Istilah Tanam Padi Sasak di Bayan Hilang Bersama Ritualnya

A A

Ilustrasi hamparan sawah padi di tepi jalan desa berlatar bukit di Pulau Lombok [Foto: Lasthib/Wikimedia Commons, CC0]

  • Kata-kata yang lahir di pematang ternyata tidak cukup dijaga oleh orang yang masih fasih berbahasa Sasak.
  • Tabel dalam naskah itu memuat dua puluh empat istilah yang terbagi ke dalam tahapan pratanam, tanam, dan pascatanam.
  • Sebagian besar warga tidak lagi melaksanakan meleong pare bulu, dan generasi muda hampir tidak mengenal ritual itu.
  • Sebagian istilah bergeser menjadi kata biasa, sedangkan sebagian lain tidak dipakai lagi.
Daftar Isi
  1. Sebuah ritual yang berbicara
  2. Dari mata air ke pempon
  3. Panen yang diantar kepada pemimpin adat
  4. Bibit baru dan keyakinan yang berubah
  5. Bergeser, bukan seluruhnya lenyap
  6. Yang bisa diperiksa pembaca

Bahasa daerah kerap dibayangkan hilang dengan cara yang gaduh, yakni ketika satu kampung berhenti memakainya dan anak-anak menjawab orang tuanya dalam bahasa lain. Namun, di Bayan, Lombok Utara, yang surut bukanlah bahasa Sasak sebagai alat bicara sehari-hari, melainkan sekelompok kata yang hanya hidup di sawah, yaitu istilah yang mengiringi penanaman padi bulu, padi tradisional yang ditanam lewat serangkaian ritual dari mata air sampai lumbung.

Surutnya kata-kata itu dicatat M. Aris Akbar, Halus Mandala, Siti Lamusiah, dan Siti Nur Ifanti dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Mataram dalam artikel Pemertahanan Bahasa Sasak dalam Istilah Pertanian pada Komunitas Petani Adat Bayan, Lombok Utara, yang terbit di Jurnal Ilmiah Telaah volume 7 nomor 2 tahun 2022. Mereka menyimpulkan bahwa bahasa Sasak dalam istilah pertanian tidak dapat dipertahankan penuturnya, sebagaimana ritual tanam padi tradisional itu sendiri tidak dapat dipertahankan.

Kesimpulan itu terasa ganjil bila disandingkan dengan gambaran yang dibuka naskah yang sama. Bahasa Sasak, tulis para peneliti, dipakai lebih dari sejuta orang yang tersebar terutama di Pulau Lombok, menjadi bahasa adat sekaligus pengantar bahasa agama, dan hadir dalam rapat adat, kesenian, serta adat istiadat. Justru sebaliknya yang terjadi di sawah Bayan. Kata-kata yang lahir di pematang ternyata tidak cukup dijaga oleh orang yang masih fasih berbahasa Sasak.

Sebuah ritual yang berbicara

Ritual yang dimaksud bernama meleong pare bulu, yang oleh para peneliti diterjemahkan sebagai penanaman padi tradisional. Mereka menyebutnya wujud performansi lingual, yaitu seperangkat kegiatan menanam padi yang didasarkan pada tradisi dan dijalankan bersama ucapan serta istilah yang sudah ditentukan pemakaiannya. Dengan kata lain, menanam padi bulu di Bayan bukan hanya pekerjaan tangan, sebab setiap langkahnya punya nama, dan nama itu hanya terucap ketika langkahnya dikerjakan.

Menurut naskah, norma dan nilai budaya yang terkandung dalam ritual itu hanya dapat dipertahankan komunitas petani adat Bayan selama prosesinya dilaksanakan. Pelaksanaan itu pernah ditopang sumber daya alam yang melimpah, seperti air dan lahan garapan, serta topografi dan iklim yang memadai. Di situlah persoalannya, karena kata-kata yang nasibnya digantungkan pada sebuah upacara akan ikut goyah begitu upacara itu kehilangan air, lahan, atau orang yang mau menjalankannya.

Para peneliti mendatangi orang-orang yang paling dekat dengan upacara itu, yakni tokoh adat ritual meleong pare bulu, kiai, dan kepala lingkungan setempat. Dari mereka disusun daftar istilah menurut urutan kerja di sawah. Tabel dalam naskah itu memuat dua puluh empat istilah yang terbagi ke dalam tahapan pratanam, tanam, dan pascatanam. Daftar itulah yang kemudian diperiksa satu per satu untuk melihat mana yang masih hidup dalam pemakaian sekarang.

Tiga tahapan ritual padi bulu di BayanTiga tahapan ritual padi bulu di BayanTiga tahapan ritual padi bulu di BayanUrutan meleong pare bulu, penanaman padi tradisionalPratanamSiapkan bibit danlahanTanamMeleong dannyisipinPascatanamPanen, ikat, lalujemurSambiPadi disimpanSambi atau geleng: tempat penyimpanan padi.
Sumber: M. Aris Akbar, Halus Mandala, Siti Lamusiah, dan Siti Nur Ifanti, Pemertahanan Bahasa Sasak dalam Istilah Pertanian pada Komunitas Petani Adat Bayan, Lombok Utara, Jurnal Ilmiah Telaah, 7(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Dari mata air ke pempon

Tahapan pratanam dibuka dengan selamet olor, selamatan mata air, lalu tunaq bineq yang berarti menurunkan bibit, mengerem atau merendam bibit, dan menimpang atau menebarkan bibit. Sesudah itu datang pekerjaan tanah, yaitu membole mlasah atau menggara dan menggau, membajak sawah dengan kerbau dan meratakannya, menambah yang berarti mencangkul, mundukin atau memperbaiki pematang, serta membole jejaring, menghaluskan lahan. Tahapan ini ditutup dengan mereas, mencabut benih, dan pempon atau piaq taletan.

Pempon adalah kata yang paling terikat pada upacara. Naskah menjelaskannya sebagai tempat khusus yang dibuat dan diletakkan di tengah sawah untuk melakukan ritual, dan ia disiapkan menjelang meleong, saat padi ditanam. Kata itu tidak menunjuk alat atau cara mengolah tanah, melainkan sebuah titik di petak sawah yang hanya ada karena upacara menuntutnya, sehingga tanpa upacara tidak ada lagi benda yang perlu disebut dengan nama tersebut.

Baca juga Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan

Masa tanam memuat empat istilah. Selain meleong, ada nyisipin, yaitu menanam bibit baru sebagai pengganti bibit yang mati, yang dikerjakan sambil membuang urut bolean atau rerumputan pengganggu. Rumput itu dibenamkan ke dalam tanah supaya menjadi humus atau pupuk. Lalu ada buburang pare atau sidekang pare, upacara pemeliharaan tanaman dan pengusiran hama, serta menyemprang, yang diartikan naskah dengan dua kata saja, padi ngidam.

Panen yang diantar kepada pemimpin adat

Tahapan pascatanam dimulai sebelum sabit diayunkan, lewat selamet ngerowah bawan pare, selamatan menjelang panen. Panennya sendiri disebut mutah atau mataq, yakni memanen bersama keluarga dan orang di luar keluarga. Padi yang sudah dipotong kemudian diikat dalam mengawin dan dijemur dalam memborang, dua pekerjaan yang dalam naskah tetap disebut sebagai ritual, bukan sekadar urusan mengeringkan hasil sawah.

Sesudah kering, padi dinaikkan ke tempat penyimpanan yang disebut sambi atau geleng, dan pekerjaan itu bernama taekang pare. Rangkaian ditutup dengan ngaturang ulaq kaya, menghaturkan hasil panen kepada pemimpin adat. Tabel peneliti menambahkan selamet andoan, sebuah selamatan lain, dan ngintiq plemer, membawa hasil padi dengan gagang, sehingga satu musim tanam padi bulu berjalan dari selamatan ke selamatan dengan kosakata yang mengikutinya.

Kosakata sepanjang itu, menurut naskah, digunakan dan dilestarikan seiring pelaksanaan ritualnya. Namun, keadaan sekarang berbeda, sebab ritual meleong pare bulu banyak ditinggalkan komunitas petani adat Bayan. Para peneliti menulis bahwa keberadaan istilah-istilah tersebut mulai pudar dalam sistem pertanian adat, dan mereka mencari sebabnya bukan pada bahasa, melainkan pada sawah, bibit, dan keyakinan orang yang menggarapnya.

Bibit baru dan keyakinan yang berubah

Tiga hal disebut lebih dulu. Banyak lahan pertanian berubah fungsi menjadi perumahan dan perkantoran. Banyak petani mengganti bibit padi bulu dengan bibit unggul yang disediakan pemerintah, yang dalam naskah disebut padi gabah dan butuh waktu jauh lebih pendek dari tanam sampai panen. Akibatnya pengolahan hasil pertanian menjadi lebih cepat, dan para peneliti menduga kecepatan itu ikut berimplikasi pada kelestarian upacara yang semula mengisi jeda panjang di antara pekerjaan sawah.

Dua sebab lain menyentuh keyakinan. Kepercayaan masyarakat, tulis mereka, mulai terkikis oleh paham agama, terutama pandangan dalam Islam yang merombak ritual berbau mistik dan tidak dituntun kitab suci. Modernisasi pertanian membawa pengaruh serupa dari arah berbeda, karena petani tidak lagi percaya bahwa ritual saja, tanpa pengolahan yang tepat, akan mendatangkan hasil berlimpah. Sebagian besar warga tidak lagi melaksanakan meleong pare bulu, dan generasi muda hampir tidak mengenal ritual itu.

“Hal ini mengisyaratkan bahwa bahasa sangat berhubungan dengan budaya, termasuk tradisi komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara,” tulis M. Aris Akbar dan rekan-rekannya dalam naskah itu. Kalimat tersebut membelokkan arah pembacaan, sebab yang semula tampak sebagai soal kosakata ternyata soal upacara. Pewarisan istilah dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya pun, menurut mereka, mengalami hambatan justru karena tidak ada lagi upacara tempat kata-kata itu didengar.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Untuk menimbang keadaan itu, para peneliti meminjam kajian Sumarsono tentang bahasa Melayu Loloan di Bali, yang bertahan antara lain karena wilayah penuturnya terpisah dari permukiman mayoritas, karena kesetiaan penutur pada bahasa yang menjadi lambang identitas mereka, dan karena pengalihannya dari generasi ke generasi tidak terputus. Di Bayan, dua dari ukuran itu, yaitu sikap keagamaan dan kesinambungan pewarisan, justru bekerja ke arah yang berlawanan bagi istilah ritual tanam padi.

Bergeser, bukan seluruhnya lenyap

Namun, para peneliti sendiri menahan kesimpulan yang terlalu rata. Mereka menegaskan bahwa istilah ritual meleong pare bulu tidak serta-merta ditinggalkan penuturnya. Sebagian istilah bergeser menjadi kata biasa, sedangkan sebagian lain tidak dipakai lagi. Pergeseran itu terjadi pada tataran makna ritual, sementara istilah yang tidak lagi digunakan adalah yang berkaitan dengan proses ritual pada setiap tahapan.

Nasib istilah ritual padi buluNasib istilah ritual padi buluNasib istilah ritual padi buluContoh dari tabel istilah komunitas petani adat BayanBergeser maknaTidak dipakaiMakna ritualProses ritualTataranMelongMenyemprangMasa tanamNyisipinBuburang pareMasa tanamMemborangMengawinPascatanamTaekang pareMutah, mataqPascatanamEjaan istilah mengikuti tabel dalam naskah.
Sumber: M. Aris Akbar, Halus Mandala, Siti Lamusiah, dan Siti Nur Ifanti, Pemertahanan Bahasa Sasak dalam Istilah Pertanian pada Komunitas Petani Adat Bayan, Lombok Utara, Jurnal Ilmiah Telaah, 7(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Tabel kedua dalam naskah memperlihatkan perbedaan itu. Kata untuk menanam padi, menyulam bibit yang mati, menjemur, dan menyimpan padi ditandai bergeser, artinya masih terucap tetapi sebagai nama pekerjaan sawah biasa. Sebaliknya, pempon, buburang pare, menyemprang, selamatan menjelang panen, mutah atau mataq, mengawin, selamet andoan, ngintiq plemer, dan ngaturang ulaq kaya ditandai tidak digunakan. Yang gugur, dengan demikian, terutama kata-kata yang tidak punya pekerjaan lain di luar upacara.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Gambaran ini punya batas yang perlu dicatat. Naskah tidak menyebut berapa orang yang diwawancarai dan tidak menghitung berapa petani yang masih atau sudah tidak menjalankan ritual, sehingga ungkapan seperti banyak dan sebagian besar tidak bisa diterjemahkan ke dalam angka. Temuan ini juga hanya berbicara tentang komunitas petani adat Bayan dan tentang istilah pertanian, bukan tentang keadaan bahasa Sasak di Lombok secara keseluruhan.

Yang bisa diperiksa pembaca

Beberapa hal di dalam naskah tidak sepenuhnya cocok satu sama lain. Nama ritual ditulis bergantian sebagai melong dan meleong, sementara tunaq bineq, nyisipin, dan ulaq kaya masing-masing muncul pula sebagai tunang bineq, nyisispin, dan ulaw kaya. Tabel memuat dua puluh empat istilah, tetapi uraian sesudahnya hanya menjelaskan dua puluh, dan dua istilah di tabel, nenaoq dan membuat, dibiarkan tanpa arti maupun tanda.

Ada pula ketegangan antara bagian awal dan bagian hasil. Latar belakang menyebut ritual ini membuat komunitas petani adat Bayan cenderung menolak ajakan beralih dari padi bulu ke padi gabah, sedangkan bagian hasil menyebut banyak petani sudah mengganti bibitnya. Simpulan menyatakan bahasa Sasak dalam istilah pertanian tidak dapat dipertahankan, padahal pembahasan mencatat sebagian istilah masih dipakai dengan makna yang bergeser.

Maka yang tersisa dari naskah ini adalah sebuah gambaran yang belum selesai tentang kata-kata di sawah Bayan, sebagian masih terucap sebagai nama pekerjaan, sebagian lain tinggal dalam tabel peneliti bersama pempon yang tidak lagi didirikan di tengah petak. Bila sebuah kata bertahan hanya setelah kehilangan upacara yang dulu memberinya makna, apakah ia masih kata yang sama, dan sampai kapan ingatan tokoh adat, kiai, dan kepala lingkungan itu sanggup menyimpan sisanya?

Bagikan

Baca Juga

Rumah Adat Gamav Aha di Merauke Hidup Lagi lewat Ritual Katolik
Kasepuhan Ciptagelar Memakai Wisata agar Adatnya Diakui Negara
Kalosara, Lingkaran Rotan yang Mendamaikan Sengketa Orang Tolaki
Kain Gringsing Tenganan Sengaja Ditenun Lambat agar Tak Ditiru
Pukulan Gong Suku Abui Mengabarkan Tamu dan Jumlah Hewannya
Dari Janur sampai Batok, Kelapa Menopang Ritual Adat Bonokeling