Usai Gempa Turki, Banyak Keluarga Sulit Bicara tapi Tak Berobat

A A

Kota kontainer hunian sementara penyintas gempa tampak dari udara, Kahramanmaraş, Turki, 2023 [Foto: Orhan Erkılıç (VOA)/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Dari 267 keluarga yang melihat gejala, hanya 52 yang mendapat diagnosis resmi, setara 19,5 persen.
  • Yang benar-benar menemui terapis wicara lebih sedikit lagi, 38 keluarga atau 14,2 persen.
  • Sebanyak 178 dari 229 keluarga itu, atau 77,7 persen, tidak tahu cara mengakses layanan.
  • Sebanyak 27 dari 30 orang tidak mengenal profesi terapis wicara atau tidak tahu gunanya.
Daftar Isi
  1. Enam dari sepuluh keluarga melihat suara dan kata-kata berubah sesudah gempa
  2. Hanya 38 keluarga yang sampai ke terapis wicara, sisanya berhenti di tengah jalan
  3. Di dalam kontainer berisi tujuh orang, urusan bicara menunggu giliran paling belakang
  4. Para peneliti menyebutnya disabilitas yang tidak terlihat dan menawarkan empat langkah
  5. Yang belum terjawab dari empat provinsi itu, dan beberapa catatan kecil pada naskahnya

Seorang ibu berusia 38 tahun membawa putrinya ke dokter. Anak itu sulit menelan makanan dan kerap tersedak sejak gempa. Dokter memeriksa, lalu menyatakan tidak ada yang salah secara fisik. Ibu itu pulang dengan pertanyaan yang tidak terjawab: harus ke mana lagi, dan kepada siapa. Soal terapis wicara, ia balik bertanya profesi apa itu, sebab ia belum pernah mendengarnya.

Kisah itu dicatat Agit Şimşek dan Tuba Kaya dalam A mixed-methods study on speech and language disorders after the earthquake in Türkiye: awareness, service gaps, and lived experiences, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1140, tahun 2026. Keduanya berasal dari Departemen Terapi Wicara dan Bahasa, Fakultas Ilmu Kesehatan, İnönü University, di Malatya.

Malatya sendiri termasuk wilayah yang diguncang. Gempa Kahramanmaraş pada 6 Februari 2023 datang dua kali, berkekuatan 7,7 dan 7,6 Mw. Kedua peneliti lalu mendatangi empat provinsi yang paling parah terdampak, yaitu Hatay, Kahramanmaraş, Adıyaman, dan Malatya. Di sana 450 orang dewasa mengisi kuesioner, dan 30 orang di antaranya diwawancarai lebih dalam.

Yang menjawab adalah orang-orang yang kehilangan banyak hal. Sebanyak 41,6 persen punya anggota keluarga yang terjebak di bawah reruntuhan. Lebih dari separuh, 53,6 persen, punya anggota keluarga yang terluka, dan 45,1 persen kehilangan kerabat dekat. Enam dari sepuluh responden masih tinggal di tenda atau kota kontainer ketika ditemui. Dari seluruh responden, 61,8 persen perempuan.

Enam dari sepuluh keluarga melihat suara dan kata-kata berubah sesudah gempa

Angka pertama yang muncul dari kuesioner itu besar. Sebanyak 267 dari 450 responden, atau 59,3 persen, melihat sedikitnya satu gejala gangguan bicara dan bahasa di dalam keluarganya. Yang paling sering adalah suara yang serak atau memburuk, dilaporkan 178 keluarga atau 39,6 persen. Di urutan kedua, 156 keluarga melihat anggotanya kesulitan menemukan kata.

Daftarnya masih berlanjut. Sebanyak 29,8 persen keluarga melihat kesulitan menyampaikan maksud, dan 26,9 persen melihat kesulitan memahami ucapan orang lain. Seperempat keluarga, 24,9 persen, melaporkan sulit menelan atau rasa tersedak, seperti yang dialami putri ibu tadi. Bicara yang tersendat atau gagap dilaporkan 98 keluarga, setara 21,8 persen.

Gejala yang dilihat keluarga penyintas gempaSuara serak atau memburuk: Keluarga yang melaporkan +39,6%; Sulit menemukan kata: Keluarga yang melaporkan +34,7%; Sulit menyampaikan maksud: Keluarga yang melaporkan +29,8%; Sulit memahami orang lain: Keluarga yang melaporkan +26,9%; Sulit menelan atau tersedak: Keluarga yang melaporkan +24,9%; Gagap atau bicara tersendat: Keluarga yang melaporkan +21,8%.Gejala yang dilihat keluarga penyintas gempaPersen dari 450 responden di empat provinsi10%20%30%40%50%0Suara serak atau memburuk39,6%Sulit menemukan kata34,7%Sulit menyampaikan maksud29,8%Sulit memahami orang lain26,9%Sulit menelan atau tersedak24,9%Gagap atau bicara tersendat21,8%Satu keluarga boleh melaporkan lebih dari satu gejala. Sebanyak 59,3persen melihat sedikitnya satu gejala.
Sumber: Agit Şimşek dan Tuba Kaya, A mixed-methods study on speech and language disorders after the earthquake in Türkiye: awareness, service gaps, and lived experiences, BMC Public Health, 26(1140), 2026. Grafik: Cekricek.id

Naskah itu membagi gangguan sesudah bencana ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama bersumber dari saraf, misalnya afasia, disartria, dan gangguan menelan akibat cedera otak, stroke, atau kekurangan oksigen. Kelompok kedua bersumber dari tekanan jiwa, seperti suara yang hilang terkait stres pascatrauma dan gagap yang bertambah. Dalam laporan keluarga, 64,2 persen menyebut diagnosis stres pascatrauma, depresi, atau kecemasan, dan 14,9 persen menyebut cedera otak atau stroke.

Hanya 38 keluarga yang sampai ke terapis wicara, sisanya berhenti di tengah jalan

Lalu angkanya runtuh. Dari 267 keluarga yang melihat gejala, hanya 52 yang mendapat diagnosis resmi, setara 19,5 persen. Yang benar-benar menemui terapis wicara lebih sedikit lagi, 38 keluarga atau 14,2 persen. Artinya kira-kira satu dari tujuh keluarga. Sebanyak 229 keluarga lain tidak pernah sampai ke sana, dan kepada merekalah kuesioner menanyakan alasannya.

Dari gejala sampai ke ruang terapis wicaraDari gejala sampai ke ruang terapis wicaraDari gejala sampai ke ruang terapis wicaraJumlah yang tersisa di tiap tahap450 orangpenyintas gempa267 keluargamelihat gejala52 keluargadapat diagnosis38ke terapiswicaraGejala berarti sedikitnya satu gejala; diagnosis berarti diagnosis resmi.52 dan 38 keluarga setara 19,5 persen dan 14,2 persen dari 267keluarga yang melihat gejala.
Sumber: Agit Şimşek dan Tuba Kaya, A mixed-methods study on speech and language disorders after the earthquake in Türkiye: awareness, service gaps, and lived experiences, BMC Public Health, 26(1140), 2026. Grafik: Cekricek.id

Jawaban terbanyak bukan soal uang. Sebanyak 178 dari 229 keluarga itu, atau 77,7 persen, tidak tahu cara mengakses layanan. Sebanyak 72,1 persen menganggap gangguan itu bukan prioritas atau hanya sementara. Hampir dua dari tiga keluarga, 64,2 persen, bahkan tidak tahu bahwa profesi terapis wicara ada. Kendala biaya dan transportasi baru menyusul di angka 40,2 persen.

Pengetahuan yang tipis itu juga terbaca pada skor. Rata-rata skor kesadaran responden 41,2 dari nilai tertinggi 75, di bawah titik tengah skala yang oleh para penulis ditetapkan 45. Bagian yang paling rendah justru pengetahuan tentang layanan dan cara mengaksesnya, 10,1 dari 25. Pengetahuan umum mencatat 16,8, sedangkan kemampuan mengenali gejala 14,3.

Siapa yang lebih tahu? Pendidikan menjadi penanda terkuat. Lulusan universitas mencatat skor 50,1, sedangkan yang berpendidikan SMA ke bawah 38,9. Keluarga yang melihat gejala mencatat 44,9 berbanding 35,8, dan yang kehilangan kerabat dekat 44,6 berbanding 38,4. Para penulis menduga pengalaman berat mendorong orang mencari pertolongan, tetapi data sekali waktu ini tidak dapat membuktikan sebab-akibat.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Di dalam kontainer berisi tujuh orang, urusan bicara menunggu giliran paling belakang

Wawancara dengan 30 orang memberi wajah pada angka-angka itu. Hampir semuanya, 28 orang, mengatakan hidup sesudah gempa berputar di sekitar bertahan hidup, tempat berteduh, dan rasa aman. Seorang partisipan perempuan berusia 35 tahun, yang dicatat penulis sebagai K19, mengatakannya begini: “Ya, bicara saya terganggu, tetapi kekhawatiran terbesar kami saat ini adalah tempat tinggal. Kami bertujuh di dalam satu kontainer.”

Ada pula yang memilih diam. Seorang partisipan yang dicatat sebagai K12 menceritakan putranya mulai gagap sesudah gempa, tetapi ia tidak ingin tetangga mendengarnya dan menganggap anak itu trauma. Menurut para penulis, gagap dan hilangnya suara pada anak dikhawatirkan dipandang sebagai kelemahan atau kekurangan. Kekhawatiran itu membuat keluarga enggan mencari pertolongan.

Sebagian besar tidak tahu harus mencari siapa. Sebanyak 27 dari 30 orang tidak mengenal profesi terapis wicara atau tidak tahu gunanya. Delapan orang yang mencoba mencari layanan justru menerima petunjuk yang saling bertabrakan. Ada yang menyuruh ke pusat layanan swasta, ada yang menyuruh membuat janji di rumah sakit negeri, ada pula yang menyarankan psikiater. Mereka pun patah semangat.

Hanya empat orang yang berhasil sampai ke layanan, dan mereka mengeluhkan rujukan yang tidak berjalan. Seorang perempuan berusia 51 tahun, dicatat sebagai K24, bercerita tentang ibunya yang terjebak reruntuhan dan cedera kepala hingga bicaranya terganggu. Dokter saraf yang mereka temui hanya mengatakan sang ibu akan pulih. “Tidak ada yang mengajari kami apa pun,” kata partisipan itu dalam kutipan yang dimuat naskah.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Para peneliti menyebutnya disabilitas yang tidak terlihat dan menawarkan empat langkah

Dari empat provinsi itu Şimşek dan Kaya menarik satu kesimpulan. “Temuan ini menunjukkan bahwa respons bencana tradisional, yang terutama berfokus pada cedera fisik, mengabaikan fungsi komunikasi yang penting bagi pemulihan dan partisipasi dalam masyarakat,” tulis keduanya dalam naskah berbahasa Inggris. Gangguan bicara dan bahasa, kata mereka, banyak terlihat tetapi jarang diakui sebagai prioritas rehabilitasi.

Hambatannya berlapis dan saling mengunci. Ketika kesulitan bicara dihayati sebagai kelemahan pribadi atau tanda trauma yang memalukan, keluarga tidak menggolongkannya sebagai masalah kesehatan yang perlu segera ditangani. Ketidaktahuan tentang layanan dan desakan untuk bertahan hidup lalu memadamkan niat mencari pertolongan. Lapisan terakhir adalah koordinasi yang lemah di dalam sistem kesehatan itu sendiri.

Usulan pertama mereka sederhana, yaitu satu pertanyaan tambahan. Formulir penilaian kesehatan darurat milik AFAD dapat memuat butir seperti apakah orang ini sulit berbicara atau menelan. Jalur rujukan ke terapis wicara bagi orang yang diduga cedera otak atau stroke diusulkan masuk ke rencana tanggap bencana Turki, TAMP. Jumlah terapis di rumah sakit negeri juga perlu ditambah, dengan patokan kira-kira satu terapis untuk 50.000 penduduk di provinsi berisiko tinggi.

Usulan lain menyangkut jarak dan kata-kata. Terapi jarak jauh dinilai layak diperluas dan dapat dipertimbangkan masuk tanggungan jaminan kesehatan nasional, SGK. Kampanye publik disarankan memakai pesan yang tidak menstigma, misalnya bahwa sulit berbicara sesudah gempa itu lazim dan bisa ditangani. Peta jalan layanan bergambar diusulkan disebar di pusat komunitas dan lewat SMS. Semua usulan itu, tulis mereka, bersifat penjajakan.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Yang belum terjawab dari empat provinsi itu, dan beberapa catatan kecil pada naskahnya

Para penulis menyebut sendiri batas penelitian mereka. Semua gejala dilaporkan oleh keluarga tanpa pemeriksaan klinis, sehingga suara serak atau gagap dalam survei ini belum tentu sama dengan diagnosis. Migran dan orang yang tinggal di lembaga tidak ikut terjaring. Datanya juga diambil sekali waktu, jadi tidak bisa menunjukkan sebab-akibat. Mereka menyarankan penelitian lanjutan yang mengikuti para penyintas dalam jangka panjang.

Beberapa hal di dalam naskah patut dicocokkan pembaca. Kalimat hasil menyebut faktor-faktor tadi menjelaskan sekitar 36 persen ragam skor kesadaran, tetapi angka yang ditulis di belakangnya 0,37. Partisipan K19 berkata bicaranya sendiri terganggu, padahal keterangannya menyebut suaminya yang kehilangan suara. Naskah juga tidak menyebut kapan kuesioner dan wawancara itu dilakukan.

Ada pula soal rujukan. Tiga sumber yang dikutip di bagian pembahasan, yaitu Battle tahun 2015, Birol dan Yaşar Gündüz tahun 2024, serta Barton-Hulsey dan rekan tahun 2023, tidak tercantum dalam daftar pustaka yang berisi sembilan entri. Usulan ketiga berakhir dengan potongan kalimat yang terputus. Catatan itu tidak mengubah arah temuan, tetapi berguna bagi siapa pun yang hendak mengutip angkanya.

Ibu berusia 38 tahun itu, yang dicatat sebagai K7, tidak sendirian dengan pertanyaannya. Di antara 229 keluarga yang tidak pernah menemui terapis wicara, 178 mengaku tidak tahu jalannya. Putrinya masih sulit menelan, dokter sudah mengatakan tidak ada yang salah, dan pertanyaan tentang harus ke mana itu tetap tercatat di dalam naskah tanpa jawaban.

Bagikan

Baca Juga

Demam Berdarah Guangzhou Terkait Pohon Rindang di Tujuan Warga
Pemilik Hewan Peliharaan di Jerman Makin Jarang Cuci Tangan
Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur
Nafkah Keluarga Pesisir Bangladesh Rapuh, Berat Anak Ikut Kurang
Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Pensiunan Sarawak Hidup Lebih Baik bila Masih Merasa Berdaya