- Sebagian besar pencemar meninggi pada musim dingin, ketika pemanas menyala dan jendela jarang dibuka.
- Asma tampil paling peka, dengan risiko relatif sampai 1,17 terhadap nitrogen dioksida di dalam rumah.
- Diabetes menanggung beban terbesar akibat PM10, yakni 799,52 tahun hidup sehat per 100.000 penduduk.
- Pengamatan setahun atas dua puluh rumah bisa saja meremehkan akibat jangka panjang pencemar udara.
Daftar Isi
Rumah lazim dibayangkan sebagai tempat berlindung dari udara kotor, ruang yang pintunya cukup ditutup agar segala yang mencemari tertinggal di luar. Sebuah penelitian di Dalian, kota di Liaoning, China, mematahkan bayangan itu dengan cara yang tenang, yakni menaruh alat ukur di tengah ruangan dua puluh rumah selama setahun penuh, lalu menyandingkan catatannya dengan jumlah warga yang datang berobat ke poliklinik rumah sakit dari hari ke hari.
Penelitian itu dikerjakan Xueyan Zhang, Rufei Li, Zhaoxuan Wang, Jing Li, Zichao Pan, Jingkai Wang, dan Xingkuo Zhang, dan terbit dengan judul Relative risk and dalys assessment of indoor air pollutants in residential buildings - taking Dalian as an example di BMC Public Health volume 26 nomor 388 tahun 2026. Enam di antara mereka bekerja di Laboratory of Building Environment and New Energy Resources, Dalian University of Technology, sedangkan Jing Li, penulis korespondensi, berasal dari Central Hospital of Dalian University of Technology.
Yang mereka ikuti sepanjang Januari sampai Desember 2024 adalah lima pencemar yang namanya lebih sering terdengar dalam berita tentang udara jalanan, yaitu partikel halus PM2.5 dan PM10, sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), serta karbon monoksida (CO). Alasannya sederhana dan tertulis di awal naskah: orang menghabiskan kira-kira 80 persen waktunya di dalam ruangan, sehingga udara yang paling lama dihirup justru udara rumah sendiri.
Apartemen bertingkat dan dipan bata yang dipanaskan
Dua puluh rumah itu dibagi rata, sepuluh di kota dan sepuluh di desa, dan perbedaan keduanya terasa sejak dari cara menghangatkan ruangan. Rumah kota berupa apartemen dan gedung bertingkat, dari lantai dua sebuah bangunan tiga lantai sampai lantai 27 sebuah menara 29 lantai, dengan pemanas lantai atau radiator. Rumah desa berupa bangunan tiga sampai enam petak, dan delapan di antaranya masih memakai fire kang.
Naskah menjelaskan kang sebagai dipan dari bata atau tanah yang di dalamnya beralur asap, cara menghangatkan rumah yang lazim di pedesaan China utara. Tungku yang menempel padanya membakar bahan bakar padat seperti kayu atau batu bara, asapnya mengalirkan panas lewat badan dipan, dan dipan itu sekaligus menjadi tempat tidur. Di rumah-rumah berkang itu, kayu bakar dicatat sering ditambahkan.
Alat ukur dipasang 1,2 meter dari lantai, setinggi orang bernapas, di tengah ruangan dan sengaja dijauhkan dari kompor, radiator, serta lubang angin, supaya yang terekam adalah udara sehari-hari dan bukan lonjakan sesaat. Hasilnya memperlihatkan musim yang jelas: sebagian besar pencemar meninggi pada musim dingin, ketika pemanas menyala dan jendela jarang dibuka, lalu merendah pada musim panas ketika angin leluasa masuk.
Partikel PM10 dan PM2.5 memuncak pada pertengahan Februari, sedangkan NO2 memuncak pada pertengahan Agustus. Yang lebih mengusik, menurut para penulis, kadar sebagian besar pencemar itu secara konsisten melampaui baku mutu udara dalam ruang, sehingga mereka menyebut adanya kebutuhan mendesak akan cara memperbaiki udara di dalam rumah.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Kenaikan yang kecil, tetapi hampir tanpa kecuali
Namun, kadar yang tinggi belum berkata apa-apa tentang orang sakit, dan di situlah catatan rawat jalan dari Dalian Center for Disease Control and Prevention dipakai. Para peneliti menghitung risiko relatif, angka yang bila lebih besar dari satu berarti kunjungan berobat untuk suatu penyakit cenderung bertambah ketika kadar pencemar naik. Untuk kelima pencemar, hubungan itu positif dan tidak lurus, kadang curam di kadar rendah lalu melandai.
Asma tampil paling peka. Ketika kadar SO2 naik sampai 80 mikrogram per meter kubik, risiko relatif asma bergerak dari 1,04 ke 1,14, dan kenaikan itu bertahan di semua rentang kadar, lebih tegas daripada pada penyakit lain. Terhadap NO2 angkanya lebih tinggi lagi, dari 1,11 ke 1,17 pada kadar 0,25 miligram per meter kubik, dengan lonjakan paling tajam justru di kadar paling rendah.
Jantung iskemik menunjukkan watak serupa terhadap CO, peka sejak kadar nol sampai satu miligram per meter kubik dan terus naik sepanjang rentang ukur, dari 1,05 hingga 1,13 pada kadar empat miligram. Partikel debu, sebaliknya, bekerja lebih pelan: risiko kanker paru dan stroke yang terkait PM2.5 hanya sampai 1,03, dan infeksi saluran napas bawah nyaris tidak bergerak sebelum kadar melewati 120 mikrogram per meter kubik.
PM10 pun demikian, dengan risiko diabetes yang naik dari 1,01 ke 1,04 dan sempat mendatar di kadar menengah, serta risiko kanker paru yang baru menanjak nyata sesudah kadarnya melampaui 100 mikrogram per meter kubik. Angka-angka itu kecil bila dilihat satu per satu, tetapi arahnya sama pada delapan penyakit yang diperiksa, dari diabetes, penyakit pembuluh darah, dan stroke sampai penyakit paru obstruktif kronik.
Beban yang dihitung dengan tahun hidup sehat
Justru sebaliknya yang terjadi ketika risiko itu diterjemahkan menjadi beban penyakit, ukuran yang menggabungkan tahun hidup yang hilang karena kematian dini dengan tahun hidup sehat yang hilang karena kecacatan. Diabetes, yang risikonya hanya naik sampai 1,04, menanggung beban terbesar akibat PM10, yakni 799,52 tahun hidup sehat per tahun untuk setiap 100.000 penduduk. Penyakit pembuluh darah menyusul dalam tiga rupa: 573,27 terkait CO, 488,23 terkait PM10, dan 364,27 terkait SO2.
Infeksi saluran napas bawah menanggung 291,38 dan stroke 152,69, keduanya terkait PM2.5, sementara asma, penyakit yang kurvanya paling curam, tercatat 173,81 untuk NO2 dan 140,76 untuk SO2. Di ujung lain ada kanker paru terkait PM10 yang hanya 8,08 serta penyakit paru obstruktif kronik terkait SO2 sebesar 17,65. Penyakit yang paling peka, dengan kata lain, tidak dengan sendirinya menjadi yang paling berat ditanggung sebuah kota.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Paparan yang tidak selesai dalam sehari
Di situlah persoalannya menjadi lebih panjang daripada satu hari buruk, sebab para peneliti juga menelusuri apa yang terjadi satu sampai tujuh hari sesudah paparan, dan apa yang terjadi bila paparan beberapa hari dijumlahkan. Pada hari yang sama, pengaruh terkuat tetap pada asma, dengan risiko relatif 1,158 untuk NO2 dan 1,097 untuk SO2, disusul jantung iskemik terkait CO sebesar 1,075 dan diabetes terkait PM10 sebesar 1,029.
Hari-hari sesudahnya tidak mengembalikan angka itu ke titik aman. Risiko asma terkait NO2 bertahan di antara 1,139 dan 1,149 sepanjang sepekan, lalu mencapai 1,158 sampai 1,163 ketika paparan dihitung menumpuk. Risiko jantung iskemik terkait CO, bila dijumlahkan, menjadi 1,076 sampai 1,080, sedikit di atas pengaruh seketikanya, dan risiko diabetes terkait PM10 naik ke rentang 1,026 sampai 1,032.
Dari udara jalanan ke udara kamar
Para penulis menempatkan temuan mereka di sebelah penelitian tentang udara luar yang sudah lebih dulu mapan, dan kalimat mereka di bagian itu menjadi poros seluruh naskah. “Dengan memperluas basis bukti dari lingkungan luar ke lingkungan dalam ruang, penelitian ini secara kuantitatif menegaskan bahwa risiko kesehatan dari polusi udara ada bukan hanya di luar ruangan, melainkan juga di dalam ruangan,” tulis Xueyan Zhang dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Perbandingan itu tidak selalu sejajar, dan mereka mengakuinya. Penelitian Pope dan rekan yang mereka kutip mendapati kenaikan PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik berkaitan dengan risiko kematian kanker paru yang 8 persen lebih tinggi, jauh di atas angka Dalian. Penjelasan yang ditawarkan ialah bedanya hal yang dihitung: penelitian terdahulu mengukur kematian, sedangkan mereka mengukur kunjungan rawat jalan, peristiwa kesehatan yang datang lebih awal.
Untuk asma, kecocokannya lebih rapat, sebab penelitian Shiroshita dan rekan tentang kekambuhan asma pada anak melaporkan risiko relatif NO2 antara 1,17 dan 1,29, berdekatan dengan 1,16 sampai 1,18 di Dalian. Dari sana lahir saran yang mereka ajukan bagi kota itu, yakni mendahulukan pengendalian NO2 dan SO2 di dalam rumah, melindungi warga yang rentan terhadap asma dan diabetes, serta membenahi rancangan dan pengoperasian ventilasi bangunan.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Yang belum terjawab, dan yang patut diperiksa lagi
Batas penelitian ini ditulis sendiri oleh para penelitinya. Karena data kunjungan berobat hanya tersedia sebagai jumlah harian seluruh kota, mereka tidak dapat memperhitungkan kebiasaan merokok, keadaan ekonomi, atau riwayat sakit tiap orang, dan mereka juga tidak memisahkan hasil kota dari hasil desa, padahal cara memanaskan rumah di kedua tempat itu berlainan. Pengamatan setahun atas dua puluh rumah, menurut mereka, bisa saja meremehkan akibat jangka panjang, sebab penyakit kronik tumbuh lewat paparan yang lama.
Beberapa hal di dalam naskah juga layak dibaca ulang dengan teliti. Risiko relatif didefinisikan untuk setiap kenaikan 10 mikrogram per meter kubik, padahal CO dan NO2 dilaporkan dalam miligram per meter kubik. Bagian hasil mencatat risiko tertinggi PM2.5 sebesar 1,03, sedangkan bagian pembahasan menuliskannya 1,02 sampai 1,04. Risiko penyakit paru obstruktif kronik terkait NO2 pun tertulis sampai 1,13 pada kurva, tetapi hanya 1,008 pada tabel pengaruh hari yang sama.
Yang tersisa sesudah semua angka itu adalah gambaran yang berbalik dari bayangan semula, yakni rumah yang pintunya tertutup rapat pada musim dingin justru menjadi tempat pencemar berkumpul, dan kunjungan ke poliklinik yang ikut bergerak bersamanya. Kalau dua puluh rumah selama setahun sudah memperlihatkan kaitan sehalus dan seluas itu, seberapa besar bagian dari sakit sebuah kota yang sebenarnya tumbuh dari udara di dalam kamar-kamarnya sendiri?














