- Lebih dari empat di antara sepuluh responden usia kerja di Australia melaporkan sesak napas dalam kadar tertentu.
- Pada sesak tingkat 1 saja, peluang seseorang berada di kelompok tidak bekerja sudah 1,20 kali peluang orang tanpa sesak.
- Perpindahan dari kerja penuh waktu ke status kerja lain memperlihatkan rasio 6,60 pada tingkat 1 dan 31,87 pada tingkat 3 sampai 4.
- Survei ini memotret satu waktu saja, sehingga hanya dapat menunjukkan hubungan dan tidak dapat menetapkan sebab-akibat.
Daftar Isi
Sesak napas biasanya dibicarakan sebagai urusan ruang periksa, sesuatu yang didengarkan dokter, diberi obat, lalu dicatat sebagai keluhan. Jarang ada yang menanyakan apa yang terjadi pada jam kerja orang yang mengalaminya, padahal orang yang terengah setiap kali mengerahkan tenaga tetap harus berangkat bekerja esok pagi. Sebuah survei atas ribuan warga usia kerja di Australia menelusuri celah itu, dan mendapati gejala yang nyaris tidak kelihatan tersebut berkaitan dengan siapa yang bekerja penuh waktu, siapa yang mengurangi jam, dan siapa yang berhenti.
Survei itu dikerjakan Jacob Sandberg, Max Olsson, Sungwon Chang, Slavica Kochovska, Nikki McCaffrey, Joseph Clark, Magnus Ekström, dan David Currow, lalu terbit dengan judul Breathlessness limiting exertion and under- and unemployment: results from a national, online population survey di BMC Public Health volume 26 nomor 2356 tahun 2026. Sandberg bekerja di Blekinge Institute of Technology, Swedia, sedangkan rekan-rekannya berasal dari Lund University, University of Technology Sydney, Flinders University, Deakin University, dan University of Hull.
Gejala yang tidak tampak dari luar
Yang mereka maksud adalah sesak napas menahun yang membatasi orang ketika mengerahkan tenaga, gejala yang menurut naskah paling sering berpangkal pada penyakit jantung dan paru seperti penyakit paru obstruktif kronik atau gagal jantung, atau pada obesitas. Di negara berpendapatan tinggi, perkiraan jumlah orang yang mengalaminya berkisar 4 sampai 10 persen penduduk. Di negara berpendapatan rendah dan menengah angkanya diduga jauh lebih besar, sampai 44 persen orang dewasa.
Persoalannya, gejala ini tidak meninggalkan tanda yang mudah dilihat orang lain. Para penulis menyebutnya gejala yang sebagian besar tidak kasatmata, tetapi menimbulkan disabilitas dan serangkaian akibat fisik, sosial, keuangan, dan kejiwaan, dari mutu hidup yang lebih buruk sampai keterasingan sosial yang lebih sering. Orang dengan sesak paling berat, tulis mereka, kerap menghindari layanan kesehatan dan banyak yang tidak lagi keluar rumah, sehingga sulit dijangkau penelitian yang bertumpu pada kunjungan berobat.
Penelitian terdahulu di Australia, yang dirujuk naskah ini, sudah mendapati keikutsertaan dalam angkatan kerja lebih rendah pada orang yang sesak, terutama perempuan dan mereka yang lebih tua. Pendapatan tahunan yang hilang dari kerja penuh waktu ditaksir sekitar 9,1 miliar dolar Australia. Hitungan itu belum memasukkan orang yang tetap bekerja tetapi memangkas jamnya, yaitu kelompok setengah menganggur, dan celah itulah yang hendak diisi Sandberg dan rekan-rekannya.
Empat dari sepuluh orang mengaku sesak
Jawaban dihimpun dari 8.000 warga Australia berusia 18 sampai 65 tahun lewat survei daring pada pertengahan Juli hingga awal Agustus 2021. Tiap orang menilai sesaknya pada skala bertingkat, dari hanya terengah saat berolahraga berat sampai terlalu sesak untuk keluar rumah atau sesak ketika berpakaian. Sebanyak 57 persen berada di tingkat 0, 31 persen di tingkat 1, 9 persen di tingkat 2, dan 3 persen di tingkat 3 sampai 4.
Lebih dari empat di antara sepuluh responden usia kerja di Australia melaporkan sesak napas dalam kadar tertentu. Dari seluruh responden, 5.730 orang atau 72 persen tergolong bekerja, dan 2.115 orang tergolong tidak bekerja. Kelompok kedua itu sedikit lebih tua, dengan rata-rata usia 42 tahun berbanding 37 tahun, lebih banyak perempuannya, yakni 63 persen berbanding 53 persen, dan rata-rata indeks massa tubuhnya lebih tinggi, 28,5 berbanding 26,2. Kebiasaan merokok kedua kelompok serupa.
Perbedaan mulai tampak ketika yang dilihat adalah sesak yang oleh para penulis disebut penting secara klinis, yaitu tingkat 2 ke atas. Sesak seberat itu dialami 14 persen orang yang tidak bekerja dan 10 persen orang yang bekerja. Ketika ditanya apa penyebabnya, jawaban yang paling sering adalah gangguan paru, disebut 16 persen di kedua kelompok, disusul jawaban tidak tahu, yang lebih banyak muncul di kelompok tidak bekerja.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Cara sesak ringan menggeser status kerja
Yang membuatnya rumit, pergeseran itu tidak menunggu sesak menjadi berat. Pada sesak tingkat 1 saja, peluang seseorang berada di kelompok tidak bekerja sudah 1,20 kali peluang orang tanpa sesak. Rasio itu naik menjadi 1,57 pada tingkat 2 dan 1,59 pada tingkat 3 sampai 4, sesudah usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan tempat tinggal di kota atau luar kota ikut diperhitungkan.
Pola yang sama, dengan angka lebih kecil, terlihat pada setengah menganggur, istilah yang dalam naskah ini mencakup semua orang yang bekerja tetapi tidak penuh waktu. Rasionya 1,17 pada tingkat 1, lalu 1,21 pada tingkat 2, dan 1,44 pada tingkat 3 sampai 4. Dengan kata lain, sesak bekerja lewat dua pintu sekaligus: sebagian orang keluar dari pekerjaan, sebagian lain bertahan dengan jam yang lebih sedikit.
Para penulis merangkum bagian ini dalam satu kalimat yang menjadi inti naskah mereka. “Bahkan sesak napas tingkat rendah saat mengerahkan tenaga yang dilaporkan (mMRC 1) berkaitan secara bermakna dengan ketiadaan pekerjaan, dan tingkat sesak yang lebih tinggi menunjukkan hubungan yang lebih kuat,” tulis Jacob Sandberg dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Singkatan mMRC di dalam kutipan itu adalah nama skala sesak yang mereka pakai.
Ketika orangnya sendiri yang menunjuk sesak sebagai sebab
Angka-angka tadi hanya menyandingkan dua keadaan. Karena itu, survei juga bertanya langsung apakah status kerja seseorang pernah terdampak oleh sesaknya, dan 856 orang, atau 11 persen, menjawab ya. Bagian yang menjawab demikian membesar mengikuti tingkat sesak, yakni 14 persen pada tingkat 1, 32 persen pada tingkat 2, dan 36 persen pada tingkat 3 sampai 4, atau lebih dari sepertiga.
Bila dinyatakan sebagai rasio peluang, perasaan terdampak itu 2,34 kali lebih mungkin pada tingkat 1, 7,52 kali pada tingkat 2, dan 8,17 kali pada tingkat 3 sampai 4, selalu dibandingkan dengan orang tanpa sesak. Lompatan terbesar terjadi di antara tingkat 1 dan tingkat 2. Sesudah itu kurvanya melandai, seakan-akan batas yang menentukan sudah terlewati lebih awal.
Di antara mereka yang merasa terdampak, arah perubahannya paling jelas pada kerja penuh waktu. Perpindahan dari kerja penuh waktu ke status kerja lain memperlihatkan rasio 6,60 pada tingkat 1 dan 31,87 pada tingkat 3 sampai 4. Untuk perpindahan dari penuh waktu ke setengah menganggur, rasionya 5,60, lalu 15,07, lalu 15,71. Adapun perpindahan dari bekerja ke tidak bekerja lebih datar, yakni 1,86 pada tingkat 1 dan 1,91 pada dua tingkat di atasnya.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Dua jalan: kehilangan kerja atau menyesuaikan diri
Dari situ para penulis membaca dua macam akibat. Ada yang berat, yakni kehilangan pekerjaan karena gejala itu tidak lagi tertangani, dan ada yang lebih halus, yakni menurunkan kadar pekerjaan agar sesuai dengan napas yang tersedia. Yang mereka garis bawahi, perubahan semacam itu bisa tidak terbayangkan oleh orangnya ketika pertama kali didiagnosis, sehingga datang tanpa diduga saat sesaknya makin kuat.
Karena itu, mereka menaruh sebagian tanggung jawab pada tenaga kesehatan. Dokter dan perawat, menurut naskah, dapat menanyakan apakah pasiennya sedang menimbang perubahan pekerjaan karena sesak, lalu memakai kesempatan itu untuk memperbaiki penanganan gejalanya. Temuan ini mereka sandingkan dengan Birmingham COPD Cohort, penelitian yang mendapati hanya tingkat sesak yang berkaitan bermakna dengan status bekerja, tidak demikian halnya dengan usia, pendidikan, atau riwayat paparan di tempat kerja.
Tempat kerja pun disebut. Para penulis menilai penyesuaian di tempat kerja mungkin diperlukan agar orang yang sesak dapat bertahan lebih lama dalam kerja penuh waktu, dan mereka menduga pekerja dengan tugas fisik berat paling dirugikan. Orang-orang itu, tulis mereka, mungkin perlu dukungan khusus untuk beralih ke pekerjaan yang lebih ringan tanpa harus memangkas jam atau pensiun dini. Sesak juga dapat mengganggu kemampuan berbicara lama.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Di mana penjelasan ini berhenti
Survei ini memotret satu waktu saja, sehingga hanya dapat menunjukkan hubungan dan tidak dapat menetapkan sebab-akibat. Para penulis sendiri menduga hubungan itu berjalan dua arah, sebab sesak mengurangi kemampuan bekerja, tetapi tidak bekerja atau setengah menganggur juga membawa akibat buruk bagi kesehatan. Mereka merujuk penelitian jangka panjang terdahulu yang menunjukkan kesehatan yang memburuk lebih sering mendahului hilangnya pekerjaan daripada mengikutinya.
Batas lain menyangkut cara bertanya. Responden diminta menyebut satu perubahan status kerja saja, sehingga orang yang mengalami beberapa perubahan kecil mungkin tidak tercatat utuh, dan lamanya seseorang hidup dengan sesak tidak dihitung. Rasio pada tingkat sesak terberat pun berentang ketidakpastian lebar karena orangnya sedikit. Survei juga berlangsung di tengah pandemi korona, sehingga sebagian responden bisa saja mengartikan pertanyaan sebagai soal infeksi atau pembatasan sosial.
Angka yang layak dibaca ulang
Beberapa hal di dalam naskah patut diperiksa pembaca yang teliti. Jumlah orang tidak bekerja, 2.115, ditulis 27 persen di badan naskah tetapi 28 persen di kepala tabel. Pertanyaan tentang dampak sesak pada pekerjaan disebut hanya diajukan kepada orang dengan sesak tingkat 1 ke atas, padahal hasilnya memuat angka 7 persen untuk tingkat 0. Kelompok tidak bekerja juga mencakup pensiunan dan orang yang cuti tanpa dibayar.
Maka, kejanggalan di awal tadi mendapat jawabannya, meski belum lengkap. Sesak napas memang urusan ruang periksa, tetapi pada 8.000 orang Australia ini ia juga terbaca di daftar hadir: makin berat sesaknya, makin jarang orangnya ditemukan dalam kerja penuh waktu. Apakah napas yang pendek itu yang memangkas jam kerja atau sebaliknya, survei sekali potret ini tidak dapat memastikan, dan para penulisnya berhenti tepat di garis itu.















