Guboow Somalia: Luka Bakar Disengaja untuk Obati Nyeri Anak

A A

Perempuan Somalia berbaju merah mengikat kerangka kayu rumah tradisional aqal di perdesaan Somalia [Foto: Mouseawale88/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dari jumlah itu, 117 ibu atau 69,6 persen mengaku pernah memakai Guboow untuk kesehatan anak mereka sendiri.
  • Sebanyak 148 ibu atau 88 persen menyebut Guboow mudah diakses.
  • Hampir separuh, 48 persen, menyebut tekanan sosial sebagai alasan memilih Guboow.
  • Naskah menegaskan praktik ini dipakai untuk berbagai masalah kesehatan meskipun tidak memiliki bukti ilmiah.
Daftar Isi
  1. Guboow: luka bakar yang disengaja
  2. Branding: cap panas untuk nyeri dan penyakit
  3. Affordability: murah, dekat, dan mudah dijangkau
  4. Adverse events: efek merugikan yang diragukan
  5. Social norms: tekanan dari keluarga dan komunitas
  6. Column percentages: persen yang tidak searah

Guboow adalah bekas luka bakar yang sengaja dibuat di kulit anak dengan harapan anak itu sembuh. Dalam bahasa Somalia, kata itu berarti bekas luka, luka bakar, atau bekas luka yang tersisa dari sebuah proses penyembuhan. Sebuah benda panas, dari logam atau kayu, ditekankan ke bagian tubuh yang dianggap sakit oleh anggota keluarga atau penyembuh, biasanya sambil diiringi doa.

Praktik itu diteliti Derya Suluhan, Rahma Yusuf Haji Mohamud, Fardowsa Hassan Ahmed, Dilek Yildiz, dan Mehmet Tunc dalam Preference and perception of traditional Somali health practice, ‘Guboow’, among Somali mothers for children’s health, BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Mereka berasal dari University of Health Sciences Turkey dan Gülhane Research and Training Hospital di Ankara, serta Yardimeli Specialist Hospital dan Mogadishu Somali-Turkiye Recep Tayyip Erdogan Training and Research Hospital di Mogadishu.

Mereka menanyai 168 ibu yang membawa anaknya ke poliklinik anak sebuah rumah sakit di Mogadishu antara Desember 2022 dan Januari 2023. Dari jumlah itu, 117 ibu atau 69,6 persen mengaku pernah memakai Guboow untuk kesehatan anak mereka sendiri. Sisanya, 51 ibu atau 30,4 persen, menyatakan tidak pernah.

Guboow: luka bakar yang disengaja

Maksudnya, Guboow bukan luka yang terjadi karena kecelakaan, melainkan dibuat dengan sengaja. Para penulis menggolongkannya sebagai branding, praktik penyembuhan kuno yang memberi luka bakar ‘terapeutik’ pada kulit dengan batang logam atau benda yang dipanaskan. Naskah menegaskan praktik ini dipakai untuk berbagai masalah kesehatan meskipun tidak memiliki bukti ilmiah.

Istilah Guboow, menurut naskah, merujuk khusus pada praktik budaya Somalia. Praktik cap kulit yang serupa memang ada di beberapa wilayah Afrika Timur, dan Guboow sendiri disebut biasa dilakukan penyembuh tradisional di wilayah perdesaan Somalia, Sudan, Ethiopia, dan Eritrea. Para penulis meminta pembedaan itu dijaga ketika temuan mereka dibaca.

Dasar pikirnya juga dijelaskan. Menurut prinsip Guboow yang dikutip naskah, penyakit disebabkan roh jahat, dan pengaruh buruk itu harus diusir lewat api agar keluar dari tubuh. Sebagai bagian dari ritual budaya, Guboow juga dipilih untuk memulihkan keseimbangan cairan tubuh serta untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan.

Branding: cap panas untuk nyeri dan penyakit

Bedanya begini, bagi para ibu di Mogadishu Guboow bukan obat untuk satu penyakit saja. Ketika ditanya untuk kondisi apa penyembuh memakainya pada anak, jawaban terbanyak adalah nyeri, disebut 70 ibu atau 42 persen. Hepatitis menyusul dengan 42 ibu atau 25 persen, lalu hidrosefalus dengan 33 ibu atau 20 persen.

Dua kondisi lain tercatat lebih jarang. Tuberkulosis disebut 12 ibu atau 7 persen, dan patah tulang 10 ibu atau 6 persen. Para penulis menyebut temuan ini sebagai laporan pertama tentang penyakit dan gejala yang lazim ditangani penyembuh dengan Guboow pada anak, sebagaimana dilaporkan para ibu Somalia.

Kondisi anak yang ditangani dengan GuboowNyeri: Persen ibu +42%; Hepatitis: Persen ibu +25%; Hidrosefalus: Persen ibu +20%; Tuberkulosis: Persen ibu +7%; Patah tulang: Persen ibu +6%.Kondisi anak yang ditangani dengan GuboowMenurut laporan 168 ibu Somalia10%20%30%40%0Nyeri42%Hepatitis25%Hidrosefalus20%Tuberkulosis7%Patah tulang6%Jumlah ibu: 70, 42, 33, 12, dan 10 orang.
Sumber: Derya Suluhan, Rahma Yusuf Haji Mohamud, Fardowsa Hassan Ahmed, Dilek Yildiz, dan Mehmet Tunc, Preference and perception of traditional Somali health practice, ‘Guboow’, among Somali mothers for children’s health, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Daftar dari para ibu itu lebih pendek daripada yang dihimpun dari pustaka. Di bagian pendahuluan, naskah menyebut Guboow juga dipakai untuk gizi buruk, infeksi saluran napas, nyeri perut kronis, radang sendi, rakitis, dan penyakit kuning. Naskah juga mencatat bahwa meski caranya menyakitkan, Guboow justru sering dipakai terutama untuk menangani nyeri.

Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu

Affordability: murah, dekat, dan mudah dijangkau

Maksudnya, alasan terbesar para ibu bukan soal keyakinan, melainkan soal jarak dan biaya. Sebanyak 148 ibu atau 88 persen menyebut Guboow mudah diakses. Sebanyak 129 ibu atau 77 persen menyebut harganya terjangkau, sedangkan 86 ibu atau 51 persen beralasan tidak ada rumah sakit di dekat tempat tinggal mereka.

Alasan kemanjuran baru muncul di urutan ketiga. Sebanyak 92 ibu atau 55 persen menilai Guboow efektif, dan 81 ibu atau 48 persen menyebut tekanan sosial sebagai alasannya. Kelima persentase itu dihitung terhadap seluruh 168 ibu yang ikut dalam penelitian.

Alasan ibu di Mogadishu memilih GuboowMudah diakses: Persen ibu +88%; Harga terjangkau: Persen ibu +77%; Dinilai efektif: Persen ibu +55%; Tak ada rumah sakit dekat: Persen ibu +51%; Tekanan sosial: Persen ibu +48%.Alasan ibu di Mogadishu memilih GuboowPersen dari 168 ibu di poliklinik anak, Mogadishu25%50%75%0Mudah diakses88%Harga terjangkau77%Dinilai efektif55%Tak ada rumah sakit dekat51%Tekanan sosial48%Jumlah ibu: 148, 129, 92, 86, dan 81 orang.
Sumber: Derya Suluhan, Rahma Yusuf Haji Mohamud, Fardowsa Hassan Ahmed, Dilek Yildiz, dan Mehmet Tunc, Preference and perception of traditional Somali health practice, ‘Guboow’, among Somali mothers for children’s health, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Latar para ibu membantu membaca angka itu. Sebanyak 86,3 persen tinggal di perdesaan dan 13,7 persen di perkotaan, sementara 88,1 persen tidak bisa membaca dan 11,9 persen menamatkan sekolah dasar. Rata-rata usia mereka 25 tahun, sebagian besar hidup dalam keluarga inti, dan seluruhnya beragama Islam Sunni.

Dari situ para penulis menarik tafsir. Menurut mereka, ibu-ibu Somalia di perdesaan yang jauh dari rumah sakit atau pusat kesehatan beralih ke cara lain yang secara fisik dan ekonomi lebih mudah dijangkau untuk mengatasi masalah kesehatan anak. Tafsir itu sejalan dengan jawaban para ibu, meski naskah tidak mengukur jarak rumah mereka ke fasilitas kesehatan.

Adverse events: efek merugikan yang diragukan

Adverse events, atau efek merugikan, adalah salah satu hal yang ditanyakan kepada para ibu. Ibu yang memakai Guboow untuk anaknya lebih banyak meyakini bahwa praktik itu tidak menimbulkan efek merugikan. Perbedaan dengan ibu yang tidak memakainya dinyatakan bermakna secara statistik oleh para penulis.

Keyakinan lain bergerak searah. Dari 125 ibu yang meyakini Guboow lebih baik daripada pengobatan medis modern, 100 orang atau 80 persen adalah pemakai. Ibu pemakai juga lebih banyak menyatakan Guboow tidak berbahaya, sedangkan ibu yang meyakini Guboow berbahaya tidak merekomendasikannya kepada orang lain.

Pendidikan tidak membuat perbedaan berarti. Ibu yang buta huruf dan ibu lulusan sekolah dasar punya keyakinan serupa soal keunggulan Guboow, soal efek merugikannya, dan soal bahayanya. Tempat tinggal di desa atau kota juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna, sementara tipe keluarga hanya berbeda pada keyakinan soal efek merugikan.

Di sini gambaran sederhana tentang ibu yang percaya lalu memakai perlu diluruskan. Temuan ini menunjukkan keyakinan positif dan pemakaian berjalan bersama, bukan bahwa keyakinan itulah yang membuat para ibu memakai Guboow. Datanya diambil pada satu waktu, sehingga naskah tidak bisa memastikan mana yang datang lebih dulu.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Social norms: tekanan dari keluarga dan komunitas

Social norms, atau norma sosial, adalah salah satu unsur Theory of Planned Behaviour dari Ajzen yang dipakai para penulis untuk membaca temuan. Menurut naskah, teori itu menyatakan perilaku dipengaruhi niat, dan niat ditentukan oleh sikap, norma sosial, serta rasa mampu mengendalikan perilaku. Dalam kasus Guboow, tekanan dari keluarga atau masyarakat termasuk yang diperhitungkan.

Jawaban para ibu memberi isi pada teori itu. Hampir separuh, 48 persen, menyebut tekanan sosial sebagai alasan memilih Guboow. Menurut para penulis, praktik penyembuhan tradisional tidak hanya dibentuk keyakinan pribadi, tetapi juga oleh harapan sosial yang kuat di dalam komunitas para ibu itu sendiri.

Sisi lain praktik ini dicatat terang. Naskah menyebut luka bakar terapeutik itu dapat meninggalkan bekas permanen dan memicu cedera serius seperti sepsis, kerusakan kulit luas atau keloid, bahkan kematian. Di Swiss, Lange-Herr dan rekan menemukan bekas Guboow di perut seorang anak yang bermigrasi dari Somalia dan awalnya mengira bekas itu tanda kekerasan terhadap anak.

Dengan definisi kekerasan terhadap anak dari WHO, para penulis menilai Guboow bisa dianggap kekerasan fisik. Mereka lalu menahan kesimpulan itu. “Namun, karena niat utama orang tua dalam menggunakan Guboow adalah menyembuhkan anaknya, praktik ini tidak sepenuhnya sesuai dengan konsep kekerasan terhadap anak,” tulis Suluhan dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Keterbatasannya disebut para penulis sendiri. Hasil penelitian hanya mencerminkan pilihan dan pandangan para ibu, tanpa suara dokter maupun penyembuh tradisional, sehingga mereka meminta studi berbasis komunitas. Para ibu juga dijaring dari satu poliklinik anak, dan hanya 168 dari 2.425 ibu yang berkunjung, atau 7 persen, yang bersedia ikut.

Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina

Column percentages: persen yang tidak searah

Column percentages, atau persen kolom, adalah keterangan yang tertulis di bawah tabel perbandingan dalam naskah. Artinya, setiap persen semestinya dihitung terhadap jumlah di kolomnya. Angka 68,3 persen tentang ibu yang meyakini Guboow berbahaya ternyata sama dengan 99 dibagi 145, yakni jumlah ibu yang tidak merekomendasikan Guboow, bukan jumlah ibu yang meyakininya berbahaya.

Tabel yang sama memuat ketidaksesuaian lain. Pada kolom keyakinan bahwa Guboow berbahaya, baris pendidikan menjumlah 107 ibu yang meyakini dan 61 yang tidak. Pada baris pemakaian Guboow, kolom yang sama menjumlah 61 dan 107, sehingga isinya tampak tertukar. Ketidaksesuaian serupa muncul di kolom efek merugikan dan di baris rekomendasi.

Tabel ciri para ibu juga layak diperiksa. Rata-rata urutan kelahiran anak ditulis 8 dengan rentang 4 sampai 13, padahal rata-rata usia ibu 25 tahun dan yang termuda 19 tahun. Di bagian pembahasan, radang sendi masuk daftar kondisi yang dilaporkan para ibu, padahal grafik hasil hanya memuat nyeri, hepatitis, hidrosefalus, tuberkulosis, dan patah tulang.

Satu rujukan juga tidak cocok dengan uraiannya. Pembahasan menyebut studi Pillay tentang ibu-ibu suku di India, sedangkan rujukan bernomor sama di daftar pustaka berjudul tentang kesadaran perempuan desa dan kota di Afrika Selatan terhadap kanker payudara dan leher rahim.

Guboow, dalam naskah ini, adalah kata yang memuat dua hal sekaligus. Bagi 117 ibu di Mogadishu, ia pengobatan yang dekat dan murah bagi anak yang sakit. Bagi para penulis, ia tetap luka bakar yang disengaja, dan niat menyembuhkan tidak menghapus bahaya yang dibawanya.

Bagikan

Baca Juga

ASI Eksklusif di Vientiane Terganjal Kerja dan Susu Formula
Rokok Elektrik dan Snus Minim Data, Bahaya Rokok Biasa Terbukti
Remitansi dan Modal Asing di 22 Negara Asia Bergerak Berlawanan
Panas di Rumah Desa Tamil Nadu Menjalar Jadi Cemas Iklim
Le Rossignol Karya Verlaine, 20 Larik Kehilangan Cinta Pertama
Hepatitis C Hinggapi 17 Persen Pengungsi Rohingya di Teknaf