- Kelas adalah penutup semua ritual kematian, saat orang yang meninggal sungguh berpisah dari dunia orang hidup.
- Dalam ritual Kelas, anak rona diwajibkan membawa seekor babi dan beras 50 kilogram.
- Bila hati babi bertanda baik, acara dianggap disetujui para leluhur, dan begitu pula sebaliknya.
- Abstrak menyebut enam informan, sedangkan yang dinamai hanya lima.
Daftar Isi
Bernadus Jeor sudah sering membawakan tudak ela, syair permohonan adat yang diucapkan sebelum seekor babi disembelih di depan rumah duka. Tua suku Kuleng di Desa Wejang Nendong itu menyeru, lalu peserta ritual menyahut dengan satu bunyi panjang. Sesudah syair selesai, hati babi diambil dan dibaca. Dari sanalah keluarga tahu apakah leluhur merestui kenduri kematian yang oleh orang Manggarai disebut Kelas.
Penuturan Bernadus Jeor itu dicatat Hendri Oval Sugianto, Yosef Tomi Roe, dan Fatma Wati dari Pendidikan Sejarah Universitas Flores. Naskah mereka berjudul Ritual “Kelas” Desa Wejang Nendong Kecamatan Pocoranaka Timur Kabupaten Manggarai Timur (Kajian Budaya Kenduri Kematian dalam Adat Manggarai) dan bertahun 2024. Ketiganya menemui para tetua adat desa di Kecamatan Pocoranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, itu pada Agustus 2020.
Bagi orang Manggarai, tulis Hendri Oval Sugianto dan rekan-rekannya, kematian adalah akhir alamiah kehidupan sekaligus awal kehidupan yang baru. Arwah orang yang meninggal dianggap berada di luar kampung, di tempat yang disebut pa’ang be’ le. Namun, ia belum benar-benar beristirahat dan bisa saja kembali ke kampung. Kelas adalah penutup semua ritual kematian, saat orang yang meninggal sungguh berpisah dari dunia orang hidup.
Paulus Hamu dan musyawarah yang mengawali semuanya
Paulus Hamu, Tua Golo di Wejang Nendong, menjelaskan bahwa Kelas tidak dimulai dari doa, melainkan dari hitung-hitungan. Keluarga lebih dulu bermusyawarah dalam pertemuan yang disebut kumpul ase kae. Di sana ditetapkan tanggal pelaksanaan, juga berapa banyak uang dan beras yang harus dikumpulkan. Keterangan itu ia sampaikan kepada peneliti pada 22 Agustus 2020.
Menurut Paulus Hamu, setelah jumlah anggaran diketahui, beban itu dibagi. Sebagian ditanggung ase kae atau keluarga besar, sebagian lagi menjadi tanggungan anak perempuan yang sudah bersuami. Pertemuan itu juga membahas hewan kurban, yakni kerbau atau babi, ayam, dan kambing. Beras, tuak, dan sirih pinang ikut masuk daftar yang harus disiapkan.
Seluruh ase kae wajib hadir dalam pertemuan tersebut, kata Paulus Hamu. Merekalah yang mengatur segala keperluan kenduri dan membagi tugas menyampaikan kabar kepada dua pihak kerabat. Soal waktu, naskah Hendri Oval Sugianto dan rekan-rekannya mencatat kelonggaran. Kelas bisa digelar segera setelah seseorang meninggal, bisa pula beberapa tahun kemudian, bergantung pada kesiapan keluarga.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Tahap berikutnya dijelaskan Hames, seorang tokoh masyarakat yang diwawancarai pada 25 Agustus 2020. Ia menyebut sida latang anak wina, yaitu pemberitahuan kepada para saudari yang sudah bersuami agar mengikuti rangkaian Kelas. Mereka dibebani biaya sesuai kesepakatan dalam musyawarah keluarga. Tanggungan itu dibawa dan dipenuhi pada tanggal yang sudah ditentukan.
Hames lalu menuturkan tombo kamping anak rona, kunjungan kepada pihak pemberi gadis untuk meminta keikutsertaan mereka. Kunjungan ini biasanya dilakukan pada malam hari, di rumah anak rona. Dalam ritual Kelas, anak rona diwajibkan membawa seekor babi dan beras 50 kilogram. Bawaan itu kelak dibalas keluarga dengan wali, sejumlah uang yang nilainya melebihi harga barang yang diantar.
Dari keterangan Hames itu, para peneliti menyimpulkan bahwa Kelas tidak dapat dijalankan satu rumah saja. Ada anak rona, anak wina, ase kae, dan pang olo ngaung musi, yakni keluarga besar dalam satu kampung. Semuanya berkumpul untuk menyaksikan dan melaksanakan ritual. Bantuan dari berbagai pihak itulah, tulis mereka, yang membuat kenduri berjalan lancar.
Stefanus Lovin dan tuak putih penyambut tamu
Hari pelaksanaan dituturkan Stefanus Lovin, Tua Teno di desa itu. Rangkaiannya dibuka dengan we’e salang, yaitu menerima anak rona dan anak wina di rumah yang telah ditentukan. Para tamu disambut dengan makanan dan tuak bakok, yang dalam naskah disebut moke putih. Sesudah itu barulah masuk tahap yang dinamai pau kedi.
Dalam pau kedi, menurut Stefanus Lovin, keluarga mengingatkan tamunya pada kunjungan dua bulan sebelumnya. Naskah menerjemahkan ucapan berbahasa Manggarai itu demikian: “Iyo dua bulan yang lalu kami mengunjungi rumahmu, pada saat itu kami menitipkan pesan.” Hari Kelas, lanjut ucapan tersebut, adalah saat kepok, yakni meminta apa yang sudah disepakati.
Stefanus Lovin menyebut dua permintaan sesudahnya. Kepada anak rona, keluarga meminta restu dan doa agar arwah kerabat yang meninggal diterima Tuhan Sang Pencipta. Kepada para saudari yang bersuami dan keluarga sekampung, keluarga meminta kesediaan menjadi saksi. Setelah ketiga tahap itu selesai, semua yang hadir makan dan minum bersama.
Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu
Bernadus Jeor dan syair yang tak boleh keliru
Lalu tibalah giliran Bernadus Jeor. Tudak ela, kata naskah, adalah permohonan adat kepada Mori Kraeng atau leluhur melalui perantara hati babi. Syair itu hanya dibawakan orang yang mahir atau dipercaya. Jika ada kesalahan dalam pengucapannya, keluarga penyelenggara diyakini akan tertimpa musibah, dan tanda buruk itu tergambar pada hati babi kurban.
Syair yang dituturkan Bernadus Jeor pada 30 Agustus 2020 dimuat para peneliti beserta terjemahannya. Sebagian isinya memohon kebun yang subur. “Dengarlah sang pencipta langit dan bumi. Kami meminta hasil berlimpah,” begitu bunyi salah satu baitnya dalam terjemahan naskah. Bait itu disusul permohonan lain: “Jadilah jagung dan padi.” Di antara bait, peserta ritual menyahut panjang.
Setelah Bernadus Jeor selesai, babi disembelih di depan rumah dan hatinya diambil. Naskah menyebut saat itu sebagai momen sakral. Bila hati babi bertanda baik, acara dianggap disetujui para leluhur, dan begitu pula sebaliknya. Seruan saja, tulis para peneliti, belum menjadi jaminan permohonan diterima. Karena itulah babi dan ayam dijadikan hewan persembahan.
Bernadus Jeor menutup satu bait dengan permohonan agar semua yang hadir sehati dan setujuan. Naskah mengartikannya sebagai harapan agar mereka sama-sama memiliki kehidupan akhirat dan kehidupan di bumi. Jenis hewan kurbannya tidak selalu sama. Babi atau kerbau dipilih menurut nazar nenek moyang, besarnya keluarga, dan status sosial orang yang meninggal.
Dominikus Debok dan utang terima kasih
Tahap penutup dijelaskan Dominikus Debok, Tua Kilo, yang diwawancarai pada 21 Agustus 2020. Keluarga berkumpul lagi di satu rumah untuk ritual wali anak rona. Di situ ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak pemberi gadis, disertai benda atau uang yang sudah disepakati. Anak rona, katanya, adalah tulang punggung pelaksanaan Kelas.
Dominikus Debok kemudian menyebut weit. Pada tahap ini anak wina memberikan beras dan daging kurban sebagai tanda terima kasih kepada mereka yang telah mengikuti ritual. Seluruh rangkaian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada pa’ang olo ngaung musi, warga sekampung yang ikut serta, tutur Dominikus Debok.
Dari penuturan Dominikus Debok dan para tetua lain, ketiga peneliti menarik satu kesan. “Masyarakat Manggarai sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan,” tulis Hendri Oval Sugianto, Yosef Tomi Roe, dan Fatma Wati dalam naskahnya. Alasannya, menurut mereka, keberhasilan Kelas tidak lepas dari bantuan dan kerja sama anak wina, ase kae, warga kampung, dan anak rona.
Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera
Yang diyakini warga bila Kelas ditinggalkan
Mengapa kenduri ini begitu dijaga, Hendri Oval Sugianto dan rekan-rekannya menjawabnya lewat keyakinan warga. Masyarakat Wejang Nendong percaya arwah akan pergi dengan tenang dan memberkati semua yang melaksanakan upacara. Bila Kelas tidak dijalankan, atau dijalankan tidak dengan benar, keluarga diyakini tertimpa musibah. Naskah menyebut contohnya: sering sakit, penghasilan berkurang, bahkan kematian.
Para peneliti, dengan merujuk Marsel Robot dan kawan-kawan, juga mencatat kepercayaan yang bertingkat. Permohonan orang hidup tidak langsung dialamatkan kepada Tuhan, yang disebut Mori Agu Ngaran. Permohonan itu lebih dulu disampaikan kepada leluhur dan arwah keluarga. Arwah yang telah dikelaskan dipercaya menjadi perantara, yang menerima semua doa untuk diteruskan.
Kelas pun dimaknai Fatma Wati dan dua rekannya sebagai penghormatan terakhir kepada leluhur. Kenduri itu sekaligus menjadi permohonan maaf atas kesalahan yang dilakukan, sadar atau tidak, selama hidup bersama. Warga yakin leluhur akan memberkati mereka dan memberi penghasilan yang secukupnya. “Ritual Kelas adalah salah satu ritual dari sekian banyak ritual orang Manggarai,” tulis mereka.
Catatan atas naskah Hendri Oval Sugianto dan rekan
Gambaran ini punya batas. Hendri Oval Sugianto dan rekan-rekannya hanya menggali satu desa, dengan tiga tetua adat sebagai informan kunci dan tiga tokoh masyarakat sebagai pendukung. Apa yang berlaku di Wejang Nendong belum tentu sama di kampung Manggarai lain. Seluruh urutan itu pun bersandar pada penuturan para tetua tersebut.
Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca pada naskah itu. Syair yang dituturkan Bernadus Jeor disajikan sebagai tudak ela Kelas, tetapi terjemahannya berisi permohonan membuka kebun baru, bukan doa bagi arwah. Abstrak menyebut enam informan, sedangkan yang dinamai hanya lima. Berkas yang dibaca juga tidak memuat nama jurnal, dan teori yang diumumkan di bagian awal tidak muncul lagi dalam pembahasan.
Meski begitu, urutan yang dituturkan lima orang itu saling menyambung, dari musyawarah Paulus Hamu sampai ucapan terima kasih Dominikus Debok. Di tengahnya berdiri Bernadus Jeor dengan syairnya. Ia menyeru, kampung menyahut, lalu semua menunggu hati seekor babi. Sesudah itu, menurut keyakinan Wejang Nendong, yang pergi benar-benar telah pergi.















