- Sebanyak 59 orang, atau 51,8 persen, menjawab konsumsi rokoknya naik.
- Secara keseluruhan 59,8 persen responden merasa terganggu oleh orang yang merokok di sekitarnya.
- Sebanyak 76 orang, atau 66,7 persen, merokok untuk mengendalikan kecemasan pascabencana.
- Kenaikan konsumsi pun bersumber dari ingatan responden, bukan dari pengukuran sebelum dan sesudah gempa.
Daftar Isi
Pada 6 Februari 2023 dua gempa mengguncang Kahramanmaraş, Turki. Keduanya berkekuatan Mw 7,7 dan Mw 7,6, dan terjadi dengan jarak kurang dari sembilan jam. Kerusakan menyebar ke 11 provinsi yang dihuni 14 juta orang. Lebih dari 50.000 orang meninggal dan lebih dari 107.000 orang terluka, lalu para penyintas pindah ke tenda dan kontainer.
Sembilan belas bulan sesudah hari itu, tiga peneliti mulai bertanya kepada para penyintas tentang rokok. Cigdem Samanci Tekin, Gamze Aydin, dan Nur Cihan Özkan menuliskan jawabannya dalam artikel Smoking after the Kahramanmaraş Earthquakes: Smoking-related Environmental Conditions and Psychological Dependence in Temporary Shelter Sites, yang dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit tahun 2026. Temuan pokoknya: lebih dari separuh perokok mengaku mengisap lebih banyak rokok setelah gempa, sementara hunian sementara nyaris tanpa aturan merokok.
Samanci Tekin adalah asisten profesor kesehatan masyarakat di Fakultas Kedokteran Niğde Ömer Halisdemir University. Aydin mengajar pada program pertolongan pertama dan gawat darurat di Istanbul Esenyurt University, sedangkan Özkan bertugas sebagai petugas pemadam kebakaran di Adana Fire Department. Ketiganya menghimpun jawaban 455 penyintas dewasa dari 11 provinsi terdampak.
Catatan para penulis dimulai dari keadaan sebelum bencana. Di Turki, 28,3 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas merokok secara teratur. Angka itu jauh di atas rata-rata dunia, yang menurut naskah berada di sekitar 19 persen untuk pemakaian tembakau pada kelompok usia yang sama.
Naskah juga mencatat pola yang berulang sesudah bencana di berbagai tempat. Sesudah gempa, badai, serangan teror, perang, dan pandemi, perubahan perilaku merokok biasanya tampil dalam tiga rupa: jumlah perokok naik, perokok lama menambah konsumsi, dan mantan perokok kembali merokok. Pola itu disebut menonjol di negeri bersesar aktif seperti Jepang dan Turki.
Tembakau dan gempa, tulis mereka, sama-sama membebani kesehatan masyarakat Turki. Namun keduanya umumnya diteliti secara terpisah. Kajian yang menghubungkan langsung kondisi merokok di hunian sementara dengan ketergantungan psikologis para penyintas masih jarang, terlebih pada masa pemulihan yang panjang sesudah gempa besar.
Februari 2023: pindah ke tenda dan kontainer
Sesudah 6 Februari 2023, hunian sementara menjadi tempat tinggal utama banyak penyintas. Bentuknya dua, yakni permukiman tenda dan permukiman kontainer, yang didirikan otoritas publik dan organisasi kemanusiaan. Tenda keluarga disusun berbaris atau berkelompok, dengan unit sanitasi, titik air, dan area layanan yang dipakai bersama.
Permukiman kontainer berisi unit prafabrikasi untuk tiap rumah tangga. Unit-unit itu ditata dalam blok dengan jalan dalam, listrik, pasokan air, serta fasilitas bersama seperti toilet, kamar mandi, tempat cuci, unit kesehatan, atau ruang layanan sosial. Tata letak dan prasarananya, menurut naskah, berbeda antarprovinsi dan antarlokasi.
Dari 455 responden, 353 orang atau 77,6 persen pernah tinggal di hunian sementara. Banyak yang berpindah dari satu jenis hunian ke jenis lain selama masa pascagempa. Karena itu 90,4 persen dari mereka melaporkan pernah tinggal di tenda dan 89,0 persen pernah tinggal di kontainer.
Para penulis mencatat risiko yang melekat pada tempat semacam itu. Hunian sementara yang padat dan berventilasi buruk, tanpa area merokok khusus atau aturan yang jelas, dapat memperbesar paparan asap rokok bagi orang yang tidak merokok. Kebisingan dan rasa tidak aman di sana juga disebut dapat mengganggu tidur dan pengendalian emosi.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
September 2024: 455 penyintas menjawab
Pengumpulan jawaban berlangsung lima bulan, dari September 2024 sampai Januari 2025. Itu berarti 19 sampai 23 bulan setelah gempa utama. Para responden berusia 18 sampai 66 tahun, dengan rata-rata 33,3 tahun, dan kira-kira separuhnya berumur 30 tahun atau lebih muda.
Sebanyak 114 orang, atau 25,1 persen, masih merokok ketika mengisi kuesioner. Itu kira-kira satu dari empat responden. Para penulis menilai angka tersebut secara umum sejalan dengan angka merokok orang dewasa di Turki, tetapi meminta perbandingan itu dibaca hati-hati karena angka sebelum gempa tidak mereka ukur langsung.
Soal asap orang lain, jawaban terbelah menurut kebiasaan. Secara keseluruhan 59,8 persen responden merasa terganggu oleh orang yang merokok di sekitarnya. Di kalangan nonperokok angkanya 74,2 persen, sedangkan 83,3 persen perokok menyatakan tidak terganggu.
Pengaturan di lokasi hunian nyaris tidak terasa. Hanya 12,2 persen penghuni hunian sementara yang melaporkan adanya pengendalian rokok, misalnya area merokok khusus, aturan bebas asap, papan peringatan, atau pengawasan. Sebanyak 65,4 persen menyatakan pengendalian semacam itu tidak ada, dan area merokok yang layak di tenda maupun kontainer dilaporkan terbatas.
Sesudah gempa: batang rokok bertambah
Kepada 114 perokok itu ditanyakan apa yang berubah sejak gempa. Sebanyak 59 orang, atau 51,8 persen, menjawab konsumsi rokoknya naik. Sebanyak 38 orang atau 33,3 persen menyebut tidak berubah, 13 orang atau 11,4 persen menyebut berkurang, dan empat orang atau 3,5 persen baru mulai merokok setelah gempa.
Para penulis membaca susunan angka itu dengan satu catatan. Perubahan perilaku merokok sesudah bencana, menurut mereka, lebih sering muncul sebagai tambahan konsumsi pada perokok lama daripada sebagai lahirnya perokok baru. Rata-rata konsumsi para perokok dalam survei ini 16,5 batang sehari, dan 67,5 persen mengisap kurang dari 20 batang.
Kehilangan ikut disebut sebagai alasan. Sebanyak 72 perokok, atau 63,2 persen, menyatakan konsumsi rokoknya naik karena kehilangan yang mereka alami. Sebagian besar juga perokok lama: 63,2 persen sudah merokok lima tahun atau lebih, dan hanya 9,6 persen yang baru merokok satu sampai dua tahun.
Rokok sendiri tidak selalu mudah didapat sesudah gempa. Sebanyak 71 perokok atau 62,3 persen melaporkan kesulitan memperoleh rokok, dan 68 orang atau 59,6 persen menyebut kesulitan ekonomi untuk membelinya. Meski begitu, kesulitan akses itu tidak terkait secara mandiri dengan tingkat ketergantungan setelah faktor lain diperhitungkan.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Sembilan belas bulan kemudian: cemas dijawab dengan rokok
Hampir dua tahun setelah gempa, rokok masih dipakai untuk meredakan perasaan. Sebanyak 87 perokok, atau 76,3 persen, mengaku merokok untuk mengurangi stres pascabencana atau menenangkan diri. Sebanyak 76 orang, atau 66,7 persen, merokok untuk mengendalikan kecemasan pascabencana.
Para penulis mengukur ketergantungan psikologis, yakni dorongan merokok untuk mengatur emosi dan menghadapi stres, bukan semata efek nikotin pada tubuh. Skor rata-rata para perokok 48,3 dari rentang 25 sampai 75, yang tergolong sedang. Sebanyak 77 orang atau 67,5 persen berada di tingkat sedang, 25 orang di tingkat ringan, dan 12 orang di tingkat berat.
Dua hal tetap terkait dengan skor yang lebih tinggi setelah usia dan jenis kelamin diperhitungkan. Yang pertama jumlah batang per hari, yang kedua kebiasaan merokok untuk mengendalikan kecemasan. Merokok untuk meredakan stres semula tampak berkaitan, tetapi kaitannya tidak lagi bermakna ketika semua faktor dihitung bersama.
Selisihnya terlihat pada skor rata-rata. Perokok yang merokok untuk mengendalikan kecemasan mencatat 50,1, sedangkan yang tidak mencatat 44,7. Faktor-faktor yang dihitung bersama itu hanya menjelaskan 25 persen keragaman skor, sehingga sebagian besar sisanya berada di luar yang diukur.
Dari situ para penulis menarik satu sikap. “Karena itu, tidak cukup memandang merokok pascabencana hanya dari seberapa sering rokok diisap; ia harus diperiksa dalam kerangka mekanisme ketergantungan psikologis,” tulis Cigdem Samanci Tekin, Gamze Aydin, dan Nur Cihan Özkan dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Sebagian perokok menyesuaikan diri dengan orang di sekitarnya. Sebanyak 78 orang, atau 68,4 persen, mengaku memperhatikan agar merokok di luar ruangan setelah gempa. Namun 60 orang, atau 52,6 persen, tidak percaya rokoknya mengganggu orang lain, sedangkan 54 orang meyakini sebaliknya.
Januari 2025: data ditutup dengan sejumlah batas
Pengumpulan data berakhir pada Januari 2025, dan para penulis mencatat sendiri batas-batasnya. Survei hanya memotret satu waktu, sehingga hubungan sebab-akibat antara kondisi hunian, ketergantungan, dan kebiasaan merokok tidak dapat ditarik. Kenaikan konsumsi pun bersumber dari ingatan responden, bukan dari pengukuran sebelum dan sesudah gempa.
Susunan responden juga tidak mewakili seluruh penyintas. Kuesioner disebar secara daring lewat grup WhatsApp lulusan, mahasiswa, dan relawan manajemen bencana. Sebanyak 71,4 persen responden perempuan dan 52,3 persen lulusan universitas, sehingga orang lanjut usia, warga berpenghasilan rendah, dan mereka yang tak punya akses digital kemungkinan kurang terwakili.
Dua hal kecil dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Batas tingkat ketergantungan ringan ditulis 25 sampai 41 poin pada uraian skala, tetapi 25 sampai 40 poin pada tabel. Pada tabel jumlah batang per hari, 20 orang yang mengisap tepat 20 batang diberi persentase 27,2, padahal tiga persentase di baris itu berjumlah lebih dari seratus. Naskah ini juga masih versi dalam proses terbit yang belum melalui penyuntingan akhir.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Tahun 2026: usul untuk hunian sementara berikutnya
Naskah itu terbit pada 2026 dengan tiga usul. Pertama, standar minimum hunian sementara diperluas agar memuat prinsip bebas asap, sejalan dengan undang-undang pengendalian produk tembakau Turki nomor 4207. Area merokok perlu ditandai jelas dan dijauhkan dari unit hunian, fasilitas kesehatan, ruang ramah anak, dan area bersama, dengan memperhitungkan arah angin.
Kedua, kepatuhan pada aturan bebas asap diawasi secara rutin oleh pengelola hunian, otoritas kesehatan setempat, dan badan penanggulangan bencana. Ketiga, layanan berhenti merokok dimasukkan ke layanan kesehatan primer, kesehatan jiwa, dan dukungan psikososial. Layanan itu diusulkan dijalankan tim lintas bidang, dari ahli kesehatan masyarakat, dokter keluarga, psikiater, psikolog, sampai pekerja sosial.
Kalimat penutup naskah merangkum usul itu. “Rencana kesiapsiagaan bencana harus memuat protokol pengendalian tembakau sebagai bagian dari standar minimum kesehatan hunian,” tulis ketiga penulis. Mereka menambahkan bahwa temuan ini tidak boleh dibaca sebagai bukti hubungan sebab-akibat langsung antara kondisi hunian dan perubahan pola merokok.
Catatan terakhir yang tersedia berhenti pada Januari 2025, 23 bulan setelah gempa. Pada titik itu, satu dari empat responden masih merokok, dan lebih dari separuh perokok mengaku mengisap lebih banyak daripada sebelum 6 Februari 2023.















