Punya Kebun di Rumah, Warga Prancis Lebih Sering Digigit Caplak

A A

Ilustrasi jalur setapak tanah menanjak di tengah hutan pohon konifer di Prancis [Foto: Tiia Monto/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Punya kebun di rumah berkaitan dengan gigitan caplak yang lebih sering.
  • Dari 1.232 episode yang tercatat tempatnya, 59,2 persen terjadi di hutan.
  • Tinggal di sana hampir menggandakan risiko, 1,94 kali dibanding Ile-de-France.
  • Hanya 108 dari 1.306 episode, atau 8,3 persen, diikuti kunjungan ke dokter umum.
Daftar Isi
  1. Sebelas Persen Digigit
  2. Puncak pada Juni
  3. Hutan dan Padang Rumput
  4. Grand Est Tertinggi
  5. Perempuan dan Pemilik Kebun
  6. Pelindung yang Tak Melindungi
  7. Batas Penelitian
  8. Catatan atas Naskah

Punya kebun di rumah berkaitan dengan gigitan caplak yang lebih sering. Begitu salah satu temuan survei atas 4.840 orang dewasa di Prancis yang ditanyai berulang selama lebih dari dua tahun. Peluang pemilik halaman hijau melaporkan gigitan tercatat 1,46 kali peluang mereka yang tidak punya.

Temuan itu ditulis Ilona Eveline Suhanda, Camille Bonnet, Jonas Durand, Julia González, Marion Debin, dan Raphaëlle Métras. Artikelnya berjudul Behavioural and environmental factors associated with the risk of human tick bites in the Grippenet/Covidnet cohort in France. Naskah itu dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit, tahun 2026.

Lima penulis bekerja di Institut Pierre Louis d’Épidémiologie et de Santé Publique, Sorbonne Université dan INSERM, Paris. Durand bekerja di University of Lorraine, Nancy. Mereka menanyai peserta kohort daring Grippenet/Covidnet sebanyak tujuh kali, dari November 2022 sampai Februari 2025.

Caplak adalah hewan pengisap darah yang bisa menularkan kuman penyakit kepada manusia. Penyakit akibat caplak yang paling umum di Prancis adalah Lyme borreliosis, yang bisa menyerang kulit, sendi, atau sistem saraf. Naskah itu menyebut angkanya 53 kasus per 100.000 penduduk pada 2024.

Sebelas Persen Digigit

Sebanyak 535 peserta, atau 11,1 persen, melaporkan gigitan caplak selama masa survei. Itu kira-kira satu dari sembilan orang, dan bersama-sama mereka mencatat 1.348 episode gigitan. Lebih dari separuhnya, 275 orang atau 51,4 persen, melaporkan dua episode atau lebih.

Pengalaman digigit juga bukan hal langka bagi peserta. Sebanyak 2.295 orang, atau 47,4 persen, pernah digigit caplak setidaknya sekali seumur hidup. Hampir semua peserta, 97,7 persen, sudah tahu tentang caplak atau penyakit yang dibawanya saat pertama kali mengisi survei.

Tim Suhanda lalu menaksir angka untuk seluruh negeri. Hasilnya, 5.615 orang per 100.000 penduduk digigit setidaknya sekali pada Maret 2023 sampai Februari 2024. Setahun kemudian angkanya 5.402 per 100.000 penduduk, atau lima sampai enam dari tiap seratus orang.

Gigitan caplak dalam angkaDari 4.840 peserta, 535 orang melaporkan 1.348 episode gigitan caplak; 8,3 persen episode diikuti kunjungan ke dokter umum.Gigitan caplak dalam angkaLaporan peserta kohort Grippenet/Covidnet4.840Peserta surveiOrang dewasa diPrancis535Orang digigit11,1 persenpeserta1.348EpisodeGigitan selamasurvei8,3%Berujung kedokter108 episodeJalan risetnyaTujuh survei daringNovember2022-Februari 2025Gigitan dilaporkansendiriAngka 8,3 persen dihitung dari 1.306 episode.
Sumber: Ilona Eveline Suhanda, Camille Bonnet, Jonas Durand, Julia González, Marion Debin, dan Raphaëlle Métras, Behavioural and environmental factors associated with the risk of human tick bites in the Grippenet/Covidnet cohort in France, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Puncak pada Juni

Gigitan mengikuti musim. Laporan terbanyak datang pada Juni 2023, yaitu 142 episode dalam sebulan. Puncak kedua jatuh pada Juni 2024 dengan 138 episode, hampir sama tingginya dengan tahun sebelumnya.

Pada survei Maret sampai Juni dan Juli sampai Oktober, sekitar 5 sampai 6 persen peserta digigit. Pada survei November sampai Februari angkanya di bawah 2 persen. Para penulis menyebut pola ini serupa dengan musim caplak aktif mencari inang, yang memuncak pada Mei sampai Juni dan September.

Suhu ikut berperan dalam hitungan mereka. Suhu rata-rata di atas 7 derajat Celsius di sekitar tempat tinggal berkaitan dengan risiko gigitan yang lebih tinggi. Para penulis menduga orang lebih jarang keluar rumah atau berpakaian lebih tebal saat udara dingin.

Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat

Hutan dan Padang Rumput

Hutan adalah tempat gigitan tersering. Dari 1.232 episode yang tercatat tempatnya, 59,2 persen terjadi di hutan. Padang rumput menyusul dengan 40,6 persen, lalu kebun pribadi dengan 27,3 persen, karena satu episode boleh menyebut lebih dari satu tempat.

Tempat lain jarang disebut, masing-masing kurang dari 5 persen episode. Taman umum muncul di 19 episode, tepi perairan di 20 episode, dan lahan pertanian di 52 episode. Ada pula 28 episode yang dilaporkan terjadi di dalam rumah.

Di mana caplak menggigit orang PrancisHutan: Bagian dari episode gigitan +59,2%; Padang rumput: Bagian dari episode gigitan +40,6%; Kebun pribadi: Bagian dari episode gigitan +27,3%.Di mana caplak menggigit orang PrancisPersentase dari 1.232 episode gigitan yang tercatat tempatnya20%40%60%80%0Hutan59,2%Padang rumput40,6%Kebun pribadi27,3%Satu episode boleh menyebut lebih dari satu tempat, jadi jumlahnyamelebihi 100 persen.
Sumber: Ilona Eveline Suhanda, Camille Bonnet, Jonas Durand, Julia González, Marion Debin, dan Raphaëlle Métras, Behavioural and environmental factors associated with the risk of human tick bites in the Grippenet/Covidnet cohort in France, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hitungan risikonya searah dengan catatan tempat itu. Peserta yang mengunjungi hutan berpeluang 2,35 kali lebih besar melaporkan gigitan. Untuk mereka yang mengunjungi padang rumput, angkanya 1,92 kali dibanding peserta yang tidak ke sana.

Lingkungan sekitar rumah juga terbaca dalam data. Setiap tambahan 10 persen tutupan hutan dan lahan semi-alami dalam radius 10 kilometer menaikkan risiko 12 persen. Makin luas permukaan buatan di sekitar rumah, risikonya makin rendah.

Kebanyakan gigitan terjadi saat orang bersantai. Jalan kaki, mendaki, piknik, dan berkebun mencakup 82,1 persen episode. Olahraga menyumbang 10,1 persen, pekerjaan 2,5 persen, serta berburu dan memancing 0,6 persen.

Seberapa sering orang keluar juga menentukan. Mereka yang beraktivitas di area hijau dua sampai tiga kali seminggu berpeluang 1,36 kali lebih besar digigit. Pada yang keluar setiap hari angkanya 1,97 kali, keduanya dibanding peserta yang keluar sekali seminggu.

Grand Est Tertinggi

Wilayah Grand Est di timur laut mencatat taksiran tertinggi. Angkanya melampaui 10.000 per 100.000 penduduk pada kedua tahun yang dihitung. Tinggal di sana hampir menggandakan risiko, 1,94 kali dibanding Île-de-France.

Dalam jumlah episode, urutannya berbeda. Nouvelle-Aquitaine mencatat 235 episode dan Auvergne-Rhône-Alpes 229 episode, masing-masing sekitar 18 persen. Occitanie mencatat 177 episode dan Grand Est 160 episode.

Selatan lebih sepi. Provence-Alpes-Côte d’Azur hanya mencatat 29 episode, dan tinggal di sana berkaitan dengan risiko lebih rendah. Tidak ada peserta yang melaporkan gigitan di Korsika, yang menurut para penulis mungkin karena jumlah pesertanya di pulau itu terbatas.

Para penulis mengaitkan pola itu dengan sebaran caplak Ixodes ricinus, jenis yang paling umum di Prancis. Timur laut, tengah, dan barat daya negeri itu dianggap habitat yang cocok baginya. Kawasan Mediterania dinilai kurang mendukung.

Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang

Perempuan dan Pemilik Kebun

Perempuan lebih sering melaporkan gigitan, dengan peluang 1,30 kali peluang laki-laki. Survei nasional Santé publique France yang dirujuk naskah itu justru menemukan sebaliknya, 5,3 persen laki-laki berbanding 4,5 persen perempuan. Para penulis menduga perempuan lebih waspada dan lebih rajin memeriksa badannya.

Usia juga membedakan. Peserta berusia 45 sampai 74 tahun dan 75 tahun ke atas berisiko lebih rendah daripada kelompok 18 sampai 44 tahun. Para penulis menduga orang yang lebih tua lebih jarang beraktivitas di luar ruang, atau punya kebiasaan berobat yang berbeda.

Soal kebun, hasilnya tampak bertolak belakang. Punya halaman hijau di rumah, berupa kebun atau ladang, menaikkan risiko gigitan. Namun beraktivitas di kebun pribadi justru berkaitan dengan risiko yang lebih rendah.

Angka mentahnya menunjukkan hal serupa. Di antara pemilik halaman hijau, 6,2 persen yang tidak beraktivitas di kebun melaporkan gigitan. Pada yang beraktivitas di kebun angkanya 4,4 persen, sedangkan pada peserta tanpa halaman hijau angkanya sekitar 2 persen.

Para penulis meminta hasil itu dibaca hati-hati. Pertanyaan soal kebun mengukur kemungkinan terpapar, bukan tempat gigitan terjadi. Orang yang menghabiskan waktu di kebun, tulis mereka, belum tentu digigit di sana.

Pelindung yang Tak Melindungi

Temuan paling ganjil menyangkut pencegahan. Celana panjang, lengan panjang, atau obat penolak dipakai dalam 33,4 persen laporan kegiatan luar ruang. Pemakainya justru lebih sering melaporkan gigitan.

Peserta yang kadang-kadang memakai pelindung berpeluang 1,63 kali lebih besar melaporkan gigitan. Pada yang selalu memakainya angkanya 1,46 kali. Keduanya dibanding peserta yang tidak memakai pelindung apa pun.

Para penulis tidak menyimpulkan pelindung itu sia-sia. Mereka menduga pemakainya lebih waspada terhadap caplak atau memang lebih sering berada di luar ruang. Hasil obat penolak, tulis mereka, juga bergantung pada jenis bahan dan takarannya.

“Tindakan perlindungan diri terhadap gigitan caplak tidak 100 persen melindungi, dan efektivitasnya sangat bergantung pada cara penerapannya,” tulis Suhanda dan rekan-rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris, dan muncul ketika mereka menimbang hasil yang tak terduga tersebut.

Kelambatan mencabut caplak juga terbaca dalam data. Pada 63,9 persen episode, caplak dicabut dalam 24 jam, dan kebanyakan episode hanya melibatkan satu caplak. Peserta yang pernah mencabut caplak setelah 24 jam melaporkan episode gigitan 1,75 kali lebih banyak.

Sedikit yang pergi ke dokter. Hanya 108 dari 1.306 episode, atau 8,3 persen, diikuti kunjungan ke dokter umum. Dihitung per orang, 79 dari 535 peserta yang digigit pernah berkonsultasi, atau 14,8 persen.

Baca juga Rabies Klang Valley: Tahu Harus ke Klinik, yang Pergi Sepertiga

Batas Penelitian

Peserta survei tidak mewakili penduduk Prancis. Usia tengah mereka 63 tahun, dan 59,6 persen di antaranya perempuan. Kohort ini juga berminat pada kesehatan, sehingga menurut para penulis taksiran gigitannya bisa terlalu tinggi.

Semua gigitan dilaporkan sendiri, jadi ingatan peserta bisa meleset. Jenis caplak yang menggigit tidak dicatat. Gigitan di luar wilayah tempat tinggal, 16,8 persen episode, tidak masuk taksiran tahunan.

Soal pencegahan, para penulis mengakui kelemahannya sendiri. Mereka tidak menanyakan pelindung mana yang benar-benar dipakai tiap peserta, termasuk kebiasaan memeriksa badan sepulang dari luar. Semua kaitan tadi juga bukan bukti sebab dan akibat.

Catatan atas Naskah

Naskah yang beredar adalah versi diterima yang belum disunting. Tabel hasilnya belum terpasang di badan teks, dan tempatnya masih ditandai tulisan “Insert Table 1 here”. Istilahnya pun tidak seragam: bagian hasil menyebut 34,7 persen caplak dicabut hari berikutnya dalam 48 jam, sedangkan model hitungnya memakai kategori setelah 24 jam.

Risiko lebih rendah pada kegiatan olahraga baru muncul di bagian pembahasan, tidak di paragraf hasil. Besarnya tidak dicantumkan di sana, sehingga pembaca perlu menunggu tabel final untuk memeriksa angkanya.

Kebun di rumah, hutan di sekitar, dan kaki yang sering melangkah keluar menandai siapa yang digigit. Caplaknya sendiri, jenis dan kuman yang dibawanya, belum ikut diperiksa dalam survei ini.

Bagikan

Baca Juga

Label Peringatan Gula Makanan Bayi Bisa Kalah oleh Klaim Alami
Main Ponsel Sejam Sebelum Tidur, Mahasiswa Tiongkok Kurang Lelap
Rumah Sakit Gratis, Korban Kecelakaan di Tehran Tetap Merugi
Stunting di Kenya Lebih Sering Menimpa Anak Ibu Petani dan PRT
Pria Austria Baru Mengurus Kesehatan Setelah Badannya Sakit
Warga Inggris di Tempat Lebih Panas Lebih Jarang Radang Lutut