- Kalau tidur menjawab dengan lantang, jantung nyaris diam.
- Tidur yang buruk itu tidak tinggal di kamar tidur, melainkan ikut masuk ke ruang kerja.
- Stres tampak mengikuti jejak tidur, namun hanya sampai separuh jalan.
- Dari 1.500 orang yang diundang hanya 57,9 persen yang menjawab, dan mereka yang kesehatannya paling terpukul oleh kerja sif mungkin sudah meninggalkan pekerjaan klinis.
Daftar Isi
Orang yang pekerjaannya menjaga kesehatan orang lain semestinya paling pandai menjaga tubuhnya sendiri, begitu kita gemar mengandaikan, seakan-akan pengetahuan tentang tubuh dengan sendirinya menjadi perisai bagi pemiliknya. Andaian itu patah pada dokter, perawat, teknisi, dan tenaga kesehatan lain di Arab Saudi yang bekerja bergiliran, sebab justru merekalah yang tercatat paling buruk tidurnya, paling mengantuk ketika bertugas, dan paling sering nyaris keliru karena lelah.
Catatan itu disusun Fahad Hamoud Algharbi, Maher Alquaimi, Abdullah Alsulayyim, Mahmoud Algharbi, Yasser Alshubrami, Abdullah AlGharbi, Abdullah Alzahrani, Mohammed Alsubaiei, dan Alsayed Shanb dalam artikel Shift work and sleep quality, cardiovascular risk, and occupational safety among healthcare workers in Saudi Arabia: a national cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus naskah diterima yang belum diberi nomor volume. Fahad Hamoud Algharbi, penulis utamanya, bekerja di Departemen Fisioterapi Imam Abdulrahman bin Faisal University di Dammam dan di Royal Commission Health Services Program di Jubail.
Mereka menghimpun jawaban 868 tenaga kesehatan berlisensi dari lima wilayah administratif kerajaan itu, dan hampir tiga dari empat orang di antaranya, tepatnya 641 orang atau 73,8 persen, bekerja dengan sif bergilir atau sif malam tetap, sedangkan 227 orang sisanya bekerja pada jam siang biasa. Yang hendak mereka ketahui sebetulnya dua hal sekaligus, yaitu tidur dan jantung, tetapi hanya salah satu yang akhirnya memberi jawaban tegas.
Pertanyaan itu tidak datang dari ruang hampa, sebab menurut para penulis faktor risiko jantung seperti obesitas, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe 2 di Arab Saudi termasuk yang tertinggi di kawasannya, sementara agenda Saudi Vision 2030 secara terang menaruh kesejahteraan tenaga kesehatan dan keselamatan pasien sebagai prioritas. Penelitian terdahulu di negeri itu, tulis mereka, kebanyakan hanya menyorot satu profesi, terutama perawat, dan jarang menimbang berapa tahun seseorang sudah menjalani sif malam.
Tidur yang tidak lagi memulihkan
Di antara pekerja sif, 93,0 persen tergolong memiliki kualitas tidur buruk, sedangkan pada mereka yang bekerja siang angkanya 78,5 persen, dan pada skala tidur yang bergerak dari nol sampai 21, dengan nilai di atas lima berarti buruk, rata-rata pekerja sif mencapai 11,2 berbanding 8,4. Setelah usia, jenis kelamin, kewarganegaraan, profesi, pendidikan, berat badan, rokok, penyakit penyerta, dan riwayat jantung keluarga ikut dihitung, peluang pekerja sif untuk tidur buruk tetap 2,29 kali lebih besar.
Namun yang rusak ternyata bukan terutama jumlah jamnya, sebab selisih paling lebar justru muncul pada penilaian orang atas mutu tidurnya sendiri, pada terganggunya kegiatan di siang hari, dan pada lamanya waktu yang dibutuhkan untuk terlelap, sedangkan durasi dan efisiensi tidur hanya berbeda tipis. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa kerja sif lebih mengusik daya pulih tidur ketimbang panjangnya, dan pemakaian obat tidur pada pekerja sif, dengan skor 0,83 berbanding 0,37, mereka sebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Di situlah persoalannya menjadi lebih rumit daripada sekadar sif melawan bukan sif, karena kelompok yang bekerja siang pun tidak bisa disebut tidur nyenyak. Para penulis merujuk sebuah studi pada penduduk dewasa Arab Saudi yang mencatat tidur buruk pada kira-kira 33 sampai 40 persen orang, jauh di bawah 78,5 persen pada tenaga kesehatan tanpa sif dalam data mereka, sehingga beban itu tampaknya melekat pada profesinya dan kerja sif menambah lapisan di atasnya.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Lima tahun sif malam sebagai garis batas
Ketika peserta dipilah menurut lamanya menjalani sif malam, muncul tangga yang naik teratur: 78,5 persen tidur buruk pada yang bukan pekerja sif, 91,3 persen pada yang kurang dari lima tahun bersif malam, dan 93,8 persen pada yang sudah lima tahun atau lebih. Sesudah faktor lain diperhitungkan, kenaikan pada kelompok di bawah lima tahun, yakni 1,52 kali, belum cukup kuat untuk dibedakan dari kebetulan, sedangkan pada kelompok lima tahun atau lebih peluangnya menjadi 3,03 kali dan bermakna.
Para penulis menyebut tangga itu sebagai hitungan pertama di Arab Saudi tentang hubungan lama paparan sif malam dengan mutu tidur, dan mereka menimbangnya dengan hati-hati. “Meskipun data potong lintang ini tidak dapat menetapkan urutan sebab-akibat, adanya pola paparan yang bertingkat memperkuat kemungkinan adanya hubungan yang terkait dengan paparan,” tulis Fahad Hamoud Algharbi dan delapan rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu, sebuah kalimat yang sekaligus mengakui dan membela temuan mereka sendiri.
Justru sebaliknya, jantung tidak ikut bersuara
Kalau tidur menjawab dengan lantang, jantung nyaris diam. Beban faktor risiko jantung, yang oleh para penulis dihitung dari obesitas, penyakit yang pernah didiagnosis dokter seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, serta riwayat penyakit jantung dini dalam keluarga, terdapat pada 63,5 persen pekerja sif dan 64,9 persen yang bukan, dua angka yang hampir kembar. Obesitas pun demikian, 28,9 berbanding 26,1 persen, dan risiko tinggi henti napas saat tidur, 34,8 berbanding 26,3 persen, tidak berbeda secara bermakna.
Hasil itu berlawanan dengan penelitian besar di negara lain yang dikutip para penulis, antara lain Nurses’ Health Study, yang mencatat risiko penyakit jantung koroner bertambah 3 sampai 8 persen untuk setiap lima tahun sif malam bergilir, dan Danish Nurse Cohort, yang mengikuti 18.015 perawat selama 22 tahun. Penjelasan mereka sederhana tetapi penting: peserta di Arab Saudi rata-rata baru berusia 36,9 tahun, sedangkan dampak kerja sif pada jantung menumpuk selama puluhan tahun dan paling jelas terlihat pada usia yang lebih tua.
Ada pula pola ganjil yang mereka temukan sendiri, yakni beban risiko jantung yang justru lebih rendah pada pekerja dengan sif malam kurang dari lima tahun, 50,0 persen, lalu lebih tinggi pada yang lima tahun atau lebih, 70,1 persen, sehingga membentuk lengkung mirip huruf J. “Bentuk J yang teramati pada data beban risiko jantung yang belum disesuaikan kecil kemungkinannya mencerminkan hubungan biologis yang sesungguhnya,” tulis mereka, dan setelah usia serta faktor lain dihitung, kedua angka itu memang merapat ke titik tanpa beda.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Kantuk di jam kerja dan kejadian nyaris celaka
Tidur yang buruk itu tidak tinggal di kamar tidur, melainkan ikut masuk ke ruang kerja. Pada skala kantuk yang bergerak dari satu, sangat terjaga, sampai sembilan, sangat mengantuk dan melawan tidur, pekerja sif rata-rata berada di angka 4,7 dan yang bukan pekerja sif di angka 3,4. Para penulis mengingatkan bahwa nilai di atas lima pada skala itu menandai kantuk yang terukur pada gelombang otak dan menurunnya kinerja, sehingga jarak dari 4,7 ke ambang tersebut tidaklah jauh.
Dari sanalah lahir kalimat paling mencemaskan dalam naskah itu. “Karena itu, sebagian yang berarti dari pekerja sif dalam sampel ini mungkin telah menjalankan tugas klinis dalam keadaan yang berkaitan dengan gangguan daya pikir,” tulis Algharbi dan rekan-rekannya, juga dalam bahasa Inggris. Kata mungkin di sana patut digarisbawahi, sebab yang mereka ukur adalah rasa kantuk yang dilaporkan sendiri, bukan pemeriksaan atas pekerjaan yang sedang dilakukan.
Selama tiga bulan sebelum mengisi pertanyaan, 61,5 persen pekerja sif mengaku mengalami masalah ingatan setidaknya sekali seminggu, berbanding 40,2 persen pada yang bukan pekerja sif, dan sulit berkonsentrasi dialami 59,5 persen berbanding 43,5 persen. Selisih yang paling tajam ada pada kejadian nyaris celaka akibat lelah, yang dilaporkan 28,3 persen pekerja sif dan 10,9 persen yang bukan. Kekeliruan karena lelah, 33,9 berbanding 23,9 persen, cenderung lebih sering tetapi tidak sampai bermakna.
Yang menarik, kedua kelompok menilai kelayakan ruang istirahat di tempat kerja hampir sama, 2,7 dan 2,8 pada skala satu sampai lima, tetapi berbeda ketika ditanya apakah keselamatan sungguh menjadi prioritas di unit mereka: pekerja sif memberi nilai 2,9, yang bukan pekerja sif 3,2. Para penulis menyebut keadaan ini sebagai kerentanan ganda, yaitu orang yang paling mengantuk dan paling sering nyaris celaka sekaligus merasa lembaganya kurang bersungguh-sungguh menjaga keselamatan.
Stres yang surut ketika faktor lain dihitung
Stres tampak mengikuti jejak tidur, namun hanya sampai separuh jalan. Sebanyak 73,4 persen pekerja sif tergolong berstres tinggi, berbanding 56,8 persen pada yang bukan, dan peluangnya semula 2,10 kali lebih besar; setelah usia dan latar belakang dihitung angka itu turun menjadi 1,92, lalu menjadi 1,68 dan tidak lagi bermakna ketika berat badan, rokok, dan penyakit penyerta ikut masuk. Para penulis menduga sebagian kaitan itu dijelaskan oleh beban klinis pekerja sif sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan jumlah pesertanya kurang besar.
Dugaan itu masuk akal bila melihat siapa sebenarnya para pekerja sif tersebut, sebab mereka bukan kelompok yang sama dengan rekan-rekannya yang bekerja siang. Mereka lebih muda, rata-rata 36,4 berbanding 38,8 tahun, lebih banyak laki-laki, 75,3 berbanding 57,8 persen, lebih banyak berijazah diploma, 35,0 berbanding 7,9 persen, lebih banyak teknisi, 32,4 berbanding 12,1 persen, dan lebih banyak yang masih merokok, 28,0 berbanding 19,1 persen. Perbedaan sebanyak itu membuat perbandingan mentah mudah menyesatkan.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Batas pembacaan dan yang janggal di naskah
Para penulis sendiri memasang pagar yang cukup rapat di sekeliling temuan mereka. Semua data dikumpulkan pada satu waktu, antara Desember 2025 dan Januari 2026, sehingga tidak dapat dipastikan mana yang lebih dulu, kerja sif atau keluhannya, dan seluruh jawaban, termasuk berat badan, diagnosis dokter, dan kejadian nyaris celaka, berasal dari pengakuan peserta. Dari 1.500 orang yang diundang hanya 57,9 persen yang menjawab, dan mereka yang kesehatannya paling terpukul oleh kerja sif mungkin sudah meninggalkan pekerjaan klinis.
Beberapa hal dalam naskah itu patut diperiksa pembaca. Judulnya menyebut studi nasional, tetapi bagian keterbatasan mengakui pesertanya tidak dipilih secara acak, dan data jenis kelamin serta usia hanya tersedia untuk 499 dari 868 peserta. Riwayat sif malam pada kelompok pembanding juga tidak ditanyakan, dan satu kalimat tentang penilaian keselamatan di bagian pembahasan berhenti tanpa predikat, wajar untuk naskah yang menurut penerbitnya belum disunting.
Yang tersisa dari semua itu adalah sebuah gambar yang timpang: tidur para penjaga kesehatan itu jelas terusik dan makin terusik seiring bertambahnya tahun sif malam, kewaspadaan mereka ikut tergerus, sementara jantung mereka, setidaknya pada usia tiga puluhan, belum menunjukkan apa-apa. Apakah diamnya jantung itu berarti tubuh mereka memang belum terbebani, ataukah bebannya hanya belum sempat terlihat pada pekerja yang masih muda dan masih bertahan, adalah pertanyaan yang oleh data sekali potret ini belum dapat dijawab.















