Video Kesehatan Paling Matang di Facebook Sri Lanka Sepi Respons

A A

Ilustrasi seorang lelaki memeriksa ponsel di depan toko di Maliban Street, Kolombo, Sri Lanka [Foto: Thilina Alagiyawanna/Pexels]

  • Video animasi berbayar dengan skor teori tertinggi menjangkau 132.000 akun, tetapi yang menanggapinya hanya 93.
  • Sebelas dari lima belas unggahan menembus 70 persen pada rapor strategi, sedangkan pada rapor teori hanya enam.
  • Skor teori poster diam berkisar 5,5 sampai 50 persen, terendah di antara tiga rupa unggahan.
  • Dari lima belas unggahan terpilih, hanya tiga yang berbicara tentang kurang gerak.
  • Jangkauan dan tanggapan tidak menunjukkan apakah pesan dipahami atau perilaku berubah.
Daftar Isi
  1. Tiga Halaman Resmi
  2. Poster yang Ramai
  3. Animasi yang Sepi
  4. Kurang Gerak yang Terlupa
  5. Dua Penilai, Dua Latar
  6. Tabel yang Tak Seragam

Di halaman Facebook Health Promotion Bureau, lembaga promosi kesehatan milik pemerintah Sri Lanka, pernah tayang sebuah video animasi tentang pola makan tidak sehat. Lembaga itu membayar agar videonya tersebar luas, dan memang tersebar: 132.000 akun terjangkau. Yang menanggapinya hanya 93. Kurang dari satu tanggapan untuk tiap seribu akun yang dilewati video itu.

Padahal di antara lima belas unggahan yang ditimbang, video itulah yang nilainya paling tinggi. Ia dicatat T. Wanasinghe, L. K. Athauda, A. Abeykoon, M. N. Chandratilake, dan A. Kasturiratne dalam Framing health: how health communication theories and strategies shape NCD prevention content on Facebook Sri Lanka. Artikel berbahasa Inggris itu terbit di BMC Public Health volume 26, tahun 2026.

Kelimanya bekerja di University of Kelaniya, Sri Lanka. Wanasinghe, penulis korespondensi, bernaung di Global Health Research Unit kampus itu, dan kajian ini bagian dari riset doktoralnya. Rekan-rekannya datang dari tiga rumah yang berbeda: kesehatan masyarakat, komunikasi massa, dan pendidikan kedokteran.

Yang mereka periksa adalah pesan pencegahan penyakit tidak menular di tiga halaman Facebook resmi lingkungan Kementerian Kesehatan Sri Lanka. Dua faktor risiko menjadi pokoknya, yaitu kurang gerak dan pola makan tidak sehat. Facebook dipilih karena, menurut naskah itu, inilah media sosial yang paling menonjol dipakai di Sri Lanka, dengan pengguna terbanyak pada usia 25 sampai 54 tahun.

Tiga Halaman Resmi

Dari tiga halaman itu terkumpul 137 unggahan yang tayang antara 2018 dan 2022. Sebanyak 28 berupa video, 109 lainnya gambar diam. Lima belas di antaranya kemudian dipilih, yakni yang paling banyak ditanggapi dibanding jumlah akun yang dijangkaunya. Lima belas unggahan itu terbagi ke tiga rupa. Ada lima poster diam, delapan video hibrida, dan dua video animasi. Enam berasal dari halaman NCD Unit, enam dari Health Promotion Bureau, dan tiga dari halaman divisi gizi kementerian yang sama.

Tiap unggahan mendapat dua rapor. Rapor pertama menilai apakah pesannya berpijak pada teori tentang cara orang mengambil keputusan kesehatan. Rapor kedua menilai strateginya: siapa yang berbicara, kepada siapa, lewat saluran apa, kapan, dan dengan kemasan seperti apa. Dua penulis menilai sendiri-sendiri, lalu angkanya dirata-ratakan menjadi persen.

Lima belas unggahan di bawah kaca pembesarLima belas unggahan di bawah kaca pembesarLima belas unggahan di bawah kaca pembesarTiga halaman Facebook resmi Sri Lanka, 2018-2022137ditelaahvideo dan gambar15dinilaipaling ramai11kuat strategiskor di atas 70%3kurang gerak12 soal makanJalan risetnya137 unggahan15 terpilihdua rapor
Sumber: T. Wanasinghe, L. K. Athauda, A. Abeykoon, M. N. Chandratilake, dan A. Kasturiratne, Framing health: how health communication theories and strategies shape NCD prevention content on Facebook Sri Lanka, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Teori yang dijadikan patokan bernama Health Belief Model, atau model keyakinan kesehatan. Menurut para penulis, inilah teori yang paling luas dipakai dalam kajian media sosial tentang pencegahan penyakit. Intinya sederhana. Orang mengubah perilaku bila percaya dirinya terancam, percaya ada manfaatnya, dan percaya dirinya sanggup.

Dari situ lahir enam pertanyaan yang diajukan kepada setiap unggahan. Apakah ia membuat orang merasa rentan? Apakah ia menyebut akibat penyakitnya? Apakah manfaat perubahan dijelaskan, hambatan dikurangi, pengingat untuk bertindak diberikan, dan cara melakukannya dituntun? Tiap pertanyaan dinilai nol sampai tiga, dari tidak tampak sampai tampak kuat.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Poster yang Ramai

Hasilnya timpang. Skor strategi bergerak dari 61,1 sampai 94,4 persen, dan sebelas dari lima belas unggahan menembus 70 persen. Skor teori jauh lebih lebar jaraknya, dari 5,5 sampai 94,4 persen. Hanya enam unggahan yang melewati 70 persen pada rapor ini.

Poster diam berada di dasar. Skor teorinya berkisar 5,5 sampai 50 persen, dan tiga dari lima poster berhenti di angka terendah itu. Artinya, dari enam pertanyaan tadi nyaris tak satu pun terjawab di dalam gambarnya.

Namun poster justru bisa ramai. Sebuah poster berbayar tentang pola makan di halaman Health Promotion Bureau menjangkau 51.776 akun dan memanen 8.441 tanggapan. Skor teorinya 5,5 persen. Poster lain di halaman NCD Unit, tanpa bayaran, menjangkau 11.046 akun dengan 822 tanggapan, juga dengan skor teori 5,5 persen.

Unggahan yang lolos 70 persen pada rapor strategi, tulis para penulis, kuat pada hal-hal seperti waktu penayangan pesan, susunan isi, dan ketepatan sasaran. Yang lemah ada di lapisan bawahnya. Unggahan dengan skor teori di bawah 60 persen dinilai buruk dalam memadukan unsur-unsur model keyakinan kesehatan itu.

Animasi unggul, poster tertinggalPoster diam (5 konten): Skor teori terendah +5,5, Skor teori tertinggi +50,0; Video hibrida (8 konten): Skor teori terendah +38,8, Skor teori tertinggi +88,8; Video animasi (2 konten): Skor teori terendah +88,8, Skor teori tertinggi +94,4.Animasi unggul, poster tertinggalSkor teori komunikasi kesehatan, persen dari nilai penuhSkor teori terendahSkor teori tertinggi2550751000Poster diam (5 konten)5,550,0Video hibrida (8 konten)38,888,8Video animasi (2 konten)88,894,415 unggahan Facebook lembaga kesehatan Sri Lanka, 2018-2022.
Sumber: T. Wanasinghe, L. K. Athauda, A. Abeykoon, M. N. Chandratilake, dan A. Kasturiratne, Framing health: how health communication theories and strategies shape NCD prevention content on Facebook Sri Lanka, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Animasi yang Sepi

Di ujung lain berdiri dua video animasi, keduanya di halaman Health Promotion Bureau dan keduanya berbayar. Skor teorinya 88,8 dan 94,4 persen, rentang tertinggi di antara tiga rupa unggahan. Video hibrida berada di tengah, dari 38,8 sampai 88,8 persen.

Video tentang pola makan dari adegan pembuka tadi adalah pemegang skor teori tertinggi. Kembarannya, animasi tentang kurang gerak, meraih skor strategi 94,4 persen, tertinggi pula di rapor kedua. Jangkauannya 9.099 akun. Tanggapannya 157.

Di titik inilah naskah itu berbelok dari dugaan yang lazim. “Ini menggugat anggapan bahwa konten berbasis teori akan selalu berkinerja lebih baik dalam hal interaksi,” tulis Wanasinghe dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu. Kalimat tersebut muncul tepat setelah mereka mencatat bahwa unggahan yang paling selaras dengan teori sepi tanggapan kecuali didorong iklan berbayar.

Mereka menarik satu pelajaran dari sana. Isi yang berpijak pada teori memang penting, tetapi cara menyebarkannya ikut menentukan. Alat yang disediakan media sosial, termasuk promosi berbayar, menurut mereka memainkan peran besar dalam mengundang tanggapan.

Angka terbesar di seluruh tabel memang milik unggahan berbayar. Sebuah video hibrida tentang pola makan di halaman Health Promotion Bureau menjangkau 1.116.000 akun dan mendapat 42.072 tanggapan. Skor teorinya 72,7 persen. Skor strateginya, 66,6 persen, malah termasuk yang rendah.

Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka

Kurang Gerak yang Terlupa

Ada satu ketimpangan lain yang tidak butuh rapor untuk terlihat. Dari lima belas unggahan terpilih, hanya tiga yang berbicara tentang kurang gerak. Dua belas sisanya tentang pola makan. Halaman divisi gizi, sesuai mandat lembaganya, memang hanya mengurusi makanan.

Para penulis menyebut kelangkaan ini sebagai salah satu temuan utama mereka. Kurang gerak adalah faktor risiko kunci penyakit tidak menular, tulis mereka, tetapi nyaris tak terwakili dalam konten yang dianalisis. Pencegahan, menurut naskah itu, membutuhkan pendekatan yang lebih berimbang antara urusan piring dan urusan gerak tubuh.

Pola itu tidak hanya milik Sri Lanka. Naskah tersebut menyinggung sebuah kampanye promosi kesehatan di Inggris yang juga condong ke isi tentang makanan dan kerap melewatkan aktivitas fisik. Kampanye di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tulis mereka, cenderung mendahulukan keindahan dan keterlihatan ketimbang komunikasi yang berbasis bukti.

Sebagai pembanding, mereka menyebut LiveLighter di Australia dan Make Health Last di Kanada, dua kampanye yang dikenal memakai teori komunikasi kesehatan. Thai Health Promotion Foundation di Thailand disebut pula sebagai contoh yang layak ditiru Sri Lanka. Usul para penulis sendiri konkret: pelatihan bagi pembuat konten, pemasar digital, dan komunikator kesehatan, berupa lokakarya atau kursus daring.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Dua Penilai, Dua Latar

Para penulis sendiri memasang beberapa pagar di sekeliling temuan itu. Jangkauan dan tanggapan, tulis mereka, hanya menandakan bahwa pengguna Facebook melihat sebuah unggahan dan bereaksi, entah senang entah tidak. Keduanya tidak menunjukkan apakah pesan dipahami, apalagi apakah sikap dan perilaku berubah.

Keterbatasan lain diakui terang. Lima belas unggahan adalah sampel kecil yang mungkin tidak mewakili seluruh konten kementerian. Hanya Facebook yang dilihat, bukan TikTok atau Instagram. Kerangka penilaiannya disusun dari tinjauan pustaka tanpa disahkan pakar, dan potretnya diambil pada satu titik waktu saja.

Dua penilai pun tidak selalu sepakat. Pada rapor teori mereka sejalan di sembilan unggahan dan berselisih di enam. Pada rapor strategi, delapan sejalan dan tujuh berselisih. Ukuran kesepakatannya 0,60 dan 0,53, yang oleh para penulis digolongkan sedang. Mereka menduga sebabnya latar yang berbeda: satu penilai terlatih di bidang komunikasi, satu lagi di kesehatan masyarakat.

Tabel yang Tak Seragam

Beberapa hal kecil di dalam naskah tidak saling cocok dan bisa diperiksa pembaca. Unggahan nomor 14 disebut video animasi di badan tulisan, tetapi tercatat sebagai video hibrida di tabel, sementara animasi dihitung hanya dua. Unggahan yang sama, dan nomor 15, dicatat menjangkau nol akun namun mendapat tiga tanggapan.

Tabel ringkasan menulis jangkauan poster diam mulai dari 1.024 akun, padahal tabel rincinya memuat poster dengan jangkauan 162 dan nol. Lalu poster berbayar yang ramai tadi tercatat berskor strategi 72,7 persen, sedangkan dua penilainya memberi angka 3 dan 12 dari nilai penuh 18. Rentang 2018 sampai 2022 juga disebut empat tahun.

Ketidakcocokan itu tidak membalik arah temuan, sebab pola besarnya terbaca di hampir setiap baris tabel. Poster bisa ramai tanpa menjawab satu pun dari enam pertanyaan. Animasi bisa menjawab hampir semuanya tanpa ditanggapi siapa-siapa.

Video animasi di halaman Health Promotion Bureau itu masih menjadi gambaran paling ringkas dari seluruh kajian. Nilainya 94,4 persen, jangkauannya 132.000 akun, tanggapannya 93. Di awal angka itu tampak seperti kegagalan sebuah video. Setelah lima belas unggahan dibaca berdampingan, ia lebih mirip potret jarak antara pesan yang disusun dengan benar dan pesan yang sampai ke orang.

Bagikan

Baca Juga

Rumah Adat Gamav Aha di Merauke Hidup Lagi lewat Ritual Katolik
Obat Kedaluwarsa Warga Lanzhou Jarang Berakhir di Tong Sampah
Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Jam Makan Anak Mundur Saat Libur Sekolah, Lebih Sering Terlewat
Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Saat Orang Tua Kena Kanker, Remaja Memilih Diam dan Makin Sepi