Aplikasi Ponsel di Thailand Saring Remaja Berisiko Seks Pranikah

A A

Ilustrasi dua tangan perempuan mengetik pesan di ponsel pintar di atas meja [Foto: Zen Chung/Pexels]

  • Tiga peneliti Naresuan University membuat alat saring risiko seks pranikah di dalam LINE dan mengujinya pada 773 siswa.
  • Empat belas faktor diberi bobot, dengan skor 0 sampai 13 berarti tidak berisiko.
  • Sensitivitas aplikasi 86,4 persen, spesifisitas 70,0 persen, dan nilai prediksi negatif 91,8 persen.
  • Spesifisitas pada siswa perempuan 85,0 persen, sedangkan pada siswa laki-laki hanya 51,1 persen.
  • Sampelnya hanya dari satu provinsi dan seluruh data berasal dari laporan diri siswa.
Daftar Isi
  1. Periode 2020–2025, Ketika Angkanya Bergerak
  2. Dari Hoirat hingga Yau, Faktor yang Sudah Lebih Dulu Dicatat
  3. Empat Belas Faktor Rumusan Songthap dan Timnya
  4. Januari–Juni 2023, Aplikasi Itu Masuk ke Tiga Sekolah
  5. Seberapa Jitu Menurut Songthap dan Rekan
  6. Dibanding Hoirat dan Chintu, di Mana Temuan Ini Berdiri
  7. Mata Rantai Berikutnya Setelah Phitsanulok

Dulu, di sekolah-sekolah Thailand, urusan menjaga remaja dari hubungan seks sebelum menikah bertumpu pada pengamatan guru dan survei kertas yang sesekali dibagikan. Cara itu kerap gagal, sebab stigma dan budaya menjaga muka membuat siswa enggan menjawab jujur. Sementara itu zaman bergeser ke layar: pada awal 2025 hampir 98,9 persen siswa sekolah menengah dan vokasi Thailand memegang ponsel pintar.

Dari pergeseran itulah tiga peneliti Naresuan University berangkat. Archin Songthap, Civilaiz Wanaratwichit, dan Sunsanee Mekrungrongwong menuliskannya dalam artikel berjudul Development of a mobile application for screening the risk of premarital sex among adolescents in Northern Thailand, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka membuat alat saring risiko yang hidup di dalam LINE, lalu mengujinya pada 773 siswa di Provinsi Phitsanulok, Thailand utara.

Periode 2020–2025, Ketika Angkanya Bergerak

Ketiga peneliti menyebut rentang 2020 sampai 2025 sebagai masa peralihan yang genting dalam perilaku remaja Thailand. Menurut data pengawasan nasional yang mereka rujuk, remaja laki-laki yang sudah pernah berhubungan seks naik dari 24,1 persen pada 2020 menjadi 35,0 persen pada 2025. Pada remaja perempuan kenaikannya lebih tajam, dari 16,9 persen menjadi 28,2 persen, sehingga jarak antara keduanya menyempit.

Usia rata-rata hubungan seks pertama ikut turun dan kini berada di angka 15,0 tahun. Yang lebih mencemaskan bagi para penulis adalah infeksi menular seksual pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun, yang melonjak hampir tiga kali lipat: dari 102,5 per 100.000 pada 2020 menjadi 290,4 pada 2025. Angka-angka itulah yang mereka pakai untuk menjelaskan mengapa alat saring yang cepat dan tertutup dirasa mendesak.

Latar digitalnya juga mereka catat. Remaja Thailand kini rata-rata berada di dunia maya 7 jam 54 menit sehari, terutama lewat ponsel, dan LINE menjadi saluran komunikasi yang paling lazim, dipakai lebih dari 85,7 persen pengguna internet. Keterhubungan itu, tulis mereka, membawa manfaat pendidikan, tetapi sekaligus membuka akses pribadi yang tak terawasi ke konten yang menggoda dan ke layanan kencan daring.

Baca juga Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar

Dari Hoirat hingga Yau, Faktor yang Sudah Lebih Dulu Dicatat

Alat baru ini tidak dibangun dari nol. Para penulis menelusuri riset-riset sebelumnya tentang apa saja yang berkaitan dengan hubungan seks pada remaja. Kajian Hoirat dan Wongsawut pada 2020, misalnya, mencatat usia, indeks prestasi, merokok, punya pasangan, tinggal bersama pasangan, dan minum alkohol sebagai faktor utama. Daftar itu menjadi salah satu pijakan awal mereka.

Yau dan rekan-rekannya pada 2019 menambahkan satu hal lain, yakni keyakinan diri untuk mencegah aktivitas seksual, yang mereka temukan berhubungan bermakna dengan seks pranikah. Riset-riset lain yang dirujuk menyebut anggapan bahwa teman sebaya sudah punya pasangan, rasa ingin tahu dan keinginan mencoba, kurangnya pengawasan orang tua atau tinggal sendiri, berduaan dengan pasangan, kecanduan pornografi daring, penyalahgunaan zat, serta bersekolah di sekolah vokasi.

Yang belum ada, menurut penelusuran mereka, adalah aplikasi ponsel yang khusus menyaring risiko seks pranikah. Di Thailand, teknologi yang tersedia baru satu aplikasi yang menilai kehidupan siswa secara luas, dari akademik, kesehatan fisik, keluarga, dan keuangan sampai penyalahgunaan zat, keamanan, dan perilaku seksual umum. Di negara lain, aplikasi sejenis kebanyakan hanya menyajikan informasi umum tentang kesehatan seksual dan reproduksi, bukan penyaringan risiko secara langsung.

Empat Belas Faktor Rumusan Songthap dan Timnya

Dari penelusuran itu tersaring empat belas faktor. Isinya jenis kelamin laki-laki, usia 17 tahun ke atas, bersekolah di sekolah vokasi, indeks prestasi semester terakhir di bawah 3,00, uang sekolah yang tidak mencukupi, minum alkohol, merokok, memakai narkoba, berniat berhubungan seks, menganggap teman-teman sudah melakukannya, tidak mampu menolak, punya pacar, punya kesempatan berdua dengan pacar, dan kecanduan menonton media pornografi.

Setiap faktor diberi bobot menurut kuatnya kaitan yang ditemukan riset terdahulu, memakai pedoman penskoran Johnson dan rekan-rekannya. Niat berhubungan seks, uang sekolah yang tidak cukup, punya pacar, dan kesempatan berdua mendapat skor tertinggi, masing-masing empat. Faktor tidak mampu menolak mendapat skor terendah, satu. Jika semua faktor ada pada seorang siswa, jumlahnya 41.

Jumlah skor itulah yang menentukan golongan. Skor 0 sampai 13 berarti tidak berisiko, 14 sampai 27 berisiko sedang, dan 28 sampai 41 berisiko tinggi. Ambang tersebut diambil dari kriteria baku Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand. Dengan cara itu, tulis para peneliti, alat mereka tetap sejalan dengan pedoman yang dipakai pendidik kesehatan dan praktisi di negeri itu.

Aplikasi saring risiko di LINEAplikasi saring risiko di LINEAplikasi saring risiko di LINESkor 0-13 tidak berisiko, 14-27 sedang, 28-41 tinggi773siswaProvinsiPhitsanulok14faktorskor total 4186,4%sensitivitasseluruh sampel91,8%prediksinegatifseluruh sampelJalan risetnyaPindai kode QRJawab 14 faktorSkor langsung
Sumber: Archin Songthap, Civilaiz Wanaratwichit, Sunsanee Mekrungrongwong, Development of a mobile application for screening the risk of premarital sex among adolescents in Northern Thailand, BMC Public Health, volume 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Januari–Juni 2023, Aplikasi Itu Masuk ke Tiga Sekolah

Aplikasinya ditanam di LINE Official Account supaya bisa dibuka di semua ponsel pintar. Alurnya empat langkah. Siswa memindai kode QR dan mendaftar, lalu mengisi penilaian empat belas faktor. Begitu selesai, skor dan tingkat risikonya langsung tampil. Dari sana siswa bisa membuka panduan pencegahan yang disesuaikan dengan hasilnya. Pengisian memakan waktu kira-kira sepuluh menit.

Antara Januari dan Juni 2023 alat itu dicoba pada 773 siswa kelas 10 sampai 12 dan siswa vokasi tahun pertama sampai ketiga, dari dua sekolah menengah dan satu sekolah vokasi di Phitsanulok. Usia rata-rata mereka 16,5 tahun. Sebanyak 54,2 persen perempuan, 84,2 persen siswa sekolah menengah, dan 88,9 persen menerima uang saku yang cukup.

Jawaban mereka memberi gambaran keseharian. Sebanyak 44,2 persen minum alkohol, 14,1 persen merokok, dan 3,2 persen memakai narkoba. Punya pacar diakui 46,3 persen siswa, dan dari 358 siswa yang berpacar itu 63,4 persen menyatakan punya kesempatan berdua. Lalu 41,7 persen berniat berhubungan seks, sedangkan 64,6 persen menganggap teman-temannya sudah melakukannya.

Satu pertanyaan tambahan menanyakan riwayat. Hasilnya, 242 siswa atau 31,3 persen menyatakan pernah berhubungan seks, kira-kira tiga dari sepuluh. Pada siswa laki-laki angkanya 33,1 persen, pada siswa perempuan 29,8 persen. Aplikasi sendiri menggolongkan 369 siswa, atau 47,7 persen, sebagai berisiko, dan 404 siswa lainnya sebagai tidak berisiko.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Seberapa Jitu Menurut Songthap dan Rekan

Golongan risiko dari aplikasi kemudian disandingkan dengan riwayat yang dilaporkan siswa. Sensitivitasnya 86,4 persen. Artinya, dari siswa yang pernah berhubungan seks, sebanyak itulah yang berhasil ditandai berisiko. Spesifisitasnya 70,0 persen, yaitu bagian dari siswa yang belum pernah dan memang digolongkan tidak berisiko. Ketepatan keseluruhannya, yang diukur dengan luas di bawah kurva, tercatat 87,9 persen.

Dua angka lain melengkapi gambaran itu. Nilai prediksi negatifnya 91,8 persen, sehingga hasil tidak berisiko dari aplikasi tergolong sangat bisa dipegang. Nilai prediksi positifnya lebih sedang, 56,6 persen. Para penulis menilai hal itu wajar untuk alat saring yang dipakai pada kelompok tempat perilaku yang dicari bukan hal yang dominan, yakni 31,3 persen.

Titik potong terbaik yang dihasilkan kurva jatuh pada skor 13, persis sama dengan ambang yang sudah mereka tetapkan dari kriteria kementerian. Bagi para peneliti, yang paling penting tetap sensitivitas. “Dalam konteks penyaringan seks pranikah, melewatkan seorang individu berisiko tinggi (negatif palsu) jauh lebih merugikan daripada alarm palsu,” tulis Archin Songthap, Civilaiz Wanaratwichit, dan Sunsanee Mekrungrongwong dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Alasannya mereka uraikan. Sensitivitas yang tinggi memastikan sebagian besar siswa berisiko terjaring dan bisa ditawari pendidikan pencegahan atau konseling. Langkah itu, menurut mereka, jauh lebih hemat biaya daripada menangani kehamilan yang tidak diinginkan atau wabah infeksi menular seksual di kemudian hari. Nilai prediksi negatif yang tinggi juga membantu tenaga kesehatan memusatkan sumber daya yang terbatas pada kelompok berisiko.

Ketika hasil dipisah menurut jenis kelamin, polanya berbeda. Pada siswa laki-laki sensitivitasnya 94,0 persen, lebih tinggi daripada siswa perempuan yang 79,2 persen. Sebaliknya, spesifisitas pada siswa perempuan mencapai 85,0 persen, sedangkan pada siswa laki-laki hanya 51,1 persen. Dengan kata lain, alat ini lebih jeli menangkap kasus berisiko pada laki-laki, tetapi lebih tepat mengenali yang tidak berisiko pada perempuan.

Kinerja aplikasi pada siswa laki-laki dan perempuanSensitivitas: Laki-laki +94,0%, Perempuan +79,2%; Spesifisitas: Laki-laki +51,1%, Perempuan +85,0%; Nilai prediksi positif: Laki-laki +48,7%, Perempuan +69,2%; Nilai prediksi negatif: Laki-laki +94,5%, Perempuan +90,6%.Kinerja aplikasi pada siswa laki-laki danperempuanPersen, 354 siswa laki-laki dan 419 siswa perempuanLaki-lakiPerempuan25%50%75%100%0Sensitivitas94,0%79,2%Spesifisitas51,1%85,0%Nilai prediksi positif48,7%69,2%Nilai prediksi negatif94,5%90,6%
Sumber: Archin Songthap, Civilaiz Wanaratwichit, Sunsanee Mekrungrongwong, Development of a mobile application for screening the risk of premarital sex among adolescents in Northern Thailand, BMC Public Health, volume 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Spesifisitas yang rendah pada laki-laki, tulis para peneliti, menandakan lebih banyak positif palsu di kelompok ini. Dugaan mereka, keempat belas faktor risiko itu memang banyak dijumpai pada remaja laki-laki, termasuk pada mereka yang belum pernah berhubungan seks. Nilai prediksi positifnya pun lebih rendah pada laki-laki, 48,7 persen, dibandingkan 69,2 persen pada perempuan.

Nilai prediksi negatif tetap tinggi di kedua kelompok, 94,5 persen pada laki-laki dan 90,6 persen pada perempuan. Ketepatan keseluruhannya 88,0 persen untuk laki-laki dan 91,4 persen untuk perempuan. Para penulis menyimpulkan kemampuan alat itu membedakan yang berisiko dari yang tidak tergolong sangat baik hingga unggul pada kedua jenis kelamin.

Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi

Dibanding Hoirat dan Chintu, di Mana Temuan Ini Berdiri

Angka 31,3 persen itu sedikit lebih tinggi daripada yang dilaporkan kajian terdahulu atas remaja Thailand utara, dan jauh lebih tinggi daripada beberapa kajian atas siswa sekolah menengah di Thailand maupun Etiopia. Para penulis mengaitkan selisih itu terutama dengan ikut sertanya siswa vokasi dalam sampel mereka, kelompok yang menunjukkan angka aktivitas seksual jauh lebih tinggi daripada siswa sekolah menengah.

Penjelasan itu mereka sandingkan dengan temuan Chintu dan rekan-rekannya, yang mencatat siswa vokasi kerap punya kemandirian tempat tinggal lebih besar dan lebih sering mendapat kesempatan tak terawasi bersama pasangan. Karena belum ada riset lain yang menguji aplikasi sejenis, kinerja alat ini dibandingkan dengan alat saring perilaku kesehatan remaja lainnya. Sensitivitasnya setara dengan alat penilai stres dan sedikit di bawah alat saring depresi, risiko bunuh diri, dan psikosis anak.

Soal pilihan LINE, para peneliti memandangnya sebagai jawaban atas hambatan budaya. Remaja sering merasa dicap ketika membicarakan kesehatan seksual secara tatap muka. Mereka meyakini jarak digital yang disediakan aplikasi menciptakan ruang aman, mendorong laporan diri yang lebih jujur, dan mengurangi kecenderungan menjawab sesuai harapan orang, hal yang selama ini mengganggu ketepatan penilaian risiko seksual.

Mata Rantai Berikutnya Setelah Phitsanulok

Batasnya mereka akui sendiri. Seluruh data berasal dari laporan diri siswa, sehingga tetap bisa terpengaruh keinginan untuk tampak baik. Sampelnya hanya dari satu provinsi, dan itu membatasi sejauh mana hasilnya berlaku di tempat lain. Rancangan yang memotret satu waktu juga belum bisa menilai daya ramal alat ini dalam jangka panjang, sementara spesifisitas pada siswa laki-laki masih perlu diperbaiki.

Untuk kebijakan, mereka mengusulkan agar Kementerian Pendidikan dan Kantor Komisi Pendidikan Vokasi mendahulukan penyatuan alat saring digital ke dalam pengawasan kesehatan siswa yang rutin. Kementerian Kesehatan Masyarakat, menurut mereka, dapat memakai model ini di klinik kesehatan sekolah, sehingga perawat dan konselor sekolah mengenali siswa berisiko tinggi lebih dini dan memberi pendampingan yang terarah.

Dalam rantai riset yang mereka susun sendiri, pekerjaan ini berada di tengah. Sebelumnya ada deretan kajian tentang faktor risiko, yang kini dirangkum menjadi empat belas pertanyaan di sebuah akun LINE. Sesudahnya, para penulis menyarankan studi jangka panjang untuk menguji daya ramal aplikasi dan dampaknya pada perilaku, penyempurnaan model bagi pengguna laki-laki, serta penyesuaian ke wilayah dan budaya lain di Thailand.

Bagikan

Baca Juga

Lansia Migran Musiman Hainan Rajin Jalan, Lemak Viseral Menumpuk
Free Fire Kembali ke India Empat Tahun Setelah Diblokir
Apple Rilis MacBook Layar Sentuh Pertama, Harga Mulai 2.899 Dolar
Hampir Separuh Pasien Dewasa di Selatan Arab Saudi Obesitas
Banyak Warga Bangladesh Tak Tahu Idap Darah Tinggi atau Diabetes
Staf Kampus Lebih Paham Mata Lelah, Mahasiswa Lebih Menjaga