Pemakai Obat Pelangsing GLP-1 di Inggris Puas tetapi Sering Lemas

A A

Ilustrasi: pena suntik semaglutida Ozempic berwarna biru dengan label beraksara Tionghoa, kemasan China [Foto: HualinXMN/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Media sosial menjadi sumber utama bagi 48 persen pemakai, disusul teman dan keluarga 46 persen.
  • Kurang dari 8 persen pemakai memperolehnya dari tempat lain.
  • Sembelit dialami 74 persen pemakai, mual atau muntah 59 persen, dan diare 49 persen.
  • Namun 62 persen melewatkan waktu makan sedikitnya dua sampai tiga kali sepekan, dan 11 persen melakukannya setiap hari.
  • Lebih dari 46 persen pemakai cemas obat ini mengikis massa ototnya.
Daftar Isi
  1. Sebelum Obat, Diet dan Olahraga yang Mengecewakan
  2. Mencari Tahu di Media Sosial, Membeli di Apotek Daring
  3. Bulan-Bulan Pertama, Puas dan Sembelit
  4. Sesudah Berjalan, Makan Terlewat dan Tenaga Turun
  5. Yang Belum Memakai, Menunggu Kata Dokter
  6. Batas Catatan Ini

Survei itu dibuka pada 1 Juni 2025. Sampai ditutup pada 4 September, 684 orang dewasa di Inggris Raya mengisinya lewat komputer atau ponsel. Sebanyak 544 di antaranya sedang atau pernah memakai obat pelangsing golongan GLP-1, sedangkan 140 lainnya belum pernah.

Hasilnya ditulis Jason Tallis, Darren Richardson, Michael J Duncan, Ricardo Martins, Thomas M Barber, Leigh Breen, Anna Higo, Helen M Jones, dan David R Broom. Judulnya Perceptions, attitudes, and experiences of GLP-1 receptor agonists for weight management in the United Kingdom: a cross-sectional survey study. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Obat yang dimaksud adalah semaglutide, tirzepatide, dan merek tertentu liraglutide. Ketiganya sudah disetujui di Inggris Raya sebagai obat obesitas. Naskah itu mencatat lebih dari 1,6 juta orang dewasa di sana melaporkan memakai obat sejenis dalam setahun terakhir, di negeri yang 64 persen orang dewasanya kelebihan berat badan atau obesitas.

Pengisi survei kebanyakan perempuan, 78 persen, dan 91 persen berkulit putih. Sebanyak 81 persen hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Para peneliti menyusun jawaban mereka menurut urutan yang dialami pemakai: sebelum memakai, saat mencari tahu, saat membeli, lalu sesudah obat berjalan.

Sebelum Obat, Diet dan Olahraga yang Mengecewakan

Hampir semua responden sudah lebih dulu mencoba cara lain. Sebanyak 96 persen pernah mengubah pola makan, dan 83 persen menambah gerak atau berolahraga teratur. Hanya 2 persen yang belum pernah mencoba apa pun untuk mengatur berat badannya.

Hasil upaya itu jarang memuaskan. Lebih dari separuh, 52 persen, tidak puas pada daya tahan hasilnya dalam jangka panjang. Kekecewaan pemakai obat tercatat lebih dalam daripada mereka yang belum memakai, dan para peneliti membacanya sebagai pendorong utama orang mulai memakai GLP-1.

Rasa tidak senang pada tubuh sendiri juga sudah ada sejak awal. Dari seluruh responden, 31 persen sangat tidak senang dan 36 persen agak tidak senang pada berat badannya. Skor penghargaan pada tubuh pemakai obat 2,9 dari skala lima, lebih rendah daripada 3,5 pada yang belum memakai.

Pemakai obat juga membawa lebih banyak penyakit. Sebanyak 19 persen punya gangguan jantung dan pembuluh darah, sedangkan pada yang belum memakai 6 persen. Hanya 32 persen pemakai yang tidak punya penyakit apa pun, jauh di bawah 55 persen pada kelompok satunya.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Mencari Tahu di Media Sosial, Membeli di Apotek Daring

Langkah berikutnya adalah mencari keterangan. Media sosial menjadi sumber utama bagi 48 persen pemakai, disusul teman dan keluarga 46 persen. Media tradisional dan forum daring masing-masing disebut 31 persen. Laki-laki lebih sering menyebut tenaga kesehatan daripada perempuan.

Dari mana pemakai obat GLP-1 mencari tahuMedia sosial: Pemakai yang menyebut sumber itu (%) +48; Teman dan keluarga: Pemakai yang menyebut sumber itu (%) +46; Media tradisional: Pemakai yang menyebut sumber itu (%) +31; Forum daring: Pemakai yang menyebut sumber itu (%) +31.Dari mana pemakai obat GLP-1 mencari tahuSumber informasi utama 544 pemakai di Inggris Raya2040600Media sosial48Teman dan keluarga46Media tradisional31Forum daring31Tenaga kesehatan lebih jarang disebut sebagai sumber.
Sumber: Jason Tallis, Darren Richardson, Michael J Duncan, Ricardo Martins, Thomas M Barber, Leigh Breen, Anna Higo, Helen M Jones, dan David R Broom, Perceptions, attitudes, and experiences of GLP-1 receptor agonists for weight management in the United Kingdom: a cross-sectional survey study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Urutan itu mengusik para peneliti. “Patut dicatat, tenaga kesehatan merupakan sumber informasi tentang obat GLP-1RA yang lebih jarang dimintai keterangan, dan hal ini bisa menjadi alasan untuk khawatir,” tulis Jason Tallis, peneliti Research Centre for Discoveries in Life Sciences di Coventry University, bersama delapan rekannya. Naskah aslinya berbahasa Inggris.

Jawaban tertulis responden memberi gambaran serupa. Seorang pemakai yang dicatat penulis sebagai P31 menulis bahwa grup TikTok lebih membantu daripada dokter umumnya. Seorang responden lain yang belum memakai, dicatat sebagai P7, mengeluhkan terlalu banyak pesan yang saling bertentangan soal keamanan obat ini.

Sesudah itu obat dibeli, dan hampir semuanya lewat apotek daring. Kurang dari 8 persen pemakai memperolehnya dari tempat lain. Pola itu sama pada laki-laki dan perempuan, pada semua kelompok usia, dan pada semua kelompok berat badan. Mounjaro menjadi merek yang paling banyak dipakai.

Sebelum obat dikirim, pembeli melewati pemeriksaan awal. Ketelitiannya dinilai tidak seragam: 42 persen menyebutnya sedang, 29 persen menilainya lebih longgar dari itu. Jawaban merentang dari sama sekali tidak teliti sampai sangat teliti, padahal pemerintah punya pedoman peresepan yang jelas.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Bulan-Bulan Pertama, Puas dan Sembelit

Kebanyakan responden masih berada di awal perjalanan. Sebanyak 73 persen baru memakai obat itu tiga sampai enam bulan, dan 91 persen masih dalam dua belas bulan pertama. Pada tahap ini kepuasan sangat tinggi: 93 persen puas pada hasil berat badannya.

Kepuasan pada penampilan sedikit lebih rendah, 83 persen, dan tumbuh seiring waktu. Mereka yang sudah memakai tiga sampai enam bulan lebih sering puas pada penampilannya. Mereka yang belum genap tiga bulan lebih sering menjawab masih terlalu dini untuk menilai.

Sebanyak 110 pemakai menulis tentang perubahan besar dalam hidupnya. Seorang yang dicatat penulis sebagai P371 mengaku turun 16 stone dengan Mounjaro dan menyebut hidupnya benar-benar berubah. Banyak yang menggambarkan meredanya pikiran tentang makanan yang sebelumnya terus-menerus datang.

Efek samping datang bersamaan. Sembelit dialami 74 persen pemakai, mual atau muntah 59 persen, dan diare 49 persen. Sebagian besar menilainya ringan sampai sedang. Yang merasakannya lebih berat dari sedang hanya 12 persen untuk sembelit, 6 persen untuk mual, dan 4 persen untuk diare.

Keluhan itu jarang membuat orang berhenti. Hanya tiga belas responden yang menghentikan obat, enam karena target berat badannya tercapai dan empat karena efek samping. Angka itu di bawah 3 persen, padahal penelitian lain yang dikutip naskah mencatat 32 sampai 50 persen berhenti dalam setahun.

Obat pelangsing GLP-1 di Inggris Raya dalam angkaObat pelangsing GLP-1 di Inggris Raya dalam angkaObat pelangsing GLP-1 di Inggris Raya dalamangkaSurvei daring 1 Juni sampai 4 September 202593%pemakaipuas pada hasilberat badan74%pemakaimengalamisembelit62%pemakaitenaganya turun7,4%pemakaimelebihi dosisanjuranJalan risetnya684 orang mengisisurvei544 pernah memakai140 belum pernah
Sumber: Jason Tallis, Darren Richardson, Michael J Duncan, Ricardo Martins, Thomas M Barber, Leigh Breen, Anna Higo, Helen M Jones, dan David R Broom, Perceptions, attitudes, and experiences of GLP-1 receptor agonists for weight management in the United Kingdom: a cross-sectional survey study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sesudah Berjalan, Makan Terlewat dan Tenaga Turun

Seiring pemakaian, pola makan bergeser. Sebanyak 87 persen pemakai yakin masih bisa makan seimbang. Namun 62 persen melewatkan waktu makan sedikitnya dua sampai tiga kali sepekan, dan 11 persen melakukannya setiap hari.

Tenaga ikut turun. Sebanyak 62 persen merasakan penurunan tenaga setidaknya pada taraf sedang, sampai mengganggu kegiatan fisik atau pekerjaan harian. Di antara mereka, 26 persen merasakan dampak yang lebih berat. Pada pemakai dua belas bulan atau lebih, penurunan besar lebih sering dilaporkan.

Kecemasan soal otot muncul kemudian. Lebih dari 46 persen pemakai cemas obat ini mengikis massa ototnya. Padahal hanya 15 persen yang memenuhi semua anjuran aktivitas fisik, dan 10 persen yang memenuhi anjuran latihan penguatan otot. Pada yang belum memakai, 33 persen memenuhi semua anjuran.

Sebanyak 75 pemakai menulis tentang harga yang dibayar tubuhnya: lelah, mual, kulit kendur, otot menyusut. Lalu ada 25 orang yang rasa tidak sukanya pada diri sendiri tidak ikut pergi. Seorang yang dicatat sebagai P147 menulis berat badannya turun sekitar 50 pon dan perubahannya terlihat, tetapi kebencian pada dirinya tidak berubah.

Sebagian kecil lalu melangkah keluar dari aturan pakai. Empat puluh orang, 7,4 persen, pernah menyuntik melebihi dosis anjuran atau lebih sering dari yang disarankan. Sebanyak 22 orang merasa dosisnya tidak mempan, 17 orang karena nafsu makan kembali naik, dan 23 orang merasa aman berdasarkan pencarian sendiri.

Kekhawatiran paling akhir menyangkut hari ketika obat berhenti. Sebanyak 32 pemakai menulis soal biaya jangka panjang, kelangsungan pasokan, dan berat badan yang bisa kembali naik. Para peneliti menyebut rangkaian makan terlewat, tenaga turun, dan gerak yang kurang itu berpotensi merugikan kesehatan otot.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Yang Belum Memakai, Menunggu Kata Dokter

Sebanyak 140 responden belum pernah memakai obat ini, dan mereka ditanya soal kemungkinan kelak. Pendorong terkuat adalah adanya penyakit yang terkait berat badan, 61 persen. Bukti penelitian yang lebih kuat disebut 55 persen, diagnosis klinis kelebihan berat badan 54 persen, dan anjuran tenaga kesehatan 53 persen.

Penghalangnya lebih banyak. Sebanyak 88 persen terpengaruh oleh kemungkinan kemampuan beraktivitas fisik berkurang, dan 88 persen oleh risiko bergantung pada obat. Kemungkinan terkena penyakit serius memengaruhi 86 persen, dampak pada suasana hati 83 persen, dan berat badan yang naik lagi 81 persen.

Sebagian menolak dengan alasan moral. Dua puluh orang menulis bahwa menurunkan berat badan dengan obat adalah jalan curang atau tanda malas. Sebaliknya, tujuh belas orang menyatakan minat yang berhati-hati, asal di bawah pengawasan dokter dan didukung bukti klinis yang lebih kuat.

Batas Catatan Ini

Para peneliti sendiri membatasi bacaan atas temuan mereka. Responden direkrut lewat jejaring dan grup media sosial, sehingga hasilnya menggambarkan kelompok ini saja, bukan seluruh orang dewasa Inggris Raya. Pemakaian obat dilaporkan sendiri tanpa pemeriksaan klinis. Sebagian besar jawaban juga berasal dari masa awal pemakaian.

Ada dua hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Tabel peserta mencatat 43 persen responden berusia di atas 60 tahun, sedangkan teks menyebut usia tengah 42 tahun. Rentang tengah indeks massa tubuh ditulis 25,1 sampai 30,1, padahal nilai tengahnya sendiri 30,1.

Catatan ini berhenti pada 4 September 2025. Saat survei ditutup, sebagian besar pemakai baru menjalani tiga sampai enam bulan pertama. Apa yang terjadi sesudah obat dihentikan belum tercatat.

Bagikan

Baca Juga

Kebun Sagu Orang Kamoro di Mimika Tumbuh Tanpa Ada yang Merawat
Demensia Dikira Bisa Diredam Obat di Bandaragama Sri Lanka
Urusan Kantor yang Terbawa Pulang Mengusik Hubungan Ayah Baru
Insentif Pajak Riset Lebih Terkait Inovasi Bila Syaratnya Longgar
Bergerak Petang Hari, Pekerja Jepang Lebih Jarang Murung Esoknya
Jalan Depan Sekolah Ditutup, Orang Tua Parkir Jauh dan Jalan Kaki