Ethiopia dan Eritrea Saling Tuding Memulai Perang di Tigray

A A

Anggota Polisi Federal Ethiopia bersenjata berpatroli dengan truk pikap di Mekelle, Tigray. [Foto: Dok. Reuters via Al Jazeera]

  • Ethiopia menuding Eritrea melancarkan invasi besar-besaran ke wilayah utaranya dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB.
  • Menlu Ethiopia Gedion Timothewos menyebut pasukan Eritrea maju hingga 60 kilometer ke Tigray dan menuntut penarikan.
  • Eritrea membantah dan menyebut Ethiopia telah menjalankan perang agresi selama lebih dari tiga tahun.
  • Kedua negara memutus hubungan diplomatik pekan lalu.

Cekricek.id — Ethiopia dan Eritrea saling menuding memulai perang, dengan Ethiopia menyebut Eritrea melancarkan invasi besar-besaran dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB, sementara Eritrea menyatakan menghadapi perang agresi dari tetangganya.

Surat Menteri Luar Negeri Ethiopia Gedion Timothewos itu dibagikan kepada kantor-kantor berita pada Jumat, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Jumat (09/10/2026).

“Invasi besar-besaran oleh Eritrea atas sebagian wilayah utara Ethiopia adalah fakta yang tercatat secara publik,” tulis Gedion dalam surat bertanggal Kamis yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot. “Ini tindakan agresi terang-terangan yang mengaktifkan hak inheren Ethiopia untuk membela diri.”

Gedion menyebut pasukan Eritrea telah maju hingga 60 kilometer ke wilayah Tigray di Ethiopia utara dan menuntut penarikan mereka, hanya beberapa hari setelah kedua negara memutus hubungan diplomatik.

Menteri Informasi Eritrea Yemane Gebremeskel menolak klaim itu. “Rezim Ethiopia pada kenyataannya telah menjalankan perang agresi tanpa provokasi terhadap Eritrea selama lebih dari tiga tahun,” tulisnya di X.

Yemane menyatakan Asmara menahan diri sejak Ethiopia, yang tidak memiliki wilayah laut, pada 2023 menyatakan akan memperoleh akses ke laut. Ia menuduh Addis Ababa memakai konflik saat ini untuk merebut Assab, pelabuhan Eritrea, demi memulihkan akses ke Laut Merah.

Eritrea juga membantah klaim Ethiopia bahwa negaranya mendukung Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), bagian dari aliansi tujuh kelompok bersenjata yang berupaya menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed sejak September.

Sepekan terakhir, tentara Ethiopia memukul mundur TPLF dan merebut ibu kota Tigray, Mekelle. Saksi mengatakan kepada AFP bahwa pemberontak juga kehilangan kota Shire dan Adigrat. Pasukan Eritrea dilaporkan terlihat di Adigrat sebelum serangan drone Ethiopia menghantam mereka.

Hubungan diplomatik kedua negara runtuh di tengah eskalasi. Ethiopia menutup kedutaannya di Asmara dan mengusir 10 diplomat Eritrea pekan lalu; Eritrea membalas dengan memutus hubungan. Eritrea merdeka dari Ethiopia pada 1993 dan keduanya berperang di perbatasan selama dua tahun sejak 1998.

Eritrea sempat bertempur bersama Ethiopia melawan TPLF dalam perang saudara 2020 hingga 2022, tetapi tidak termasuk dalam kesepakatan damai yang mengakhirinya. Ketegangan juga dipicu klaim berulang Abiy bahwa Ethiopia berhak atas akses laut, yang dipandang Eritrea sebagai ancaman terhadap pelabuhan Assab di Laut Merah. Konflik di kawasan Tanduk Afrika turut meninggikan taruhannya kali ini.

Bagikan

Baca Juga

Putin: Perundingan Damai dengan Ukraina Sulit Segera Dilanjutkan
Navi Pillay Raih Nobel Perdamaian 2026 untuk Hukum Internasional
Jurnalis Ditembak Mati di Oaxaca, Kesembilan di Meksiko Tahun Ini
New Delhi Dijaga Ketat Jelang Protes Gen Z soal Daftar Pemilih
Polisi Brasil Selamatkan 13 Anak TK yang Disandera di Curitiba
Badai Isaias Hantam Florida, 664.000 Pelanggan Tanpa Listrik