- Porsi mahasiswa yang memegang gawai lebih dari sejam sebelum tidur naik hampir dua kali lipat, dari 11,73 persen ke 22,80 persen.
- Jumlah mahasiswa yang tidurnya tergolong buruk bertambah dari 89 orang menjadi 113 orang.
- Pada laki-laki, skor kelompok di atas sejam lebih tinggi 1,24 poin daripada kelompok nol menit.
- Pemakaian obat tidur tidak berkaitan dengan lama memegang gawai di kelompok mana pun.
- Yang ditemukan adalah kaitan, bukan bukti bahwa layar menjadi penyebab.
Daftar Isi
Satu pertanyaan pendek disodorkan kepada mahasiswa baru Binzhou Medical University pada September 2019. Berapa lama biasanya kamu memakai ponsel atau tablet sebelum tidur? Pertanyaan yang sama kembali kepada mereka pada Juni 2024, di ujung kuliah kedokteran lima tahun. Di antara dua jawaban itu, tidur 1.057 anak muda di Provinsi Shandong ikut tercatat.
Catatan itu ditulis Jia Zhang, Zhenzhong Wang, Wen Xu, Rong Jiang, Wenxiu Zheng, Wenfeng Kang, Mingyu Feng, Yajuan Zhang, dan Peng Lu. Judulnya Bedtime electronic device use and sleep quality in Chinese young adults: a longitudinal study. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Delapan penulis bernaung di School of Public Health kampus itu di Yantai, sedangkan Yajuan Zhang berasal dari Ningxia Medical University di Yinchuan.
Jawabannya tegas, meski tidak sederhana. Mahasiswa yang memegang gawai lebih dari 60 menit sebelum tidur punya peluang tergolong tidur buruk 1,85 kali peluang mereka yang tidak memegangnya sama sekali. Angka itu bertahan sesudah usia, jenis kelamin, berat badan, pendapatan keluarga, rokok, alkohol, olahraga, dan lingkungan tempat tinggal ikut ditimbang.
Para penulis berangkat dari kegelisahan yang mereka kutip sendiri. Sebuah buku putih kesehatan tidur Tiongkok tahun 2025 mencatat hanya 21 persen mahasiswa sarjana terlelap sebelum tengah malam. Seperempatnya, 25 persen, baru tidur sesudah pukul 02.00 dini hari. Di sebuah universitas negeri di Amerika Serikat, 72 persen mahasiswa baru memakai ponsel tepat sebelum tidur.
Kampus di Yantai
Kampus itu mula-mula mendaftarkan 2.733 mahasiswa kedokteran ke dalam China Undergraduate Cohort pada 2019. Yang bertahan sampai hitungan akhir adalah 1.057 orang, semuanya peserta program lima tahun yang mengisi kuesioner di awal dan di akhir. Usia rata-rata mereka 17,93 tahun ketika masuk, dan 22,75 tahun ketika ditanya lagi.
Lebih dari separuhnya perempuan, tepatnya 56,67 persen. Sebanyak 573 orang, atau 54,21 persen, tinggal di kota. Hampir empat dari sepuluh, 38,69 persen, datang dari keluarga berpendapatan rendah, yang oleh naskah dibatasi pada penghasilan rumah tangga di bawah 50.000 yuan setahun.
Tidur mereka dinilai dengan skor berentang 0 sampai 21. Skor itu menjumlahkan tujuh sisi tidur, dari mutu tidur yang dirasakan, waktu untuk terlelap, lama tidur, sampai rasa lelah di siang hari. Makin tinggi angkanya, makin buruk tidurnya. Skor di atas 6 digolongkan sebagai tidur buruk.
Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Empat kelompok menit
Jawaban atas pertanyaan tadi membelah mahasiswa ke dalam empat kelompok. Ada yang nol menit, ada yang 1 sampai 30 menit, ada yang 31 sampai 60 menit, dan ada yang lebih dari 60 menit. Pada 2019, kelompok terbesar adalah yang paling singkat memegang gawai, yakni 444 orang atau 42,01 persen.
Lima tahun kemudian peta itu bergeser. Kelompok 1 sampai 30 menit menyusut menjadi 284 orang, 26,87 persen. Yang memegang gawai lebih dari sejam justru membengkak, dari 124 orang menjadi 241 orang. Porsi mahasiswa yang memegang gawai lebih dari sejam sebelum tidur naik hampir dua kali lipat, dari 11,73 persen ke 22,80 persen.
Kelompok tengah nyaris tidak bergerak, dari 355 orang menjadi 376 orang. Mereka yang sama sekali tidak menyentuh gawai sebelum tidur tetap sedikit, 134 orang di awal dan 156 orang di akhir. Dengan kata lain, sekitar enam dari tujuh mahasiswa membawa layar ke jam-jam terakhir sebelum tidur.
Bukan hanya layar yang berubah selama kuliah. Mahasiswa yang rutin berolahraga turun dari 81,27 persen menjadi 60,93 persen. Perokok aktif naik dari 1,23 persen menjadi 3,41 persen. Jumlah mahasiswa yang tidurnya tergolong buruk bertambah dari 89 orang menjadi 113 orang.
Skor yang menanjak
Di tahun pertama, tangganya terlihat jelas. Mahasiswa tanpa gawai mencatat skor rata-rata 2,17. Kelompok 1 sampai 30 menit mencatat 3,19, kelompok 31 sampai 60 menit 3,87, dan kelompok di atas sejam 4,32. Setiap anak tangga menit dibayar dengan tidur yang sedikit lebih buruk.
Hitungan yang menggabungkan kedua tahun memberi arah serupa. Dengan usia dan jenis kelamin disetarakan, skor kelompok 1 sampai 30 menit lebih tinggi 0,58 poin daripada kelompok nol menit. Selisih itu menjadi 0,80 poin pada kelompok 31 sampai 60 menit, lalu 0,87 poin pada kelompok di atas 60 menit.
Kalimat para penulis tentang pola itu lugas. “Temuan kami menunjukkan hubungan dosis-respons yang jelas dan memberi bukti kuat tentang kaitan temporal antara paparan layar sebelum tidur dan berbagai komponen gangguan tidur,” tulis Jia Zhang dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dosis yang dimaksud adalah menit di depan layar.
Sesudah semua faktor lain ikut ditimbang, hanya kelompok di atas sejam yang peluang tidur buruknya terbukti lebih tinggi. Kelompok 1 sampai 30 menit dan 31 sampai 60 menit juga menunjukkan angka di atas kelompok nol menit, tetapi rentang ketidakpastiannya masih mencakup kemungkinan tidak ada beda.
Skor total itu tersusun dari bagian-bagian, dan tidak semuanya ikut goyah. Pada kelompok di atas sejam, peluang merasa mutu tidurnya buruk 1,82 kali lebih besar. Peluang tidur lebih pendek 1,87 kali, peluang tidur terganggu 1,85 kali, dan peluang terganggu di siang hari 1,64 kali.
Gangguan siang hari itu, menurut naskah, terutama berupa rasa lelah dan kantuk berlebihan. Menariknya, keempat sisi ini sudah goyah sejak kelompok 1 sampai 30 menit. Mutu tidur yang dirasakan, lama tidur, gangguan tidur, dan lelah siang semuanya lebih buruk pada mereka yang memegang gawai sebentar saja dibanding yang tidak sama sekali.
Ada pula yang tidak ikut bergerak. Pemakaian obat tidur tidak berkaitan dengan lama memegang gawai di kelompok mana pun. Waktu yang dibutuhkan untuk terlelap hanya tampak lebih buruk pada kelompok 31 sampai 60 menit, tidak pada kelompok di atas sejam. Para penulis membaca pola ini sebagai tanda bahwa gawai terutama menyentuh tidur yang dirasakan.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Dua hal di luar layar ikut muncul dalam hitungan yang sama. Olahraga rutin berkaitan dengan skor tidur yang lebih baik, sebesar 0,19 poin. Sebaliknya, mahasiswa yang terpapar asap rokok orang lain mencatat skor 0,14 poin lebih buruk. Cahaya buatan di malam hari di sekitar tempat tinggal dan kampus tidak menunjukkan kaitan yang bermakna.
Mahasiswa laki-laki
Ketika mahasiswa dipisah menurut jenis kelamin, gambarnya berubah tajam. Pada laki-laki, skor kelompok di atas sejam lebih tinggi 1,24 poin daripada kelompok nol menit. Pada perempuan, kaitannya jauh lebih lemah dan tidak bermakna secara statistik.
Pada mahasiswa laki-laki yang paling lama memegang gawai, hampir semua sisi tidur ikut tergerus. Lama tidur memburuk 0,31 poin, mutu tidur yang dirasakan 0,28 poin, gangguan di siang hari 0,22 poin, dan gangguan tidur 0,19 poin. Efisiensi tidur dan obat tidur tidak berkaitan dengan gawai, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Mengapa laki-laki? Para penulis hanya menawarkan dugaan, bersandar pada riset lain yang mereka rujuk. Peserta masuk kuliah pada usia ketika kadar testosteron memuncak, dan hormon itu dikaitkan dengan kecenderungan tidur lebih larut. Laki-laki juga disebut lebih lama bermain gim, 2,10 jam berbanding 1,42 jam pada perempuan.
Perempuan, menurut rujukan yang sama, lebih banyak memakai gawai untuk bersosialisasi, 1,91 jam berbanding 1,28 jam. Skor kebiasaan tidur sehat mereka dalam riset terdahulu juga lebih tinggi, 9,7 berbanding 7,7. Tak satu pun dari hal itu diukur pada mahasiswa Binzhou, sebab kuesioner tidak menanyakan apa yang mereka buka di layar.
Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah
Batas kuesioner
Di situlah batas pertama yang diakui naskah. Baik tidur maupun menit di depan layar dilaporkan sendiri oleh mahasiswa, sehingga ingatan dan tafsir pribadi ikut bermain. Pertanyaannya hanya mencakup ponsel dan tablet, tanpa membedakan jenis konten. Padahal dua hal itu, kata para penulis, bisa memengaruhi tidur secara berbeda.
Beberapa hal lain tidak ikut dihitung, yakni pandemi COVID-19, kecenderungan tidur larut atau awal, kafein, tidur siang, dan stres. Para penulis juga menutup daftar itu dengan pengakuan soal siapa yang mereka teliti. “Karena peserta studi ini adalah mahasiswa kedokteran di Provinsi Shandong, hal ini dapat membatasi generalisasi hasilnya,” tulis mereka.
Satu hal lagi patut dicatat pembaca. Yang ditemukan adalah kaitan, bukan bukti bahwa layar menjadi penyebab. Para penulis sendiri memakai kata asosiasi, dan menyebut desain lima tahun ini memberi bukti yang lebih kuat tentang urutan waktu dibanding potret sesaat.
Tabel yang layak dibaca ulang
Beberapa detail naskah bisa diperiksa sendiri. Empat kelompok pemakaian disebut kuartil, padahal dibagi menurut menit dan isinya tidak sama besar, dari 11,73 persen sampai 42,01 persen. Abstrak menonjolkan selisih 0,87 poin, sementara badan naskah menempatkan angka itu pada hitungan yang baru menyetarakan usia dan jenis kelamin.
Tabel karakteristik peserta juga menyimpan pola yang tidak dibahas. Pada 2024, tangga skor tadi merata. Kelompok nol menit mencatat 3,29, kelompok 1 sampai 30 menit 3,67, kelompok 31 sampai 60 menit 3,45, dan kelompok di atas sejam 3,38. Di tabel yang sama, indeks massa tubuh dan skor tidur diberi satuan tahun.
Pertanyaan pendek dari September 2019 itu akhirnya menghasilkan jawaban yang lebih panjang daripada hitungan menit. Mahasiswa yang sama, lima tahun lebih tua, kini dua kali lebih sering menghabiskan sejam lebih bersama layar sebelum tidur. Tidur mereka, terutama tidur mahasiswa laki-laki, tercatat di kuesioner sebagai sedikit lebih pendek, sedikit lebih gelisah, dan lebih melelahkan di siang hari.















