- Harga sebungkus rokok di Wuhan tercatat 5,3 dolar pada 2019 dan 5,2 dolar pada 2024, tanpa perubahan yang bermakna.
- Biaya 100 bungkus turun dari 2,8 persen menjadi 2,2 persen dari produk domestik bruto per kapita.
- Aturan kawasan tanpa rokok Wuhan berlaku Januari 2020 tanpa disertai kenaikan cukai.
- Kelompok termurah membayar 3,73 dolar sebungkus dan kelompok termahal 13,60 dolar pada 2024.
- Pegawai pemerintah, perokok muda, dan lulusan perguruan tinggi paling sering memilih rokok kelas atas.
Daftar Isi
Januari 2020, Wuhan mulai melarang orang merokok di dalam ruang publik. Larangan itu berlaku di tempat umum tertutup, tempat kerja tertutup, dan angkutan umum. Empat tahun kemudian, harga sebungkus rokok di kota itu nyaris tidak bergeser. Yang bergeser adalah kemampuan perokok membelinya, dan arahnya justru makin ringan.
Catatan itu disusun Xin Mei, Gong Chen, Yuting Zuo, Fanjie Zeng, Yuanxia Huang, dan Ling Zhang. Artikel mereka berjudul Impact of smoke-free legislation on cigarette price and affordability in Wuhan, China: a repeated cross-sectional study, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Lima penulis bekerja di Wuhan Center for Disease Control & Prevention, sedangkan Gong Chen berasal dari The Central Hospital of Wuhan.
Mereka membandingkan tiga kali survei tembakau orang dewasa di Wuhan, yakni 2019, 2022, dan 2024. Seluruhnya 8.424 warga berusia 15 tahun ke atas diwawancarai. Hitungan harga hanya memakai jawaban perokok aktif, yaitu mereka yang mengisap rokok pabrikan paling sedikit sekali seminggu.
2019, Setahun Sebelum Aturan Berlaku
Survei pertama berjalan ketika merokok di dalam ruangan belum dilarang. Sebanyak 2.551 dari 2.700 warga yang dituju berhasil diwawancarai, setara 94,5 persen. Dari jumlah itu, 825 orang tercatat sebagai perokok aktif. Jawaban mereka menjadi garis awal bagi semua perbandingan berikutnya.
Pada tahun itu perokok Wuhan membayar 5,3 dolar AS untuk sebungkus isi 20 batang. Semua harga dalam naskah dinyatakan dalam dolar paritas daya beli dengan nilai konstan 2024, bukan dalam yuan. Dengan cara itu, harga dari tiga tahun survei bisa disandingkan tanpa terganggu inflasi.
Ukuran kedua adalah beban rokok terhadap penghasilan. Para peneliti menghitung biaya 100 bungkus, atau 2.000 batang, lalu membaginya dengan produk domestik bruto per kapita. Pada 2019 angkanya 2,8 persen. Makin kecil persentase itu, makin ringan rokok bagi kantong pembelinya.
Harga tersebut tidak seragam. Seperlima perokok dengan belanja termurah rata-rata membayar 1,88 dolar sebungkus. Seperlima dengan belanja termahal membayar 10,72 dolar. Selisih keduanya 8,84 dolar, sehingga rokok termahal berharga lebih dari lima kali rokok termurah di kota yang sama.
Perbedaan antarkelompok juga sudah tampak. Perokok berusia 15 sampai 24 tahun membayar 6,0 dolar sebungkus, sedangkan perokok 65 tahun ke atas hanya 2,7 dolar. Petani membayar 2,2 dolar. Pegawai pemerintah dan lembaga publik membayar 6,7 dolar, tiga kali harga yang dibayar petani.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Januari 2020, Larangan Datang Tanpa Cukai Baru
Aturan kawasan tanpa rokok Wuhan diundangkan dan dijalankan pada Januari 2020. Isinya menetapkan pengawasan bersama lintas dinas dan denda bagi orang maupun tempat yang melanggar. Tanggung jawab pengendalian tembakau dibagi ke berbagai sektor dan jenis tempat. Para penulis menyebutnya aturan yang menyeluruh.
Warga diberi saluran untuk ikut mengawasi. Keluhan soal asap rokok dapat disampaikan lewat saluran telepon Wali Kota. Pelaksanaan aturan juga dinilai oleh pihak ketiga. Naskah mengutip satu kajian lain yang menyebut aturan ini berhasil menekan paparan asap rokok pada orang yang tidak merokok di ruang publik tertutup.
Satu hal tidak ikut berubah. Aturan itu tidak disertai kenaikan cukai, dan struktur cukai tembakau Tiongkok tetap sama sepanjang masa penelitian. Penyesuaian cukai nasional terakhir dilakukan pada 2015. Menurut para penulis, bukti yang ada menunjukkan penyesuaian itu tidak sampai ke harga eceran.
Cukai rokok di Tiongkok bertingkat. Rokok murah dikenai tarif lebih rendah daripada rokok bermerek yang mahal. Susunan seperti itu, tulis para peneliti, membuat jarak harga melebar dan pilihan harga bertambah banyak. Naskah mereka menyebut Tiongkok sebagai salah satu negara dengan rentang harga rokok terlebar di dunia.
2022, Jarak Harga Melebar
Survei kedua berlangsung dua tahun sesudah aturan berjalan. Kali ini 2.673 dari 2.880 warga yang dituju diwawancarai, atau 92,8 persen. Perokok aktif di antaranya 796 orang. Harga sebungkus yang mereka bayar tercatat 5,2 dolar, turun sepuluh sen dari 2019 dan tidak bermakna secara statistik.
Jarak harga justru mencapai titik terlebar. Kelompok termurah membayar 2,84 dolar sebungkus, sedangkan kelompok termahal membayar 14,76 dolar. Selisihnya 11,92 dolar, naik dari 8,84 dolar tiga tahun sebelumnya. Kedua ujung sama-sama naik, tetapi ujung atas naik lebih jauh.
Beban terhadap penghasilan mulai menyusut. Biaya 100 bungkus turun menjadi 2,4 persen dari produk domestik bruto per kapita. Namun, penurunan pada tahun ini belum cukup kuat untuk disebut bermakna. Dalam hitungan para peneliti, peluang perokok masuk golongan paling mampu membeli belum berbeda dari 2019.
Beberapa kelompok bergerak berlawanan dengan angka kota. Petani, yang semula membayar 2,2 dolar, kini membayar 3,9 dolar sebungkus. Perokok berusia 65 tahun ke atas naik dari 2,7 menjadi 4,6 dolar. Perokok berpendidikan sekolah menengah pertama ke bawah naik dari 2,8 menjadi 5,1 dolar.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
2024, Harga Bertahan dan Kantong Makin Longgar
Survei ketiga mewawancarai 3.200 warga, seluruh sasaran yang ditetapkan. Sebanyak 938 di antaranya perokok aktif. Harga sebungkus kembali tercatat 5,2 dolar. Dari 5,3 dolar pada 2019 ke 5,2 dolar pada 2024, para peneliti menyatakan tidak ada perubahan yang bermakna.
Bebannya terus turun. Biaya 100 bungkus kini setara 2,2 persen dari produk domestik bruto per kapita, dari 2,8 persen lima tahun sebelumnya. Penurunan ini dinyatakan bermakna. Para penulis menambahkan bahwa angka Wuhan itu lebih rendah daripada angka Bangladesh, Rumania, dan Thailand dalam kajian lintas negara yang mereka rujuk.
Pergeseran itu diterjemahkan ke peluang. Dibanding 2019, peluang seorang perokok berada di golongan paling mampu membeli naik 18,2 poin persentase pada 2024. Peluang berada di golongan paling tidak mampu turun 11,3 poin persentase. Penghasilan tumbuh, sementara harga rokok tidak mengejarnya.
Jarak harga menyempit sedikit tetapi tetap lebar. Kelompok termurah membayar 3,73 dolar, kelompok termahal 13,60 dolar, dengan selisih 9,87 dolar. Pilihan kelas harga perokok, yakni rendah, menengah, atau atas, tidak berubah bermakna sejak 2019. Para peneliti mengaitkan kestabilan itu dengan kebiasaan yang mengakar dan kesetiaan pada merek.
Di bawah angka kota, beberapa kelompok kembali bergerak. Petani membayar 2,0 dolar sebungkus, lebih rendah daripada 2019. Perokok lanjut usia membayar 3,7 dolar. Perokok berusia 15 sampai 24 tahun turun ke 5,2 dolar, sama dengan angka seluruh kota. Pegawai pemerintah kembali ke 6,7 dolar.
Lima Tahun, Pembeli Rokok Mahal Tetap Sama
Sepanjang tiga survei, orang yang memilih rokok kelas atas berasal dari kelompok yang sama. Pegawai pemerintah dan lembaga publik berpeluang 31,9 poin persentase lebih besar memilihnya dibanding petani. Para penulis menduga sebabnya penghasilan yang lebih tinggi dan stabil serta tuntutan pergaulan dalam pekerjaan.
Usia muda menyusul di urutan berikutnya. Perokok berusia 15 sampai 24 tahun berpeluang 28,9 poin persentase lebih besar memilih rokok kelas atas dibanding perokok 65 tahun ke atas. Naskah menyebut dua kemungkinan: anak muda lebih mudah terpengaruh pemasaran merek, dan cenderung membangun jati diri lewat barang yang dibeli.
Pendidikan memberi arah serupa. Lulusan perguruan tinggi berpeluang 19,3 poin persentase lebih besar memilih rokok mahal dibanding lulusan sekolah menengah pertama ke bawah. Laki-laki juga lebih sering memilihnya daripada perempuan, dengan selisih peluang 10,1 poin persentase menurut tabel naskah.
Kelompok terakhir adalah perokok yang tidak berniat berhenti. Peluang mereka memilih rokok kelas atas lebih besar 15,1 poin persentase dibanding perokok yang ingin berhenti. Para peneliti menduga ketergantungan nikotin yang tinggi atau kebiasaan yang dalam membuat mereka kurang peka terhadap harga.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Dari situ para penulis menarik simpulan untuk kebijakan. “Aturan kawasan tanpa rokok saja tidak cukup untuk menekan konsumsi,” tulis Xin Mei dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mengusulkan cukai tunggal yang seragam dan harga dasar bagi rokok termurah, supaya perokok tidak mudah pindah ke merek murah.
Sesudah 2024, Catatan yang Masih Terbuka
Para peneliti mencatat sendiri batas pekerjaan mereka. Harga yang terekam hanya harga merek yang dibeli responden, bukan seluruh rokok di pasar, dan semuanya berasal dari pengakuan responden. Tiga survei itu memotret orang yang berbeda pada tiap tahunnya. “Karena itu kami tidak dapat menyatakan adanya hubungan sebab-akibat,” tulis mereka.
Mereka juga mengakui tidak ada mekanisme langsung yang menjelaskan bagaimana larangan merokok, tanpa kenaikan cukai, dapat mengubah harga. Aturan itu dipakai sebagai penanda waktu, bukan sebagai sebab yang diuji. Pandemi COVID-19 yang terjadi di tengah masa penelitian tidak dikendalikan, sehingga pengaruhnya tidak dapat dipisahkan dari pengaruh aturan.
Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Abstrak menyebut harga sebagai rata-rata, sedangkan kepala kolom tabelnya bertulis median. Bagian kontribusi penulis memakai inisial TZ, XH, dan JZ, yang tidak cocok dengan nama Yuting Zuo, Yuanxia Huang, dan Fanjie Zeng. Satu paragraf pendahuluan juga tercetak dua kali.
Naskah ini berstatus diterima dan belum melewati penyuntingan akhir, sehingga rinciannya masih bisa berubah. Catatan terakhirnya berhenti pada 2024. Pada tahun itu sebungkus rokok di Wuhan berharga 5,2 dolar, dan 100 bungkus setara 2,2 persen dari produk domestik bruto per kapita.















