- Dari 1.110 kasus yang jenis kelaminnya diketahui, 935 adalah laki-laki, atau 84,2 persen.
- Setelah ditimbang untuk seluruh negeri, mereka memperkirakan 4,4 kematian tenggelam per 100.000 penduduk per tahun.
- Untuk semua kegiatan, perbandingannya 306 dari 390 orang, kira-kira empat dari lima.
- Dari 58 kejadian yang jenis perahunya diketahui, 48 melibatkan kano.
- Angka nasional 4,4 itu pun, tulisnya, kemungkinan terlalu rendah.
Daftar Isi
- Para pencatat menemukan 1.134 kematian dalam tiga tahun
- Fernandez mendapati lelaki dan sungai di urutan teratas
- Yang dicatat tim tentang balita, tangki air, dan sumur
- Kano terbalik, cuaca buruk, dan pelampung yang tak dipakai
- Usul para penulis: penutup tangki dan pelajaran berenang
- Batas yang diakui Fernandez dan hal ganjil di naskahnya
Danielle Fernandez menulis satu kalimat yang sukar dilupakan tentang perahu-perahu di Ghana. Dari 96 orang yang tenggelam saat berperahu dan diketahui perihal pelampungnya, tidak seorang pun tercatat mengenakan jaket pelampung ketika celaka. Peneliti CDC Foundation di Atlanta, Amerika Serikat, itu menyusun naskah beserta tabel-tabelnya dari 1.134 kematian tenggelam yang dihimpun di 52 distrik.
Fernandez menulisnya bersama Emmanuel Nakua, Easmon Otupiri, Jill V. Klosky, Michael F. Ballesteros, Likang Xu, Robin Lee, Peter Donkor, dan Tessa Clemens dalam artikel Understanding the burden and circumstances of fatal drowning in Ghana: results from a nationally representative study. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus Article in Press, sehingga belum bernomor volume. Nakua, Otupiri, dan Donkor berasal dari Kwame Nkrumah University of Science and Technology di Kumasi, Ghana.
Tessa Clemens, peneliti U.S. Centers for Disease Control and Prevention yang menurut naskah menggagas penelitian ini, berangkat dari satu kekosongan. Angka kematian tenggelam di Afrika diperkirakan termasuk yang tertinggi di dunia, tetapi belum pernah ada penilaian nasional yang menyeluruh untuk Ghana. Data yang tersedia sebagian besar berasal dari kajian per wilayah. Beban sesungguhnya, juga kelompok yang paling berisiko, belum dipahami dengan baik.
Para pencatat menemukan 1.134 kematian dalam tiga tahun
Easmon Otupiri dan Peter Donkor, dua penulis dari Kumasi, tercatat mendukung perolehan datanya. Cakupannya 52 dari 260 distrik di Ghana, dengan penduduk sekitar 28 persen dari seluruh negeri, untuk kematian sejak Januari 2019 sampai Desember 2021. Hasilnya 1.134 kematian tenggelam. Itu berarti rata-rata kira-kira 378 kasus dalam setahun.
Di lapangan, pekerjaan itu dijalankan para pengumpul data dan penyelia yang namanya dicantumkan satu per satu dalam ucapan terima kasih, dari Ahmed Mohammed dan Alice Larbi sampai William Addah. Mereka menelusuri catatan resmi dan mewawancarai keluarga, kawan, atau saksi orang yang tenggelam. Para penulis menyebut mereka bekerja tanpa lelah mengumpulkan keterangan penting itu.
Jill V. Klosky dan Likang Xu mengerjakan analisis angkanya bersama Fernandez. Setelah ditimbang untuk seluruh negeri, mereka memperkirakan 4,4 kematian tenggelam per 100.000 penduduk per tahun. Itu setara kira-kira 1.360 kematian setahun selama masa yang diteliti. Antardistrik selisihnya lebar, dari nol sampai 26,3 per 100.000 penduduk.
Kalimat simpulan mereka pendek. “Tenggelam adalah penyebab kematian dini yang besar dan kurang dikenali di Ghana,” tulis Fernandez dan delapan rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Sebagai pembanding, mereka mencatat dua taksiran lain untuk Ghana: 5,0 per 100.000 penduduk dari Global Burden of Disease 2023 dan 3,5 dari Global Health Estimates WHO 2021. Keduanya, kata mereka, sebagian besar bertumpu pada data hasil pemodelan.
Baca juga Perempuan Dominasi Rawat Inap Korban Kapal Karam di Gambia
Fernandez mendapati lelaki dan sungai di urutan teratas
Tabel yang disiapkan Fernandez memperlihatkan siapa yang paling sering menjadi korban. Dari 1.110 kasus yang jenis kelaminnya diketahui, 935 adalah laki-laki, atau 84,2 persen. Dalam hitungan tertimbang, angka kematian tenggelam laki-laki 7,4 per 100.000 penduduk, sedangkan perempuan 1,4. Selisihnya lebih dari lima kali lipat.
Usia rata-rata saat meninggal, pada 987 kasus yang usianya diketahui, adalah 23 tahun. Fernandez mencatat angka tertimbang tertinggi pada orang dewasa 20–34 tahun, yakni 4,5 per 100.000 per tahun, disusul kelompok 35–49 tahun dengan 4,4. Remaja 15–19 tahun berada di angka 3,5, anak di bawah lima tahun 3,4, dan anak 5–14 tahun 3,3. Orang berusia 65 tahun ke atas mencatat angka terendah, 2,5.
Lalu soal tempat. Dari 1.054 kasus yang lokasinya diketahui, tabel Fernandez menaruh sungai di urutan pertama dengan 330 kematian atau 31,3 persen. Laut menyusul dengan 185 kematian atau 17,6 persen. Di bawahnya ada bendungan dengan 80 kasus, lubang 66, sumur 61, serta tangki air atau tangki septik 46.
Perbedaan itu mengikuti letak distrik. Di distrik pesisir, 42,6 persen kematian terjadi di laut; di distrik berperairan darat, separuhnya terjadi di sungai. Klosky, Xu, dan Fernandez juga menghitung angka rata-rata per jenis distrik: 6,1 per 100.000 di distrik berperairan darat, 5,4 di pesisir, dan 2,3 di distrik kering. Distrik kering pun tidak bebas. Di sana tercatat kematian di sungai, selokan, sumur, dan air banjir.
Apa yang sedang dilakukan korban diketahui pada 817 kasus. Berenang paling sering disebut, 282 kasus atau 34,5 persen, lalu bepergian di dekat air 120 kasus, berperahu 110, dan bermain di dekat air 103. Fernandez mencatat pola berbeda menurut jenis kelamin. Pada laki-laki, berenang menempati urutan pertama dengan 37,6 persen; pada perempuan, bermain di dekat air 22,1 persen dan bepergian di dekat air 20,5 persen.
Catatan tentang kemampuan berenang memberi keterangan tambahan. Di antara korban yang tenggelam saat berenang dan kemampuannya diketahui, 100 dari 115 orang disebut perenang lemah atau tidak bisa berenang. Untuk semua kegiatan, perbandingannya 306 dari 390 orang, kira-kira empat dari lima. Clemens dan rekan-rekannya mengakui data itu tidak lengkap, tetapi tetap membacanya sebagai tanda bahwa berenang perlu dibuat lebih aman di semua distrik.
Yang dicatat tim tentang balita, tangki air, dan sumur
Untuk anak di bawah lima tahun, daftar tempatnya berubah sama sekali. Fernandez menulis bahwa kematian tenggelam pada kelompok itu paling sering terjadi di tangki air atau tangki septik dan di lubang, masing-masing 25 kasus atau 19,8 persen, lalu di sumur dengan 21 kasus. Kegiatan yang paling sering menyertainya adalah bermain di dekat air, 55 kasus atau 63,2 persen.
Begitu anak bertambah besar, sungai mengambil alih. Pada usia 5–14 tahun, 54 kematian atau 28 persen terjadi di sungai, dan pada usia 15–19 tahun 38 kematian atau 38 persen. Berenang menjadi kegiatan yang paling sering dicatat Fernandez pada dua kelompok itu, masing-masing 43,1 persen dan 63,5 persen. Pada orang berusia 50 tahun ke atas, sungai menyumbang separuh kematian.
Emmanuel Nakua dan rekan-rekannya juga mencatat upaya pertolongan. Dari 683 kejadian yang keterangannya tersedia, upaya penyelamatan dilaporkan pada 301 kejadian atau 44,1 persen. Bila penolongnya diketahui, 126 dari 138 adalah saksi atau orang yang kebetulan berada di tempat. Tenaga terlatih seperti polisi, petugas pemadam, atau penyelam berpengalaman hanya tercatat pada 12 kejadian. Enam orang tenggelam ketika mencoba menolong orang lain.
Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Kano terbalik, cuaca buruk, dan pelampung yang tak dipakai
Kembali ke perahu yang ditulis Fernandez. Di seluruh distrik yang diteliti, 110 kematian berkaitan dengan perahu. Dari 58 kejadian yang jenis perahunya diketahui, 48 melibatkan kano. Terbalik adalah kejadian yang paling sering dilaporkan, 73 dari 101. Cuaca buruk disebut pada 50 dari 63 kejadian yang faktor penyebabnya diketahui, dan muatan berlebih pada sembilan kejadian.
“Dalam penelitian kami, tidak seorang pun yang tenggelam saat berperahu dilaporkan mengenakan jaket pelampung,” tulis Fernandez dan rekan-rekannya, juga diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka sendiri berhati-hati membacanya. Pemakaian pelampung memang diperkirakan rendah, terlebih pada orang yang tenggelam. Namun, temuan itu bisa pula mencerminkan pencatatan yang tidak lengkap atau terbatasnya pengetahuan saat data dikumpulkan.
Pekerjaan ikut tercatat. Dari 864 kasus yang keterangannya ada, 117 kematian atau 13,5 persen berkaitan dengan kegiatan kerja, dan seluruhnya laki-laki bila jenis kelaminnya diketahui. Fernandez menulis bahwa menangkap ikan tanpa perahu dan menangkap ikan dari perahu sama banyaknya, masing-masing 41 kasus. Kelompok usia 20–34 tahun menanggung jumlah terbesar, 43 orang.
Michael F. Ballesteros, Robin Lee, dan penulis lain menempatkan temuan itu di samping keadaan aturan. Mengutip laporan WHO 2024, mereka menulis bahwa Ghana belum memiliki undang-undang nasional untuk keselamatan angkutan penumpang di perairan dalam negeri, dan kewajiban berpelampung hanya ada di tingkat subnasional. Ghana Maritime Authority baru-baru ini membagikan 20.000 jaket pelampung dan melantik 200 penjaga keselamatan perairan darat.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Usul para penulis: penutup tangki dan pelajaran berenang
Dari angka-angka itu, Clemens dan para penulis menurunkan usul yang konkret. Tangki septik dan tangki air diberi penutup yang layak dan dirawat, baik ketika dipakai maupun tidak. Akses ke sumur dan bendungan diubah. Penghalang dipasang di antara sumber air, seperti saluran dan parit, dengan jalan yang dilalui orang.
Pelajaran berenang masuk dalam daftar yang sama. Nakua dan rekan-rekannya mencatat, masih dari laporan WHO 2024, bahwa pendidikan renang dan keselamatan air baru masuk kurikulum sekolah di tingkat subnasional dengan cakupan terbatas. Beberapa program berbasis komunitas sudah berdiri di Ghana. Menurut mereka, masih diperlukan kerja lebih lanjut untuk memahami cara memperluas program semacam itu secara efektif dan berkelanjutan.
“Tenggelam adalah persoalan lintas sektor di Ghana,” tulis mereka pada bagian pembahasan. Donkor dan Nakua bekerja di kampus yang ikut memimpin wadahnya. National Coordination Board on Drowning Prevention dibentuk pada 2025 dan diketuai bersama oleh Kwame Nkrumah University of Science and Technology dan Ghana National Fire Service. Para penulis menilai Ghana akan terbantu bila para pemangku kepentingan menyusun strategi dan rencana aksi keselamatan air nasional.
Batas yang diakui Fernandez dan hal ganjil di naskahnya
Fernandez tidak menyembunyikan batas pekerjaannya. Persentase tentang keadaan kejadian tidak ditimbang, sehingga belum tentu mewakili seluruh Ghana. Angka nasional 4,4 itu pun, tulisnya, kemungkinan terlalu rendah. Sebagian kamar jenazah tidak melakukan autopsi atau mencatat sebab kematian, banyak keluarga tidak memilih autopsi karena mahal, dan warga mungkin enggan melaporkan kematian yang terkait kegiatan ilegal seperti tambang liar.
Data yang hilang juga banyak, dan itu terlihat dari penyebut yang terus berganti. Kegiatan korban hanya diketahui pada 72 persen kasus, kemampuan berenang pada 390 dari 1.134 kasus. Fernandez dan rekan-rekannya menulis bahwa besarnya kekosongan itu dapat memengaruhi kekuatan sebagian temuan dan sejauh mana temuan itu bisa digeneralisasi. Di kota besar, pencarian kasus disebut sulit karena luasnya komunitas.
Ada beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Bagian kontribusi penulis menyebut Emmanuel Nakua mengerjakan analisis tematik atas transkrip diskusi kelompok terarah, padahal naskah ini tidak melaporkan diskusi semacam itu. Ucapan terima kasih menulis nama kampus sebagai Kwame Nkrumah University School of Technology, berbeda dari afiliasi para penulisnya. Persentase 40,2 untuk 43 korban kerja berusia 20–34 tahun juga tidak cocok dengan 117 kasus yang disebut sebelumnya, dan penyebutnya tidak dijelaskan.
Kalimat Fernandez tentang pelampung tetap berdiri di tengah naskah, dikelilingi angka yang lebih sunyi: tangki air tempat balita celaka, sungai tempat remaja berenang, saksi yang turun menolong. Kesimpulannya meminta agar upaya pencegahan menjangkau distrik pesisir dan distrik berperairan darat, juga distrik yang digolongkan kering. Di tabel yang ia susun, ketiga jenis distrik itu sama-sama punya daftar kematian.















