Remaja Tuli Nepal Takut Berobat karena Sulit Bicara dengan Dokter

A A

Ilustrasi Kota Baglung Bazar di lembah perbukitan dengan puncak bersalju Dhaulagiri di kejauhan, Nepal [Foto: Princea1peace/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 87 siswa, hampir dua dari tiga, merasa terganggu oleh lamanya menunggu di rumah sakit.
  • Hanya 34 siswa, kira-kira satu dari empat, yang ditemani juru bahasa isyarat.
  • Hanya 50 siswa yang pernah mendengar tentang asuransi, dan cuma enam yang memilikinya.
  • Daftar rekomendasinya memuat dua belas butir, tetapi butir kelima dan keenam berbunyi sama persis.
Daftar Isi
  1. Jarak yang dekat tidak membuat antrean lebih mudah dijalani
  2. Empat cara bercakap di ruang periksa, tiga di antaranya darurat
  3. Ragu pada obat, lalu enggan kembali ke rumah sakit
  4. Sikap petugas ikut menentukan siswa berani bertanya atau tidak
  5. Sekolah menopang biaya, sementara asuransi hampir tidak dikenal
  6. Kursus setengah hari untuk dokter, pegawai, sampai apoteker
  7. Di mana penjelasan ini berhenti

Rumah sakit tidak jauh dari asrama. Sekolah ikut menanggung ongkos, mengantar siswa yang sakit, dan menghubungi orang tua bila keadaan darurat. Dengan bekal seperti itu, berobat semestinya perkara ringan bagi para siswa Dhaulagiri Deaf Residential Secondary School di Baglung, distrik berbukit dekat Pokhara di Nepal barat. Nyatanya tidak. Banyak di antara mereka justru takut, ragu, dan menaruh curiga kepada orang yang seharusnya menolong.

Kejanggalan itu dicatat Sadikshya Poudel dan Bhawana Panta dalam artikel Healthcare access barriers among deaf adolescents in nepal: a cross-sectional study to inform provider awareness, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keduanya berasal dari Department of Public Health, Nobel College, Kathmandu. Mereka menanyai 135 siswa tuli di sekolah berasrama itu, dari kelas delapan sampai jenjang diploma, yang semuanya memakai bahasa isyarat Nepal sebagai bahasa utama sehari-hari.

Siswa-siswa itu rata-rata berusia hampir 20 tahun, terdiri atas 95 laki-laki dan 40 perempuan. Sembilan dari sepuluh tidak memakai alat bantu dengar apa pun; hanya sepuluh orang memakai alat bantu dengar, satu orang implan koklea, dan dua orang memakai keduanya. Tiga dari empat siswa tuli sejak lahir. Pada 35 siswa lainnya, ketulian datang belakangan, terutama karena sakit, lalu karena cedera dan kejadian saat berenang.

Jarak yang dekat tidak membuat antrean lebih mudah dijalani

Soal jarak memang nyaris tidak menjadi masalah. Hanya 16 siswa, atau 11,9 persen, yang mengaku sulit mencapai tempat berobat, dan kedua peneliti menduga sebabnya sederhana: sekolah itu berdekatan dengan fasilitas kesehatan. Persoalannya muncul sesudah mereka tiba. Sebanyak 87 siswa, hampir dua dari tiga, merasa terganggu oleh lamanya menunggu di rumah sakit.

Yang membuatnya rumit, menunggu bagi orang tuli berjalan dengan cara lain. Panggilan dan pemberitahuan di ruang tunggu disampaikan dengan suara, sehingga mereka tidak menerima kabar apa pun tentang giliran, dan tiap penundaan menambah ketidakpastian serta kecemasan. Karena itu Poudel dan Panta menulis, dalam naskah berbahasa Inggris, bahwa “tantangan intinya bukanlah menunggu itu sendiri, melainkan ketiadaan komunikasi yang dapat diakses”.

Ada lapisan lain yang tidak terlihat dari luar. Seorang siswa yang diwawancarai mengatakan mereka tidak mendapat kursi bagi penyandang disabilitas karena tidak tampak seperti penyandang disabilitas. Siswa lain mengaku benci menunggu: menunggu janji temu, menunggu dokter, lalu menunggu obat gratis yang jarang ia peroleh. Dari cerita seperti itu lahir usul mereka, yakni antrean terpisah, tempat duduk khusus, dan pengumuman giliran yang bisa dibaca mata.

Baca juga Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara

Empat cara bercakap di ruang periksa, tiga di antaranya darurat

Begitu berhadapan dengan petugas, para siswa memakai apa saja yang tersedia. Paling banyak menulis di kertas, yakni 56 siswa atau 41,5 persen. Sebanyak 35 siswa mengandalkan gerak tangan, dan sepuluh siswa mencoba membaca gerak bibir. Hanya 34 siswa, kira-kira satu dari empat, yang ditemani juru bahasa isyarat. Hasilnya terbaca pada satu angka: cuma 51 siswa, atau 37,8 persen, yang merasa mudah berkomunikasi dengan petugas kesehatan.

Cara siswa tuli bercakap dengan petugas kesehatanMenulis di kertas (56 siswa): Persen dari 135 siswa +41,5%; Gerak tangan (35 siswa): Persen dari 135 siswa +25,9%; Juru bahasa isyarat (34 siswa): Persen dari 135 siswa +25,2%; Membaca gerak bibir (10 siswa): Persen dari 135 siswa +7,4%.Cara siswa tuli bercakap dengan petugaskesehatanCara yang dipakai saat berobat, persen10%20%30%40%50%0Menulis di kertas (56 siswa)41,5%Gerak tangan (35 siswa)25,9%Juru bahasa isyarat (34 siswa)25,2%Membaca gerak bibir (10 siswa)7,4%Hanya 51 siswa (37,8 persen) yang merasa mudah berkomunikasidengan petugas.
Sumber: Sadikshya Poudel dan Bhawana Panta, Healthcare access barriers among deaf adolescents in nepal: a cross-sectional study to inform provider awareness, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiap cara darurat itu punya titik lemahnya sendiri. Membaca gerak bibir hanya berhasil bila lawan bicara pelan, dan seorang siswa mengaku bisa mengerti petugas yang berbicara lambat, tetapi kebanyakan berbicara sangat cepat sehingga gerak bibir mereka tidak tertangkap. Meminta diulang pun jarang dilakukan. Hanya 24 siswa, atau 17,8 persen, yang pernah meminta petugas mengulang petunjuk yang tidak jelas.

Cara keempat, juru bahasa, justru yang paling langka. Menurut seorang siswa, juru bahasa hanya ada di rumah sakit pusat, padahal setiap rumah sakit semestinya memilikinya. “Juru bahasa itu seperti jembatan kami,” kata siswa itu dalam wawancara, yang dicatat penulis tanpa nama dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Permintaan serupa berulang pada siswa lain: juru bahasa isyarat di semua rumah sakit.

Ragu pada obat, lalu enggan kembali ke rumah sakit

Percakapan yang putus itu tidak berhenti sebagai rasa kikuk di ruang periksa. Ia berjalan terus sampai ke obat yang dibawa pulang. Seorang siswa mengaku selalu ragu terhadap obatnya karena tidak bisa bertanya langsung kepada petugas, sehingga ia tidak yakin apakah obat yang diterimanya benar. Hambatan seperti itu, katanya, membuat mereka kehilangan semangat untuk pergi ke rumah sakit.

Di sinilah rantainya tersambung. Petunjuk yang tidak dimengerti melahirkan ragu, ragu melahirkan takut, dan takut menjauhkan orang dari layanan yang sebenarnya tersedia di dekatnya. Dua kalimat siswa yang dikutip naskah menyebutkannya terang-terangan: mereka takut dan segan mengakses layanan kesehatan karena komunikasi yang buruk, dan mereka tidak percaya kepada petugas kesehatan karena sebab yang sama. Kedua peneliti mencatat, ketidakpastian itu menyurutkan niat berobat pada kesempatan berikutnya.

Sikap petugas ikut menentukan siswa berani bertanya atau tidak

Sulitnya bercakap diperberat oleh cara siswa itu diperlakukan. Hanya 42 siswa, atau 31,1 persen, yang menilai petugas kesehatan ramah, dan lebih sedikit lagi, 37 siswa, yang merasa nyaman saat berhadapan dengan mereka. Sebanyak 41 siswa mengaku mendapat perhatian khusus. Di sisi sebaliknya, 21 siswa merasa diperlakukan buruk oleh petugas kesehatan dan 18 siswa oleh pegawai lain di fasilitas kesehatan.

Wawancara memperlihatkan bentuknya. Orang yang bisa mendengar, kata seorang siswa, memahami segala hal dengan mudah, sedangkan mereka tidak, dan petugas selalu enggan menjelaskan sesuatu kepada mereka. Poudel dan Panta membaca keengganan itu sebagai anggapan bahwa pasien tuli toh tidak akan mengerti. Siswa lain menuliskan gejalanya di kertas saat mendatangi apoteker, dan apoteker itu kadang menertawakannya.

Karena itu kedua peneliti menempatkan komunikasi dan sikap petugas sebagai hambatan terbesar, di atas jarak dan biaya. Banyak petugas, tulis mereka, berbicara dengan cara yang lazim bagi pasien berpendengaran biasa: cepat dan hanya lewat ucapan. Cara itu tidak selalu membuat pasien tuli paham. Akibatnya terasa pada dua hal sekaligus, yaitu pemahaman pasien dan rasa percaya dirinya selama diperiksa.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Sekolah menopang biaya, sementara asuransi hampir tidak dikenal

Uang tetap menjadi ganjalan walau bukan yang utama. Hampir separuh siswa, 67 orang, kadang-kadang kesulitan biaya ketika berobat, dan 23 siswa mengalaminya secara rutin. Hanya 24 siswa yang tidak pernah terkendala biaya. Ketika ditanya siapa yang membayar, dengan jawaban boleh lebih dari satu, 105 siswa menyebut sekolah yang didanai pemerintah, 67 siswa menyebut kantong sendiri, dan masing-masing 52 siswa menyebut layanan gratis pemerintah serta lembaga amal.

Jalur yang semestinya meringankan beban itu, asuransi kesehatan, nyaris tidak sampai kepada mereka. Hanya 50 siswa yang pernah mendengar tentang asuransi, dan cuma enam yang memilikinya. Seorang siswa mengatakan belum pernah mendengar soal asuransi karena tidak ada yang memberitahunya. Siswa lain tidak punya, tetapi ingin punya. Obat gratis dari layanan pemerintah, menurut mereka, juga jarang didapat.

Siswa tuli yang punya asuransi kesehatan6 dari 135 siswa, atau 4,4%.Siswa tuli yang punya asuransi kesehatanDari 135 siswa sekolah tuli berasrama di Baglung, Nepal6 siswa punya asuransi (4,4%)129 siswa tidak punyaTotal 135 siswaYang pernah mendengar tentang asuransi kesehatan 50 siswa (37persen).
Sumber: Sadikshya Poudel dan Bhawana Panta, Healthcare access barriers among deaf adolescents in nepal: a cross-sectional study to inform provider awareness, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sekolah mengisi banyak celah itu. Para peneliti mencatat perannya: mendampingi kunjungan ke rumah sakit, mengabari orang tua saat darurat, serta menyediakan penginapan dan makan bagi keluarga yang datang menjenguk. Seorang siswa menyampaikan terima kasih kepada sekolah yang telah menyayangi dan merawat mereka dengan baik. Dari sana kedua peneliti mengusulkan agar pengenalan asuransi dan kartu identitas disabilitas dilakukan lewat sekolah dan organisasi.

Kursus setengah hari untuk dokter, pegawai, sampai apoteker

Usul pokok naskah itu tidak mahal. Poudel dan Panta menyarankan program pengenalan ketulian selama setengah hari bagi tenaga kesehatan, pegawai pendukung, dan apoteker eceran, yang di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah kerap menjadi tempat pertama orang mencari obat. Isinya hal-hal sederhana: berbicara jelas, menjaga kontak mata, tidak menutupi raut wajah, memakai gerak tangan dan catatan tertulis, serta memanfaatkan juru bahasa.

Usul lainnya menyasar sistem. Materi tentang ketulian dimasukkan ke pendidikan kedokteran, keperawatan, dan tenaga kesehatan lain. Juru bahasa isyarat yang terlatih ditempatkan di rumah sakit yang ramai, dan layanan juru bahasa jarak jauh lewat video disediakan bagi tempat yang tidak memilikinya. Rekam pasien diberi ikon gangguan dengar supaya petugas tahu, sedangkan pasien tuli yang datang sendirian menerima pemberitahuan giliran secara visual.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Di mana penjelasan ini berhenti

Temuan itu punya batas yang diakui penulisnya. Semua siswa berasal dari satu sekolah berasrama, sehingga belum tentu mewakili remaja tuli Nepal di tempat lain, apalagi orang dewasa atau mereka yang gangguan dengarnya ringan. Wawancara berlangsung dalam bahasa isyarat dengan guru sebagai penerjemah, yang bisa memengaruhi keterbukaan siswa saat membicarakan petugas kesehatan setempat. Angka-angkanya pun hanya memotret keadaan, tidak menguji hubungan sebab dan akibat.

Beberapa hal dalam naskah patut diperiksa pembaca. Daftar rekomendasinya memuat dua belas butir, tetapi butir kelima dan keenam berbunyi sama persis. Ringkasan menyebut sekolah itu satu-satunya lembaga tingkat menengah yang menerima siswa tuli dari seluruh negeri, sedangkan pembahasan menyebutnya satu dari empat sekolah menengah bagi siswa tuli. Persentase sumber biaya, misalnya 82 persen untuk 105 siswa, juga tidak sejalan dengan jumlah 135 siswa yang tertera di kepala tabel.

Rumah sakit yang dekat dan sekolah yang menanggung ongkos ternyata hanya menyelesaikan separuh perjalanan. Separuh lainnya terjadi di ruang tunggu dan di meja periksa, pada saat seorang siswa tidak tahu gilirannya, tidak menangkap ucapan yang terlalu cepat, dan pulang dengan obat yang ia ragukan. Jawaban atas kejanggalan di Baglung itu ada pada jembatan yang diminta para siswa: seseorang yang mau, dan mampu, menjelaskan.

Bagikan

Baca Juga

Latihan CPR Sejuta Warga San Diego Bisa Selamatkan 399 Nyawa
Gemuk Sejak Usia 20-an, Tekanan Darah Karyawan Jepang Terus Naik
Rokok di Wuhan Makin Terjangkau Setelah Larangan Merokok Berlaku
Makanan Ultra-Olahan Naik di Piring Tenaga Kesehatan Saat Sif
Asma Anak Lebih Sering Kambuh Saat Jadwal Kerja Orang Tua Kacau
Korban Tenggelam di Ghana Umumnya Lelaki dan Tak Bisa Berenang