Gemuk Sejak Usia 20-an, Tekanan Darah Karyawan Jepang Terus Naik

A A

Ilustrasi tensimeter digital lengan atas dengan layar menunjukkan 138/73 dan manset abu-abu [Foto: Jacek Halicki/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Tekanan darah semua rombongan naik seiring umur, tetapi tidak dengan langkah yang sama.
  • Kelompok yang hampir sepanjang masa pantau tetap gemuk menempati puncak.
  • Sekitar 40 persen peserta yang kurus pada usia dua puluhan tetap kurus sesudahnya.
  • Pesertanya adalah orang yang bekerja atau ditanggung pekerja dan rajin diperiksa, bukan cerminan seluruh penduduk Jepang.
Daftar Isi
  1. Tiga rombongan anak muda berangkat berdekatan, lalu saling menjauh menjelang usia 45
  2. Yang menentukan bukan pernah gemuk, melainkan berapa lama
  3. Makan cepat dan sarapan yang terlewat ternyata hampir tidak mengubah apa-apa
  4. Tekanan darah rendah pada yang kurus bukan kabar baik yang boleh dirayakan
  5. Batas yang dipasang penulisnya sendiri dan beberapa hal yang patut diperiksa

Seorang karyawan muda di Jepang naik ke timbangan pada pemeriksaan kesehatan tahunan, lalu tekanan darahnya diukur seorang perawat. Angka di timbangan hari itu biasanya segera dilupakan. Dua puluh tahun kemudian angka itu ternyata masih terbaca, bukan lagi di timbangan, melainkan di hasil tensinya.

Jejak itulah yang ditelusuri Katsumi Iizuka dalam artikel Body weight history from young adulthood and subsequent blood pressure trajectories in a Japanese employment-based health-check cohort: a retrospective longitudinal study, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus naskah diterima yang belum diberi nomor volume. Iizuka bekerja di Departemen Gizi Klinis Fujita Health University di Toyoake, Jepang. Ia menulis naskah itu seorang diri.

Bahannya bukan percobaan, melainkan tumpukan catatan pemeriksaan rutin dari tahun 2005 sampai 2025 milik para peserta asuransi kesehatan berbasis pekerjaan, yaitu karyawan dari berbagai sektor beserta tanggungan mereka. Dari tumpukan itu ia memilih orang yang mulai diperiksa pada usia 20 sampai 29 tahun dan punya sedikitnya lima catatan. Tersisa 406.814 orang: 146.590 perempuan dan 260.224 laki-laki.

Pertanyaannya sederhana. Kalau tekanan darah seseorang di usia 45 tahun hendak diperkirakan, mana yang lebih banyak bercerita: berat badannya pada satu hari tertentu, atau riwayat berat badannya sejak masih berumur dua puluhan? Iizuka memilih yang kedua, dan data itu memberinya jawaban yang tegas ke dua arah sekaligus.

Tiga rombongan anak muda berangkat berdekatan, lalu saling menjauh menjelang usia 45

Ia memilah pesertanya menurut apa yang terjadi pada tubuh mereka selama usia dua puluhan. Sebanyak 80.890 orang pernah setidaknya sekali tercatat kurus, dengan indeks massa tubuh di bawah 18,5. Sebanyak 228.343 orang bertahan di berat normal sepanjang dasawarsa itu. Sisanya, 97.581 orang, pernah setidaknya sekali melewati angka 25, batas yang dalam naskah itu disebut obesitas.

Susunan rombongan itu tidak sama antara perempuan dan laki-laki. Di rombongan yang pernah kurus, perempuan lebih banyak, 45.446 orang berbanding 35.444 laki-laki. Di rombongan yang pernah gemuk keadaannya berbalik tajam: 77.187 laki-laki dan hanya 20.394 perempuan. Lingkar pinggang mereka pada pemeriksaan pertama sudah menunjukkan jaraknya, rata-rata 89,2 sentimeter pada laki-laki yang pernah gemuk dan 67,5 sentimeter pada yang pernah kurus.

Tekanan darah pun sudah berbeda sejak awal, walau belum mencolok. Pada usia 25 tahun, tekanan sistolik, yakni angka atas pada hasil tensi, diperkirakan 104,5 mmHg pada perempuan yang pernah kurus, 106,9 pada yang normal, dan 114,6 pada yang pernah gemuk. Pada laki-laki urutannya sama: 113,0, lalu 117,2, lalu 124,2. Tiga garis berangkat berdekatan.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Lalu waktu bekerja. Tekanan darah semua rombongan naik seiring umur, tetapi tidak dengan langkah yang sama. Pada perempuan yang pernah gemuk, sistolik di usia 45 tahun diperkirakan mencapai 128,5 mmHg, sedangkan pada yang berat badannya normal 113,4 dan pada yang pernah kurus 108,8. Garis laki-laki berakhir di 128,5, 119,7, dan 114,6.

Iizuka merangkum jarak itu dalam selisih terhadap rombongan normal. Di usia 45 tahun, perempuan yang pernah gemuk berada 15,0 mmHg lebih tinggi pada sistolik dan 10,2 mmHg pada diastolik, angka bawah hasil tensi. Pada laki-laki selisihnya 8,8 dan 6,2 mmHg. Ke arah sebaliknya, perempuan yang pernah kurus berada 4,6 dan 2,6 mmHg lebih rendah, laki-laki 5,1 dan 2,7 mmHg.

Selisih tekanan sistolik di usia 45 tahunHampir selalu kurus: Perempuan −6,4, Laki-laki −8,5; Pernah kurus: Perempuan −4,6, Laki-laki −5,1; Pernah gemuk: Perempuan +15,0, Laki-laki +8,8; Hampir selalu gemuk: Perempuan +19,8, Laki-laki +11,7.Selisih tekanan sistolik di usia 45 tahunTerhadap kelompok berat normal, dalam mmHgPerempuanLaki-laki−1010200Hampir selalu kurus−6,4−8,5Pernah kurus−4,6−5,1Pernah gemuk+15,0+8,8Hampir selalu gemuk+19,8+11,7Hampir selalu: 75-100 persen masa pantau dalam keadaan itu.
Sumber: Katsumi Iizuka, Body weight history from young adulthood and subsequent blood pressure trajectories in a Japanese employment-based health-check cohort: a retrospective longitudinal study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada satu hal yang mudah terlewat di deretan angka tadi. Perempuan yang pernah gemuk berangkat dari sistolik 114,6 mmHg di usia 25 tahun, jauh di bawah laki-laki dari rombongan yang sama. Dua puluh tahun kemudian, keduanya diperkirakan tiba di angka yang sama, 128,5. Selisih terhadap rombongan normal karena itu jauh lebih lebar pada perempuan.

Iizuka tidak membaca pelebaran itu dari uji statistik semata, sebab dengan peserta sebanyak ini selisih sekecil apa pun bisa tampak bermakna. Ia menimbang besarnya dalam mmHg, kesamaan arahnya pada sistolik dan diastolik, dan kemunculannya pada kedua jenis kelamin. Sebagian selisih memang kecil, tulisnya, tetapi yang tampak pada usia lebih tua, terutama pada peserta yang gemuknya menetap, tergolong besar.

Yang menentukan bukan pernah gemuk, melainkan berapa lama

Di sinilah ceritanya berbelok. Rombongan yang pernah gemuk dan yang pernah kurus masing-masing dibelah lagi menjadi empat, menurut seberapa besar bagian dari masa pantau yang mereka habiskan dalam keadaan itu: sampai seperempat, seperempat sampai separuh, separuh sampai tiga perempat, dan tiga perempat sampai seluruhnya. Dengan rombongan normal sebagai pembanding, jadilah sembilan kelompok.

Kelompok yang hampir sepanjang masa pantau tetap gemuk menempati puncak. Sistolik perempuan di kelompok ini diperkirakan 116,79 mmHg pada usia 25 tahun, 123,62 pada usia 35, dan 132,81 pada usia 45. Laki-lakinya 125,60, lalu 128,25, lalu 130,93. Terhadap rombongan normal, selisih di usia 45 tahun mencapai 19,8 mmHg sistolik dan 13,4 mmHg diastolik pada perempuan, serta 11,7 dan 8,5 mmHg pada laki-laki.

Di bawahnya menyusul kelompok yang gemuk selama separuh sampai tiga perempat masa pantau. Sesudah itu jaraknya menyusut. Mereka yang hanya sebentar gemuk, tulis Iizuka, berselisih lebih kecil dari rombongan normal. Di sisi kurus polanya serupa tetapi terbalik: yang hampir selalu kurus berada 6,4 mmHg sistolik di bawah rombongan normal pada perempuan dan 8,5 mmHg pada laki-laki.

Berat badan usia 20-an dan tekanan darahDari 406.814 peserta, 97.581 pernah gemuk dan 80.890 pernah kurus di usia 20-an; pada usia 45 sistolik perempuan yang pernah gemuk 15,0 mmHg di atas kelompok normal.Berat badan usia 20-an dan tekanan darahData 406.814 peserta pemeriksaan kesehatan di Jepang6 tahunMasa pantauNilai tengah97.581Pernah gemukDi usia 20-an80.890Pernah kurusDi usia 20-an+15,0mmHg sistolikPerempuanpernah gemukJalan risetnyaBerat badan usia 20-anTensi diukur berulangJarak kian lebarSelisih sistolik pada usia 45 tahun terhadap kelompok berat normal.
Sumber: Katsumi Iizuka, Body weight history from young adulthood and subsequent blood pressure trajectories in a Japanese employment-based health-check cohort: a retrospective longitudinal study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Temuan itu ia tempatkan di samping sebuah penelitian atas 56.459 orang dewasa di Tiongkok, yang mencatat tekanan darah dan peluang hipertensi makin tinggi mengikuti pola perubahan berat badan dari muda ke paruh baya, dengan risiko tertinggi pada mereka yang gemuknya menetap. Bedanya, tulis Iizuka, penelitian itu terutama menyorot kegemukan dan tensi di usia paruh baya. Datanya sendiri mengikuti tensi yang diukur berulang, pada yang gemuk maupun yang kurus.

Kalimat penutup naskahnya memadatkan semua itu. “Secara lebih luas, ketika menilai perjalanan tekanan darah di kemudian hari, perhatian yang lebih besar perlu diberikan pada riwayat berat badan sepanjang masa dewasa awal, bukan pada berat badan di satu titik waktu,” tulis Katsumi Iizuka dalam naskah berbahasa Inggris itu. Satu kali menimbang, dengan kata lain, tidak cukup bercerita.

Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya

Makan cepat dan sarapan yang terlewat ternyata hampir tidak mengubah apa-apa

Ada tersangka lain yang ikut diperiksa. Pada pemeriksaan pertama, peserta ditanya apakah mereka makan dengan cepat, biasa, atau lambat, apakah sering melewatkan sarapan, dan apakah kerap makan malam dalam dua jam sebelum tidur. Jawabannya berbeda mencolok antarrombongan. Hampir separuh laki-laki yang pernah gemuk, 48,1 persen, mengaku makan cepat. Pada laki-laki yang pernah kurus hanya 19,6 persen.

Perempuan menunjukkan arah yang sama: 29,5 persen pemakan cepat di rombongan yang pernah gemuk, 24,0 persen di rombongan normal, dan 17,5 persen di rombongan yang pernah kurus. Makan lambat berbalik urutannya, paling sering pada perempuan yang pernah kurus, 24,9 persen, dan paling jarang pada laki-laki yang pernah gemuk, 6,1 persen. Wajar bila kebiasaan itu dicurigai ikut mendorong tensi.

Kecurigaan itu tidak terbukti. Ketika ketiga kebiasaan makan dimasukkan ke dalam hitungan, perkiraan tekanan darah nyaris tidak bergeser dan bentuk ketiga garis tetap seperti semula. Iizuka menyimpulkan bahwa kebiasaan makan di awal hanya berpengaruh sangat kecil terhadap kaitan riwayat berat badan dengan tensi. Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan makan bisa saja berubah justru karena berat badan atau tensi naik.

Tekanan darah rendah pada yang kurus bukan kabar baik yang boleh dirayakan

Deretan angka minus pada rombongan kurus mudah dibaca sebagai keuntungan. Iizuka menolak bacaan itu. Ia merujuk penelitian terdahulu yang menunjukkan orang kurus bisa memiliki risiko penyakit jantung dan kematian yang lebih tinggi daripada orang berberat normal. “Dengan demikian, tekanan darah yang lebih rendah pada kelompok kurus tidak serta-merta berarti prognosis keseluruhan yang lebih baik,” tulisnya.

Kurus itu pun jarang sekadar singgah. Sekitar 40 persen peserta yang kurus pada usia dua puluhan tetap kurus sesudahnya. Di rombongan ini pula olahraga rutin paling jarang, hanya 7,2 persen pada perempuan dan 16,0 persen pada laki-laki, sedangkan di rombongan normal 10,4 dan 23,8 persen. Apa akibat kurus yang menetap bagi jantung, umur, dan kerapuhan tubuh, tulis Iizuka, masih harus diteliti.

Mengapa garis-garis itu menjauh, ia hanya menawarkan kemungkinan. Kenaikan berat badan dapat menumpang pada kenaikan tensi yang memang datang bersama umur, sedangkan tubuh yang lebih kecil dengan massa otot lebih sedikit mungkin beriring dengan volume darah yang lebih rendah. Tak satu pun dari hal itu diukur. Karena itu ia meminta penjelasan tersebut tidak dibaca sebagai bukti suatu mekanisme.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Batas yang dipasang penulisnya sendiri dan beberapa hal yang patut diperiksa

Pagar di sekeliling temuan ini cukup rapat. Pesertanya adalah orang yang bekerja atau ditanggung pekerja dan rajin diperiksa, bukan cerminan seluruh penduduk Jepang. Catatan itu tidak menyebut apakah tensi diukur dengan tangan atau dengan alat otomatis. Rokok, alkohol, jenis pekerjaan, dan keadaan ekonomi tidak ikut dihitung, begitu pula riwayat hipertensi dan obat penurun tensi. Sebab-akibat, tulis Iizuka, tidak dapat ditetapkan.

Ia juga tidak berlindung di balik besarnya data. “Ukuran sampel yang besar tidak menghapus bias pengukuran yang sistematis maupun faktor perancu yang tersisa,” tulisnya. Nilai tengah rentang usia yang teramati pada tiap peserta pun hanya enam tahun, sehingga garis dari usia 25 sampai 45 tahun dirangkai dari banyak potongan pendek, bukan dari orang-orang yang sama diikuti dua dasawarsa penuh.

Beberapa hal di naskah itu bisa diperiksa pembaca. Naskah ditulis satu orang, tetapi bagian kontribusi menyebut semua penulis merevisinya. Pada tabel tambahan, perempuan yang paling sebentar gemuk justru diperkirakan bersistolik 105,49 mmHg di usia 45 tahun, di bawah rombongan normal yang 113,01, hal yang tidak dibahas di teks. Beberapa bagian berkas, termasuk kesimpulannya, juga tercetak dengan urutan kata teracak, lazim pada naskah yang belum disunting.

Yang tinggal adalah gambaran di ruang pemeriksaan tadi. Timbangan mencatat satu angka, perawat mencatat angka lain, dan keduanya disimpan tahun demi tahun. Pada 406.814 orang itu, catatan timbangan dari usia dua puluhan masih berjalan beriringan dengan catatan tensi di usia 45 tahun, makin jauh dari garis tengah pada mereka yang paling lama gemuk dan pada mereka yang paling lama kurus.

Bagikan

Baca Juga

Rokok di Wuhan Makin Terjangkau Setelah Larangan Merokok Berlaku
Makanan Ultra-Olahan Naik di Piring Tenaga Kesehatan Saat Sif
Asma Anak Lebih Sering Kambuh Saat Jadwal Kerja Orang Tua Kacau
Korban Tenggelam di Ghana Umumnya Lelaki dan Tak Bisa Berenang
Emisi Asia Naik Bersama Ekonomi, Pendorongnya Beda Tiap Tahap
Perempuan Britania yang Rajin Latihan Otot Masih Canggung di Gym