- Hanya 18,2 persen dokter kesehatan masyarakat di Turki yang memandang masa depan bidangnya dengan penuh harapan.
- Dokter tanpa jabatan 6,73 kali lebih berpeluang masuk paruh atas skor dibanding rekannya yang berjabatan.
- Sebanyak 63,9 persen menilai pendidikan spesialisnya tidak cocok dengan pekerjaan di lapangan.
- Sebanyak 27,8 persen dokter mempertimbangkan mengundurkan diri dan 38,2 persen ingin pindah provinsi.
Daftar Isi
Kursi jabatan di sebuah kantor dinas dan harapan tentang masa depan sebuah profesi tampak seperti dua urusan yang tidak saling menyapa. Yang pertama soal siapa memegang wewenang hari ini. Yang kedua soal apa yang dibayangkan seorang dokter tentang bidangnya bertahun-tahun lagi. Di Turki, keduanya bertemu pada satu sikap yang sama, yakni bekerja seperlunya saja.
Pertemuan itu dicatat Burak Kurt dan Cemal Koçak dalam artikel berjudul Factors associated with quiet quitting among public health specialists in Türkiye: a cross-sectional study. Artikel tersebut dimuat BMC Public Health pada 2026. Keduanya menanyai 241 dokter spesialis kesehatan masyarakat yang bekerja di bawah Kementerian Kesehatan Türkiye, nama resmi Turki yang dipakai naskah, pada Agustus sampai September 2024. Sebanyak 68 persen di antaranya perempuan, dan usia rata-rata mereka 37,7 tahun.
Sikap yang mereka ukur dikenal dengan istilah quiet quitting. Naskah menjelaskannya sebagai keadaan ketika pekerja hanya mengerjakan batas minimum yang diwajibkan, tidak mau menambah waktu dan tenaga, serta menolak tugas tambahan. Orangnya tidak mengundurkan diri. Ia tetap datang, tetapi menarik diri pelan-pelan dari pekerjaannya.
Dokter spesialis kesehatan masyarakat punya alasan khusus untuk diperiksa. Di Turki, gelar itu diraih setelah enam tahun pendidikan kedokteran dan empat tahun pendidikan spesialis. Tugasnya menilai kesehatan penduduk, merumuskan kebijakan, dan mengelola layanan. Namun, naskah mencatat mereka kerap dianggap kartu serbaguna, dengan uraian tugas yang kabur dan wewenang yang terbatas.
Puas pada pilihan hari ini
Kalau hanya ditanya soal kepuasan, para dokter itu tidak terdengar muram. Sebanyak 53,9 persen menyatakan puas atau sangat puas telah memilih kedokteran. Untuk pilihan menjadi spesialis kesehatan masyarakat, angkanya lebih tinggi lagi, yakni 60,2 persen. Kira-kira tiga dari lima orang merasa pilihannya tidak keliru.
Pilihan itu pun bukan pilihan terpaksa. Sebanyak 76,3 persen menempatkan kesehatan masyarakat sebagai pilihan pertama dalam ujian masuk pendidikan spesialis. Sebanyak 83,4 persen mengaku memilihnya dengan sukarela. Hanya 16,6 persen yang menyatakan sebaliknya, dan kelompok kecil inilah yang rata-rata skor sikapnya lebih tinggi, 110,9 berbanding 100,2.
Kepuasan dan sikap bekerja seperlunya berjalan berlawanan arah. Dokter yang puas dengan spesialisasinya mencatat skor rata-rata 94,9. Mereka yang ragu-ragu mencatat 108,0, sedangkan yang tidak puas 117,2. Pada skala yang dipakai, skor yang makin tinggi berarti kecondongan yang makin kuat untuk menahan tenaga. Nilai tengah seluruh responden berada di angka 103.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Muram memandang hari esok
Di sisi lain, pertanyaan tentang masa depan mendapat jawaban yang jauh lebih gelap. Hanya 18,2 persen yang memandang masa depan kesehatan masyarakat di negerinya dengan penuh harapan. Sebanyak 19,5 persen ragu-ragu. Sisanya, 62,3 persen, menyatakan tidak berharap atau sangat tidak berharap.
Jurang di antara dua jawaban itulah yang disorot kedua peneliti. Lebih dari separuh dokter puas pada pilihannya, tetapi kurang dari satu di antara lima yang optimistis. Mereka menyebut selisih itu mencolok. Seseorang, rupanya, bisa menyukai bidangnya sekaligus tidak percaya bidang itu akan membaik.
Cara memandang hari esok itu ternyata terkait paling kuat dengan sikap bekerja seperlunya. Dokter yang optimistis mencatat skor rata-rata 85,1. Dokter yang pesimistis mencatat 109,8. Setelah faktor lain diperhitungkan, kelompok pesimistis 9,56 kali lebih berpeluang berada di paruh atas skor daripada kelompok optimistis.
Angka 9,56 itu yang terbesar di antara semua faktor yang diuji. Rentang ketidakpastiannya memang lebar, dari 3,17 sampai 28,82, tetapi seluruhnya berada jauh di atas satu. Naskah menautkannya dengan masalah lama sektor kesehatan masyarakat di negeri itu, antara lain kekurangan tenaga, perubahan aturan yang berulang, dan penekanan pada layanan berbasis rumah sakit.
Mereka yang memegang jabatan
Sekarang kursi jabatan. Dari 241 dokter, 39,4 persen memegang posisi administratif dan 60,6 persen tidak. Skor rata-rata kelompok pertama 92,5. Skor rata-rata kelompok kedua 108,2. Selisih hampir enam belas poin itu termasuk yang terlebar dalam seluruh tabel naskah. Setelah usia, harapan, dan faktor lain ikut dihitung, perbedaan tersebut tidak menyusut. Dokter tanpa jabatan 6,73 kali lebih berpeluang masuk paruh atas skor dibanding rekannya yang berjabatan. Pada hitungan kedua, yang memakai skor utuh, ketiadaan jabatan menambah sekitar 14 poin. Dua cara menghitung memberi arah yang sama.
Kurt dan Koçak membaca hasil itu sebagai soal jalur karier, bukan soal watak orang. “Temuan ini menunjuk pada masalah struktural: ketika jalur kenaikan karier tertutup, tugas rutin makin tidak memberi kepuasan, dan motivasi terkikis,” tulis keduanya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka juga merujuk survei Kementerian Kesehatan pada 2010 dan 2017 yang menandai lemahnya perencanaan karier.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Mereka yang merasa salah bekal
Pada kasus kedua, persoalannya bukan kursi, melainkan bekal. Hanya 21,6 persen dokter yang menilai pendidikan spesialisnya cocok dengan pekerjaan di lapangan. Sebanyak 14,5 persen ragu-ragu. Sebagian besar, 63,9 persen, menilainya tidak cocok atau sangat tidak cocok. Hampir dua dari tiga orang merasa dilatih untuk pekerjaan yang lain.
Kelompok yang merasa salah bekal mencatat skor rata-rata 107,3, sedangkan kelompok yang merasa cocok 93,3. Peluang mereka berada di paruh atas skor 4,17 kali lebih besar. Naskah mengaitkannya dengan laporan tentang mutu pendidikan, sarana, dan penambahan kuota peserta yang tidak diiringi perbaikan rotasi lapangan.
Usia bergerak searah dengan rasa salah bekal itu. Dokter berusia 29 sampai 34 tahun mencatat skor rata-rata 96,7. Dokter berusia 40 tahun ke atas mencatat 110,8, dengan peluang 6,14 kali lebih besar berada di paruh atas. Menurut kedua peneliti, pengalaman yang menumpuk bersama masalah sistem yang tak kunjung beres mungkin berperan.
Masa kerja memberi gambaran serupa. Skor rata-rata naik dari 97,0 pada dokter yang baru nol sampai tiga tahun menjadi spesialis, ke 104,6 pada masa kerja empat sampai enam tahun, lalu 106,9 pada tujuh tahun atau lebih. Para penulis menduga kekecewaan di awal karier, bila dibiarkan, dapat mengeras menjadi sikap menjauh yang menetap.
Yang bertahan dalam hitungan
Dua niat lain ikut bertahan sampai akhir hitungan. Sebanyak 38,2 persen dokter mempertimbangkan minta pindah dari provinsi tempatnya bertugas, dan 27,8 persen mempertimbangkan mengundurkan diri. Artinya, lebih dari seperempat responden sudah membayangkan pintu keluar. Sebanyak 34,5 persen bahkan ingin berganti spesialisasi.
Kedua niat itu terkait dengan skor yang lebih tinggi. Peluang berada di paruh atas 2,98 kali lebih besar pada yang ingin pindah dan 2,76 kali pada yang terpikir mundur. Dari sini para penulis menduga bekerja seperlunya bisa menjadi tahap antara menuju kepergian yang sebenarnya, walau keduanya tetap perilaku yang berbeda.
Sebaliknya, beberapa faktor gugur di tengah jalan. Dokter yang bercerai atau ditinggal wafat pasangannya mencatat skor rata-rata 115,9, dan dokter dengan penyakit kejiwaan 113,1. Namun, begitu faktor pekerjaan dimasukkan, keduanya tidak lagi berdiri sendiri. Jenis kelamin, unit kerja pusat atau provinsi, dan lama bertugas di satu provinsi pun tidak menunjukkan beda.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Semua kaitan itu punya batas yang diakui penulisnya. Data diambil pada satu waktu saja, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyatakan sebab dan akibat. Jawaban berasal dari pengakuan responden sendiri. Skala yang digunakan belum memiliki titik potong baku, dan responden hanya dokter Kementerian Kesehatan, sehingga hasilnya tidak bisa begitu saja dibawa ke profesi atau negeri lain.
Yang masih mengganjal di naskah
Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Bagian pembahasan menyebut skor dokter perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Tabelnya mencatat 101,8 untuk perempuan dan 102 untuk laki-laki. Selisihnya memang tipis dan tidak bermakna, tetapi arahnya terbalik. Pembahasan juga menyatakan kepuasan pada spesialisasi tidak bertahan setelah penyesuaian, padahal hitungan dengan skor utuh masih memuatnya. Selain itu, naskah menyebut 726 spesialis bekerja di Kementerian Kesehatan pada 2025, sementara populasi penelitiannya 601 orang. Beda tahun mungkin menjelaskannya, tetapi naskah tidak menerangkan.
Kursi jabatan dan harapan pada hari esok akhirnya tetap dua hal yang berbeda. Yang satu bisa diberikan lewat penempatan, yang lain tumbuh dari cara seorang dokter membaca nasib bidangnya. Naskah ini tidak menyatakan mana yang lebih menentukan. Ia hanya memperlihatkan keduanya berdiri berdampingan pada 241 dokter yang masih bekerja, sebagian dengan tenaga yang sengaja ditahan.















