Perceraian, yang di Sini Juga Berarti Berpisah Tanpa Surat
- Ambang 10 Persen, Garis Batas Absen yang Dianggap Bermasalah
- SES NXT, Singkatan Denmark untuk Kerja Sama Setelah Bercerai
- Daftar Tunggu, Kelompok Pembanding yang Baru Dapat Giliran Belakangan
- Dosis-Respons, Dugaan bahwa Makin Banyak Modul Makin Baik
- Menjanjikan, Kata yang Dipilih Peneliti dan Bukan Berarti Pasti
Masalah kehadiran sekolah, terjemahan dari istilah school attendance problems yang biasa disingkat SAPs, bukan cuma soal anak yang tidak masuk seharian. Datang terlambat dan pulang sebelum pelajaran usai juga terhitung di dalamnya. Tiga peneliti menguji apakah sebuah program di layar ponsel, tablet, atau komputer bisa mengurangi masalah itu pada anak-anak Denmark yang orang tuanya berpisah.
Mereka adalah Daniel Bach Johnsen, Camilla Stine Øverup, dan Gert Martin Hald. Laporannya berjudul From break-up to show-up: a randomized controlled trial study examining the effects of a digital intervention on school attendance among children in divorced families, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Naskah itu mencantumkan dua afiliasi, yakni Department of Public Health di University of Copenhagen, Denmark, dan School of Psychology di Deakin University, Australia.
Selama 12 minggu, anak yang mendapat program itu absen sehari penuh rata-rata 3,38 hari. Anak di kelompok pembanding, yang masih menunggu giliran, absen 6,62 hari. Kira-kira separuhnya, tulis ketiga peneliti. Menurut mereka, belum pernah ada program untuk keluarga pascacerai yang menjadikan kehadiran sekolah sebagai sasaran utamanya.
Perceraian, yang di Sini Juga Berarti Berpisah Tanpa Surat
Kata perceraian dalam naskah ini lebih longgar daripada pemakaian sehari-hari. Johnsen dan rekan-rekannya memakainya untuk segala bubarnya hubungan orang tua, baik yang diputus secara hukum maupun yang tidak. Dari orang tua yang ikut, 53,5 persen bercerai resmi dan 41,1 persen berpisah tanpa pernah menikah secara hukum. Hubungan mereka rata-rata berlangsung 11,2 tahun dan sudah berakhir rata-rata 2,0 tahun sebelum mendaftar.
Bagi anak usia sekolah, tulis para peneliti, kehadiran di kelas adalah salah satu wilayah yang paling terdampak. Perceraian dikaitkan dengan absen yang lebih tinggi dan risiko putus sekolah yang lebih besar. Absen yang tinggi, pada gilirannya, dikaitkan dengan prestasi belajar yang lebih rendah, pengangguran di kemudian hari, dan kesulitan kesehatan jiwa jangka panjang.
Naskah itu merinci tiga lapis penyebab. Di tingkat keluarga, perceraian kerap membawa konflik antarorang tua, rutinitas rumah yang kacau, serta pengawasan dan kehadiran orang tua yang berkurang. Di tingkat anak, kecemasan dan gejala depresi termasuk penanda terkuat masalah kehadiran. Di tingkat keseharian, anak yang hidup di dua rumah harus menjaga rutinitas sekolah sambil berpindah-pindah.
Kelompok ini tidak kecil. Di Denmark, menurut data yang dikutip para peneliti, 22 persen anak di bawah 18 tahun hidup di dua rumah orang tua. Padahal sebuah meta-analisis, yaitu telaah yang menggabungkan hasil banyak studi, atas 30 program pascacerai tidak menemukan satu pun yang menyasar kehadiran sekolah sebagai hasil utama.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Ambang 10 Persen, Garis Batas Absen yang Dianggap Bermasalah
Kapan absen disebut masalah? Para peneliti mengakui belum ada kesepakatan soal ambang pastinya. Namun satu patokan dipakai luas di banyak sistem pendidikan: absen lebih dari 10 persen hari sekolah. Dengan patokan itu, tulis mereka, perkiraan jumlah anak yang bermasalah berkisar 20 sampai 40 persen di berbagai negara dan naik tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Anak-anak dalam uji ini berangkat dari angka yang jauh lebih tinggi. Pada awal uji, 66,2 persen anak di kelompok program dan 70,6 persen anak di kelompok pembanding berada di atas ambang tersebut. Kedua kelompok, catat para peneliti, sebanding pada titik awal itu.
Dua belas minggu kemudian jaraknya melebar. Hanya 15,9 persen anak di kelompok program yang masih melewati ambang, berbanding 55,7 persen di kelompok pembanding. Di antara anak yang semula berada di atas ambang, 58,8 persen dari kelompok program sudah turun ke bawahnya. Di kelompok pembanding, angkanya 23,6 persen.
Bagi Johnsen, Øverup, dan Hald, hitungan ambang ini melengkapi angka rata-rata. Program itu, tulis mereka, tampak membantu sebagian besar anak keluar dari rentang absen yang lazim dianggap bermasalah. Kehadiran sekolah sendiri mereka sebut bukan sekadar ukuran administratif. Ia mencerminkan kemampuan anak untuk tetap terlibat di ruang tempat belajar, pertemanan, dan rutinitas harian berlangsung.
SES NXT, Singkatan Denmark untuk Kerja Sama Setelah Bercerai
Program yang diuji bernama SES NXT. SES adalah kependekan dari Samarbejde Efter Skilsmisse, bahasa Denmark untuk kerja sama setelah bercerai. Isinya singkat, sepenuhnya digital, dan dipakai anak secara mandiri. Sasarannya anak berusia 3 sampai 17 tahun yang orang tuanya berpisah, meski laporan ini hanya membahas anak usia sekolah, 6 sampai 17 tahun.
Ada 10 modul di dalamnya. Temanya antara lain hidup di dua rumah, menghadapi perubahan praktis, mengelola konflik orang tua, membangun susunan keluarga baru seperti orang tua tiri dan saudara tiri, menjaga hubungan dengan kedua orang tua, dan menghadapi reaksi emosi. Teksnya sedikit. Program ini mengandalkan video, grafis bergerak, dan suara narator agar bisa diikuti anak dari berbagai usia dan kemampuan membaca.
Isi program disesuaikan dengan empat kelompok usia. Untuk anak 6 sampai 8 tahun, modul menekankan mengenali emosi dan rasa aman. Untuk usia 9 sampai 12 tahun, mengelola hubungan di dua rumah dan urusan pertemanan. Untuk remaja 13 sampai 17 tahun, identitas, kemandirian, dan dinamika keluarga yang rumit. Anak bebas memilih, mengurutkan, dan mengulang modul sesuai kebutuhannya.
Tiga prinsip membentuk isi itu. Pertama agency, rasa berdaya: anak diposisikan sebagai pihak yang aktif mengelola keadaannya. Kedua normalization, penormalan: sedih, marah, bingung, bahkan lega dijelaskan sebagai reaksi yang wajar dan umum. Ketiga appropriate disturbance, gangguan yang pas takarannya: modul mengajak anak dengan lembut merenungkan bagian sulit dari pengalamannya, dengan kecepatan yang ia atur sendiri.
Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Daftar Tunggu, Kelompok Pembanding yang Baru Dapat Giliran Belakangan
Pembandingnya disebut waitlist, daftar tunggu. Maksudnya, keluarga di kelompok ini tetap mendapat program, tetapi baru pada minggu ke-12. Uji ini mengacak 467 keluarga dengan 649 anak usia sekolah, 340 anak ke kelompok program dan 309 ke daftar tunggu. Mereka direkrut lewat lembaga hukum keluarga nasional Denmark dan 21 pemerintah kota.
Selama 60 hari sekolah yang dicakup, selisih absen sehari penuh antara kedua kelompok adalah 3,24 hari per anak. Untuk absen sebagian, yakni datang terlambat atau pulang lebih awal, anak di kelompok program mencatat rata-rata 6,12 kejadian. Anak di daftar tunggu 11,58 kejadian. Selisihnya 5,46 kejadian per anak.
Bedanya begini bila dilihat hanya pada minggu ke-12. Absen sehari penuh diperkirakan 5,29 persen di kelompok program dan 9,01 persen di daftar tunggu, yang oleh para peneliti disebut penurunan relatif 42 persen. Untuk absen sebagian, angkanya 5,18 persen berbanding 8,61 persen, atau penurunan relatif 40 persen. Selisih itu, catat mereka, muncul bertahap sepanjang masa uji.
Ada satu ukuran lagi yang tidak berupa hitungan hari. Anak, atau orang tuanya, ditanya seberapa sering ia merasa sulit berangkat ke sekolah atau bertahan di sana, dari 0 untuk tidak pernah sampai 4 untuk selalu. Pada minggu ke-12, rata-rata skor kelompok program 1,24, sedangkan daftar tunggu 2,05. Para peneliti menggolongkan selisih ini sebagai efek yang besar.
Maksudnya, menurut mereka, pengaruh program tidak berhenti pada jumlah absen. Ia menyentuh dua rintangan yang berbeda: sulitnya membawa diri sampai ke sekolah, dan sulitnya tetap di sana setelah tiba. Program itu sendiri tidak memerlukan tenaga profesional, tidak memerlukan koordinasi penanganan di sekolah, dan tidak memerlukan rujukan klinis.
Dosis-Respons, Dugaan bahwa Makin Banyak Modul Makin Baik
Dalam riset, dose-response atau dosis-respons berarti hubungan antara banyaknya paparan dan besarnya hasil. Di sini pertanyaannya: apakah anak yang membuka lebih banyak modul lebih jarang absen? Jawaban para peneliti: secara keseluruhan tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara jumlah modul dan hasil kehadiran pada minggu ke-12.
Pemakaiannya sendiri cukup tinggi. Sekitar 77 persen anak di kelompok program benar-benar memakainya, dengan rata-rata 5,0 modul. Kebanyakan, sekitar 72 persen, membuka modul pertama pada hari yang sama atau sehari setelah mengisi survei awal. Sekitar 90 persen menjalaninya dalam rentang satu hari.
Satu pengecualian muncul ketika modul dikelompokkan menurut tema. Hanya tema sisi emosional perceraian yang berkaitan dengan absen sebagian pada minggu keempat: tiap tambahan satu modul yang diselesaikan dalam tema itu dikaitkan dengan penurunan 17 persen. Hasil pun tidak berbeda bermakna antara versi usia 6 sampai 8, 9 sampai 12, dan 13 sampai 17 tahun.
Para peneliti meminta temuan ini dibaca hati-hati. Analisis tersebut bersifat penjajakan dan uji ini tidak dirancang cukup kuat untuk mendeteksinya, sehingga hasil yang tidak bermakna harus dianggap belum menyimpulkan apa-apa, bukan bukti bahwa pengaruhnya tidak ada. Jumlah modul, tulis mereka, adalah penanda yang kasar. Bagi sebagian anak, sedikit modul yang sangat relevan mungkin sudah cukup.
Baca juga Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Menjanjikan, Kata yang Dipilih Peneliti dan Bukan Berarti Pasti
Angka absen dalam uji ini tidak diambil dari catatan sekolah. Untuk anak 6 sampai 10 tahun, yang melapor adalah orang tua. Anak 11 sampai 17 tahun melapor sendiri. Para peneliti menyebut ini keterbatasan terpenting. Karena pelapor tahu kelompok mana yang mereka tempati, pengaruh harapan terhadap jawaban tidak bisa disingkirkan.
Keterbatasan lain ikut dicatat. Peserta yang berhenti di tengah jalan lebih banyak di kelompok program daripada di daftar tunggu. Cara kerja program, yaitu rasa berdaya, penormalan, dan ajakan lembut tadi, tidak diuji langsung sehingga baru masuk akal secara teori. Pemantauan hanya 12 minggu. Uji ini juga berlangsung dalam sistem kesejahteraan dan layanan Denmark, yang bisa membatasi penerapannya di tempat lain.
Karena itu para peneliti membatasi kesimpulannya. “Mengingat ketergantungan pada data kehadiran yang bukan dari catatan resmi dan masa pemantauan yang singkat, temuan ini sebaiknya ditafsirkan sebagai menjanjikan, bukan pasti,” tulis Johnsen, Øverup, dan Hald dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mengulang uji dengan data catatan resmi mereka sebut sebagai langkah penting berikutnya.
Naskah itu juga memuat pernyataan kepentingan. Hald, penulis ketiga, memegang sebagian lisensi komersial dan hak kekayaan intelektual atas platform yang diuji, lewat SES Family ApS. Untuk menghindari benturan kepentingan, tulis mereka, ia tidak terlibat dalam pengelolaan, pelaksanaan, maupun analisis data. Seluruh penanganan data dikerjakan peneliti lain di University of Copenhagen.
Para peneliti menempatkan SES NXT sebagai pelengkap, bukan pengganti, penanganan kehadiran sekolah yang lebih intensif. Anak dengan masalah kehadiran yang berat dan rumit, tulis mereka, tetap memerlukan penanganan berbasis sekolah dan dukungan klinis. Yang ditawarkan program ini adalah dukungan digital singkat selama masa peralihan keluarga, yang mungkin membantu mencegah masalah memburuk.
Temuan ini, dengan demikian, bersandar pada jawaban orang tua dan anak, selama 12 minggu, di Denmark. Dengan batas itu, perceraian orang tua oleh ketiga peneliti disebut bukan hanya penanda risiko, melainkan juga pintu masuk yang praktis untuk pencegahan.















