Stunting di Kampung Tambang Zambia Lebih Tinggi Tanpa Akses Pasar

A A

Lanskap tambang tembaga terbuka Nchanga dekat Chingola di Copperbelt, Zambia [Foto: BlueSalo/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Sebanyak 36,7 persen anak balita yang diukur di dua kampung tambang itu tergolong stunting, dan 17 persen tergolong stunting berat.
  • Di rumah yang punya kebun sayur, 28 persen anaknya stunting, sedangkan di rumah tanpa kebun angkanya 42,3 persen.
  • Di rumah yang punya akses ke pasar atau pasar tani, angka stunting 25,6 persen, sedangkan tanpa akses itu 43,9 persen.
  • Di rumah yang pengasuhnya bertepuk tangan saat menyuapi, angka stunting 20,7 persen, sedangkan di rumah lain 41,8 persen.
  • Para penulis mengingatkan bahwa rancangan kajian mereka tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Kapijimpanga dan Kyafukuma
  2. Kebun Sayur di Pekarangan
  3. Pasar dan Toko Bahan Pangan
  4. Tepuk Tangan di Waktu Makan
  5. Kader, Ponsel, dan Uang Tunai
  6. Kebun Gizi, Air, dan Tanah

Di distrik Solwezi, Zambia, berdiri Kansanshi, tambang tembaga terbesar dan paling produktif di Afrika. Tambang itu ikut mendorong ekonomi dan pertambahan penduduk di kawasan sekitarnya. Di dekatnya ada dua kampung, Kapijimpanga dan Kyafukuma, tempat menambang menjadi kegiatan ekonomi utama. Di dua kampung itulah tinggi badan ratusan anak balita diukur satu per satu.

Hasil pengukuran itu ditulis Herbert Tato Nyirenda, David Mulenga, Tambulani Chayima Nyirenda, Hilda Teza Sinyangwe, Nancy Choka, dan Hilda Nyambe-Silavwe dalam artikel Food systems and market pathways to childhood stunting in mining communities: evidence from a cross-sectional survey and a synthesis of context-responsive nutrition interventions. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1443 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari The Copperbelt University di Ndola, The University of Zambia di Lusaka, dan Mulungushi University di Kabwe.

Tabel dalam naskah itu memuat 715 anak di bawah lima tahun beserta pengasuhnya. Sebanyak 36,7 persen anak balita yang diukur di dua kampung tambang itu tergolong stunting, dan 17 persen tergolong stunting berat. Artinya, kira-kira satu dari tiga anak di sana lebih pendek daripada batas yang dipakai Organisasi Kesehatan Dunia untuk anak seumurnya. Para penulis menyebut keadaan ini kegagalan tumbuh.

Kapijimpanga dan Kyafukuma

Kedua kampung itu berada di North-western province, wilayah yang sebagian besar pedesaan. Para penulis mencatat, karena letak tambang yang terpencil, kebanyakan komunitas tambang mengalami pengucilan sosial dan cenderung miskin, dengan akses terbatas ke layanan kesehatan. Warga komunitas semacam itu, tulis mereka, kerap menggantungkan hidup pada pertanian kecil dan pangan setempat.

Yang menjawab pertanyaan para pencatat hampir semuanya perempuan. Sebanyak 93,3 persen pengasuh adalah perempuan, dan 73 persen menyebut diri sebagai pasangan kepala rumah tangga. Lebih dari separuhnya, 55,2 persen, berumur di bawah 25 tahun. Sebanyak 86,3 persen sudah menikah atau hidup bersama pasangan.

Sekolah mereka umumnya pendek. Hampir separuh pengasuh, 49,7 persen, hanya menamatkan sekolah dasar. Hampir semuanya, 97,6 persen, tidak bekerja dan tercatat sebagai ibu rumah tangga. Lima persen di antaranya menyandang disabilitas atau sakit menahun.

Antara anak laki-laki dan perempuan, angka stunting nyaris sama: 36,6 persen dan 36,8 persen. Perbedaan baru terlihat pada stunting berat. Di antara anak laki-laki angkanya 12,5 persen, sedangkan di antara anak perempuan 21,5 persen. Para penulis mencatat perbedaan ini nyata secara statistik.

Umur membuat gambarnya bergeser lebih jauh. Pada bayi di bawah enam bulan, angka stunting 11,8 persen, dan pada bayi enam sampai delapan bulan 7,2 persen. Angka itu naik menjadi 43,3 persen pada umur 12 sampai 17 bulan, lalu 64,9 persen pada umur 24 sampai 35 bulan. Para penulis menyebut kenaikan seiring umur ini kecenderungan yang mengkhawatirkan.

Stunting menurut umur anak di SolweziDi bawah 6 bulan: Anak stunting (%) +11,8%; 6-8 bulan: Anak stunting (%) +7,2%; 9-11 bulan: Anak stunting (%) +23,2%; 12-17 bulan: Anak stunting (%) +43,3%; 18-23 bulan: Anak stunting (%) +53,4%; 24-35 bulan: Anak stunting (%) +64,9%; 36-47 bulan: Anak stunting (%) +43,9%; 48-59 bulan: Anak stunting (%) +40,4%.Stunting menurut umur anak di SolweziPersentase anak stunting per kelompok umur, 715 anak balita20%40%60%80%0Di bawah 6 bulan11,8%6-8 bulan7,2%9-11 bulan23,2%12-17 bulan43,3%18-23 bulan53,4%24-35 bulan64,9%36-47 bulan43,9%48-59 bulan40,4%
Sumber: Herbert Tato Nyirenda, David Mulenga, Tambulani Chayima Nyirenda, Hilda Teza Sinyangwe, Nancy Choka, dan Hilda Nyambe-Silavwe, Food systems and market pathways to childhood stunting in mining communities: evidence from a cross-sectional survey and a synthesis of context-responsive nutrition interventions, BMC Public Health, 26(1443), 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Stunting Mengelompok di Timur, Berat Lahir Jejak yang Tersisa

Kebun Sayur di Pekarangan

Dari tubuh anak, catatan itu berpindah ke pekarangan rumahnya. Dari 715 rumah tangga, 282 memiliki kebun sayur atau buah, dan 433 tidak. Di rumah yang punya kebun sayur, 28 persen anaknya stunting, sedangkan di rumah tanpa kebun angkanya 42,3 persen. Para penulis menyatakan hubungan antara kebun dan stunting ini nyata secara statistik.

Kebun sayur atau buah di rumah, tulis mereka, dapat memperbaiki keragaman makanan dan asupan zat gizi mikro anak kecil, terutama di lingkungan yang rawan pangan. Temuan ini mereka sebut senada dengan kajian lain di Etiopia, India, Peru, Vietnam, dan Bangladesh.

Ada pula soal pelatihan. Hanya 17 rumah tangga yang pernah mengikuti program pelatihan usaha dan pertanian. Di kelompok kecil itu, angka stunting tercatat 3,7 persen, sedangkan di rumah tangga yang tidak pernah ikut, angkanya 37,5 persen. Para penulis mengaitkannya dengan kajian di Etiopia tentang pemberdayaan perempuan dalam pertanian dan gizi anak balita.

Pasar dan Toko Bahan Pangan

Keluar dari pekarangan, jalan berikutnya menuju pasar. Di rumah yang punya akses ke pasar atau pasar tani, angka stunting 25,6 persen, sedangkan tanpa akses itu 43,9 persen. Hanya 282 rumah tangga yang menyatakan punya akses semacam itu di wilayahnya, sedangkan 434 lainnya tidak.

Toko bahan pangan utama memberi gambaran serupa. Di rumah tangga yang punya akses ke toko semacam itu, angka stunting 23,8 persen. Di rumah tangga yang tidak punya akses, angkanya 42,1 persen. Yang tidak punya akses jauh lebih banyak: 503 rumah tangga berbanding 213.

Pasar yang ada pun belum tentu berisi. Ketika bahan pangan tersedia di pasar, angka stunting tercatat 14,7 persen. Ketika tidak tersedia, angkanya 44,4 persen. Dan yang menjawab tidak tersedia adalah 529 dari 715 rumah tangga.

Stunting saat akses ada dan tidak adaKebun sayur/buah 28,0% ke 42,3%; Pasar/pasar tani 25,6% ke 43,9%; Toko pangan utama 23,8% ke 42,1%; Uang beli makanan 33,1% ke 43,3%; Pangan ada di pasar 14,7% ke 44,4%.Stunting saat akses ada dan tidak adaPersentase anak balita stunting menurut keadaan rumah tanggaAdaTidak ada0%20%40%60%Kebun sayur/buah28,0%42,3%Pasar/pasar tani25,6%43,9%Toko pangan utama23,8%42,1%Uang beli makanan33,1%43,3%Pangan ada di pasar14,7%44,4%
Sumber: Herbert Tato Nyirenda, David Mulenga, Tambulani Chayima Nyirenda, Hilda Teza Sinyangwe, Nancy Choka, dan Hilda Nyambe-Silavwe, Food systems and market pathways to childhood stunting in mining communities: evidence from a cross-sectional survey and a synthesis of context-responsive nutrition interventions, BMC Public Health, 26(1443), 2026. Grafik: Cekricek.id

Uang di tangan ikut menentukan. Di rumah tangga yang punya penghasilan untuk membeli makanan, angka stunting 33,1 persen, sedangkan di rumah tangga tanpa penghasilan itu 43,3 persen. Penghasilan, tulis para penulis, memberi pengasuh kemampuan membeli beragam makanan bergizi, layanan kesehatan, dan keperluan makan anak.

Kelangkaan pangan di sekitar tambang itu mereka sandingkan dengan temuan lain tentang kawasan yang pasar dan pangannya terbatas, yang dalam kepustakaan disebut gurun pangan. Sebuah kajian di Etiopia, catat mereka, juga menemukan akses ke pangan bergizi berkaitan dengan gizi anak yang lebih baik.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Tepuk Tangan di Waktu Makan

Dari pasar, catatan itu masuk ke dalam rumah, ke saat anak disuapi. Di rumah yang pengasuhnya bertepuk tangan saat menyuapi, angka stunting 20,7 persen, sedangkan di rumah lain 41,8 persen. Pengasuh yang melakukannya berjumlah 174 orang.

Wajah lucu, bermain, dan tertawa memberi angka yang lebih rendah lagi. Di rumah yang pengasuhnya melakukannya, angka stunting 15,4 persen, sedangkan di rumah lain 41,6 persen. Pengasuh yang berusaha menarik perhatian anak saat makan mencatat 25,6 persen, berbanding 39,1 persen.

Cara sebaliknya juga tercatat. Sebelas pengasuh menakut-nakuti anak dengan hukuman, misalnya cambuk, agar mau makan. Di kelompok kecil itu angka stunting 72,7 persen, sedangkan di rumah tangga lain 36,1 persen. Para penulis menyebut hubungan cara menyuapi dengan stunting nyata secara statistik.

Dapur pun disinggung. Kebiasaan memasak sayur terlalu lama, tulis para penulis, berkaitan dengan lebih banyaknya anak yang berat badannya kurang. Mereka merujuk bukti dari Tanzania, Indonesia, dan Lebanon bahwa makanan yang kurang beragam dan cara menyuapi yang tidak tepat menaikkan risiko gizi buruk, sedangkan cara menyuapi yang mendukung menopang pertumbuhan anak.

Kader, Ponsel, dan Uang Tunai

Setelah memetakan pekarangan, pasar, dan meja makan, para penulis menyandingkannya dengan program gizi yang pernah dikaji di tempat lain. Yang mereka anggap cocok untuk kampung tambang adalah pendidikan gizi komunitas, perlindungan sosial yang peka gizi, kader kesehatan yang berfokus pada gizi, layanan gizi digital, pengembangan sistem pangan lokal, dan kebun gizi.

Pendidikan gizi mereka tujukan bagi rumah tangga yang kesulitan mengatur belanja dan kurang pengetahuan tentang gizi. Isinya pengetahuan tentang nilai gizi makanan, cara memasak, dan cara mengatur anggaran agar gizi tetap terpenuhi dengan uang terbatas. Keberhasilannya, catat mereka, sangat bergantung pada mutu pelatih dan penyuluhnya.

Perlindungan sosial yang peka gizi mereka arahkan ke komunitas yang jauh dari toko dan pasar tani, serta rumah tangga yang tidak bertani. Bentuknya antara lain bantuan tunai bersyarat, hibah, pembagian makanan, dan keikutsertaan dalam program pertanian komunitas. Skema yang menopang petani kecil dan menghubungkannya dengan pangan setempat juga mereka sebut.

Layanan digital menawarkan informasi gizi, cara menyuapi, dan cara memasak lewat aplikasi ponsel, juga petunjuk menemukan toko dan pasar tani. Para penulis memberi satu catatan. Program ini sangat bergantung pada teknologi, sehingga warga dan kampungnya harus memiliki perangkat dan mampu memakainya.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Kebun Gizi, Air, dan Tanah

Sistem pangan lokal mereka pandang sebagai jalan bagi kampung yang jauh dari toko, pasar tani, dan program pertanian. Caranya dengan menguatkan program tani setempat dan membuka pasar tempat hasil bumi lokal mudah dijangkau warga. Upaya ini, tulis mereka, menopang ketahanan pangan sekaligus ekonomi setempat.

Kebun gizi komunitas disebut dapat memperbaiki akses ke sayur segar dan makanan bergizi bagi anak balita di kampung tambang dan pedesaan. Tetapi kebun butuh dua hal. Para penulis mencatat kebun gizi sangat bergantung pada pasokan air yang terus-menerus dan kesuburan tanah, sehingga keduanya harus ditimbang sebelum program dijalankan.

Semua angka tadi punya batas, dan para penulis menuliskannya sendiri. “Kajian ini adalah kajian potong lintang, yang membatasi kemampuan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat antara sistem pangan, akses pasar, praktik pemberian makan, dan stunting,” tulis Nyirenda dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Para penulis mengingatkan bahwa rancangan kajian mereka tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat.

Tinjauan program gizi mereka juga terbatas. Tinjauan itu, menurut para penulis, tidak menghitung besar pengaruh gabungan dan tidak menetapkan keampuhan tiap program. Kajian yang dirujuk berbeda-beda rancangan, tempat, dan ukurannya, sehingga sulit dibandingkan langsung. Mereka menyarankan kajian jangka panjang dan kajian tentang biaya program gizi di berbagai wilayah.

Di ujung naskah, para penulis kembali ke kampung dan pasarnya. Stunting, tulis mereka, lahir dari jalinan antara cara pengasuh merawat anak, keadaan rumah tangga, dan lingkungan pangan. Mereka menyebut perlunya program yang disesuaikan dengan keadaan setempat, terutama di komunitas rentan yang aksesnya ke pangan beragam dan bergizi terbatas.

Kansanshi tetap tambang tembaga terbesar di Afrika, dan Kapijimpanga serta Kyafukuma tetap kampung di sekitarnya. Jalan yang ditunjuk para penulis melewati pasar. “Memperbaiki akses, ketersediaan, dan keragaman pangan di pasar lokal dan komunitas dapat menjadi jalur yang layak menuju pangan bergizi,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Bagikan

Baca Juga

Orang Jepang yang Cuek Kesehatan Lebih Jarang Lapor Rawat Inap
Aplikasi Ponsel di Thailand Saring Remaja Berisiko Seks Pranikah
Lansia Migran Musiman Hainan Rajin Jalan, Lemak Viseral Menumpuk
Kremlin: Eropa Tak Ikut Perundingan Ukraina di Abu Dhabi
PM Irak Kunjungi Suriah, Pertama Sejak Jatuhnya Bashar al-Assad
Bank of Canada Naikkan Suku Bunga Pertama Kali dalam Tiga Tahun