Warga Fukushima Bergejala Trauma Lebih Kerap Sulit Mengunyah

A A

Ilustrasi tangan memegang sumpit kayu mengambil bola-bola dari semangkuk sup kari kuning [Foto: Pexels]

  • Sebanyak 2,8 persen peserta masuk kelompok sulit mengunyah, sedangkan 0,31 persen masuk kelompok yang keluhannya memburuk sejak bencana.
  • Untuk keluhan yang memburuk saja, warga bergejala PTSD memiliki rasio odds 3,23 dibandingkan warga tanpa gejala.
  • Mendengar ledakan akibat kecelakaan nuklir berkaitan dengan rasio odds 1,57 untuk keluhan yang memburuk saja.
  • Kebiasaan berolahraga saat ini memberi rasio odds 0,60 untuk keluhan sulit mengunyah yang memburuk saja.
Daftar Isi
  1. Keluhan yang Ada dan Keluhan yang Memburuk
  2. Trauma Bencana dan Riwayat Penyakit Mental
  3. Bunyi Ledakan Nuklir dan Hilangnya Pekerjaan
  4. Olahraga dan Rekreasi di Sisi Seberang
  5. Pengungsi dan Bukan Pengungsi, Laki-laki dan Perempuan
  6. Kekuatan Survei dan Batas yang Diakui Penulisnya

Bunyi ledakan dari sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir dan makanan yang terasa berat dikunyah tampak tidak punya urusan apa pun satu sama lain. Survei kesehatan terhadap puluhan ribu warga Prefektur Fukushima, Jepang, justru menempatkan keduanya di dalam satu tabel. Warga yang mendengar ledakan saat kecelakaan nuklir 2011 lebih kerap melaporkan kesulitan mengunyah yang memburuk sejak bencana.

Temuan itu dilaporkan Narumi Funakubo dan rekan dari Departemen Epidemiologi Fakultas Kedokteran Fukushima Medical University serta Radiation Medical Science Center for the Fukushima Health Management Survey di universitas yang sama. Laporan mereka berjudul Post-disaster psychosocial and physical determinants of perceived chewing difficulty among fukushima residents: the Fukushima Health Management Survey dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Datanya berasal dari Survei Kesehatan Mental dan Gaya Hidup, bagian dari Fukushima Health Management Survey, yang dikirim lewat pos kepada warga berusia 16 tahun ke atas di wilayah evakuasi dan sekitarnya. Kuesioner diisi antara 18 Januari dan 31 Oktober 2012, kira-kira sepuluh bulan setelah Gempa Besar Jepang Timur 11 Maret 2011. Setelah jawaban yang diwakilkan kepada orang lain dikeluarkan, 64.188 warga berusia 16 sampai 101 tahun dianalisis.

Keluhan yang Ada dan Keluhan yang Memburuk

Pertanyaan kuncinya sederhana. Warga ditanya apakah dalam beberapa hari terakhir mereka merasa tidak enak badan karena sulit mengunyah, dan yang menjawab ya ditanya lagi apakah keluhan itu memburuk sejak bencana. Dari dua pertanyaan itu lahir tiga kelompok: tanpa keluhan, dengan keluhan sulit mengunyah, dan dengan keluhan yang memburuk sejak bencana.

Kelompok kedua dan ketiga sama-sama kecil, tetapi ukurannya tidak setara. Sebanyak 2,8 persen peserta masuk kelompok sulit mengunyah, sedangkan 0,31 persen masuk kelompok yang keluhannya memburuk sejak bencana. Dalam hitungan orang, Tabel 1 paper mencatat 731 laki-laki dan 1.056 perempuan pada kelompok sulit mengunyah, serta 75 laki-laki dan 124 perempuan pada kelompok yang keluhannya memburuk.

Usia memisahkan keduanya dengan arah yang sama. Pada warga berusia 49 tahun ke bawah, proporsi sulit mengunyah 0,8 persen, lalu 2,8 persen pada usia 50 sampai 69 tahun dan 5,7 persen pada usia 70 tahun ke atas. Proporsi yang memburuk sejak bencana pada tiga kelompok umur yang sama adalah 0,19 persen, 0,32 persen, dan 0,47 persen.

Pada laki-laki, proporsinya 2,6 persen untuk sulit mengunyah dan 0,27 persen untuk keluhan yang memburuk. Pada perempuan, angkanya 2,9 persen dan 0,34 persen. Rata-rata usia seluruh peserta survei tercatat 55,2 tahun, dengan perempuan sebagai bagian terbesar, yakni 36.235 orang, sedangkan laki-laki berjumlah 27.953 orang.

Baca juga Kehilangan Separuh Gigi, Risiko Gangguan Kognitif Lansia Naik

Trauma Bencana dan Riwayat Penyakit Mental

Faktor yang berkaitan dengan keluhan memburukGejala PTSD 3,23; Riwayat penyakit mental 2,94; Mendengar ledakan nuklir 1,57; Kehilangan pekerjaan 1,47; Riwayat dislipidemia 1,47; Kebiasaan olahraga 0,60.Faktor yang berkaitan dengan keluhanmemburukRasio odds sulit mengunyah yang memburuk sejak bencana,Model 2, 64.188 warga0123Gejala PTSD3,23Riwayat penyakit mental2,94Mendengar ledakan nuklir1,57Kehilangan pekerjaan1,47Riwayat dislipidemia1,47Kebiasaan olahraga0,60Acuan: tanpa faktor itu; olahraga dibanding tidak berolahraga
Sumber: Narumi Funakubo dan rekan, Post-disaster psychosocial and physical determinants of perceived chewing difficulty among fukushima residents: the Fukushima Health Management Survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Gejala gangguan stres pascatrauma, atau PTSD, diukur dengan daftar periksa 17 butir versi Jepang, dan skor 44 ke atas dihitung sebagai bergejala. Setelah faktor lain diperhitungkan dalam model kedua, warga bergejala PTSD memiliki rasio odds 2,70 untuk sulit mengunyah yang ada maupun yang memburuk, dibandingkan warga tanpa gejala. Untuk keluhan yang memburuk saja, rasionya 3,23.

Di sisi lain, riwayat penyakit mental memperlihatkan pola yang sejajar. Rasio odds-nya 2,29 untuk sulit mengunyah yang ada maupun yang memburuk, dan 2,94 untuk keluhan yang memburuk saja, dibandingkan warga tanpa riwayat itu. Menurut Tabel 1, riwayat penyakit mental tercatat pada 4,2 persen peserta laki-laki dan 5,6 persen peserta perempuan.

Distres psikologis, yang diukur dengan skala K6 dan dihitung pada skor 13 ke atas, berada di pihak yang sama. Abstrak paper mencatat rasio odds 3,71 untuk keluhan yang memburuk. Karena distres dan gejala PTSD saling berkaitan, model akhir hanya memuat gejala PTSD. Paper mencatat uji kepekaan yang mengganti gejala PTSD dengan skala K6 memberi hasil yang hampir sama.

Para penulis memberi tekanan khusus pada gejala trauma. “Secara khusus, gejala PTSD berkaitan erat dengan kesulitan mengunyah tanpa memandang jenis kelamin dan usia, yang menunjukkan bahwa dampak psikologis bencana dapat bertahan dan terus memengaruhi fungsi mulut bahkan 10–19 bulan setelah Gempa Besar Jepang Timur,” tulis Funakubo dan rekan dalam bagian pembahasan, dalam terjemahan Cekricek.id.

Bunyi Ledakan Nuklir dan Hilangnya Pekerjaan

Pengalaman bencana diukur lewat beberapa pertanyaan ya atau tidak, di antaranya mendengar suara ledakan akibat kecelakaan nuklir, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan orang dekat. Dalam model kedua, mendengar ledakan berkaitan dengan rasio odds 1,26 untuk sulit mengunyah yang ada maupun yang memburuk, dan 1,57 untuk keluhan yang memburuk saja.

Pada kasus kedua, kehilangan pekerjaan, rasionya 1,14 dan 1,47 untuk dua ukuran yang sama. Kehilangan orang dekat bermakna pada ukuran pertama dengan rasio 1,17, tetapi tidak bermakna secara statistik pada keluhan yang memburuk, dengan rasio 1,25 dan rentang kepercayaan 0,91 sampai 1,72.

Tidak semua pengalaman bencana bertahan setelah faktor lain diperhitungkan. Pengalaman mengungsi dan kerusakan rumah, yang bermakna pada model pertama yang hanya menyesuaikan usia dan jenis kelamin, tidak lagi bermakna secara statistik pada model kedua. Hal yang sama terjadi pada riwayat diabetes dan kebiasaan minum alkohol berat.

Di luar pengalaman bencana, kondisi tubuh dan kebiasaan juga ikut tercatat. Untuk sulit mengunyah yang ada maupun yang memburuk, riwayat hipertensi memberi rasio odds 1,23, riwayat dislipidemia 1,18, dan kebiasaan merokok 1,27. Untuk keluhan yang memburuk saja, dislipidemia memberi rasio 1,47, sedangkan hipertensi dan merokok tidak bermakna secara statistik.

Baca juga Usai Gempa Turki, Banyak Keluarga Sulit Bicara tapi Tak Berobat

Olahraga dan Rekreasi di Sisi Seberang

Di sisi seberang ada dua kebiasaan yang bergerak ke arah sebaliknya. Kebiasaan berolahraga saat ini, dibandingkan tidak berolahraga, memberi rasio odds 0,85 untuk sulit mengunyah yang ada maupun yang memburuk, dan 0,60 untuk keluhan yang memburuk saja. Ikut kegiatan rekreasi, dibandingkan tidak pernah atau jarang, memberi rasio 0,83 pada ukuran pertama.

Pada ukuran kedua, rekreasi tidak lagi bermakna secara statistik, dengan rasio 0,88. Bagian pembahasan paper mencatat bahwa warga yang rutin berolahraga lebih jarang mengalami keluhan yang memburuk, dengan rasio odds 0,57 pada perempuan dan 0,47 pada warga berusia 70 tahun ke atas.

Kebiasaan itu tidak tersebar merata. Menurut Tabel 1, 46,7 persen peserta laki-laki dan 53,4 persen peserta perempuan tidak berolahraga sama sekali. Pada kelompok berusia 49 tahun ke bawah, angkanya 69,0 persen, sedangkan pada warga berusia 70 tahun ke atas, yang tidak berolahraga tercatat 24,5 persen.

Para penulis menempatkan temuan ini dengan hati-hati. “Sebaliknya, kebiasaan olahraga teratur dan keikutsertaan dalam rekreasi berkaitan negatif dengan kesulitan mengunyah yang dirasakan dan mungkin memberi efek pencegahan terhadap gejala ini,” tulis mereka dalam simpulan, dalam terjemahan Cekricek.id. Menurut pembahasan, kesempatan beraktivitas fisik dan berinteraksi sosial yang segera disediakan setelah bencana dapat membantu menjaga kebugaran dan meredakan stres.

Pengungsi dan Bukan Pengungsi, Laki-laki dan Perempuan

Peserta lalu dipilah menurut status mengungsi: 35.061 orang tergolong pengungsi dan 29.127 orang bukan pengungsi. Pada kedua kelompok, gejala PTSD, mendengar ledakan nuklir, riwayat penyakit mental, hipertensi, dislipidemia, dan merokok sama-sama berkaitan dengan sulit mengunyah yang ada maupun yang memburuk. Ikut rekreasi berada di arah sebaliknya pada keduanya.

Pola pada pengungsi dan bukan pengungsiGejala PTSD: Pengungsi (n 35.061) +2,94, Bukan pengungsi (n 29.127) +2,33; Riwayat penyakit mental: Pengungsi (n 35.061) +2,08, Bukan pengungsi (n 29.127) +2,71; Mendengar ledakan nuklir: Pengungsi (n 35.061) +1,25, Bukan pengungsi (n 29.127) +1,30; Kehilangan orang dekat: Pengungsi (n 35.061) +1,24, Bukan pengungsi (n 29.127) +1,06; Kebiasaan olahraga: Pengungsi (n 35.061) +0,85, Bukan pengungsi (n 29.127) +0,86; Ikut rekreasi: Pengungsi (n 35.061) +0,86, Bukan pengungsi (n 29.127) +0,79.Pola pada pengungsi dan bukan pengungsiRasio odds sulit mengunyah, yang ada maupun yangmemburuk, Model 2Pengungsi (n 35.061)Bukan pengungsi (n 29.127)1230Gejala PTSD2,942,33Riwayat penyakit mental2,082,71Mendengar ledakan nuklir1,251,30Kehilangan orang dekat1,241,06Kebiasaan olahraga0,850,86Ikut rekreasi0,860,79Rekreasi dibanding tidak pernah atau jarang
Sumber: Narumi Funakubo dan rekan, Post-disaster psychosocial and physical determinants of perceived chewing difficulty among fukushima residents: the Fukushima Health Management Survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perbedaannya muncul pada dua faktor. Di kalangan pengungsi, kehilangan orang dekat berkaitan dengan keluhan itu dengan rasio odds 1,24, sedangkan kebiasaan olahraga berada di arah sebaliknya dengan rasio 0,85. Pada bukan pengungsi, rasio keduanya 1,06 dan 0,86. Bagian pembahasan juga mencatat gejala PTSD pada 26,1 persen pengungsi dan 17,9 persen bukan pengungsi.

Pemilahan menurut jenis kelamin memberi gambaran yang sejajar. Pada laki-laki maupun perempuan, gejala PTSD, ledakan nuklir, riwayat penyakit mental dan hipertensi, serta merokok berkaitan dengan keluhan tersebut, sementara olahraga dan rekreasi berada di arah sebaliknya. Kehilangan pekerjaan bermakna pada laki-laki dengan rasio 1,32, sedangkan kehilangan orang dekat dan dislipidemia bermakna pada perempuan.

Menurut kelompok umur, gejala PTSD berkaitan dengan keluhan itu di semua kelompok, dengan rasio odds 4,15 pada usia 49 tahun ke bawah, 2,85 pada usia 50 sampai 69 tahun, dan 2,27 pada usia 70 tahun ke atas. Pada kelompok tertua, pengalaman mengungsi bermakna dengan rasio 1,22, sementara kehilangan pekerjaan bermakna pada kelompok 50 sampai 69 tahun dengan rasio 1,26.

Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi

Kekuatan Survei dan Batas yang Diakui Penulisnya

Para penulis menyebut dua kekuatan. Sepanjang pengetahuan mereka, inilah studi skala besar pertama yang secara menyeluruh meneliti faktor epidemiologis dan psikososial yang berkaitan dengan sulit mengunyah setelah bencana besar, dengan lebih dari 64.000 peserta. Survei sistematisnya pun sudah berjalan sejak masa awal pascabencana.

Mereka juga menyebut tiga keterbatasan. Survei hanya mencakup warga zona evakuasi sehingga keterwakilannya terbatas, dan tingkat responsnya 40,7 persen, yang membuka kemungkinan bias seleksi. Keluhan mengunyah dilaporkan sendiri, bukan hasil pemeriksaan gigi, dan survei tidak memuat jumlah gigi yang tersisa maupun pemakaian gigi palsu.

Desainnya potong lintang, sehingga tidak dapat menunjukkan sebab-akibat, dan jawaban soal memburuk sejak bencana bersandar pada ingatan peserta. Para penulis menyarankan penelitian lanjutan yang mengikuti peserta dari waktu ke waktu, disertai pemeriksaan objektif fungsi mulut dan mengunyah, pemeriksaan gigi terperinci, serta penilaian kesehatan mulut.

Dalam simpulan, para penulis menyebut gejala PTSD, pengalaman terkait kecelakaan nuklir, kehilangan pekerjaan, dan kehilangan orang dekat, serta riwayat penyakit mental, hipertensi, dan dislipidemia berkaitan dengan sulit mengunyah yang dirasakan. Dalam pembahasan, mereka menekankan pentingnya tenaga kesehatan gigi mengenali keluhan semacam itu meski tanpa nyeri atau bengkak, lalu memberi dukungan menyeluruh.

Bagikan

Baca Juga

Di Jepang, Tekanan Batin Tak Terkait Kebiasaan Minum Alkohol
Kantor Jepang yang Tahu Edaran Lebih Sering Beri Tes Hepatitis
Badan Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk Terkait Kerapuhan di Osaka
Orang Jepang yang Cuek Kesehatan Lebih Jarang Lapor Rawat Inap
Peluang Pulih dari Henti Jantung di Tokyo Berbeda Barat dan Timur
Tidur Singkat atau Panjang, Anak Muda Jepang Lebih Jarang Sarapan