Anak SD Pendek di Kulon Progo Lebih Sering Punya Orang Tua Pendek

A A

Ilustrasi murid SD berseragam merah putih berbaris di halaman sekolah desa berbukit [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Dari 62 anak pendek di Kulon Progo, 39 memiliki ayah pendek, sedangkan pada anak normal hanya 23.
  • Rasio odds untuk tinggi ayah dan tinggi ibu sama-sama 2,88 dengan nilai p 0,004.
  • Pada anak laki-laki, rasio odds tinggi tengah orang tua mencapai 10,37 dengan p 0,001.
  • Riwayat anemia, berat lahir rendah, infeksi, dan ASI eksklusif tidak berhubungan bermakna dengan anak pendek.
Daftar Isi
  1. Di Depan Alat Ukur
  2. Ayah dan Ibu
  3. Anak Laki-laki dan Anak Perempuan
  4. Rata-rata Tinggi Ayah dan Ibu
  5. Riwayat Kehamilan dan Masa Bayi
  6. Kembali ke Ruang Kelas

Di Kalibawang, Samigaluh, dan Sentolo, tiga kecamatan di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tinggi badan murid sekolah dasar diukur dengan sebuah stadiometer SECA 213. Alat pengukur tinggi badan itu dikalibrasi sebelum pengambilan data dimulai, lalu diperiksa lagi pada pagi hari selama pengukuran berjalan. Yang berdiri di depannya bukan hanya murid kelas 2 sampai 4, melainkan juga ayah dan ibu mereka.

Sepanjang Februari hingga Juli 2023, 124 anak berusia 7 sampai 11 tahun beserta kedua orang tuanya diukur. Sebanyak 62 anak masuk kelompok pendek menurut kurva pertumbuhan WHO, sedangkan 62 anak lainnya bertinggi normal dan menjadi pembanding. Di masing-masing kelompok ada 23 anak laki-laki dan 39 anak perempuan.

Hasil pengukuran itu dilaporkan Shafira Khalisa Hanun dan rekan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dalam makalah Association between parental height and short stature of children aged 7 to 11 years in Kulon Progo, Yogyakarta. Makalah tersebut dimuat Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 22 nomor 4 tahun 2026. Temuan pokoknya, anak yang pendek berhubungan dengan ayah dan ibu yang juga pendek, sementara riwayat kesehatan ibu dan anak yang ditanyakan tidak menunjukkan hubungan bermakna.

Kulon Progo dipilih bukan tanpa alasan. Menurut makalah itu, kabupaten ini memiliki prevalensi stunting tertinggi kelima di provinsinya, dengan angka sekitar 18 persen. Penulisnya menyebut hasil riset sebelumnya soal tinggi orang tua dan anak pendek masih diperdebatkan, sedangkan hubungan untuk tinggi ayah belum dipastikan.

Di Depan Alat Ukur

Selisih tinggi di antara murid-murid itu tampak jelas pada angka. Anak laki-laki yang pendek rata-rata bertinggi 118,33 sentimeter, sedangkan anak laki-laki bertinggi normal rata-rata 127,81 sentimeter. Usia rata-rata seluruh anak yang diukur 9,24 tahun, dengan jumlah 23 anak di tiap kelompok laki-laki.

Pada anak perempuan, pola itu berulang. Anak perempuan yang pendek rata-rata bertinggi 119,98 sentimeter, sementara yang normal 131,13 sentimeter. Ukuran pendek di sini memakai skor-z tinggi menurut umur, yakni tinggi anak dibandingkan kurva anak seusia dan sejenis kelamin, dengan batas di bawah minus 2 simpangan baku.

Tinggi rata-rata anak pendek dan normalAnak laki-laki: Pendek 118,33, Normal 127,81; Anak perempuan: Pendek 119,98, Normal 131,13.Tinggi rata-rata anak pendek dan normalSentimeter, murid SD usia 7-11 tahun di Kulon Progo(n=124)PendekNormal020406080100120140118,33127,81Anak laki-laki119,98131,13Anak perempuanPendek: skor-z tinggi menurut umur di bawah -2 SD (Tabel 1)
Sumber: Shafira Khalisa Hanun dan rekan, Association between parental height and short stature of children aged 7 to 11 years in Kulon Progo, Yogyakarta, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dalam skor itu, anak laki-laki pendek rata-rata berada di angka minus 2,42 dan anak perempuan pendek di minus 2,43. Anak bertinggi normal tercatat di minus 0,85 untuk laki-laki dan minus 0,61 untuk perempuan. Angka-angka itu tercatat di tabel pertama makalah, berdampingan dengan tinggi dalam sentimeter.

Orang tua mereka diukur dengan alat yang sama. Tinggi rata-rata para ibu 150,44 sentimeter dan tinggi rata-rata para ayah 162,26 sentimeter, dengan selisih rata-rata antara ibu dan ayah 11,98 sentimeter. Untuk orang tua, tim memakai kurva WHO usia 19 tahun, dengan anggapan tinggi mereka tidak bertambah lagi.

Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi

Hasil pengukuran orang tua ternyata terbelah rata. Ada 62 ayah yang tergolong pendek dan 62 ayah yang normal, begitu pula 62 ibu pendek dan 62 ibu normal. Pertanyaannya kemudian, ke kelompok anak mana orang tua yang pendek itu lebih banyak tercatat.

Ayah dan Ibu

Jawabannya muncul di tabel kedua makalah. Dari 62 anak pendek, 39 memiliki ayah yang pendek, sedangkan di antara 62 anak bertinggi normal hanya 23 yang ayahnya pendek. Pola yang sama persis muncul untuk ibu: 39 anak pendek beribu pendek, dibanding 23 anak normal.

Dari sebaran itu, rasio odds untuk ayah dan ibu sama-sama 2,88, dengan rentang kepercayaan 95 persen 1,39 sampai 5,96 dan nilai p 0,004. Makalah mencatat tinggi ayah dan tinggi ibu sama-sama berhubungan bermakna dengan perawakan pendek anak.

Penulis makalah menyebut temuan tersebut sejalan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 di 34 provinsi, yang mencatat anak stunting berhubungan dengan tinggi orang tuanya. Mereka juga mencatat riset di Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang menemukan hubungan bermakna antara tinggi ayah dan stunting pada anak.

Di bagian pembahasan, makalah itu menulis bahwa tinggi badan merupakan ekspresi genetik yang diturunkan kepada anak melalui kromosom. Namun, makalah yang sama mencatat bahwa bila orang tua pendek karena kekurangan gizi atau sakit, anak kemungkinan tumbuh dengan tinggi normal selama tidak ada faktor risiko lain.

Anak Laki-laki dan Anak Perempuan

Begitu data dipisah menurut jenis kelamin, gambarnya berubah. Pada anak laki-laki, 16 dari 23 anak pendek memiliki ayah pendek, sedangkan pada anak laki-laki normal hanya 8. Rasio odds untuk tinggi ayah 4,29 dengan p 0,018.

Tinggi ibu menunjukkan pola serupa. Sebanyak 18 dari 23 anak laki-laki pendek memiliki ibu pendek, dibanding 10 pada anak laki-laki normal, dengan rasio odds 4,68 dan p 0,016. Kedua hubungan itu bermakna secara statistik.

Pada anak perempuan, hubungan itu tidak mencapai batas kemaknaan. Rasio odds tinggi ayah 2,3 dengan p 0,070, dan rasio odds tinggi ibu 2,33 dengan p 0,068. Makalah memakai batas p di bawah 0,05, sehingga keduanya tercatat tidak bermakna.

Tim juga menghitung kekuatan hubungan antara skor tinggi anak dan skor tinggi orang tua. Pada anak laki-laki, koefisiennya 0,40 untuk ayah dan 0,51 untuk ibu, sedangkan pada anak perempuan 0,37 untuk ayah dan 0,32 untuk ibu. Seluruhnya bermakna.

Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan

Rata-rata Tinggi Ayah dan Ibu

Ukuran ketiga yang dipakai adalah tinggi tengah orang tua, atau mid-parental height (MPH). Menurut makalah, ukuran ini merupakan rata-rata tinggi kedua orang tua yang disesuaikan dengan jenis kelamin anak, dan dapat dipakai untuk memperkirakan tinggi dewasa anak kelak. Rata-ratanya 161,25 sentimeter untuk anak laki-laki dan 151 sentimeter untuk anak perempuan.

Pada anak laki-laki, hubungannya juga bermakna. Dari 23 anak laki-laki pendek, 20 memiliki tinggi tengah orang tua yang tergolong pendek, sedangkan pada anak laki-laki normal hanya 9. Rasio oddsnya 10,37 dengan p 0,001.

Anak perempuan juga menunjukkan hubungan bermakna pada ukuran ini. Sebanyak 22 dari 39 anak perempuan pendek memiliki tinggi tengah orang tua yang pendek, dibanding 12 dari 39 anak perempuan normal. Rasio oddsnya 2,91 dengan p 0,022.

Orang tua pendek dan anak pendekMPH anak laki-laki 10,37; Ibu, anak laki-laki 4,68; Ayah, anak laki-laki 4,29; MPH anak perempuan 2,91; Ayah, seluruh anak 2,88; Ibu, seluruh anak 2,88; Ibu, anak perempuan 2,33; Ayah, anak perempuan 2,30.Orang tua pendek dan anak pendekRasio odds (OR), Tabel 2 dan Tabel 3; MPH = tinggi tengahorang tua024681012MPH anak laki-laki10,37Ibu, anak laki-laki4,68Ayah, anak laki-laki4,29MPH anak perempuan2,91Ayah, seluruh anak2,88Ibu, seluruh anak2,88Ibu, anak perempuan2,33Ayah, anak perempuan2,30Ayah dan ibu pada anak perempuan tidak bermakna (p 0,070 dan0,068)
Sumber: Shafira Khalisa Hanun dan rekan, Association between parental height and short stature of children aged 7 to 11 years in Kulon Progo, Yogyakarta, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 2026. Grafik: Cekricek.id

Koefisien hubungannya juga dihitung untuk ukuran ini. Skor tinggi anak laki-laki dan tinggi tengah orang tuanya mencapai 0,63, sedangkan pada anak perempuan 0,45. Keduanya bermakna dengan p di bawah 0,001.

Meski begitu, makalah mencatat keterbatasan ukuran ini. Dengan merujuk riset tahun 1999, penulis menyebut tinggi tengah orang tua paling berguna untuk menilai anak bertinggi normal, sedangkan pada anak stunting ukuran ini hanya berhasil pada sebagian kecil kasus karena kebanyakan anak stunting tumbuh di bawah potensi genetiknya.

Riwayat Kehamilan dan Masa Bayi

Selain mengukur tinggi, tim menanyakan riwayat kesehatan ibu dan anak melalui kuesioner. Hasilnya, tidak satu pun faktor yang ditanyakan berhubungan bermakna dengan anak pendek, dengan nilai p antara 0,378 dan 1,000. Faktor ibu itu meliputi usia saat hamil, anemia, dan kekurangan energi kronis.

Anemia saat hamil tercatat pada 6 ibu anak pendek atau 9,7 persen, dan pada 5 ibu anak normal atau 8,1 persen. Kekurangan energi kronis, yang dinilai dari lingkar lengan atas ibu saat hamil, tercatat pada 2 ibu di kelompok anak pendek dan 1 ibu di kelompok anak normal.

Riwayat anak menunjukkan pola serupa. Berat lahir rendah tercatat pada 7 anak pendek atau 11,3 persen dan 5 anak normal atau 8,1 persen. Riwayat infeksi ada pada 35 anak pendek atau 56,5 persen dan 31 anak normal atau 50,0 persen, sedangkan yang tidak mendapat ASI eksklusif 15 anak pendek dan 11 anak normal. Dengan demikian, riwayat anemia, berat lahir rendah, infeksi, dan ASI eksklusif tidak berhubungan bermakna dengan anak pendek.

Penulis makalah memberi catatan khusus untuk berat lahir rendah. “Jumlah anak dengan berat lahir rendah yang kecil dalam sampel kami dapat memengaruhi hasil statistik bahwa anak dengan berat lahir rendah tidak berhubungan bermakna dengan stunting,” tulis Shafira Khalisa Hanun dan rekan dalam bagian pembahasan, dalam terjemahan Cekricek.id.

Pembahasan makalah juga menyebut kemungkinan lain bagi anak yang pendek meski orang tuanya bertinggi normal. Anak semacam itu, menurut penulis, dapat dipengaruhi faktor hormonal yang memengaruhi pertumbuhan dan pematangan tulang, seperti hormon tiroid, insulin, dan vitamin D.

Baca juga Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan

Kembali ke Ruang Kelas

Penulis menyebut kekuatan riset ini terletak pada pengukuran langsung tinggi anak dan orang tua oleh asisten peneliti terlatih dengan alat ukur standar. Keterbatasannya, menurut penulis, adalah jumlah sampel yang kecil. Makalah juga mencatat seluruh peserta berasal dari suku Jawa. Untuk langkah berikutnya, makalah menyarankan riset yang menilai semua aspek perawakan pendek, tidak hanya skor tinggi yang rendah. Penulis merujuk usulan untuk ikut menilai hormon tiroid dan perlambatan pertumbuhan anak.

Simpulan mereka ringkas. “Kami menemukan adanya hubungan bermakna antara tinggi ayah, tinggi ibu, dan tinggi tengah orang tua dengan perawakan pendek anak usia 7 sampai 11 tahun di Kabupaten Kulon Progo,” tulis Shafira Khalisa Hanun dan rekan dalam terjemahan Cekricek.id, seraya menegaskan riwayat kesehatan ibu dan anak tidak berhubungan bermakna.

Di Kalibawang, Samigaluh, dan Sentolo itu, stadiometer yang diperiksa lagi pada pagi hari selama pengukuran mencatat tinggi dua generasi. Dari 62 murid yang tergolong pendek, 39 diukur dengan alat yang sama seperti ayah mereka yang juga tergolong pendek.

Bagikan

Baca Juga

Mantra Pengobatan Orang Osing Memadukan Doa, Pantangan, dan Bunga
Rumah Suku Duano di Pesisir Riau Masih Mengikuti Bentuk Perahu
Di Desa Tambak, Panen Madu Bermantra Hilang Saat Hutan Jadi Sawit
Orang Kajang Pantang Rumah Bata, Sebab Tanah Mengapit Orang Mati
Suku Bajo di Bajo Pulau Bima Berhenti Mengembara Sejak 1945
Suku Anak Dalam Selalu Menyisakan Madu dan Buah untuk Satwa Hutan