Ilmu Suku Asmat Lebih Hidup Saat Panen Sagu daripada di Upacara

A A

Ilustrasi sekelompok laki-laki Asmat berhias cat tubuh putih berjongkok mengelilingi batang kayu di Papua [Foto: USAID Indonesia/Wikimedia Commons, Domain Publik]

  • Pengetahuan orang Asmat dipetakan ke dalam empat ranah, dari kearifan lingkungan sampai praktik hidup sehari-hari.
  • Anak-anak Asmat dilibatkan dalam setiap tahap panen sagu, dari menebang sampai mengolah batangnya.
  • Sistem kepercayaan disebut berada di pusat, tetapi tidak dominan secara struktural dalam pengetahuan Asmat.
  • Naskah tidak menyebut nama keempat kampung maupun jumlah informan yang diwawancarai.
Daftar Isi
  1. Roh leluhur yang ikut mengatur perburuan
  2. Batang sagu yang mengajari anak bersabar
  3. Patung bisj, perantara dengan dunia roh
  4. Rumah panggung, jawaban atas rawa yang pasang
  5. Kepercayaan di pusat, belum sampai ke tepi
  6. Sagu dan gotong royong menyentuh tepi luar

Sebatang pohon sagu yang ditebang di rawa dan roh leluhur yang disebut damagase tampak seperti dua urusan yang berjauhan, satu soal makan dan satu soal alam gaib. Di empat kampung di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, keduanya dicatat sebagai bagian dari satu sistem pengetahuan yang sama. Yang satu dikerjakan dengan tangan hampir setiap hari, yang lain dihadirkan lewat upacara.

Catatan itu disusun Indah Slamet Budiarti, Simon Abdi Kari Frank, dan Albert Lumbu dari Universitas Cendrawasih dalam artikel The configuration of ethnoscientific episteme among the asmat tribe: An ethnographic exploration in Papua, yang terbit di Multidisciplinary Science Journal volume 8 tahun 2026. Pengetahuan orang Asmat dipetakan ke dalam empat ranah, dari kearifan lingkungan sampai praktik hidup sehari-hari. Dua ranah lainnya adalah teknologi tradisional dan sistem kepercayaan.

Bahan pemetaan itu datang dari lima kelompok warga, yaitu tetua adat, pengukir kayu, pemimpin ritual, perempuan adat, dan warga biasa. Di satu sisi, mereka bercerita tentang pengetahuan yang bersifat ritual dan mitologis. Di sisi lain, mereka menunjukkan pengetahuan yang praktis dan dikerjakan bersama. Ketiga penulis menimbang keduanya, lalu memperlihatkan mana yang lebih terasa dalam hidup harian.

Roh leluhur yang ikut mengatur perburuan

Bagi orang Asmat, damagase bukan keyakinan mistis yang terpisah dari keseharian. Roh leluhur dipercaya ikut menentukan berhasil atau tidaknya perburuan dan pertanian, keselamatan, bahkan kerukunan kampung. Karena itu mereka dihormati lewat ritual seperti jipae dan emak cem. Para penulis menyebut kepercayaan ini sebagai kerangka aturan yang mengarahkan tindakan bersama, semacam tata susila dalam memperlakukan alam.

Kepercayaan itu juga membawa cara memandang waktu. Dalam ritus peralihan hidup dan upacara penghormatan leluhur, waktu tidak berjalan lurus, melainkan berputar dan memperbarui diri, menyambung masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menurut naskah, ritual bersama semacam itu menyimpan informasi ekologis yang tersembunyi. Lewat ritual, orang Asmat mengantisipasi banjir, gagal panen, atau wabah.

Naskah itu menyandingkan gagasan keseimbangan dalam budaya Asmat dengan mauri dalam budaya Maori di Selandia Baru, yang menekankan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan roh. Dengan cara pandang itu, roh leluhur tidak ditempatkan di luar alam. Ia menjadi bagian dari jaringan hidup yang sama dengan hutan, sungai, dan orang-orang yang mengambil hasil darinya.

Baca juga Pengukir Papua Buktikan Seni Bukan Adaptasi Evolusi

Batang sagu yang mengajari anak bersabar

Di sisi lain, ada sagu. Makanan pokok ini tidak diambil sesuka hati. Orang Asmat menerapkan giliran panen alami yang mengikuti siklus tumbuh pohon, sehingga mengambil dan menjaga berjalan seimbang. Tujuannya dua sekaligus: persediaan pangan tetap ada, dan roh leluhur yang diyakini menghuni kawasan hutan tetap dihormati. Pada titik ini urusan makan dan urusan roh sudah bertemu.

Panen sagu juga berfungsi sebagai ruang belajar. Anak-anak Asmat dilibatkan dalam setiap tahap panen sagu, dari menebang sampai mengolah batangnya. Mereka memperoleh keterampilan teknis, dan bersama itu menyerap nilai bersama seperti kesabaran, kerja sama, dan hormat kepada leluhur. Pengetahuan tentang pangan, kesehatan, dan urusan harian diturunkan lewat tindakan, keikutsertaan dalam ritual, dan cerita rakyat sejak usia dini.

Pengamatan atas alam menempel pada pekerjaan itu. Orang Asmat membaca pergantian musim, arah angin, dan perilaku hewan tertentu sebagai penanda kapan berladang, berburu, atau memindahkan kampung. Naskah juga mencatat saluran alami untuk mengalirkan air, cara berperahu dengan berpatokan pada posisi matahari, serta tumbuhan tertentu yang dipakai sebagai penanda cuaca.

Upacara dan panen sagu dalam tabel penelitiSistem kepercayaan berfungsi mengatur, bersifat ritual, berwujud ritual jipae, bernilai keselarasan dengan leluhur; praktik sehari-hari berfungsi mewariskan, bersifat praktis, berwujud panen sagu, bernilai kolektivitas.Upacara dan panen sagu dalam tabel penelitiDua dari empat ranah pengetahuan orang AsmatKepercayaanKeseharianMengaturMewariskanFungsiRitualPraktisSifatJipaePanen saguWujudLeluhurKolektifNilai intiDiringkas dari Tabel 1 naskah.
Sumber: Indah Slamet Budiarti, Simon Abdi Kari Frank, dan Albert Lumbu, The configuration of ethnoscientific episteme among the asmat tribe: An ethnographic exploration in Papua, Multidisciplinary Science Journal, 8, 2026. Grafik: Cekricek.id

Patung bisj, perantara dengan dunia roh

Pasangan yang sama muncul lagi pada benda buatan tangan. Ukiran seperti patung bisj dan motif mbis dipakai secara aktif dalam ritus leluhur. Fungsinya sebagai sarana komunikasi antara manusia dan dunia roh. Setiap motif, menurut para penulis, bukan hiasan belaka. Di dalamnya tersimpan makna kosmologis yang memetakan hubungan sosial, identitas budaya, dan aturan setempat tentang alam.

Perahu tradisional yang disebut ci berada di antara dua dunia itu. Naskah menyebut orang Asmat membuat perahu dari batang pohon yang dilubangi, lalu menghiasinya dengan ukiran khas. Perahu itu alat angkut, tetapi juga memegang makna simbolik yang dalam pada upacara dan ritual. Ketiga penulis menamai peran semacam ini sebagai arsitektur nilai yang menguatkan jaringan sosial, ritual, dan identitas.

Rumah panggung, jawaban atas rawa yang pasang

Pada kasus kedua, benda yang sama-sama dari kayu bekerja untuk keperluan yang lebih kasatmata. Rumah panggung dirancang untuk menghadapi banjir, memadukan pengetahuan setempat tentang air dengan bangunan yang tahan lama. Pembuatan perahu menuntut kecakapan mengolah kayu dan pemahaman tentang pasang surut. Hasilnya adalah kemudahan berpindah dan jalan menuju sumber daya alam.

Para penulis menegaskan, teknologi ini bukan jawaban dadakan, melainkan wujud pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang. Perahu dan alat ukir, tulis mereka, memperlihatkan pemahaman yang rumit tentang mekanika, fisika, dan bahan alam, walau tidak dirumuskan secara ilmiah formal. Dalam tabel mereka, ranah ini bersifat instrumental, simbolik, dan artistik sekaligus, dengan nilai inti kesinambungan budaya.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Kepercayaan di pusat, belum sampai ke tepi

Lalu bagaimana kedua sisi itu ditimbang? Para penulis menggambarnya dalam sebuah diagram radar. Sistem kepercayaan disebut berada di pusat, tetapi tidak dominan secara struktural dalam pengetahuan Asmat. Pada gambar itu, ranah kepercayaan belum mencapai tepi luar. Roh leluhur tetap menjadi dasar moral dan kosmologi, tetapi perwujudannya cenderung terbatas pada konteks ritual tertentu.

“Sistem kepercayaan dalam etnosains Asmat lebih merupakan kerangka tafsir daripada penggerak langsung praktik ekologis atau teknologis komunitas,” tulis Budiarti, Frank, dan Lumbu dalam naskah berbahasa Inggris itu. Mereka mengaitkannya dengan kajian lain tentang komunitas adat, yang mencatat kepercayaan tradisional kerap bergeser dari praktik harian ke wilayah simbol akibat perubahan sosial, modernisasi, dan pertemuan antarbudaya.

Sagu dan gotong royong menyentuh tepi luar

Di sisi lain, kearifan lingkungan dan praktik hidup sehari-hari menyentuh tepi luar diagram. Para penulis menyebut keduanya sebagai pusat kegiatan pengetahuan orang Asmat. Contoh yang mereka ajukan sederhana: pengelolaan sagu, pemakaian bahan alam untuk pengobatan, dan kerja sama yang ditata menurut klan. Di sana pengetahuan lokal bekerja secara teratur dan sesuai dengan tempatnya.

Naskah itu tidak lantas menyebut kepercayaan kurang penting. Keyakinan yang menautkan manusia, alam, dan leluhur tetap digambarkan sebagai alat pengatur yang mengendalikan pengambilan sumber daya. Keseimbangan antara spiritualitas dan praktik justru disebut sebagai tantangan sekaligus peluang. Dengan kata lain, yang satu memberi makna dan yang lain memberi makan, dan keduanya saling menopang.

Peta pengetahuan orang AsmatEmpat ranah pengetahuan, empat kampung di Kabupaten Asmat, lima kelompok warga sebagai informan, dan tiga unsur dalam diagram radar.Peta pengetahuan orang AsmatCakupan kajian di Papua Selatan4Ranahpengetahuandipetakan4Kampungdi KabupatenAsmat5Kelompokwarga jadiinforman3Unsurdalam diagramradarJalan risetnya4 kampung5 kelompok warga4 ranahNama kampung dan jumlah informan tidak dicantumkan naskah.
Sumber: Indah Slamet Budiarti, Simon Abdi Kari Frank, dan Albert Lumbu, The configuration of ethnoscientific episteme among the asmat tribe: An ethnographic exploration in Papua, Multidisciplinary Science Journal, 8, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sisi praktik itu pula yang paling rentan. Mengutip kajian lain, para penulis mencatat perubahan iklim dan naiknya muka laut mengancam sistem pangan tradisional Asmat, terutama dengan mengganggu ketersediaan sagu dan jalan menuju sumber protein alami. Akibat yang disebut naskah adalah naiknya angka kurang gizi dan turunnya daya tahan tubuh pada komunitas adat di pesisir selatan Papua.

Dari sana para penulis menarik usul: kurikulum sains yang berpijak pada budaya lokal Papua, dengan pengolahan pangan, obat dari tumbuhan, dan pembangunan rumah adat sebagai bahan ajar. “Pengetahuan lokal bukanlah warisan yang statis, melainkan produk budaya yang dinamis dengan nilai strategis dalam menjawab tantangan global,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris.

Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani

Ada batas yang perlu dicatat ketika membaca temuan ini. Naskah tidak menyebut nama keempat kampung maupun jumlah informan yang diwawancarai. Identitas warga disamarkan dengan kode, dan tidak satu pun ucapan mereka dikutip. Pembaca karena itu hanya menerima rangkuman para penulis, bukan suara orang Asmat sendiri, dan empat kampung belum tentu mewakili seluruh orang Asmat.

Beberapa hal dalam naskah juga bisa diperiksa pembaca. Ranahnya empat, tetapi diagram radar hanya memuat tiga unsur, tanpa teknologi tradisional dan tanpa angka skala. Para penulis menyebut ada kuesioner berisi lima pernyataan, tetapi hasilnya tidak ditampilkan. Satu kalimat menulis orang Asmat berada di Papua New Guinea, padahal lokasinya disebut Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, Indonesia.

Pohon sagu dan damagase, pada akhirnya, tidak dipisahkan oleh naskah ini. Yang pertama terlihat setiap kali sebuah keluarga turun menebang dan mengolah batangnya. Yang kedua hadir ketika kampung berkumpul untuk jipae. Diagram para penulis menaruh keduanya pada jarak yang berbeda dari tepi, tetapi di dalam satu lingkaran yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Makin Besar Balita Malaysia, Makin Sering Dibentak dan Dipukul
Sakit Jantung Pekerja Korea Lebih Banyak di Tempat Kerja Terkecil
Kebun Durian Warisan Dayak Tobag Kini Hanya Dijaga Denda Adat
Canang Kayu Singkil Pindah dari Sawah ke Hadapan Bupati
Latihan CPR Sejuta Warga San Diego Bisa Selamatkan 399 Nyawa
Gemuk Sejak Usia 20-an, Tekanan Darah Karyawan Jepang Terus Naik