- Dari 88 orang yang terdeteksi sulit membedakan merah dan hijau, 57 orang atau 64,8 persen bekerja di SPBU, kira-kira dua dari tiga.
- Orang-orang ini masih melihat tajam, hanya warnanya yang keliru.
- Tak satu pun pekerja SPBU melaporkan rutin memakai kacamata pelindung ketika mengisi bahan bakar.
- Kadar benzena juga tidak diukur, baik di udara SPBU maupun di tubuh pekerja, karena keterbatasan sumber daya.
Daftar Isi
- Dari Isfahan ke Brasil, Jejak Sedighi, Fazeli, dan Costa
- Celah Afrika yang Hendak Diisi Ali dan Rekan pada 2022
- Temuan 2022: Pemegang Pompa Paling Banyak Terkena
- Rokok, yang Dicurigai Arda pada 2015, Tidak Terbukti
- Mata yang Tidak Mengeluh, Seperti Dicatat Pramanik
- Batas yang Diakui Ali, Abdelrahman, dan Magzoub
- Angka dalam Naskah 2026 yang Layak Dibaca Ulang
Pom bensin terus bertambah di seluruh dunia dalam beberapa dasawarsa terakhir, mengikuti pertumbuhan penduduk, perluasan kota, dan pembangunan ekonomi. Jumlah orang yang bekerja sebagai petugas pengisi bahan bakar ikut membesar. Setiap hari mereka berada di dekat uap bensin: dari tumpahan, dari uap yang terdesak keluar ketika tangki kendaraan diisi, dari tangki timbun di bawah tanah, juga dari asap knalpot. Di Khartoum, Sudan, tiga peneliti memeriksa apakah pekerjaan itu berjejak pada cara mata membedakan merah dan hijau.
Ketiganya adalah Ibrahim Abdelrhim Ali dan Sanaa Ahmedelbashir Abdelrahman dari Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran The National Ribat University, Khartoum, serta Aamir Ali Magzoub dari College of Medicine Najran University, Arab Saudi. Artikel mereka berjudul Occupational Exposure at Petrol Stations and Red-Green Colour Vision Deficiency: A Case-Control Study from Sudan dan terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Bahannya 176 laki-laki dewasa yang ditemui di 19 SPBU dan lingkungan sekitarnya di Khartoum, Bahri, dan Omdurman pada Februari sampai Mei 2022.
Hasilnya ringkas. Dari 88 orang yang terdeteksi sulit membedakan merah dan hijau, 57 orang atau 64,8 persen bekerja di SPBU, kira-kira dua dari tiga. Dari 88 orang yang penglihatan warnanya normal, yang bekerja di SPBU ada 42 orang atau 47,7 persen, kurang dari separuh. Peluang mengalami gangguan itu, menurut hitungan para penulis, sekitar dua kali lebih besar pada mereka yang bekerja di SPBU, dengan nilai p 0,02.
Dari Isfahan ke Brasil, Jejak Sedighi, Fazeli, dan Costa
Temuan itu tidak berdiri sendirian. Naskah menjelaskan bahwa gangguan penglihatan warna bisa dibawa sejak lahir atau didapat kemudian. Jenis yang didapat biasanya muncul akibat kerusakan retina atau saraf yang menyertai penyakit sistemik, penuaan, pemakaian obat, atau paparan zat yang meracuni saraf. Benzena dan hidrokarbon aromatik lain di dalam bensin, tulis para peneliti, dikenal sebagai zat semacam itu, yang mampu mengganggu sel penerima cahaya di retina dan jalur penglihatan sesudahnya.
Sedighi dan rekan lebih dulu menemukan perubahan kemampuan membedakan warna pada petugas SPBU di Isfahan, Iran. Fazeli dan rekan melaporkan gangguan serupa pada petugas SPBU di Teheran yang terpapar senyawa BTEX, yaitu benzena, toluena, etilbenzena, dan xilena. Di Brasil, Costa dan rekan mencatat gangguan penglihatan yang menyebar, termasuk pada penglihatan warna dan kepekaan kontras. Lee dan rekan mendapati hal sejenis pada pekerja galangan kapal Korea Selatan yang terpapar campuran pelarut, terutama xilena.
Dua nama lain menambah kekhawatiran. Neto dan rekan menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap uap organik berkadar rendah pun dapat mengganggu penglihatan, bahkan ketika kadarnya di bawah batas kerja yang ditetapkan. Attarchi dan rekan sampai pada kesimpulan serupa: gangguan penglihatan warna bisa muncul pada tingkat paparan pelarut yang dianggap aman oleh standar keselamatan kerja. Tinjauan Betancur dan rekan merangkum arah bukti itu.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Celah Afrika yang Hendak Diisi Ali dan Rekan pada 2022
Yang kurang dari rantai riset itu adalah Afrika. Menurut naskah, data dari negara-negara Afrika masih terbatas, padahal petugas SPBU di Sudan bisa jadi sangat rentan. Para penulis menyebut tiga sebabnya: pengawasan kesehatan kerja yang tidak memadai, pemakaian alat pelindung diri yang terbatas, dan langkah pencegahan yang tidak konsisten dijalankan. Gangguan penglihatan warna, tulis mereka, dapat memengaruhi kinerja, keselamatan kerja, dan mutu hidup.
Seseorang digolongkan terpapar bila sedang bekerja di SPBU selama sedikitnya enam bulan. Para penulis mengakui batas itu dipilih secara praktis, bukan ambang racun yang sudah teruji. Masa kerja peserta merentang dari enam bulan sampai 12 tahun, dengan rata-rata 4,58 tahun pada kelompok bergangguan dan 3,9 tahun pada kelompok normal. Lama satu giliran kerja nyaris sama, masing-masing 5,19 dan 5,13 jam. Usia rata-rata 32,3 dan 34,8 tahun.
Temuan 2022: Pemegang Pompa Paling Banyak Terkena
Rincian jabatan memberi gambaran lebih tajam. Di antara 57 pekerja SPBU yang bergangguan merah-hijau, 28 orang atau 49,1 persen tercatat sebagai operator pompa benzena, satu orang operator pompa gasolin, dan 18 orang atau 31,6 persen melayani keduanya. Hanya 10 orang atau 17,5 persen yang memegang tugas lain seperti pengawas atau kasir. Mereka tetap dihitung terpapar bila rutin berada di area pengisian sedikitnya enam bulan.
Susunannya berbalik pada 42 pekerja SPBU yang penglihatan warnanya normal. Operator pompa benzena cuma delapan orang atau 19,0 persen, operator pompa gasolin satu orang, dan yang melayani keduanya 12 orang atau 28,6 persen. Separuhnya, 21 orang, justru bertugas di luar pompa. Para penulis menyimpulkan bahwa sebagian besar orang yang terkena dalam penelitian ini adalah pekerja yang langsung menangani bahan bakar.
Ketajaman mata hampir tidak berbeda di antara kedua kelompok. Pada kelompok bergangguan, 92,0 persen mata kanan dan 90,9 persen mata kiri mencapai ketajaman normal 6/6. Pada kelompok normal angkanya 94,3 dan 92,0 persen. Catatan itu penting bagi para penulis, sebab memastikan bahwa temuan soal warna tidak dikacaukan oleh penglihatan yang memang sudah buruk. Orang-orang ini masih melihat tajam, hanya warnanya yang keliru.
Ada satu selisih dengan riset terdahulu. Angka gangguan penglihatan warna yang teramati di Khartoum lebih tinggi daripada yang dilaporkan Fazeli dan rekan pada petugas SPBU di Teheran. Para penulis tidak memastikan sebabnya. Mereka hanya menyebut beberapa kemungkinan, yakni perbedaan kekuatan paparan, lama bekerja, praktik keselamatan di tempat kerja, atau cara penelitian yang dipakai tiap kelompok peneliti.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Rokok, yang Dicurigai Arda pada 2015, Tidak Terbukti
Rokok semula tampak sebagai tersangka lain. Merokok sangat umum di kedua kelompok: 57 orang atau 64,8 persen pada kelompok bergangguan dan 55 orang atau 62,5 persen pada kelompok normal. Selisih setipis itu tidak cukup. Rasio peluangnya 1,1 dengan rentang kepercayaan 0,6 sampai 2,04 dan nilai p 0,7, sehingga merokok tidak terbukti berkaitan dengan gangguan penglihatan warna dalam penelitian ini.
Di titik ini naskah berbeda arah dari Arda dan rekan, yang melaporkan bahwa merokok menahun dapat memengaruhi kemampuan membedakan warna pada orang muda. Ali dan rekan tidak membantah laporan itu. Mereka hanya mencatat bahwa pada populasi yang mereka periksa, paparan pelarut di tempat kerja tampak sebagai faktor risiko yang lebih menonjol daripada rokok.
Beda pendapat juga muncul soal lamanya bekerja. Semple dan rekan menemukan bahwa makin lama pekerja galangan kapal terpapar pelarut, makin besar kehilangan penglihatan warnanya. Lacerda dan rekan, yang memeriksa petugas SPBU, mendapati kaitan yang lemah atau tidak konsisten. Menurut para penulis, ketidakcocokan itu mengisyaratkan bahwa paparan kumulatif, kerentanan tiap orang, dan susunan pelarut sama-sama ikut menentukan hasil akhirnya.
Mata yang Tidak Mengeluh, Seperti Dicatat Pramanik
Hampir tidak ada yang mengeluh. Pada kelompok bergangguan, hanya 10 orang atau 11,4 persen yang merasa pandangannya kabur, lima orang matanya berair, lima orang matanya merah, dan masing-masing dua orang merasa perih serta gatal. Kelompok normal tidak jauh berbeda: 10 orang berair, empat kabur, tiga merah. Pola itu sejalan dengan laporan Pramanik dan rekan, yang tidak menemukan kaitan bermakna antara gangguan penglihatan warna dan keluhan mata yang terasa.
“Temuan ini mengisyaratkan bahwa gangguan penglihatan warna dapat terjadi secara subklinis, sehingga menegaskan pentingnya pemeriksaan rutin ketimbang mengandalkan gejala yang dilaporkan sendiri,” tulis Ali, Abdelrahman, dan Magzoub dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Tidak seorang pun peserta melaporkan riwayat keluarga buta warna bawaan. Para penulis mengaitkannya dengan Osman dan rekan, yang menemukan jenis kelamin laki-laki dan riwayat keluarga sebagai penanda gangguan bawaan, bukan gangguan akibat pekerjaan.
Perlindungan di tempat kerja nyaris tidak ada. Tak satu pun pekerja SPBU melaporkan rutin memakai kacamata pelindung ketika mengisi bahan bakar. Yang pernah memeriksakan mata dalam setahun terakhir hanya 11 orang atau 12,5 persen pada kelompok bergangguan dan sembilan orang atau 10,2 persen pada kelompok normal. Jumlah yang persis sama mengaku didorong atasannya untuk rutin memeriksakan mata.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Batas yang Diakui Ali, Abdelrahman, dan Magzoub
Para penulis sendiri memasang beberapa pagar. Alat uji yang mereka pakai, buku tes Ishihara, pada dasarnya dirancang untuk menangkap gangguan merah-hijau bawaan. Padahal, menurut riset Muttray dan rekan serta Paramei dan rekan yang dirujuk naskah, kerusakan akibat pelarut lebih sering menyerang sumbu biru-kuning, bahkan pada paparan rendah. Alat yang lebih peka, seperti tes Farnsworth D-15 yang dipakai Sedighi, tidak tersedia di lapangan saat data dikumpulkan.
Kadar benzena juga tidak diukur, baik di udara SPBU maupun di tubuh pekerja, karena keterbatasan sumber daya. Paparan hanya dibedakan menjadi bekerja di SPBU atau tidak. “Penilaian paparan yang bersifat potong lintang membatasi penarikan kesimpulan sebab-akibat. Faktor perancu yang tersisa tidak dapat disingkirkan,” tulis ketiganya. Mereka meminta hasilnya dibaca sebagai kaitan, lalu menyarankan penelitian lanjutan yang mengikuti pekerja dari waktu ke waktu dengan uji warna yang lebih lengkap.
Angka dalam Naskah 2026 yang Layak Dibaca Ulang
Beberapa bagian naskah patut diperiksa pembaca. Rasio peluang yang sudah disesuaikan beserta rentang kepercayaannya, 1,09 sampai 3,66, hanya muncul di abstrak, sedangkan tabel di badan naskah memuat angka 2,0 dan nilai p saja. Kelompok pembanding disebut direkrut dari masyarakat umum, tetapi 42 anggotanya ternyata pekerja SPBU. Jumlah perokok pada kelompok bergangguan juga persis sama dengan jumlah pekerja SPBU di kelompok itu, yakni 57 orang.
Dua hal lain lebih kecil. Naskah mencatat 39 orang atau 44,3 persen kelompok bergangguan menjalani pemeriksaan penglihatan rutin, padahal yang memeriksakan mata setahun terakhir hanya 11 orang. Kalimat tentang riwayat penyakit mata keluarga menyebut katarak dan glaukoma masing-masing dua kali tanpa menerangkan kelompoknya. Satu rujukan di daftar pustaka pun masih memuat nomor halaman berupa deretan huruf X.
Dengan segala batasnya, penelitian Khartoum ini menambah satu mata rantai pada deretan yang sudah dirangkai Sedighi di Isfahan, Fazeli di Teheran, dan Costa di Brasil. Sambungannya kini sampai ke Afrika, ke 19 SPBU tempat para pemegang pompa bekerja tanpa kacamata pelindung dan tanpa keluhan. Mata rantai berikutnya, menurut para penulis sendiri, masih menunggu pengukuran benzena dan uji warna biru-kuning.















