Warga Dekat Kawasan Industri Korea Lebih Sering Sakit Pernapasan

A A

Ilustrasi deret cerobong pabrik bergaris merah-putih mengepulkan asap di atas atap bangunan [Foto: 1433506698/Pexels]

  • Penyakit pernapasan secara keseluruhan tercatat pada 34,60 persen orang di Banwol-dong dan 30,31 persen di wilayah pembanding.
  • Rata-rata PM10 pada Januari sampai Maret 2019 mencapai 77,54 mikrogram per meter kubik, di atas baku mutu tahunan 50.
  • Asma tercatat pada 93,87 persen orang yang diperiksa di wilayah terpapar dan 90,57 persen di wilayah pembanding.
  • Rinitis justru sedikit lebih banyak di wilayah pembanding, yaitu 51,60 persen dibanding 50,31 persen.
  • Para penulis menyatakan rancangan studinya tidak menetapkan hubungan sebab-akibat langsung.
Daftar Isi
  1. Dua kelompok warga
  2. Debu di udara
  3. Angin membawa debu
  4. Batuk dan asma
  5. Rinitis berbalik arah
  6. Kanker warga lama
  7. Bukan bukti sebab
  8. Saran para penulis

Warga dekat kawasan industri Korea Selatan lebih sering sakit pernapasan. Di Banwol-dong, Gyeonggi-do, penyakit pernapasan secara keseluruhan tercatat pada 34,60 persen orang yang diperiksa. Di wilayah pembanding angkanya 30,31 persen.

Temuan itu ditulis Kil Yong Choi dan Ho-Hyun Kim. Artikel mereka berjudul Air pollution and chronic disease in South Korea’s industrial zones: evidence from a cohort follow-up study. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026.

Choi bekerja di Department of Environmental Energy Engineering, Anyang University, di Anyang-si, Gyeonggi-do. Kim bekerja di Department of Nano-Chemical, Biological and Environmental Engineering, Seogyeong University, Seoul. Keduanya menggabungkan data pantauan udara dengan catatan asuransi kesehatan nasional warga di sekitar kompleks industri Sihwa Banwol.

Pertanyaan mereka satu. Apakah tinggal lama di dekat udara kotor kawasan industri, terutama debu PM2,5 dan PM10, berkaitan dengan lebih banyak penyakit pernapasan kronis dan kanker? Pembandingnya adalah warga yang tinggal lebih jauh dari kompleks itu.

Dua kelompok warga

Jumlah orang yang diikuti sangat besar, yaitu 454.612 orang dari data asuransi kesehatan nasional. Sebanyak 171.300 orang tinggal di Banwol-dong, wilayah yang digolongkan terpapar. Sisanya, 283.312 orang, tinggal di wilayah pembanding.

Wilayah pembanding itu terdiri atas enam tempat. Para penulis menyebut Jeongwangbon-dong, Jeongwang-dong, Wongokbon-dong, Wongok-dong, Choji-dong, dan Gojan-dong. Yang dihitung adalah orang yang tercatat tinggal di sana antara 2007 dan 2019.

Pembagian itu mengikuti ketentuan Kementerian Lingkungan Korea. Wilayah dalam jarak 2 sampai 5 kilometer dari kompleks industri disebut zona paparan. Wilayah di luar jarak itu dianggap pembanding.

Kedua kelompok tidak persis sama. Di wilayah terpapar, laki-laki mencapai 53,48 persen, sedangkan di wilayah pembanding 50,50 persen. Warga berumur 65 tahun ke atas hanya 5,04 persen di wilayah terpapar dan 7,50 persen di wilayah pembanding.

Mereka diikuti cukup lama. Rata-rata masa pengamatan warga wilayah terpapar adalah 8,49 tahun. Untuk warga wilayah pembanding, rata-ratanya 9,03 tahun. Total masa pengamatan mencapai 1.385.318,91 orang-tahun di wilayah terpapar dan 2.439.335,40 orang-tahun di wilayah pembanding.

Debu di udara

Para penulis juga memeriksa kadar debu di kawasan itu. Ukurannya adalah PM10, yaitu partikel debu berdiameter 10 mikrometer atau kurang. Baku mutu Korea Selatan untuk PM10 adalah rata-rata tahunan 50 mikrogram per meter kubik dan rata-rata 24 jam paling tinggi 100.

Rata-rata tiga bulan tertinggi tercatat pada 2019. Pada Januari sampai Maret tahun itu, rata-rata PM10 mencapai 77,54 mikrogram per meter kubik. Angkanya 76,32 pada periode yang sama tahun 2017 dan 54,02 pada 2020.

Debu PM10 pada Januari-Maret2017: Rata-rata PM10 (mikrogram per meter kubik) +76,32; 2019: Rata-rata PM10 (mikrogram per meter kubik) +77,54; 2020: Rata-rata PM10 (mikrogram per meter kubik) +54,02.Debu PM10 pada Januari-MaretRata-rata tiga bulan, mikrogram per meter kubik2550751000201776,32201977,54202054,02Baku mutu tahunan PM10 Korea Selatan adalah 50.
Sumber: Kil Yong Choi dan Ho-Hyun Kim, Air pollution and chronic disease in South Korea’s industrial zones: evidence from a cohort follow-up study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka harian bisa jauh lebih tinggi. Nilai harian tertinggi pada Januari sampai Maret 2019 adalah 216 mikrogram per meter kubik. Pada 2017 nilai tertingginya 164, dan pada 2020 nilainya 103.

Debu yang lebih halus, PM2,5, juga dicatat para penulis. Kadarnya terus melampaui baku mutu tahunan 15 mikrogram per meter kubik di semua lokasi yang dipantau, termasuk Jeongwang-dong, Wongok-dong, rata-rata Gyeonggi-do, dan rata-rata nasional. Para penulis menyebut hal itu menandakan masalah debu halus yang lebih menetap dan lebih luas.

Baca juga Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea

Angin membawa debu

Debu tidak diam di tempat. Angin di kawasan itu paling sering bertiup dari barat, sekitar 8 persen, lalu dari barat laut, sekitar 7 persen. Angin terkencang, 3,3 sampai 5,4 meter per detik, datang dari barat laut.

Para penulis menghitung sebaran debu itu dengan model komputer untuk tahun 2019. Hasilnya, PM10 menyebar cukup merata ke sekeliling kawasan mengikuti angin yang dominan. Wilayah di arah bawah angin mencakup Siheung-si serta Wongok-dong, Choji-dong, dan Singil-dong di Ansan-si.

Dalam radius 2 kilometer dari sumber emisi, kadar PM10 tahunan berkisar 2,00 sampai 37,38 mikrogram per meter kubik. Kisaran itu setara 4,0 sampai 74,8 persen dari baku mutu tahunan. Menurut para penulis, warga di dekat kompleks bisa menerima paparan lebih tinggi, bergantung pada jarak dari sumber emisi dan keadaan cuaca.

Banyaknya emisi tidak selalu sejalan dengan kadar debu di udara. Para penulis mencatat kadar PM10 tidak selalu mengikuti volume emisi yang dihasilkan. Mereka menyebut cuaca, pola sebaran di udara, dan bentuk permukaan setempat mungkin ikut menentukan.

Batuk dan asma

Perbedaan paling jelas ada pada saluran napas. Infeksi saluran pernapasan atas akut tercatat pada 15.189 orang di wilayah terpapar, atau 57,05 persen dari yang diperiksa. Di wilayah pembanding jumlahnya 23.961 orang, atau 52,83 persen.

Saluran napas bawah menunjukkan arah yang sama. Infeksi saluran pernapasan bawah akut lainnya tercatat pada 25.429 orang di wilayah terpapar, atau 47,03 persen. Di wilayah pembanding angkanya 36.108 orang, atau 43,17 persen.

Penyakit pernapasan di dua wilayahPenyakit pernapasan di dua wilayahPenyakit pernapasan di dua wilayahBanwol-dong dibandingkan enam wilayah pembandingDekat industriPembanding57,05%52,83%Infeksi saluranatas akut47,03%43,17%Infeksi saluranbawah akut93,87%90,57%Asma97,70%96,00%Batuk50,31%51,60%Rinitis34,60%30,31%PernapasankeseluruhanPersentase dihitung dari orang yang diperiksa untuk tiap penyakit.
Sumber: Kil Yong Choi dan Ho-Hyun Kim, Air pollution and chronic disease in South Korea’s industrial zones: evidence from a cohort follow-up study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Asma juga lebih banyak di dekat kawasan industri. Di wilayah terpapar, asma tercatat pada 129.659 orang, atau 93,87 persen dari yang diperiksa. Di wilayah pembanding angkanya 200.437 orang, atau 90,57 persen.

Batuk hampir merata di kedua wilayah, tetapi tetap berbeda. Sebanyak 163.864 orang di wilayah terpapar tercatat batuk, atau 97,70 persen. Di wilayah pembanding jumlahnya 265.035 orang, atau 96,00 persen.

Tidak semua penyakit berbeda. Penyakit saluran pernapasan atas lainnya tercatat 74,58 persen di wilayah terpapar dan 74,71 persen di wilayah pembanding. Para penulis menyatakan selisih itu tidak bermakna secara statistik.

Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar

Rinitis berbalik arah

Satu penyakit justru sedikit lebih banyak di wilayah pembanding. Rinitis, yaitu radang selaput hidung, tercatat pada 50,31 persen orang di wilayah terpapar. Di wilayah pembanding angkanya 51,60 persen.

Para penulis tidak mengaitkan selisih itu dengan polusi industri. Menurut mereka, rinitis erat dengan alergi dan gaya hidup. Mereka menyebut serbuk sari, mutu udara dalam ruangan, kebiasaan merokok, dan perbedaan pemakaian layanan kesehatan.

Dua dugaan lain mereka ajukan. Warga wilayah pembanding mungkin lebih mudah menjangkau layanan medis atau lebih sering berobat, sehingga lebih banyak yang terdiagnosis. Wilayah pembanding juga punya lebih banyak permukiman pinggiran kota dengan tumbuhan yang lebih rapat, yang bisa menambah alergi akibat serbuk sari.

Wilayah terpapar digambarkan sebaliknya. Kawasannya lebih padat industri dan lebih sedikit hijauan, tetapi kadar pencemar udaranya lebih tinggi. Lebih tingginya penyakit pernapasan secara keseluruhan di wilayah terpapar, menurut para penulis, mencerminkan dampak kronis polusi udara industri.

Kanker warga lama

Kanker diperiksa pada warga yang sudah tinggal lebih dari 10 tahun, sesuai lamanya masa tumbuh kanker. Di sini wilayah terpapar adalah tempat tinggal dalam jarak 2 kilometer dari kompleks industri. Pembandingnya adalah warga yang tinggal 5 kilometer dan 10 kilometer atau lebih dari kompleks.

Tiga jenis kanker lebih tinggi di wilayah terpapar. Kanker lambung tercatat 0,34 persen, kanker usus besar 0,30 persen, dan kanker prostat 0,34 persen. Di wilayah pembanding angkanya berturut-turut 0,22 persen, 0,24 persen, dan 0,24 persen.

Satu jenis kanker berjalan ke arah lain. Kanker kerongkongan tercatat 0,02 persen di wilayah terpapar dan 0,03 persen di wilayah pembanding. Para penulis juga mencatat kanker paru, 0,25 persen, dan kanker payudara, 0,55 persen, lebih tinggi daripada jenis kanker lainnya.

Kejadian kanker secara keseluruhan berbeda bermakna antara kedua wilayah. Dari situ para penulis menekankan pentingnya mengelola paparan lingkungan. Mereka meminta pengelolaan dan pencegahan yang terus-menerus terhadap paparan pencemar udara.

Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen

Bukan bukti sebab

Para penulis sendiri meminta temuan ini dibaca hati-hati. Kadar pencemar yang tinggi memang bersamaan dengan lebih banyaknya sakit pernapasan. Tetapi rancangan studinya, menurut mereka, tidak menetapkan hubungan sebab-akibat langsung.

Hal itu mereka tegaskan lagi dalam simpulan. “Meskipun studi ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat, temuannya memberi wawasan berharga tentang potensi risiko kesehatan kronis terkait polusi industri,” tulis Choi dan Kim dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Paparan dihitung dari rata-rata tahunan, bukan dari data waktu yang rinci, sehingga sebagian orang bisa salah digolongkan. Faktor lain seperti keadaan sosial ekonomi, penyakit bawaan, dan kebiasaan merokok tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Analisisnya juga bertumpu pada PM10. Pencemar penting lain, yaitu senyawa organik mudah menguap, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan logam berat, tidak dimasukkan. Para penulis mengakui hal itu membatasi kelengkapan penilaian paparan.

Pandemi juga masuk dalam daftar itu. COVID-19 mungkin memengaruhi data kesehatan pada tahun-tahun akhir studi, terutama lewat berubahnya kebiasaan orang berobat. Warga yang diikuti pun hanya berasal dari satu kawasan industri, sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnya berlaku di tempat lain.

Saran para penulis

Kebijakan musiman belum cukup menurut para penulis. Korea Selatan menerapkan pengendalian debu halus musiman pada Desember sampai Maret, dengan aturan emisi yang lebih ketat bagi pabrik, pembangkit listrik, dan kendaraan. Namun kadar debu di kawasan industri tidak turun bermakna pada masa pengendalian itu.

Karena itu mereka meminta strategi jangka panjang diperkuat. Upaya penurunan emisi ke depan, tulis mereka, perlu memperhitungkan pola emisi menurut waktu dan tempat. Pemantauan dan pengaturan pencemar diperlukan di tempat kerja dan di permukiman.

Studi ini mereka tempatkan sebagai data dasar. Informasinya bisa dipakai untuk penelitian kesehatan lingkungan berikutnya dan untuk perencanaan kesehatan masyarakat setempat. Cara kerjanya, menurut mereka, mungkin dapat diterapkan di kawasan industri lain di Korea.

Di Banwol-dong, sakit pernapasan, asma, dan batuk lebih banyak tercatat daripada di enam wilayah pembanding. Untuk memastikan kaitannya, para penulis menyebut pemantauan berkelanjutan dan kohort jangka panjang yang lebih luas masih diperlukan.

Bagikan

Baca Juga

Sedulur Sikep Kendeng Menyebut Semua yang Hidup sebagai Saudara
Suami Merantau, Istri Remaja Bangladesh Jarang Memakai KB Modern
Aturan Antibiotik Bangladesh dan Sri Lanka Dinilai Buta Gender
Kasus Hepatitis B di Irak Turun, Diagnosis Baru Capai 40 Persen
Dosen UGM: 40 Persen Kasus Demensia Bisa Dicegah Sejak Dini
Kekurangan Vitamin D Dialami Dua dari Tiga Pasien Dewasa di Duzce