Bantuan Tunai Pakistan Habis Sebelum Banjir Berikutnya Datang

A A

Sungai meluap menggerus jalan dan bangunan di Lembah Swat, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, 11 Agustus 2010 [Foto: Sgt. Monica K. Smith (U.S. Army)/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Dari 30 pekerja yang diwawancarai, 15 tinggal di desa dan 15 di kota.
  • Kerja informal yang rapuh membuat banyak partisipan terdorong ke dalam utang.
  • Kabar dari mulut ke mulut dan pengumuman masjid berfungsi sebagai peringatan dini yang paling umum.
  • Perempuan kerap tercatat sebagai penerima BISP dan hibah sekali bayar.
  • Sembilan dari 30 orang tinggal di rumah lumpur dan enam di bangunan semi-permanen, sedangkan hanya lima yang menghuni rumah beton.
Daftar Isi
  1. Yang datang dari negara: jumlah tetap untuk bencana yang berubah-ubah
  2. Yang datang dari tetangga: perahu darurat dan pengumuman masjid
  3. Di desa, jalan ke kantor bantuan panjang dan berliku
  4. Di kota, sinyal lebih baik tetapi bantuan tetangga lebih tipis
  5. Yang terdaftar: nama perempuan di kartu bantuan
  6. Yang memutuskan: suami, petugas, dan pemilik kios

Uang 12.500 rupee yang cair tiga bulan sekali dan sebuah perahu darurat untuk mengangkut kambing tampak tidak punya urusan satu sama lain. Di Khyber Pakhtunkhwa, provinsi di barat laut Pakistan, keduanya adalah dua cara bertahan dari banjir yang sama. Yang pertama datang dari negara dan cepat habis. Yang kedua dirakit sendiri oleh warga, dari pengetahuan tentang sungai dan hujan di kampung mereka.

Dua cara bertahan itu dicatat Maria Ishaq Khattak, Saad Ishaq Khattak, dan tujuh rekan mereka dalam Social protection and climate resilience among informal workers in Pakistan: a qualitative study of the Benazir income support programme in Khyber Pakhtunkhwa, yang dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit tahun 2026. Sebagian besar penulis bekerja di Institute of Public Health and Social Sciences, Khyber Medical University, Peshawar. Mereka mendengarkan 30 pekerja informal yang pernah dihantam banjir, kekeringan, atau gelombang panas, serta 36 pemangku kepentingan dari berbagai lembaga.

Bantuan yang dibicarakan adalah Benazir Income Support Programme, disingkat BISP. Naskah menyebutnya program bantuan tunai terbesar di Asia Selatan, yang pada 2021 menjangkau 5,6 juta keluarga atau sekitar 40 persen warga di bawah garis kemiskinan. Pada saat yang sama, kira-kira tujuh dari sepuluh pekerja Pakistan bekerja di sektor informal, tanpa kontrak, tanpa jaminan upah, dan tanpa asuransi ketika penghasilan mendadak hilang.

Dua kelompok yang didengar di Khyber PakhtunkhwaDua kelompok yang didengar di Khyber PakhtunkhwaDua kelompok yang didengar di KhyberPakhtunkhwaJumlah peserta menurut kelompok, tiga zona iklimPekerja informalPemangku lembaga3036Jumlah orang1611Perempuan1425Laki-laki1519Tinggal di desa1517Tinggal di kota1012Tiap zona iklimZona utara, tengah, dan selatan Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.
Sumber: Maria Ishaq Khattak dkk., Social protection and climate resilience among informal workers in Pakistan: a qualitative study of the Benazir income support programme in Khyber Pakhtunkhwa, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang datang dari negara: jumlah tetap untuk bencana yang berubah-ubah

Para pekerja di desa maupun kota menyampaikan hal serupa. Jaring pengaman sosial dan hibah sekali bayar memang menolong dalam jangka pendek, tetapi jumlah yang tetap dan pencairan tiap tiga bulan tidak sebanding dengan besar dan lamanya krisis iklim. Rumah tangga desa yang hidup dari ladang dan ternak merasakan ketidakcocokan antara musim rawan mereka dan jadwal bantuan yang kaku.

Seorang petani, yang dicatat penulis sebagai ID-9, memakai uang itu untuk makanan dan obat tanaman. “Namun, dana itu cepat habis karena bantuan hanya datang setiap tiga bulan,” katanya, dalam kutipan yang dimuat naskah berbahasa Inggris. Sebagian uang ia tanamkan ke ladang dengan harapan panen baik. Menurut dia, bantuan yang terbatas dan jarang itu tidak membantu keluarganya bersiap untuk jangka panjang atau pulih dari kerugian besar.

Kerja informal yang rapuh membuat banyak partisipan terdorong ke dalam utang. Pekerja desa menggambarkan lingkaran meminjam untuk bertahan hidup saat banjir atau badai. Seorang buruh lepas, ID-12, menyebut keluarganya menerima 12.500 rupee setiap tiga bulan, jumlah yang menurutnya membantu tetapi tidak cukup. Ketika hujan lebat membanjiri jalan dan pelanggan berhenti datang, ia terpaksa meminjam dari keluarga dan merasa sulit bangkit lagi.

Para pemangku kepentingan mengakui hal itu. Menurut mereka, BISP terutama diarahkan untuk mengurangi kemiskinan dan mendukung kesehatan ibu, bukan untuk ketahanan iklim. Seorang peserta diskusi kelompok dari zona selatan mengatakan tambahan uang yang dibagikan pemerintah saat banjir 2022 hanyalah bagian sangat kecil dari kerugian, karena seluruh tanaman hancur, ternak mati, dan keluarga harus mulai dari nol.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Yang datang dari tetangga: perahu darurat dan pengumuman masjid

Di sisi lain, ketahanan sehari-hari justru bertumpu pada jaringan yang tidak tercatat di kantor mana pun. Di desa, partisipan menyebut ikatan keluarga, hubungan bertetangga, dan pengalaman bersama sebagai sumber tempat berteduh, makanan, tenaga, dan penghiburan. Jaringan itulah yang memungkinkan rumah tangga bertahan, menyesuaikan diri, dan pulih dari guncangan iklim yang berulang.

Seorang petani musiman, ID-19, menceritakan caranya. Ketika banjir diperkirakan datang, warga merancang perahu darurat untuk membawa ternak dan keluarga ke tempat aman. Mereka menyelaraskan masa tanam dengan pola hujan setempat. Air hujan ditampung di tong dan tangki bawah tanah, sebab wilayah mereka berganti-ganti antara kering dan hujan lebat tanpa bisa diduga.

Seorang pemangku kepentingan dari zona tengah melukiskan budaya tolong-menolong itu lebih luas. Banyak keluarga menampung warga yang kehilangan rumah. Sebagian memakai traktor atau perahu untuk memindahkan keluarga yang terancam. Warga berbagi bahan makanan pokok atau mengadakan makan bersama yang dibiayai masjid. Kabar dari mulut ke mulut dan pengumuman masjid berfungsi sebagai peringatan dini yang paling umum.

Cara lain lebih sederhana lagi. Menurut seorang peserta diskusi dari zona selatan, ketika musim panas makin terik, orang memindahkan pekerjaan ke pagi buta atau petang yang lebih sejuk. Dinding lumpur dipilih karena memberi ventilasi lebih baik daripada rumah beton. Orang tidur di dipan anyaman di luar rumah atau di atap, sementara baterai, kipas, dan lampu bertenaga surya makin banyak dipakai.

Di desa, jalan ke kantor bantuan panjang dan berliku

Pasangan kedua datang dari tempat tinggal. Dari 30 pekerja yang diwawancarai, 15 tinggal di desa dan 15 di kota. Bagi pekerja desa, pemulihan berarti memperbaiki ladang, menyelamatkan ternak, dan bersandar pada kerabat. Hambatan mereka dimulai jauh sebelum uang cair, yakni pada jarak ke pusat layanan, jalan yang rusak, dan tata cara pendaftaran yang membingungkan.

Melek huruf yang terbatas dan ketiadaan akses digital menjadi penghalang besar, terutama di desa dan di kalangan perempuan. Orang yang lebih tua kesulitan membaca, menulis, dan memakai telepon seluler. Seorang teknisi listrik, ID-7, mengatakan ia dan istrinya sulit memahami aplikasi di ponsel, sementara pemberitahuan lewat pesan singkat yang mereka terima sama membingungkannya.

Norma budaya menambah jarak itu. Di desa, aturan tentang kesopanan perempuan dan kehormatan keluarga membatasi gerak mereka. Seorang petani, ID30, menuturkan bahwa dalam budaya Pashtun perempuan tidak diizinkan bepergian sendiri dan harus ditemani kerabat laki-laki. Karena para lelaki sering sibuk atau tidak di tempat, perempuan melewatkan janji temu dan tenggat hanya karena tidak bisa pergi sendiri.

Rumah 30 pekerja informal yang diwawancaraiRumah lumpur: Jumlah pekerja +9; Semi-permanen: Jumlah pekerja +6; Kamar/flat sewa: Jumlah pekerja +6; Rumah beton: Jumlah pekerja +5; Rumah bata: Jumlah pekerja +2; Hunian informal: Jumlah pekerja +2.Rumah 30 pekerja informal yang diwawancaraiJumlah orang menurut jenis tempat tinggal2468100Rumah lumpur9Semi-permanen6Kamar/flat sewa6Rumah beton5Rumah bata2Hunian informal2Pekerja informal terdampak guncangan iklim di Khyber Pakhtunkhwa.
Sumber: Maria Ishaq Khattak dkk., Social protection and climate resilience among informal workers in Pakistan: a qualitative study of the Benazir income support programme in Khyber Pakhtunkhwa, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tempat tinggal para pekerja itu sendiri menggambarkan kerentanan mereka. Sembilan dari 30 orang tinggal di rumah lumpur dan enam di bangunan semi-permanen, sedangkan hanya lima yang menghuni rumah beton. Enam orang lainnya menyewa kamar atau flat. Pendidikan mereka pun rendah, sebab 19 orang hanya menamatkan tingkat dasar dan 11 orang mencapai tingkat menengah.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Di kota, sinyal lebih baik tetapi bantuan tetangga lebih tipis

Pada kasus kedua, pekerja informal di kota memakai bantuan terutama untuk sewa, tagihan, dan makanan. Uang itu tidak mengganti penghasilan yang hilang ketika pasar tutup, prasarana rusak, dan pekerjaan harian terhenti. Seorang tukang kebun, ID-4, memakai sebagian bantuan untuk membeli alat dan ongkos angkut ke pasar. Hujan lebat dan gelombang panas, katanya, kerap merusak tanamannya dan menutup jalan menuju pelanggan.

Akses di kota memang lebih mulus. Pekerja yang memiliki ponsel pintar dan sambungan internet di tempat kerja melaporkan urusan layanan yang lebih lancar, dan perempuan kota relatif lebih leluasa bergerak. Namun, di kota maupun desa, kabar keliru, pengumuman yang terlewat, dan rintangan birokrasi tetap membatasi. Mereka yang berhasil menembusnya mengandalkan kegigihan, kenalan, atau kecakapan digital.

Jaringan sosial di kota ada, tetapi lebih lemah. Bantuan antarwarga biasanya singkat dan mirip sedekah, sehingga jarang menopang pemulihan yang panjang. Seorang pekerja jasa, ID-11, mengatakan keluarga berada cenderung memberi pakaian, makanan, atau tempat berteduh saat krisis. Menurut dia, mereka tidak meluangkan waktu atau tenaga untuk membantu orang membangun hidupnya kembali.

Sebagai gantinya, pekerja kota lebih banyak bersandar pada jalan keluar yang dibeli di pasar. Naskah menyebut pemakaian tenaga surya, lemari pendingin, dan pergeseran jam kerja. Para penulis membaca perbedaan desa dan kota itu sebagai tanda bahwa ketahanan dibentuk oleh tempat dan mata pencaharian, sehingga menuntut tanggapan yang sesuai konteks, bukan satu model penyaluran yang seragam untuk seluruh negeri.

Yang terdaftar: nama perempuan di kartu bantuan

Pasangan ketiga menyangkut siapa yang terdaftar dan siapa yang memutuskan. Perempuan kerap tercatat sebagai penerima BISP dan hibah sekali bayar. Enam belas dari 30 pekerja yang diwawancarai adalah perempuan. Namun, banyak di antara mereka menggambarkan betapa kecil kendali mereka atas pemakaian uang itu, terutama di rumah tangga desa, tempat pengeluaran biasanya diatur suami atau kerabat laki-laki.

Seorang guru les rumahan, ID-5, menceritakan bahwa uang itu atas namanya dan ia sendiri yang mengambilnya. Suaminya kadang memintanya dengan alasan pekerjaan sedang sepi, dan ia merasa tidak punya pilihan selain menyerahkannya. Di kota, sebagian perempuan menyebut ruang memutuskan yang sedikit lebih lapang, terutama mereka yang berpenghasilan sendiri atau cakap digital, meski pengawasan keluarga tetap membatasi.

Seorang pemangku kepentingan dari zona tengah menjelaskan asal mula sebagian masalah itu. Program yang mulai berjalan pada 2008–2009 itu semula berbasis kertas, beralih ke kartu ATM pada 2015, lalu ke transfer lewat ponsel pada 2018. Peralihan itu memperbaiki pengelolaan data. Namun, menurut dia, banyak orang tertinggal, terutama perempuan di wilayah perdesaan atau yang rendah melek hurufnya.

Yang memutuskan: suami, petugas, dan pemilik kios

Di sisi lain, pintu menuju bantuan dijaga banyak tangan. Partisipan desa dan kota sama-sama menceritakan pengalaman dihalangi, dimintai uang, dan diperas secara tidak resmi. Seorang pemulung, ID-15, mengatakan petugas yang ia temui terus meminta uang. Ketika ia menolak, mereka menyatakan dirinya tidak memenuhi syarat. Ia akhirnya terdaftar setelah seorang kerabat mengantarnya ke pusat layanan lain.

Para pemangku kepentingan tidak menyangkal. Seorang peserta dari zona utara menyebut penyelidikan pada 2020 atas pemotongan dana, termasuk laporan tentang orang yang bukan penerima tetapi mendapat uang. Sebagian besar kasus melibatkan kios pencairan setempat yang mengambil uang penerima. Menurut dia, pembenahan sedang berjalan lewat pemantauan pihak ketiga, audit, layanan pengaduan, hukuman tegas, dan penambahan petugas perempuan.

Dari seluruh cerita itu para penulis menarik satu garis. “Akibatnya, kapasitas adaptif dan transformatif sebagian besar ditopang oleh daya individu, pengetahuan lokal, dan jaringan komunitas, bukan oleh dukungan lembaga,” tulis Maria Ishaq Khattak dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Uang tunai menstabilkan konsumsi saat krisis, tetapi tidak sampai mengubah keadaan.

Mereka juga memberi peringatan. “Di wilayah yang ditandai banjir, kekeringan, dan gelombang panas berulang, sistem perlindungan sosial yang tetap buta iklim berisiko memperkuat ketimpangan yang ada dan melanggengkan lingkaran kerentanan,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Para penulis menegaskan, kesan buta iklim itu mencerminkan celah pelaksanaan, bukan niat program.

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Usulan datang dari kedua kelompok. Para pekerja meminta daftar penerima di daerah rawan diperbarui setidaknya setahun sekali, dana darurat dikirim seketika lewat ponsel, dan pengganti untuk kambing, benih, atau mesin jahit yang hilang. Pemangku kepentingan mengusulkan pemetaan kerentanan, pembayaran sebelum bencana, dan asuransi mikro bagi petani kecil. Mereka juga meminta peringatan dini yang menyebut wilayah dan ketinggian air, bukan pesan umum.

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Teks menyebut para pekerja berusia antara 25 dan 55 tahun, padahal tabelnya memuat dua orang dalam kelompok 55 tahun ke atas. Subtema tentang akal-akalan warga ditulis sebagai inovasi berbiaya rendah di tabel tema, tetapi berteknologi rendah di abstrak. Pembahasan menyebut dua bidang prioritas, sedangkan bagian implikasi menguraikan lima langkah.

Angka uang pun tidak seragam. Pendahuluan menyebut pembayaran sekali sebesar 25.000 rupee kepada lebih dari 250.000 rumah tangga setelah banjir 2022, sementara seorang pemangku kepentingan menyebut tambahan 12.000 rupee. Naskah tidak menjelaskan hubungan kedua angka itu. Perlu dicatat pula, versi yang dibaca masih artikel dalam proses terbit yang belum melewati penyuntingan akhir.

Para penulis sendiri membatasi klaimnya. “Seperti semua penelitian kualitatif, temuan ini tidak dapat digeneralisasi secara statistik,” tulis mereka. Penelitian hanya berlangsung di Khyber Pakhtunkhwa, sehingga pengalaman di provinsi lain bisa berbeda. Data dikumpulkan pada satu titik waktu dan bersandar pada ingatan partisipan, jadi perjalanan pemulihan jangka panjang tidak terekam.

Uang tiga bulanan dan perahu darurat itu, pada akhirnya, menjawab pertanyaan yang berbeda. Yang satu menjaga dapur tetap menyala selama beberapa pekan setelah air datang. Yang lain memindahkan kambing dan anak-anak sebelum air tiba. Naskah ini tidak menyebut salah satunya bisa menggantikan yang lain. Ia hanya mencatat bahwa di Khyber Pakhtunkhwa keduanya masih berjalan sendiri-sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Sakit Kronis Membuat Pekerja Eropa Berhenti Kerja Lebih Cepat
Dokter Tanpa Jabatan di Turki Lebih Condong Bekerja Seperlunya
Rumah Sakit Gratis, Korban Kecelakaan di Tehran Tetap Merugi
Stunting di Kenya Lebih Sering Menimpa Anak Ibu Petani dan PRT
Warga Inggris di Tempat Lebih Panas Lebih Jarang Radang Lutut
Rokok di Wuhan Makin Terjangkau Setelah Larangan Merokok Berlaku