Perempuan Dominasi Rawat Inap Korban Kapal Karam di Gambia

A A

Deretan perahu pirogue tradisional berlabuh di dermaga Saint-Louis, Senegal. [Foto: Kateryna Serdiuk/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Perempuan lebih rentan dan lebih mungkin mengalami trauma atau kondisi kesehatan serius saat terjadi bencana kapal migran.
Daftar Isi
  1. Kapal Berangkat dari Pulau Jinack, Karam di Perairan Gambia
  2. Rawat Inap: Batas antara Korban Ringan dan Berat
  3. Proporsi Perempuan yang Dirawat Lebih Tinggi meski Jumlah Lebih Sedikit
  4. Usia Muda Mendominasi Korban yang Dirawat
  5. Cedera Trauma Ringan jadi Kondisi Klinis Paling Umum
  6. Peringatan Peneliti untuk Sistem Kesehatan Gambia

Migran ireguler adalah sebutan bagi orang yang menyeberang ke negara lain tanpa dokumen resmi, sering lewat jalur laut yang berbahaya memakai kapal kecil yang tidak layak. Istilah itu melekat pada 117 orang yang selamat setelah kapal migran karam di perairan Gambia pada dini hari 1 Januari 2026. Dari jumlah itu, 44 orang dirawat di rumah sakit, dan mayoritas yang dirawat justru perempuan, meski jumlah korban laki-laki jauh lebih banyak.

Temuan itu dipaparkan Sheikh Omar Bittaye bersama tim dari Edward Francis Small Teaching Hospital dan Universitas Gambia dalam artikel Demographic Characteristics and Clinical Conditions of Admitted Survivors of a Capsized Migrant Boat in The Gambia di jurnal BMC Public Health edisi 2026.

Kapal Berangkat dari Pulau Jinack, Karam di Perairan Gambia

Migran ireguler dari berbagai negara Afrika kerap mempertaruhkan nyawa menyeberangi laut menuju Eropa memakai kapal kecil yang rawan karam. Gambia menjadi salah satu titik transit dan keberangkatan migran dari negara–negara tetangga, antara lain karena minimnya penegakan hukum terhadap pelaku penyelundupan dan sulitnya mengawasi seluruh muara Sungai Gambia yang terbuka bagi kapal–kapal kecil.

Kapal migran itu berangkat dari Pulau Jinack di pesisir Samudra Atlantik, Gambia, pada petang 31 Desember 2025. Kapal tersebut karam di perairan Gambia pada dini hari 1 Januari 2026. Sebanyak 142 migran ireguler tercatat berada di kapal itu, 117 di antaranya selamat, sementara 25 orang ditemukan meninggal dunia.

Penyintas yang selamat lalu dibawa ke Edward Francis Small Teaching Hospital (EFSTH) di Banjul, satu–satunya rumah sakit tersier di Gambia dengan kapasitas 550 tempat tidur. Tim gawat darurat membagi diri menjadi beberapa kelompok, sebagian dikirim ke pangkalan angkatan laut untuk triase awal, sebagian lagi menunggu di unit gawat darurat rumah sakit untuk menerima pasien.

EFSTH berperan sebagai pusat rujukan utama nasional sekaligus pusat pendidikan bagi mahasiswa kedokteran, keperawatan, dan farmasi di Gambia. Peran ganda itu membuat rumah sakit ini menjadi tumpuan utama saat menangani lonjakan pasien akibat bencana kapal migran pada awal 2026.

Rawat Inap: Batas antara Korban Ringan dan Berat

Triase adalah proses memilah pasien berdasarkan tingkat keparahan kondisinya untuk menentukan siapa yang perlu penanganan lebih dulu. Lewat proses itu, peneliti mencatat 44 orang atau 37,6 persen dari total penyintas dinyatakan perlu rawat inap, sementara 73 orang atau 62,4 persen dinyatakan stabil sejak triase awal dan tidak memerlukan rawat inap.

Dari 44 pasien yang dirawat, 23 orang atau 52,3 persen berkewarganegaraan Gambia. Sisanya berasal dari negara lain, terbanyak Senegal sebanyak 9 orang, disusul Guinea Conakry 8 orang, lalu Mali 2 orang, serta Burkina Faso dan Pantai Gading masing–masing 1 orang. Dua pasien perempuan yang sedang hamil turut dirujuk ke bangsal kebidanan dan kandungan.

Begitu tiba di rumah sakit, penanganan dibedakan sesuai kondisi klinis. Pasien dengan nyeri tubuh menyeluruh diberi obat pereda nyeri, sementara pasien cedera trauma ringan mendapat pereda nyeri, antibiotik, dan perban. Pasien luka bakar akibat bahan bakar ditangani dengan salep perak sulfadiazin dan perban, sedangkan pasien hipotermia diberi selimut dan pakaian hangat.

Pasien dengan suhu tubuh tinggi mendapat parasetamol lewat infus, pasien hipertensi baru diberi obat antihipertensi, dan pasien aspirasi pneumonia ditangani dengan oksigen lewat hidung, antibiotik, dan furosemide. Pasien edema paru dirawat di ruang intensif dengan oksigen, antibiotik, dan furosemide, sementara pasien wasir yang mengalami trombosis mendapat krim antihemoroid, mandi rendam, dan sitz bath.

Proporsi Perempuan yang Dirawat Lebih Tinggi meski Jumlah Lebih Sedikit

Dari 117 penyintas, 91 orang atau 77,8 persen adalah laki–laki dan 26 orang atau 22,2 persen adalah perempuan. Namun ketika dilihat proporsi yang dirawat pada masing–masing kelompok, angkanya berbalik: 80,7 persen dari total perempuan yang selamat harus dirawat, sedangkan pada laki–laki hanya 25,3 persen.

Proporsi Korban yang Dirawat Menurut Jenis KelaminPerempuan 80,7%; Laki-laki 25,3%.Proporsi Korban yang Dirawat Menurut JenisKelaminDari total korban selamat pada masing-masing kelompok0%25%50%75%100%Perempuan80,7%Laki-laki25,3%
Data: Bittaye dkk., BMC Public Health (2026).

“Perempuan lebih rentan dan lebih mungkin mengalami trauma atau kondisi kesehatan serius saat terjadi bencana kapal migran,” tulis Sheikh Omar Bittaye, peneliti dari Universitas Gambia, dalam laporannya. Bittaye membandingkan temuan itu dengan riset serupa di Swedia yang juga mencatat proporsi kondisi klinis lebih tinggi pada migran perempuan dibanding laki–laki.

Usia Muda Mendominasi Korban yang Dirawat

Usia rata–rata pasien yang dirawat adalah 23,9 tahun dengan simpangan baku 6,5 tahun. Kelompok usia 15 sampai 24 tahun, yang oleh UNICEF disebut kelompok pemuda, mendominasi dengan 52,3 persen dari total pasien. Kelompok di atas 24 tahun mengikuti dengan 43,2 persen, sedangkan pasien di bawah 15 tahun hanya satu orang atau 2,2 persen.

Kelompok Usia Pasien yang DirawatDi bawah 15 tahun: Pasien 2,2%; 15 sampai 24 tahun: Pasien 52,3%; Di atas 24 tahun: Pasien 43,2%.Kelompok Usia Pasien yang Dirawat0%20%40%60%2,2%Di bawah 15 tahun52,3%15 sampai 24tahun43,2%Di atas 24 tahun
Data: Bittaye dkk., BMC Public Health (2026).

“Usia muda yang tinggi dalam migrasi dari Gambia lewat jalur ireguler kemungkinan berkaitan dengan kesulitan ekonomi, harapan sosial, dan impian penghidupan yang lebih baik di luar negeri,” tulis Bittaye. Ia membandingkan usia rata–rata itu dengan migran di Maroko yang rata–rata berusia 27,3 tahun dan di pusat penampungan Italia yang rata–rata berusia 26 tahun, sehingga penyintas kapal Gambia tergolong lebih muda.

Cedera Trauma Ringan jadi Kondisi Klinis Paling Umum

Cedera ringan akibat trauma menjadi kondisi klinis paling umum, dialami 14 pasien atau 31,8 persen. Nyeri tubuh menyeluruh menyusul dengan 11 pasien atau 25 persen. Kondisi terkait tenggelam atau nyaris tenggelam turut tercatat, yakni hipotermia pada 6 pasien atau 13,6 persen dan edema paru pada 2 pasien atau 4,5 persen.

Kondisi Klinis Pasien yang DirawatCedera ringan akibat trauma 31,8%; Nyeri tubuh menyeluruh 25,0%; Hipotermia 13,6%; Mabuk laut 11,4%; Edema paru 4,5%; Luka bakar ringan 4,5%; Gangguan jiwa berat 4,5%.Kondisi Klinis Pasien yang Dirawat0%10%20%30%Cedera ringan akibat trauma31,8%Nyeri tubuh menyeluruh25,0%Hipotermia13,6%Mabuk laut11,4%Edema paru4,5%Luka bakar ringan4,5%Gangguan jiwa berat4,5%
Data: Bittaye dkk., BMC Public Health (2026).

Kondisi lain yang tercatat meliputi mabuk laut pada 5 pasien, luka bakar ringan akibat bahan bakar pada 2 pasien, luka bakar berat yang butuh perawatan intensif pada 1 pasien, gangguan jiwa berat pada 2 pasien, hipertensi baru terdiagnosis pada 1 pasien, aspirasi pneumonia pada 1 pasien, dan wasir yang mengalami trombosis pada 1 pasien. Seluruh 44 pasien akhirnya pulang dalam kondisi hidup.

Seluruh 44 pasien yang sempat dirawat berhasil pulang tanpa kematian, meski proses rawat inap berlangsung dua sampai dua belas hari. Bittaye menyebut hal ini menunjukkan keberhasilan sistem triase dan penanganan darurat EFSTH dalam menghadapi lonjakan pasien akibat bencana massal, meski 25 jenazah dari kapal yang sama tetap ditemukan pada periode yang sama.

Peringatan Peneliti untuk Sistem Kesehatan Gambia

Bittaye membandingkan temuan ini dengan riset di kapal penyelamatan Laut Tengah, yang mencatat migran umumnya muda dan sehat namun membawa penyakit terkait perjalanan panjang. Riset lain di pusat detensi Libya mencatat infeksi saluran pernapasan lebih umum, sedangkan riset di Italia menemukan tanda kekerasan dan penyiksaan pada sebagian migran yang baru tiba.

Ia turut menyinggung riset di Kepulauan Canary, Spanyol, yang menyebut fenomena “sindrom patera” pada migran yang tiba lewat kapal kecil, ditandai kelelahan ekstrem dan gangguan kulit akibat paparan cuaca laut berkepanjangan. Menurut Bittaye, tim medis darurat perlu menyiagakan dokter kulit dan ortopedi mengingat cedera kulit dan trauma fisik kerap ditemukan pada migran yang baru diselamatkan.

Bittaye dan tim menilai temuan ini menegaskan pentingnya kesiapan rumah sakit menghadapi bencana kapal migran, termasuk menyediakan dokter spesialis kulit, ortopedi, dan psikolog sejak awal respons darurat. Mereka juga menyoroti pentingnya keterlibatan dokter kandungan sejak awal mengingat ada pasien hamil, serta perhatian khusus pada kondisi mental karena dua pasien mengalami gangguan jiwa berat.

Peneliti mengingatkan, riset ini bersifat retrospektif sehingga sebagian informasi penting soal penyintas bisa saja tidak tercatat lengkap, pemeriksaan laboratoriumnya juga terbatas, dan analisis datanya memakai statistik deskriptif yang menurut peneliti sendiri tergolong sederhana untuk menarik kesimpulan yang berlaku luas. Data kondisi klinis penyintas yang dirawat di Senegal pun tidak tersedia bagi peneliti.

Isu kesehatan pekerja migran lintas negara juga pernah diulas Cekricek.id, di antaranya soal migran Myanmar di Thailand yang tak menghabiskan antibiotik dan buruh migran Myanmar di Chiang Rai yang memilih berobat. Kesiapan masyarakat menghadapi bencana turut menjadi tema dalam artikel tentang adaptasi Suku Bajo Torosiaje menghadapi gempa.

Bagikan

Baca Juga

Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien