Sedulur Sikep Kendeng Menyebut Semua yang Hidup sebagai Saudara

A A

Tebing kapur Pegunungan Kendeng menjulang di atas ladang jagung di Grobogan, Jawa Tengah [Foto: Denysya Farid/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Masyarakat adat Samin-Sedulur Sikep di Sukolilo menyebut hubungan manusia dengan yang bukan manusia sebagai sedulur atau saudara.
  • Para penulis mencatat komitmen warga Sikep untuk tidak memakai pupuk kimia dan tidak memisahkan hewan yang dianggap hama.
  • Semen mereka anggap simbol kematian karena beton menghentikan keberlanjutan ekosistem alam.
  • Petisi untuk Kendeng ditandatangani lebih dari 258 akademisi, budayawan, aktivis feminis, dan simpatisan.
  • Setiap Jumat anak-anak Sikep belajar di omah kendeng dan pada hari Rabu mereka menanam pohon.
Daftar Isi
  1. Sedulur, saudara yang tidak hanya manusia
  2. Kidung, nyanyian doa untuk ibu bumi
  3. Inter-subjektif, hubungan tanpa atasan
  4. JMPPK, jaringan warga peduli Kendeng
  5. Wiji kendeng, sekolah lain bagi anak Sikep
  6. Soft movement, gerakan pelan tanpa kekerasan

Sedulur berarti saudara, dan bagi masyarakat adat Samin-Sedulur Sikep di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, kata itu tidak berhenti pada sesama manusia. Gunung, tanah, tumbuhan, dan air di Pegunungan Kendeng ikut masuk ke dalamnya. Gagasan itu, menurut tiga peneliti, mendasari penolakan mereka terhadap pabrik semen yang direncanakan berdiri di kawasan tersebut.

Gagasan itu diuraikan Johan Kristian Filipus, Irene Ludji, dan Agus Supratikno dalam artikel berjudul Ketika Semua yang Hidup adalah Saudara: Gagasan Spiritualitas Ekologi Transformatif pada Masyarakat Adat Samin-Sedulur Sikep dalam Menghadapi Krisis Lingkungan di Pegunungan Kendeng. Artikel tersebut terbit di Kenosis: Jurnal Kajian Teologi volume 10 nomor 1 tahun 2024. Ketiganya berasal dari Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Para penulis menyebut pokok bahasannya spiritualitas ekologis. Maksudnya, cara menyatukan hidup batin dengan alam lewat hubungan yang berkelanjutan, bermakna, dan timbal balik antara manusia dan alam. Mereka ingin tahu bagaimana gagasan itu hidup di tengah komunitas Sikep, lalu bagaimana gagasan itu menjadi pegangan saat lingkungan Kendeng terancam.

Sedulur, saudara yang tidak hanya manusia

Masyarakat Samin-Sedulur Sikep memandang manusia hidup di alam semesta bersama makhluk lain. Mereka tidak hanya hidup bersama, tetapi juga tinggal berdekatan dan saling berbagi untuk menopang keberlanjutan. Menurut Gunarti, salah seorang anggota masyarakat adat itu, hubungan manusia dengan yang bukan manusia inilah yang disebut sedulur.

Bagi para penulis, sebutan itu adalah sebuah etika, yakni dasar untuk menghadirkan solidaritas antarciptaan. Lewat sebutan itu manusia memikul tanggung jawab moral untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup sebagai rumah tinggal bersama. Pegunungan Kendeng pun dipandang sebagai pihak yang ikut memberi bagi kehidupan, dan manusia menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalamnya.

Contoh paling dekat ada pada pekerjaan mereka. Umumnya warga Sikep memilih menjadi petani, dan Gunarti menyebut bertani sebagai cara menjaga dan merawat ekosistem Pegunungan Kendeng. Lewat bertani, tulis para penulis, mereka punya kedekatan emosional dengan alam seperti anak dengan ibunya. Hidup mereka bergantung pada tanah dan air.

Sikap itu, menurut para penulis, tampak dalam praktik bertani. Mereka mencatat warga Sikep berkomitmen untuk tidak memakai pupuk kimia. Hewan yang dianggap hama juga tidak mereka pisahkan, sebab menurut mereka semua yang hidup harus ditopang dengan berbagi makanan sesuai siklus rantai makanan. Berbagi, bagi komunitas ini, adalah prinsip dasar keberlangsungan ekosistem.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Ada pula pandangan tentang kekuatan. Warga Sikep, menurut naskah ini, meyakini manusia memiliki kekuatan dan dapat menyalahgunakannya. Bila disalahgunakan, kekuatan itu berpotensi merusak alam semesta, termasuk diri manusia sendiri. Karena itu kekuatan harus dibagikan dengan bijak agar keseimbangan terjaga.

Kidung, nyanyian doa untuk ibu bumi

Istilah kedua adalah kidung. Para penulis menjelaskannya sebagai nyanyian orang Jawa yang bersifat pujian dan doa, serta mengandung penghargaan kepada alam sebagai ibu bumi. Warga Sikep melantunkannya dalam kegiatan sehari-hari, yaitu ketika memasak, menemani anak, dan bertani.

Kidung yang sama mereka bawa ke aksi protes. Pegunungan Kendeng, menurut naskah, terancam penambangan batuan karst, yaitu batuan yang menjadi bahan baku semen. Lantunan kidung dalam aksi tanpa kekerasan itu menjadi cerminan harapan dan mimpi mereka akan kelestarian Kendeng. Kendeng sendiri punya tempat khusus. Dahulu pegunungan itu menjadi sumber kekuatan magis bagi komunitas Sikep, dan mereka percaya leluhur mereka berasal dari daerah di sekitarnya. Desa-desa Samin pada masa lalu, catat para penulis, umumnya berada dekat pinggiran hutan di sekitar pegunungan tersebut.

Dari pandangan alam sebagai wajah ibu itu lahir satu aksi yang banyak dikenal. Para perempuan di sekitar Kendeng mengecor kaki mereka dengan semen di depan Istana Presiden di Jakarta. Para penulis menyebut aksi itu kontradiktif, sebab warga menolak pabrik semen tetapi memakai semen sebagai alat protes.

Penjelasannya ada pada makna semen bagi warga Sikep. Semen mereka anggap simbol kematian, karena beton menghentikan keberlanjutan ekosistem alam. Perempuan dalam aksi itu mewakili wajah ibu pertiwi. Bila seluruh hamparan tanah dipenuhi semen, begitu makna yang dicatat naskah, kehidupan lingkungan akan mati dan berhenti.

Inter-subjektif, hubungan tanpa atasan

Istilah yang paling sering muncul dalam naskah ini adalah relasi inter-subjektif. Maksudnya, hubungan antara pihak-pihak yang setara, tanpa dominasi dan tanpa susunan atas-bawah, terutama antara manusia dan alam. Dalam hubungan semacam itu gunung, tanah, tumbuhan, dan air diperlakukan sebagai subjek, bukan benda.

Bedanya begini. Para penulis merujuk Samsul Ma’arif, yang menyebut ada cara pandang bernama kosmologi hierarkis. Di sana dunia diisi tiga kelompok wujud, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, dan alam, dan ketiganya bertingkat. Hutan, tanah, gunung, dan hewan selalu berada di bawah manusia.

Dua cara memandang alamDua cara memandang alamDua cara memandang alamMenurut Samsul Ma'arif yang dirujuk para penulisKosmologi hierarkisParadigma lokaltiga tingkatsesama subjekIsi duniadi bawah manusiasetara, sedulurKedudukan alambertingkatinter-subjektifHubunganTiga tingkat: ketuhanan, kemanusiaan, alam.
Sumber: Johan Kristian Filipus, Irene Ludji, dan Agus Supratikno, Ketika Semua yang Hidup adalah Saudara: Gagasan Spiritualitas Ekologi Transformatif pada Masyarakat Adat Samin-Sedulur Sikep dalam Menghadapi Krisis Lingkungan di Pegunungan Kendeng, Kenosis: Jurnal Kajian Teologi, 10(1), 2024. Grafik: Cekricek.id

Cara pandang lokal, masih menurut Ma’arif yang dikutip naskah, melihat dunia terisi wujud-wujud subjek. Hubungan yang diperlukan dengan mereka karenanya adalah hubungan antarsubjek. Para penulis menilai cara pandang seperti inilah yang lebih berpeluang mendukung upaya pelestarian lingkungan di tengah krisis.

Pandangan itu tidak selalu dihargai. Menurut para penulis, praktik etika lingkungan masyarakat adat kerap dianggap primitif dan tidak masuk akal. Warga Sikep, tulis mereka, mengalami diskriminasi dan dicap sebagai komunitas terbelakang, sehingga pengetahuan lokal mereka kian terbungkam.

Baca juga Arat Sabulungan Bentuk Etika Ekologis Masyarakat Mentawai

Naskah ini juga memakai istilah Apartheid Ekologi dari Vandana Shiva. Intinya adalah ilusi yang memisahkan manusia dari alam, padahal manusia bagian dari alam. Pemisahan itu, tulis para penulis, membuka peluang penguasaan tanah dan air oleh pemilik modal, sementara masyarakat lapisan bawah kehilangan akses. Bagi warga Sikep yang bertani, akibatnya terasa langsung. Tanah adalah kehidupan dan aset yang vital. Para penulis mencatat penambangan batuan karst telah menimbulkan konflik agraria, dan konflik itu merugikan masyarakat paling bawah secara materiil maupun sosial.

JMPPK, jaringan warga peduli Kendeng

JMPPK adalah singkatan dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Para penulis menyebutnya gerakan masyarakat sipil yang menjadi motor penolakan pabrik semen sekaligus penggerak penyadaran masyarakat luas. Salah satu tokohnya Gunretno, anggota masyarakat adat Sikep yang ikut memprakarsai lahirnya jaringan itu.

Penyadaran itu berjalan lewat kegiatan warga. Gunarti, misalnya, rutin mendatangi arisan ibu-ibu di daerah Tambakromo. Di sana ia menjelaskan pentingnya keberlanjutan lingkungan hidup di Pegunungan Kendeng. Naskah mencatat peran jaringan ini sangat besar dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya pendirian pabrik semen.

Jaringan itu juga menyambung ke kampus. Mengutip penelitian Dewi Candraningrum, para penulis mencatat bahwa pada 29 Desember 2015 sejumlah akademisi yang dipimpin Soeryo Adiwibowo dari IPB menemui Presiden Jokowi. Mereka meminta krisis ekologi di Kendeng mendapat perhatian pemerintah.

Para akademisi kemudian membuat petisi. Menurut naskah, petisi itu ditandatangani lebih dari 258 akademisi, budayawan, aktivis feminis, dan simpatisan masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng. Selain itu, JMPPK membangun dialog dan kerja sama lintas agama di sekitar Kendeng untuk menghadirkan solidaritas bagi lingkungan.

Gerakan Sedulur Sikep di KendengGerakan Sedulur Sikep di KendengGerakan Sedulur Sikep di KendengAngka dan hari yang dicatat dalam naskah258penanda tangan petisitertulis lebih dari 258Jumatbelajar di omahkendengbaca, diskusi, gamelanRabumenanam pohondi perbukitan KendengJalan risetnyaPengamatan di SukoliloWawancara duainformanStudi kepustakaan
Sumber: Johan Kristian Filipus, Irene Ludji, dan Agus Supratikno, Ketika Semua yang Hidup adalah Saudara: Gagasan Spiritualitas Ekologi Transformatif pada Masyarakat Adat Samin-Sedulur Sikep dalam Menghadapi Krisis Lingkungan di Pegunungan Kendeng, Kenosis: Jurnal Kajian Teologi, 10(1), 2024. Grafik: Cekricek.id

Wiji kendeng, sekolah lain bagi anak Sikep

Wiji kendeng adalah nama wadah belajar yang diprakarsai Sedulur Sikep di Sukolilo untuk anak-anak mereka. Para penulis menyebutnya pendidikan alternatif, sebab warga Sikep pada umumnya memilih tidak menyekolahkan anak di lembaga pendidikan formal. Penekanannya pada penyadaran anak-anak komunitas itu sendiri. Jadwalnya tercatat dalam naskah. Setiap Jumat anak-anak berkumpul di padepokan bernama omah kendeng untuk belajar membaca, berdiskusi, dan menabuh gamelan. Pada hari Rabu mereka didorong menanam pohon di area perbukitan Pegunungan Kendeng.

Baca juga Sedulur Sikep Kudus Konsisten Tolak Sekolah Formal

Para penulis mencatat warga Sikep bersama warga sekitar menjadi pelopor gerakan menanam pohon di bekas hutan jati yang kini gundul. Lewat wiji kendeng, anak-anak diberi pemahaman tentang cara melawan tanpa kekerasan dan cara merawat lingkungan hidup.

Soft movement, gerakan pelan tanpa kekerasan

Istilah terakhir datang dari simpulan para penulis, yaitu soft movement. Maksudnya, gerakan sosial yang menekankan sikap tanpa kekerasan. Gerakan itu, tulis mereka, cenderung lunak dan tampak melambat, tetapi penyadarannya berlangsung luas dan berkelanjutan.

Akar sikap itu kembali ke kata sedulur. “Bagi masyarakat adat samin sedulur-sikep, semua yang hidup adalah saudara, termasuk mereka yang dianggap berseberangan secara gagasan dan kepentingan,” tulis Filipus, Ludji, dan Supratikno. Pihak yang berada di seberang pun dipandang sebagai saudara.

Karena itu, menurut naskah, warga Sikep menolak izin pendirian pabrik semen tanpa menaruh kebencian. Mereka memilih sosialisasi dan penyadaran. Bila turun ke jalan, mereka memilih aksi teatrikal dengan simbol budaya, yang oleh para penulis dicontohkan dengan kidung macapat, kenduren, dan penyemenan kaki di depan istana.

Perempuan punya peran tersendiri di sana. Menurut Gunarti, kehadiran perempuan dalam aksi turun ke jalan sangat penting untuk meredam emosi. Para penulis juga merujuk L. Widyarsono, yang menyebut protes orang Samin cenderung sabar dan tenang sebagai bentuk perlawanan tanpa kekerasan.

Para penulis mengumpulkan bahan di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, lewat pengamatan dan wawancara dengan dua orang informan, ditambah studi kepustakaan. Lokasi itu dipilih karena menjadi basis komunitas Samin-Sedulur Sikep dalam menolak pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

Simpulan mereka juga menyinggung keseharian. Perlawanan warga Sikep, tulis para penulis, tidak selalu harus frontal dengan turun ke jalan. Bertani setiap hari dengan hidup sederhana mereka sebut sebagai cara merawat ingatan bersama tentang etika bumi. Kesadaran itu, menurut mereka, berpotensi mendorong upaya pelestarian ekosistem.

Bagikan

Baca Juga

Orang Kamoro Mau Terima Wisatawan asal Kampung Tetap Mereka Atur
Menebang Lima Pohon di Tengger Dibayar 300 Pinus dan 50 Sak Semen
Indeks Udara Bangkok Tak Bisa Menebak Hari Pasien Paling Ramai
Orang Korowai Turun dari Rumah Pohon, Sagu Pun Berganti Nasi
Anak Inggris di Kawasan Lebih Berpolusi Lebih Banyak Melangkah
Cara Orang Kerinci Merawat Adat Tanpa Menolak Teknologi Baru