Suku Anak Dalam Selalu Menyisakan Madu dan Buah untuk Satwa Hutan

A A

Ilustrasi pohon bersarang lebah di tepi sungai hutan dengan asap dan keranjang rotan [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Madu dan buah hutan tidak pernah diambil sekaligus, selalu ada yang ditinggalkan bagi satwa hutan.
  • Gadung yang mengandung racun diiris tipis lalu direndam di air sungai yang mengalir.
  • Wilayah berburu digilir supaya hewan-hewan bisa berkembang biak lagi.
  • Ketika seorang anggota keluarga meninggal, keluarga pindah ke tempat baru, dan tradisi ini disebut melangun.
  • Para penulis menyarankan studi perbandingan dengan komunitas adat lain.
Daftar Isi
  1. Dari hitungan IPBES 2019 ke empat permukiman di Merangin
  2. Kujur dan sumpit, yang disandingkan dengan Berkes dan Colchester
  3. Gadung beracun dan madu berasap dalam bacaan Gadgil dan Klein
  4. Aturan menebang, rotan, dan berburu bergilir menurut asas Ostrom 1990
  5. Melangun dan catatan Walker 2020 tentang waktu pulih hutan
  6. Roh penjaga, sungai, dan jejak Sager 2008 di Bukit Dua Belas
  7. Madu yang disisakan dan tempat naskah 2025 dalam rantai riset

Lahan yang dikelola masyarakat adat, menurut hitungan IPBES pada 2019, mencakup kira-kira 28 persen daratan bumi dan menopang 80 persen keanekaragaman hayati dunia. Setahun kemudian Walker dan rekan-rekannya mencatat bahwa di hutan hujan Amazon, tempat masyarakat adat mengelola sekitar 35 persen lahan, laju penggundulan hutan hingga lima kali lebih rendah daripada di luar wilayah kelola mereka. Di Kabupaten Merangin, Jambi, Suku Anak Dalam menyimpan aturan serupa dalam hal yang sangat sehari-hari: madu dan buah hutan tidak pernah diambil sampai habis.

Kebiasaan itu dicatat Sadar Ginting, Anurak Wongta, Sakaewan Ounjaijean, dan Surat Hongsibsong dalam artikel Indonesia’s Indigenous Suku Anak Dalam: Knowledge for Food and Environmental Sustainability, yang dimuat Frontiers in Sustainable Food Systems volume 9 tahun 2025. Keempatnya bekerja di Research Institute for Health Sciences, Chiang Mai University, Thailand. Mereka mendengarkan 16 warga di empat permukiman, yakni empat tumenggung atau kepala kelompok, empat wakil tumenggung, empat induk atau istri tumenggung, dan empat tetua.

Dari hitungan IPBES 2019 ke empat permukiman di Merangin

Angka-angka dunia tadi dipakai para peneliti sebagai pintu masuk, sebab di sisi lain mereka menemukan catatan yang berlawanan. Pengetahuan dan praktik masyarakat adat, tulis mereka dengan merujuk Al-Mansoori dan Hamdan pada 2023, kerap dipinggirkan dalam kerangka resmi pengelolaan lingkungan. Riset-riset terdahulu memang mengakui peran pengetahuan itu, tetapi menurut Ginting dan rekan, perdebatan masih berlangsung tentang cara yang efektif untuk memadukannya ke dalam kerangka keberlanjutan modern.

Suku Anak Dalam yang mereka temui hidup setengah berpindah, karena banyak wilayah hutan tradisionalnya sudah berubah menjadi kebun sawit dan karet. Selain di hutan, sebagian besar warga tinggal di permukiman tetap dan setengah tetap di pinggir desa, juga di permukiman sementara di kawasan perkebunan. Sungai Merangin dan Batanghari, menurut naskah itu, menjadi sumber air, ikan, dan jalur perjalanan mereka.

Soal nama pun para peneliti mencatat perbedaan. Orang luar memakai sebutan Orang Rimba atau Suku Kubu, dan sebutan yang terakhir membawa konotasi negatif. Warga sendiri menyebut diri Suku Anak Dalam, yang diartikan naskah sebagai orang dari dalam hutan. Para penulis membaca penamaan diri itu sebagai penegasan otonomi budaya dan hubungan spiritual warga dengan tanah leluhurnya.

Kujur dan sumpit, yang disandingkan dengan Berkes dan Colchester

Berburu, kata seorang tumenggung, adalah bagian dari jati diri mereka dan diajarkan sejak kecil. Untuk babi hutan, pemburu lebih dulu mengikuti jejak kaki hewan itu di semak, lalu memasang jerat sederhana di jalur yang sering dilewatinya. Baru setelah babi masuk jerat, kujur atau tombak kayu dipakai. Tumenggung lain menuturkan cara berburu tupai dan burung, yang biasanya dilakukan pada musim buah sambil mengumpulkan buah hutan.

Alat untuk hewan kecil itu adalah sumpit, tabung bambu dengan anak sumpit berujung runcing yang diolesi racun alami dari getah pohon ipuh. Ginting dan rekan menyebut kedua cara tersebut sebagai perburuan berdampak rendah. Mereka menyandingkannya dengan gagasan Berkes pada 2017, bahwa pengetahuan ekologi masyarakat adat penting bagi pengelolaan sumber daya yang lestari, dan dengan temuan Colchester dan rekan pada 2004 tentang cara berburu tradisional masyarakat adat Asia Tenggara yang turut menjaga keseimbangan ekologi.

Dua cara berburu Suku Anak DalamDua cara berburu Suku Anak DalamDua cara berburu Suku Anak DalamKeterangan dua tumenggung di Merangin, JambiHewan besarHewan kecilbabi hutantupai, burungBuruankujursumpit bambuAlatjerat di jalurgetah ipuhCarajejak kakimusim buahPetunjukKujur adalah tombak kayu. Anak sumpit diolesi racun alami.
Sumber: Sadar Ginting, Anurak Wongta, Sakaewan Ounjaijean, dan Surat Hongsibsong, Indonesia’s Indigenous Suku Anak Dalam: Knowledge for Food and Environmental Sustainability, Frontiers in Sustainable Food Systems, 9, 2025. Grafik: Cekricek.id

Di sungai, pengetahuan yang sama bekerja dengan alat berbeda. Seorang wakil tumenggung menjelaskan lukah, perangkap ikan dari bambu yang dipasang pada malam hari di arus tenang dan diangkat pada pagi hari. Sesekali warga memakai tuba, racun alami dari akar tuba. Racun itu, menurut penuturannya, hanya membuat ikan pingsan sehingga warga dapat memungut ikan yang ukurannya sudah cukup.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Gadung beracun dan madu berasap dalam bacaan Gadgil dan Klein

Meramu punya pembagian kerjanya sendiri. Seorang wakil tumenggung bercerita bahwa meracik tumbuhan obat lebih banyak dikerjakan orang tua seperti dirinya: akar pasak bumi untuk menambah stamina, daun sungkai untuk menurunkan demam. Yang diambil hanya sebagian kecil, sisanya ditinggalkan. Mencari buah liar lain lagi, sebab tua dan muda berangkat bersama, dan yang paling ia sukai adalah durian hutan serta jernang.

Musim hujan adalah musim jamur. Seorang induk menjelaskan bahwa tidak semua jamur hutan bisa dimakan, sehingga warga harus mengenali mana yang aman. Jamur kuping dan jamur tiram hutan termasuk kegemaran mereka, dicari sesudah hujan lalu dimasak bersama sayuran hutan seperti pakis dan daun singkil. Kemampuan memilih waktu panen itu oleh para peneliti dikaitkan dengan Klein dan rekan pada 2007, yang menekankan panen lestari bagi kesehatan ekosistem.

Sebagian hasil hutan tidak bisa langsung dimakan. Gadung, umbi yang mengandung racun, diiris tipis lalu direndam di air sungai yang mengalir. Setelah beberapa hari, tutur seorang tetua kepada para peneliti, racunnya hilang, lalu umbi itu dijemur di bawah matahari sebelum dimakan. Bengkuang liar diolah dengan cara yang sama.

Gadung beracun sampai boleh dimakanGadung beracun sampai boleh dimakanGadung beracun sampai boleh dimakanUrutan yang dituturkan seorang tetua Suku Anak DalamDiiristipis-tipisDirendambeberapa hari diair sungaiDijemurdi bawahmatahariAmanracun hilang,siap dimakanBengkuang liar diolah dengan cara yang sama.
Sumber: Sadar Ginting, Anurak Wongta, Sakaewan Ounjaijean, dan Surat Hongsibsong, Indonesia’s Indigenous Suku Anak Dalam: Knowledge for Food and Environmental Sustainability, Frontiers in Sustainable Food Systems, 9, 2025. Grafik: Cekricek.id

Ginting dan rekan membaca cara itu sebagai contoh pengetahuan ekologi yang diwariskan antargenerasi, sejalan dengan pengamatan Gadgil dan rekan pada 1993. Madu hutan diperlakukan sama hati-hatinya. Sarang lebah dicari di pohon-pohon tinggi, lalu asap dari daun kering dibuat untuk menghalau lebah tanpa melukainya. Cara panen itu, tulis para peneliti, menekankan perlindungan terhadap hewan penyerbuk.

Aturan menebang, rotan, dan berburu bergilir menurut asas Ostrom 1990

Menebang pohon diatur adat dengan ketat. Seorang tetua menuturkan bahwa ada pohon yang dianggap keramat dan tidak boleh ditebang. Bila perlu kayu untuk membangun pondok, warga mencari pohon yang sudah tua atau hampir mati, dan sebelum menebang pun mereka meminta izin kepada roh hutan. Seorang wakil tumenggung menambahkan bahwa pohon keramat dipercaya sebagai tempat tinggal roh leluhur.

Rotan dipanen dengan aturan serupa. Batangnya dipotong hati-hati, akarnya tidak dicabut agar tumbuh kembali, dan batang muda ditinggalkan supaya rotan tidak habis. Hasilnya dijadikan keranjang dan tali untuk keperluan harian. Para peneliti menyebut cara ini sebagai contoh asas Ostrom pada 1990 tentang pengelolaan sumber daya bersama, yakni norma yang dipegang bersama membantu mencegah pengambilan berlebihan.

Wilayah berburu juga digilir. Seorang tumenggung menuturkan bahwa setelah berburu di satu tempat, warga membiarkan tempat itu beberapa lama supaya hewan-hewan bisa berkembang biak lagi. Para peneliti menilai giliran itu menunjukkan pemahaman tentang daya dukung dan laju perkembangbiakan satwa, sejalan dengan temuan Folke dan rekan pada 2005 bahwa mobilitas dan kemampuan menyesuaikan diri memperkuat ketahanan ekologi.

Membuka lahan dilakukan tanpa api. Seorang induk mengaku sedih melihat kebakaran hutan, sebab bagi mereka hutan itu seperti orang tua yang memberi kehidupan. Ketika perlu tempat untuk pondok sementara, warga hanya membersihkan semak dan tidak menebang pohon besar. Mereka tahu, ketika pindah ke tempat baru, lahan itu pada akhirnya akan kembali menjadi hutan seperti semula.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Melangun dan catatan Walker 2020 tentang waktu pulih hutan

Perpindahan itu punya nama. Ketika seorang anggota keluarga meninggal, keluarga pindah ke tempat baru, dan tradisi ini disebut melangun. Seorang tumenggung menuturkan dua alasannya, yaitu menghormati arwah yang meninggal dan memberi hutan waktu untuk pulih dari apa yang sudah mereka ambil. Itu, katanya, termasuk masa yang paling berat. Selama melangun mereka juga menjelajahi daerah baru dan mengenali apa saja yang bisa dimakan di sana.

Ginting dan rekan menempatkan melangun di samping pernyataan Walker dan rekan pada 2020, bahwa cara masyarakat adat memakai lahan sering memberi ekosistem waktu pulih yang penting. Tradisi lain bekerja pada kesehatan warga. Dalam besesandingon, orang yang sakit berat tinggal sendiri di tempat terpisah, sementara keluarga mengantarkan makanan dari kejauhan agar penyakit tidak menular. Para peneliti menyebut praktik itu sejajar dengan prinsip isolasi dalam pencegahan penyakit masa kini.

Pelajaran tentang hutan diselipkan pula dalam pesta dan pengasuhan. Pada bebalai, upacara pernikahan yang dirayakan dengan tari dan nyanyian, warga tetap mengajarkan pentingnya menjaga hutan dan bekerja sama. Anak-anak sejak dini diberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh, misalnya tidak merusak sarang burung dan tidak mengambil telur satwa liar. Menurut naskah, anak belajar bukan hanya aturannya, melainkan juga alasan di baliknya.

Roh penjaga, sungai, dan jejak Sager 2008 di Bukit Dua Belas

Di balik aturan itu ada keyakinan. Setiap hewan dipercaya memiliki roh penjaga, sehingga pemburu meminta izin sebelum berburu dan mengucap syukur bila berhasil, lalu menyimpan tulang atau gigi hewan sebagai tanda hormat. Dalam ritual besale, warga mempersembahkan makanan atau hasil hutan kepada roh hutan sebagai ungkapan terima kasih. Ada pula Tari Elang, yang gerakannya menyerupai elang terbang dan dibawakan untuk memanggil roh penjaga hutan.

Sungai diperlakukan sebagai sumber kehidupan. Ikan untuk lauk dan air minum berasal dari sana, karena itu warga diingatkan agar tidak membuang bahan kimia ke sungai. Mandi dan mencuci hanya memakai bahan alami, seperti sabun dari buah lerak. Sesekali upacara penyucian diri diadakan di sungai, dan seorang tetua menyebut ritual itu sebetulnya mengajari mereka menjaga air tetap bersih.

Temuan tersebut, tulis para peneliti, menggemakan dokumentasi Sager pada 2008 tentang adat dan keyakinan kosmologis Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas, yang menekankan peran sentral praktik spiritual dalam hubungan dengan lingkungan. Ada juga waktu-waktu yang dianggap sakral, ketika warga tidak meninggalkan hutan dan mengisinya dengan meditasi serta doa. Jeda itu, menurut naskah, membiarkan ekosistem beristirahat.

Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan

Madu yang disisakan dan tempat naskah 2025 dalam rantai riset

Semua itu bertemu pada kebiasaan yang membuka tulisan ini. Seorang wakil tumenggung menuturkan bahwa madu dan buah tidak pernah diambil sekaligus, selalu ada yang ditinggalkan bagi satwa hutan, sebab leluhur mengajarkan bahwa berbagi dengan makhluk lain membawa berkah. Kalau mereka serakah dan mengambil semuanya, tuturnya, hutan akan marah dan berhenti memberi.

Para peneliti mengaitkan kebiasaan menyisakan itu dengan pendekatan berbasis ekosistem dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati, dan pemakaian lerak dengan asas pengelolaan sumber daya air terpadu yang diuraikan UNESCO. Dari seluruh praktik tersebut mereka menyusun sebuah kerangka: sumber daya alam melandasi pengetahuan dan praktik budaya, ritual dan etika memperkuatnya, lalu praktik lestari menghasilkan ekosistem yang seimbang dan pada gilirannya memperbarui pengetahuan itu sendiri.

Lokasi riset ini dipilih karena dapat dijangkau di lapangan, yakni empat permukiman di satu kabupaten, dan menurut adat hanya empat golongan tadi yang diizinkan memberi keterangan kepada orang luar. Para penulis menyarankan riset lanjutan yang menelaah implikasi lebih luas dari praktik Suku Anak Dalam, juga studi perbandingan dengan komunitas adat lain untuk mencari asas bersama yang dapat disesuaikan dengan konteks ekologi dan budaya yang berbeda.

Kepada pembuat kebijakan, sarannya adalah bekerja sama dengan masyarakat adat dalam menyusun kebijakan yang inklusif. “Memadukan kearifan adat semacam ini ke dalam kebijakan konservasi modern dapat menghasilkan solusi yang inklusif secara budaya dan efektif secara ekologi bagi tantangan global,” tulis Ginting dan ketiga rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Bagikan

Baca Juga

Murid di Sentani Belajar Bahasa Daerah Sambil Mengaduk Papeda
Hutan Adat Talang Mamak Jadi Taman Nasional, Hak Kelola Terbatas
Suku Akit di Tenan Tak Tahu Ada Aturan untuk Memberdayakan Mereka
Siagai Laggek, Penyembuh Mentawai yang Mengobati Tanpa Ritual
Warga Dekat Kawasan Industri Korea Lebih Sering Sakit Pernapasan
Sedulur Sikep Kendeng Menyebut Semua yang Hidup sebagai Saudara