Perempuan Britania yang Rajin Latihan Otot Masih Canggung di Gym

A A

Ilustrasi perempuan paruh baya melakukan squat sambil memegang kettlebell biru di ruang kebugaran [Foto: RDNE Stock project/Pexels]

  • Dua puluh empat perempuan di Britania Raya melakukannya sedikitnya dua hari seminggu.
  • Survei kesehatan Inggris tahun 2021 mencatat hanya 29 persen perempuan yang memenuhinya, sementara laki-laki 36 persen.
  • Para partisipan menggambarkan ruang beban sebagai wilayah laki-laki yang membuat mereka canggung, tidak nyaman, dan terintimidasi.
  • Sediakan ruang atau sesi khusus perempuan, dan kelas yang membolehkan anak ikut.
  • Jumlah partisipan yang kecil membatasi sejauh mana temuan dapat diberlakukan umum.
Daftar Isi
  1. Pedoman dua hari, takaran minimal latihan otot dalam sepekan
  2. Perimenopause, masa menjelang henti haid yang mendorong ke beban
  3. Hambatan, hal-hal yang membuat niat berlatih tersendat
  4. Stigma, cap sosial bahwa angkat beban bukan urusan perempuan
  5. Fasilitator, penopang yang membuat kebiasaan tetap berjalan
  6. Generalisasi, batas sejauh mana cerita 24 orang boleh diperluas

Latihan penguatan otot, yang dalam naskah ilmiah disingkat MSE dari muscle-strengthening exercises, pada dasarnya adalah gerakan yang memaksa otot melawan beban: mengangkat dumbel di pusat kebugaran, menarik pita karet di rumah, atau sekadar mengangkat tumit dan berdiri di ujung jari kaki. Dua puluh empat perempuan di Britania Raya melakukannya sedikitnya dua hari seminggu. Cerita mereka memperlihatkan bahwa rajin tidak sama dengan tanpa rintangan.

Cerita itu dihimpun Nur Dania Rosaini, Stuart R. Gray, Esther Oyebola, dan Gemma C. Ryde dalam artikel How women engage in muscle-strengthening exercises: a qualitative study from the WISH project, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 604 tahun 2026. Rosaini, Gray, dan Ryde bekerja di University of Glasgow, sedangkan Oyebola di University of Stirling. WISH adalah kependekan dari Women in Strength, nama proyek riset yang menaungi kajian ini.

Pedoman dua hari, takaran minimal latihan otot dalam sepekan

Pedoman yang dimaksud berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2020 dan panduan aktivitas fisik Britania Raya tahun 2019. Isinya sama: latihan penguatan otot paling sedikit dua hari dalam seminggu, menyasar kelompok otot utama. Maksudnya, cukup dua hari itu saja seseorang sudah terhitung memenuhi anjuran.

Kenyataannya, perempuan lebih jarang sampai ke takaran itu. Survei kesehatan Inggris tahun 2021 mencatat hanya 29 persen perempuan yang memenuhinya, sementara laki-laki 36 persen. Survei kesehatan Skotlandia tahun 2023 menemukan pola serupa, 26 persen perempuan dan 32 persen laki-laki. Artinya, kira-kira tujuh dari sepuluh perempuan di kedua wilayah itu belum sampai ke sana.

Siapa yang memenuhi pedoman latihan ototDi Inggris pada 2021, 29 persen perempuan dan 36 persen laki-laki memenuhi pedoman latihan otot; di Skotlandia pada 2023, 26 persen dan 32 persen.Siapa yang memenuhi pedoman latihan ototPorsi yang berlatih otot minimal dua hari semingguPerempuanLaki-laki29%36%Inggris, 202126%32%Skotlandia, 2023Angka survei kesehatan nasional yang dikutip naskah.
Sumber: Nur Dania Rosaini, Stuart R. Gray, Esther Oyebola, dan Gemma C. Ryde, How women engage in muscle-strengthening exercises: a qualitative study from the WISH project, BMC Public Health, 26(604), 2026. Grafik: Cekricek.id

Usia mempertajam jurang itu. Di Skotlandia, hampir separuh perempuan berumur 16 sampai 24 tahun memenuhi pedoman, tepatnya 46 persen. Angkanya turun menjadi 33 sampai 34 persen pada rentang 25 sampai 54 tahun, lalu jatuh ke 19 persen pada kelompok 55 sampai 64 tahun. Para penulis mengaitkan penurunan itu dengan tahap hidup perempuan, misalnya masa mengasuh anak.

Bedanya begini: tim Glasgow tidak mendatangi mereka yang berhenti, melainkan mereka yang bertahan. Separuh dari 24 partisipan justru berumur 55 sampai 64 tahun, kelompok yang dalam survei Skotlandia paling jarang berlatih. Sebanyak 17 orang berlatih dua sampai tiga hari seminggu, empat orang empat sampai lima hari, dan tiga orang nyaris setiap hari.

Perimenopause, masa menjelang henti haid yang mendorong ke beban

Alasan untuk mulai hampir selalu berpangkal pada kesehatan, dan yang pertama adalah cedera. Para partisipan menyebut nyeri punggung, saraf panggul yang sakit, bantalan tulang belakang yang menonjol atau aus, hingga osteoartritis, yakni radang sendi. Seorang perempuan berumur 64 tahun mulai dari program fisioterapi setelah bantalan tulang belakangnya bermasalah, lalu melanjutkannya ke Pilates.

Alasan kedua datang dari rumah. Beberapa partisipan menyaksikan kesehatan orang tua mereka merosot, termasuk karena demensia, dan tidak ingin menempuh jalan yang sama. Seorang partisipan berumur 43 tahun bercerita tentang ibunya yang sakit berat. Ia berharap, bila kebugaran dasarnya lebih baik, titik berangkatnya kelak lebih baik daripada sang ibu.

Lalu ada perimenopause, yaitu masa peralihan menuju menopause atau berhentinya haid. Seorang partisipan berumur 54 tahun yang sedang menjalaninya mengaku berat badannya naik cukup banyak. Latihan otot, katanya, membantu menstabilkan berat itu jauh lebih baik daripada kardio, sebutan untuk olahraga yang memacu jantung. Partisipan lain menyebut kesadaran menjaga kekuatan otot baru datang pada usia tiga puluhan.

Sebagian kecil berangkat dari gelanggang. Seorang pedayung berumur 50 tahun banyak melatih kaki karena itu memperkuat kayuhannya. Seorang partisipan berumur 24 tahun baru mulai mengangkat beban demi karatenya. Mereka sepakat, kekuatan yang diperoleh dari latihan otot ikut mengangkat penampilan di cabang masing-masing.

Baca juga Raider dan Defender Kabaddi Jawa Timur Berotot Hampir Sama

Hambatan, hal-hal yang membuat niat berlatih tersendat

Yang menarik, orang-orang yang sudah rutin ini tetap punya daftar rintangan. Waktu ada di urutan depan. Seorang partisipan bekerja penuh sambil menempuh program doktor, dan menyelipkan latihan pada jam makan siang. Sebaliknya, mereka yang sudah pensiun atau anaknya sudah dewasa tidak lagi merasakan soal waktu. Dulu, kata seorang di antara mereka, kegiatan anak selalu didahulukan.

Rintangan berikutnya adalah rasa tidak yakin. Seorang perempuan berumur 62 tahun mengaku tidak akan pernah memakai alat di pusat kebugaran karena tidak tahu harus mulai dari mana dan takut merasa bodoh. Partisipan lain membawa pita tahanan, karet elastis untuk latihan, selama empat minggu bepergian dengan mobil rumah. Pita itu tidak sekali pun dikeluarkan sebab ia tidak tahu cara memakainya.

Uang dan alat ikut menghalangi. Seorang partisipan membandingkan iuran pusat kebugaran 25 pound sterling sebulan dengan tarif pelatih pribadi yang hampir 25 pound untuk satu sesi. Di rumah, soalnya adalah ruang dan beban yang lebih berat. Di pusat kebugaran, soalnya antrean. Seorang partisipan yang autistik menyebut rencana latihannya buyar bila alat yang ia perlukan sedang dipakai.

Motivasi pun tidak selalu penuh. Ada yang menunda sampai besok, lalu besok datang dan latihan tetap tidak dikerjakan. Ada pula yang mengaku cenderung mengulang gerakan yang sama karena lebih mudah. Naik tingkat seorang diri, katanya, jauh lebih sulit.

Stigma, cap sosial bahwa angkat beban bukan urusan perempuan

Stigma dalam naskah ini berwujud sangat fisik. Para partisipan menggambarkan ruang beban sebagai wilayah laki-laki yang membuat mereka canggung, tidak nyaman, dan terintimidasi. Seorang partisipan berumur 43 tahun mengatakan, saat pusat kebugaran ramai, ia tidak akan menempatkan diri di sudut yang penuh laki-laki berlatih.

Alatnya pun terasa tidak dirancang untuk mereka. Seorang partisipan berumur 54 tahun menunjuk rak dumbel yang penuh beban 17,5 kilogram, hanya punya satu pasang 12 kilogram, dan berlimpah beban 2 kilogram. Baginya susunan itu merendahkan perempuan. Partisipan lain mencatat sebagian pusat kebugaran hanya menyediakan palang 20 kilogram, padahal palang 15 kilogram lebih terjangkau bagi banyak perempuan.

Cap itu juga datang dari orang terdekat. Seorang partisipan bercerita suaminya tertawa ketika ia bilang akan mulai berlatih, karena membayangkan istrinya bakal mirip binaragawan. Yang lain menyebut generasi ibunya menolak angkat beban sebab tidak ingin bokongnya membesar. Anggapan bahwa perempuan cukup beryoga sementara laki-laki ke ruang beban, menurut seorang partisipan, masih bertahan.

Salah paham soal tubuh kekar dijawab seorang partisipan berumur 58 tahun yang dicatat penulis sebagai P20 dan bekerja sebagai pelatih pribadi. “Orang datang kepada saya dan bilang, oh, saya tidak mau jadi kekar, dan saya jawab, yah, Anda perempuan, Anda tidak punya testosteron itu di tubuh Anda,” ujarnya dalam wawancara yang aslinya berbahasa Inggris. Testosteron adalah hormon yang ia kaitkan dengan otot besar.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Fasilitator, penopang yang membuat kebiasaan tetap berjalan

Fasilitator adalah istilah para penulis untuk segala hal yang memudahkan. Yang pertama pengetahuan. Para partisipan belajar dari pelatih pribadi, aplikasi, pencarian di Google dan video YouTube, serta kelas olahraga berkelompok. Bagi beberapa orang, kelas menjadi pintu masuk. Seorang partisipan mulai dari kelas, lalu menyewa pelatih, dan akhirnya berani memakai semua alat sendirian.

Dua puluh empat perempuan yang bertahanDua puluh empat perempuan berusia 18 sampai 64 tahun; separuhnya berusia 55 sampai 64 tahun; 83 persen memakai mesin beban atau latihan tahanan; 4 tema dan 14 subtema.Dua puluh empat perempuan yang bertahanPeserta di Britania Raya, berlatih otot minimal dua hari seminggu24Perempuanusia 18-64 tahun50%Usia 55-6412 dari 24 orang83%Pakai bebanmesin atautahanan14Subtemadalam 4 temaJalan risetnya137 dihubungi54 berminat24 diwawancaraiJenis latihan boleh dipilih lebih dari satu.
Sumber: Nur Dania Rosaini, Stuart R. Gray, Esther Oyebola, dan Gemma C. Ryde, How women engage in muscle-strengthening exercises: a qualitative study from the WISH project, BMC Public Health, 26(604), 2026. Grafik: Cekricek.id

Penopang kedua disebut akuntabilitas, yakni rasa terikat pada janji sendiri. Membayar iuran membuat orang enggan membolos. Di satu tempat, tiga kali tidak hadir berarti diblokir seminggu. Seorang partisipan bahkan meminta atasannya menggeser rapat pagi dari pukul 09.15 ke 09.30 supaya ia sempat berlatih dulu. Ia merasa cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa itu waktunya.

Penopang ketiga adalah orang lain. Seorang partisipan mengaku selalu mengangkat lebih berat bila ditemani sahabatnya. Yang lain bercerita pasangannya mengajak berlatih dua puluh menit pada pagi hari kerja. Tanpa dia, katanya, ia mungkin hanya akan minum dua cangkir kopi. Ada juga suami yang menjaga anak agar istrinya bisa pergi berlatih.

Yang terakhir adalah hasil yang terasa. P20 mulai mengangkat beban ketika putri sulungnya sakit, dan mendapati deadlift, gerakan mengangkat beban berat dari lantai, menjadi terapinya karena menuntut perhatian penuh. Seorang partisipan dengan bantalan tulang belakang yang aus merasakan nyerinya berkurang ketika berlatih. Yang lain, dengan radang sendi di ibu jari, mendapati genggamannya jauh membaik.

Dari pengalaman itu lahir usul. Mulailah dari yang sederhana di rumah, dengan berat badan sendiri atau pita tahanan. Sediakan ruang atau sesi khusus perempuan, dan kelas yang membolehkan anak ikut. P20 mempersilakan kliennya membawa bayi ke studionya supaya urusan penitipan tidak menjadi penghalang baru. Perbanyak pula pelatih yang paham tahap hidup perempuan, dari pubertas, kehamilan, sampai menopause.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Generalisasi, batas sejauh mana cerita 24 orang boleh diperluas

Para penulis membaca semua itu dalam tiga lapis: diri sendiri, lingkungan sosial, dan lingkungan fisik. Rintangan di satu lapis bisa diatasi penopang di lapis lain. “Rendahnya keterlibatan perempuan yang terus bertahan menunjukkan bahwa pendekatan yang ada saat ini untuk mendorong dan menjaga latihan penguatan otot pada perempuan masih belum memadai,” tulis Rosaini dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Namun mereka sendiri memasang pagar. Jumlah partisipan yang kecil membatasi sejauh mana temuan dapat diberlakukan umum. Tidak ada keterangan tentang keragaman budaya dan etnis partisipan. Sebagian besar berpendidikan sarjana, 19 dari 24 orang, dan banyak yang tinggal di wilayah paling makmur. Perempuan hamil, baru melahirkan, atau penyandang disabilitas tidak dibahas. Lapis kebijakan juga tidak muncul dalam temuan.

Beberapa hal kecil dalam naskah patut diperiksa pembaca. Abstrak menulis 24 perempuan diundang wawancara, sedangkan bagian hasil menyebut 137 orang dihubungi, 54 berminat, dan 24 setuju. Kode partisipan mencapai P25 padahal jumlahnya 24. Seorang partisipan dicatat berumur 58 tahun, tetapi dalam kutipannya menyebut dirinya 57.

Maka istilah latihan penguatan otot dalam kajian ini punya batas yang jelas. Ia mencakup mesin beban sampai yoga dan Pilates, dan seluruh ceritanya datang dari perempuan yang sudah menjalaninya. Suara mereka yang belum pernah mengangkat tumit dan berdiri di ujung jari kaki, gerakan paling sederhana yang disebut seorang partisipan, belum ada di dalamnya.

Bagikan

Baca Juga

Video Kesehatan Paling Matang di Facebook Sri Lanka Sepi Respons
Rumah Adat Gamav Aha di Merauke Hidup Lagi lewat Ritual Katolik
Obat Kedaluwarsa Warga Lanzhou Jarang Berakhir di Tong Sampah
Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Jam Makan Anak Mundur Saat Libur Sekolah, Lebih Sering Terlewat
Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi