Pria Austria Baru Mengurus Kesehatan Setelah Badannya Sakit

A A

Ilustrasi rombongan pelari difoto dari belakang pada Vienna City Marathon 2026 di Wina, Austria [Foto: René Pudschedl/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Banyak pria baru mengurus kesehatan ketika badannya sudah sakit.
  • Yoga, meditasi, dan kelas memasak kerap dianggap kegiatan perempuan.
  • Anggapan bahwa pria menyelesaikan semuanya sendiri berakar dalam di semua kelompok usia.
  • Program yang dijelaskan atau disarankan kawan lebih menggerakkan, dan datang berdua sering menjadi kuncinya.
Daftar Isi
  1. Sehat berarti tidak sakit
  2. Program dianggap bukan untuknya
  3. Waktu, jarak, dan biaya
  4. Malas dan merasa cukup
  5. Takut terlihat lemah
  6. Kawan membuka pintu
  7. Tiga tipe pria
  8. Batas dan kejanggalan naskah

Banyak pria baru mengurus kesehatan ketika badannya sudah sakit. Begitu pengakuan 28 pria di Lower Austria, negara bagian terluas di Austria yang berpenduduk sekitar 1,7 juta orang. Sebagian dari mereka ditemui di ruang pamer mobil, di pusat perekrutan militer, di perkumpulan peternak lebah, dan di tempat pangkas rambut.

Pengakuan itu dihimpun Ursula Griebler, Julia Daxenbichler, Isabel Moser, Nina Mitterbauer, Alexander Pell, Denise Hebesberger, dan Christina Koscher-Kien. Mereka menuliskannya dalam artikel ‘You only care when it hurts’ - men’s engagement with their health: a qualitative interview study in Lower Austria, yang dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit tahun 2026.

Para pria itu datang dari dua kelompok usia. Dua belas orang berumur 15 sampai 29 tahun dan 13 orang berumur 45 sampai 65 tahun. Sebagian besar bekerja, dan 17 dari 28 orang mencari nafkah dengan pekerjaan fisik.

Mereka nyaris tidak pernah ikut program promosi kesehatan. Yang dimaksud adalah kegiatan seperti kelompok berhenti merokok, kursus gizi dan memasak, atau kelompok olahraga di lingkungan tempat tinggal. Para peneliti ingin tahu apa yang membuat mereka enggan datang.

Sehat berarti tidak sakit

Hampir semua pria itu menempatkan kesehatan di urutan atas. Kesehatan mereka anggap syarat hidup yang baik, dari bekerja sampai memenuhi kewajiban kepada keluarga dan kawan. Namun kebiasaan sehari-hari dan urusan lain sering membuatnya sulit dijalankan.

Cara mereka menggambarkan sehat sederhana. Sehat berarti tidak ada keluhan badan, terutama tidak ada rasa nyeri. Sehat juga berarti bugar, yakni sanggup naik gunung dan sanggup bangun pagi, kata seorang pekerja muda.

Usia menggeser tekanannya. Pria yang lebih tua ingin tetap mandiri dan menjaga kondisi yang sekarang. Pria muda lebih memikirkan kemampuan badannya hari ini.

Sebagian menyebut kesehatan jiwa. Bagi mereka, itu berarti bisa membicarakan kecemasan secara terbuka, punya tenaga dan semangat, serta merasa berharga. Seorang anggota perkumpulan peternak lebah menyebut pentingnya menyadari setiap hari bahwa ada hal indah dalam hidup, sekecil apa pun.

Kesehatan juga dilihat sebagai syarat memikul tanggung jawab. Kemampuan bekerja menjadi pusatnya. Seorang pria yang lebih tua menggambarkan dirinya sebagai bagian dari sebuah sistem, yang macet bila ia tidak menjalankan tugasnya.

Program dianggap bukan untuknya

Minat pada program kesehatan beragam. Yang menolak beralasan tidak tertarik, atau menganggap program semacam itu untuk orang malas, orang yang sudah sakit parah, atau orang yang tak sanggup mengurus diri. Pandangan itu, tulis para peneliti, mencerminkan peran lama bahwa pria bertanggung jawab sendiri atas kesehatannya.

Banyak yang mengaku baru meluangkan waktu setelah masalah kesehatan muncul. Seorang pria yang lebih tua menyebut semuanya baik-baik saja selama tidak ada yang sakit ketika bangun pagi. Judul naskah merangkum sikap itu: orang baru peduli ketika terasa sakit.

Tawaran yang ada pun terasa tidak pas. Yoga, meditasi, dan kelas memasak kerap dianggap kegiatan perempuan. Para pria itu lebih memilih memanggang daging bersama daripada kelas memasak, dan latihan dengan sasaran tertentu daripada kursus pemula yang serba umum.

Manfaat yang kabur menjadi penghalang pokok. Mereka hanya mau datang bila isinya menarik atau menjawab kebutuhan nyata. Program jadi lebih memikat ketika tujuannya jelas, misalnya berlatih untuk lomba lari, memperbaiki pola makan, atau mengurangi stres.

Bentuk acara ikut menentukan. Lokakarya santai yang memberi ruang berdiskusi lebih disukai daripada ceramah satu arah. Seorang pekerja muda pernah mencoba satu program dan kecewa, sebab isinya dibuat untuk semua orang sehingga terlalu mudah baginya.

Yang mendorong dan menghalangi priaTujuan yang jelas, jadwal sesuai jam kerja, kursus gratis, dan kawan yang ikut mendorong pria datang; program terlalu umum, mahal, dan rasa takut dinilai menghalangi.Yang mendorong dan menghalangi priaRingkasan jawaban 28 pria di Lower AustriaMendorongMenghalangiTujuan jelasTerlalu umumIsi programSesuai jam kerjaDaftar tungguWaktuKursus gratisTerlalu mahalBiayaKawan ikutTanpa panutanLingkunganTujuan pribadiTakut dinilaiCitra diriDipilih dari tabel pendorong dan penghalang dalam naskah.
Sumber: Ursula Griebler, Julia Daxenbichler, Isabel Moser, Nina Mitterbauer, Alexander Pell, Denise Hebesberger, dan Christina Koscher-Kien, ‘You only care when it hurts’ - men’s engagement with their health: a qualitative interview study in Lower Austria, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Bagi banyak pria, pemandu program adalah kunci. Yang menentukan adalah kecakapan dan kemampuannya memberi petunjuk praktis. Sebagian besar menyatakan jenis kelamin pemandu tidak penting, meski beberapa mengaku kurang menganggap serius pemandu perempuan.

Kepercayaan tumbuh bila program datang dari lembaga resmi, nirlaba, atau bernama baik. Saran kawan lebih kuat lagi. Tokoh terkenal memikat sebagian orang, tetapi tidak berarti apa-apa bagi yang lain.

Suasana kelompok juga dihitung. Mereka ingin merasa nyaman dengan pemandu dan peserta lain, dan lebih terbuka bila tahu ada pria lain dari lingkungannya yang ikut. Untuk topik khusus pria seperti kesehatan prostat, sebagian menginginkan kelompok tanpa perempuan.

Baca juga Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung

Waktu, jarak, dan biaya

Banyak yang tidak tahu program apa saja yang ada di dekatnya, baik dari pemerintah setempat, di tempat kerja, maupun lewat asuransi kesehatan. Selebaran saja tidak cukup. Pria yang lebih tua berharap dokter lebih aktif memberi tahu.

Jadwal menjadi soal berikutnya. Acara pada jam kerja atau tanpa kelonggaran waktu dianggap menghalangi. Sebagian menyukai jadwal tetap, sedangkan yang muda memilih keikutsertaan yang luwes karena jam kerjanya berubah-ubah.

Jarak pun dihitung, terutama oleh pria yang lebih tua. Di perdesaan dengan angkutan umum terbatas, program harus dekat dari rumah. Kelas daring tidak diterima semua orang.

Sekolah dan tempat kerja disebut sebagai pintu masuk. Pria muda menunjuk dokter sekolah, psikolog sekolah, dan lokakarya wajib di sekolah. Para pekerja ingin program berlangsung pada jam kerja dengan dukungan atasan, tetapi kewajiban ikut dipandang kritis.

Uang ikut menggoda, terutama bagi pria dengan pekerjaan nonfisik. Mereka menginginkan keringanan pajak atau subsidi dari pemberi kerja dan asuransi. Dua orang dari kelompok itu juga menekankan anonimitas, khususnya untuk dukungan kesehatan jiwa.

Malas dan merasa cukup

Penghalang yang berulang datang dari dalam diri. Para peneliti mencatat sebutan Jermannya, innerer Schweinehund, yakni keengganan untuk berubah dan hilangnya semangat. Seorang pekerja yang lebih tua mengakui bahwa alasan untuk tidak berbuat apa-apa selalu lebih cepat ditemukan daripada dorongan untuk bergerak.

Sebagian lain merasa tidak butuh. Mereka menilai diri sehat, sudah menjaga makan dan bergerak, sehingga program tidak menambah apa-apa. Ada pula yang memilih mengatur sendiri, seperti pergi ke pusat kebugaran bersama kawan atau memulai kelompok senam.

Tanpa keluhan, rasa tidak butuh itu makin kuat. Beberapa pria yang lebih tua baru tergerak setelah mengalami sakit berat atau gejala menahun. Pria muda cenderung menganggap risikonya kecil dan merasa masih punya waktu.

Takut terlihat lemah

Ikut program kesehatan sering dikaitkan dengan kelemahan. Para pria takut dianggap tak punya tekad. Anggapan bahwa pria menyelesaikan semuanya sendiri berakar dalam di semua kelompok usia.

Soal kesehatan jiwa lebih berat lagi. Hampir separuh dari mereka mengaku sulit membicarakannya secara terbuka, terutama yang lebih tua dan yang bekerja di bidang nonfisik. Banyak yang menahan diri agar tidak membebani orang lain, sebab merasa bertanggung jawab atas ketenangan keluarga.

Seorang pemuda di pusat perekrutan militer mempertanyakan tuntutan untuk selalu kuat dan tidak menangis. Menurutnya pria juga manusia. Peserta dari kedua kelompok usia ingin kesehatan jiwa lebih sering dibicarakan di ruang publik.

Kata kesehatan sendiri mengganggu sebagian orang. Kata itu melekat pada penyakit dan pengobatan, dan bagi beberapa pria memantik rasa bersalah. Mereka mengusulkan istilah lain, seperti kesejahteraan badan dan batin atau mutu hidup.

Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur

Kawan membuka pintu

Lingkaran pergaulan justru memudahkan. Program yang dijelaskan atau disarankan kawan lebih menggerakkan, dan datang berdua sering menjadi kuncinya. Seorang pemuda di tempat pangkas rambut berkata ia tidak akan datang sendirian.

Melihat pria lain ikut mengurangi keraguan, terutama pada program yang biasanya diisi perempuan. Seorang pekerja muda memberi contoh yoga: kalau tiga tetangga ikut, pria lain lebih berani datang. Berlatih bersama untuk satu tujuan, misalnya lomba lari, juga disebut sangat menggerakkan.

Klub dan perkumpulan penting di perdesaan, dari pemadam kebakaran sampai klub dansa dan olahraga. Pria muda menyukai kegiatan fisik yang menyatu dengan kelompok semacam itu. Orang tua yang masih bugar pun menjadi panutan, seperti pendaki berusia 70 atau 80 tahun yang kerap ditemui seorang peserta di gunung dekat rumahnya.

Saluran informasi berbeda menurut usia. Pria muda bisa dijangkau lewat TikTok, YouTube, atau Instagram, sedangkan yang lebih tua tidak menganggap media sosial penting. Mereka lebih suka mencari sendiri di internet ketika sedang butuh.

Siapa 28 pria yang berceritaSebanyak 28 pria diwawancarai, 12 berusia 15 sampai 29 tahun, 13 berusia 45 sampai 65 tahun, dan 17 bekerja di pekerjaan fisik.Siapa 28 pria yang berceritaPeserta wawancara di Lower Austria28Priadiwawancarai12Usia 15-29tahun13Usia 45-65tahun17PekerjafisikJalan risetnya28 pria2 kelompok usia3 tipe priaTiga peserta lain berada di luar dua kelompok usia itu.
Sumber: Ursula Griebler, Julia Daxenbichler, Isabel Moser, Nina Mitterbauer, Alexander Pell, Denise Hebesberger, dan Christina Koscher-Kien, ‘You only care when it hurts’ - men’s engagement with their health: a qualitative interview study in Lower Austria, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiga tipe pria

Dari semua pengakuan itu para peneliti memilah tiga tipe. Tipe pertama pria mandiri, yang sudah mengurus kesehatannya sendiri sehingga tidak perlu digarap. Tipe kedua pria skeptis, yang menolak program terstruktur pada prinsipnya.

Untuk tipe kedua, sikap para peneliti tegas. “Karena itu, menghabiskan waktu untuk membuat mereka ikut tawaran promosi kesehatan kemungkinan besar merupakan usaha yang sia-sia,” tulis Ursula Griebler, penulis korespondensi, bersama enam rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Tipe ketiga pria yang ragu: tertarik pada kesehatan, tetapi belum bergerak. Di kelompok inilah, menurut para peneliti, peluang terbesar berada. Mereka bisa digerakkan bila tawarannya tepat dan kebutuhan nyatanya dijawab.

Sarannya menyusul. Program dirancang bersama para pria, menawarkan tujuan dan manfaat pribadi yang jelas, serta dibawakan pemandu yang dipercaya. Topik kesehatan jiwa diselipkan ke program kesehatan umum, dan kata kesehatan diganti dengan kesejahteraan atau mutu hidup.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Batas dan kejanggalan naskah

Temuan ini punya batas. Semua peserta berasal dari Lower Austria, dan kelompok lain seperti pria queer tidak terwakili. Para peneliti meminta hasilnya dibaca sebagai suara 28 pria itu, bukan suara pria Austria pada umumnya.

Wawancara di tempat umum juga lebih singkat, rata-rata 22 menit, dibanding 47 menit pada wawancara biasa. Hal itu mungkin memengaruhi kedalaman cerita. Kecenderungan peserta memberi jawaban yang terdengar pantas pun tidak dapat disingkirkan sepenuhnya.

Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Syarat peserta ditulis berusia 15 sampai 29 atau 45 sampai 65 tahun, tetapi tabel peserta memuat satu orang berusia 30 sampai 44 tahun dan dua orang di atas 65 tahun. Satu kutipan diberi kode KI_9, yang tidak tercantum dalam daftar singkatan naskah.

Naskah juga menyebut para pria berpendidikan rendah sampai menengah, sementara tabel mencatat tiga lulusan universitas. Versi yang tersedia masih dalam proses terbit dan belum melalui penyuntingan akhir.

Dua puluh delapan pria itu tidak menolak sehat. Sebagian menunggu sakit, sebagian lagi menunggu kawan yang mengajak.

Bagikan

Baca Juga

Warga Inggris di Tempat Lebih Panas Lebih Jarang Radang Lutut
Separuh Perokok Penyintas Gempa Turki Mengisap Lebih Banyak Rokok
Tenaga Kesehatan Arab Saudi yang Kerja Sif Tidur Lebih Buruk
Petugas SPBU di Sudan Lebih Sering Sulit Membedakan Merah-Hijau
Ilmu Suku Asmat Lebih Hidup Saat Panen Sagu daripada di Upacara
Makin Besar Balita Malaysia, Makin Sering Dibentak dan Dipukul