- Dua kebiasaan lain lebih jarang, tetapi justru itulah yang paling dicemaskan para penulis karena melibatkan panas.
- Kelompok terakhir paling kecil, hanya 9 persen, dan diberi nama Universal karena melakukan hampir semuanya.
- Pengetahuan memang berkaitan dengan kelompok mana seseorang berada.
- Semua jawaban juga berasal dari pengakuan responden sendiri, bukan dari pengamatan langsung.
Daftar Isi
Orang yang sudah tahu risikonya, begitu anggapan yang lazim, akan menjauh dengan sendirinya dari botol dan gelas plastik. Anggapan itu goyah di Nebraska, Amerika Serikat, tempat lebih dari tiga perempat warga yang disurvei mengaku tahu bahwa wadah plastik bisa melepaskan partikel kecil ke dalam isinya, sementara kira-kira separuh dari seluruh responden tetap minum dari botol air kemasan, botol plastik isi ulang, dan gelas sekali pakai untuk minuman panas.
Gambaran itu disusun Seulki Kim, Kazi Albab Hussain, dan Yusong Li dalam artikel Patterns of plastic food container use as potential sources of MNP exposure: a latent class analysis approach, yang dimuat BMC Public Health volume 26 pada 2026. Kim bekerja di Department of Sociology, sedangkan Hussain dan Li di Department of Civil and Environmental Engineering, semuanya di University of Nebraska-Lincoln. Bahan mereka adalah jawaban 1.454 warga dewasa Nebraska dalam survei sosial tahunan negara bagian itu pada 2023.
Partikel yang dimaksud adalah mikroplastik, yakni serpihan plastik berukuran kurang dari lima milimeter, dan nanoplastik, yang jauh lebih kecil lagi, di bawah satu mikrometer. Naskah menyebut makanan dan minuman sebagai salah satu pintu masuk utamanya ke tubuh. Orang yang memenuhi kebutuhan minumnya hanya dari air kemasan diperkirakan menelan sekitar 90.000 partikel mikroplastik setahun, sedangkan yang hanya minum air keran sekitar 4.000 partikel.
Enam kebiasaan yang tampak sepele
Survei itu menanyakan enam kebiasaan, dan empat di antaranya ternyata dijalani kira-kira satu dari dua orang. Sebanyak 47,2 persen responden minum air dari botol kemasan, 52,3 persen memakai botol plastik isi ulang, 50,5 persen meminum minuman lain yang dikemas plastik, dan 48,7 persen memakai gelas sekali pakai untuk teh atau minuman panas lain. Di Amerika Serikat, catat naskah, konsumsi air kemasan mencapai 47 galon per orang per tahun pada 2021, melampaui minuman ringan.
Dua kebiasaan lain lebih jarang, tetapi justru itulah yang paling dicemaskan para penulis karena melibatkan panas. Sekitar 26,8 persen responden pernah memanaskan air atau minuman di dalam microwave, dan 38,5 persen pernah membiarkan botol minuman di dalam mobil atau di bawah terik matahari lebih dari tiga puluh menit pada musim panas. Naskah menegaskan bahwa pemanasan di microwave dapat melepaskan partikel plastik dalam jumlah yang sangat tinggi.
Seberapa banyak partikel yang lepas, menurut para penulis, sangat bergantung pada keadaan: bahan wadah dan zat tambahannya, sifat makanan seperti keasaman, serta cara wadah itu dipakai, mulai dari dipanaskan, dipakai berulang, sampai suhu penyimpanannya. Dampak partikel itu bagi kesehatan manusia, tulis mereka, belum sepenuhnya jelas. Karena itulah cara orang memperlakukan botol dan gelasnya sehari-hari menjadi pokok perhatian.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Empat cara hidup bersama plastik
Namun, kebiasaan itu tidak tersebar merata seperti gula yang larut di dalam teh. Para peneliti menemukan empat kelompok warga dengan pola yang berlainan, dan seperempat responden masuk kelompok yang mereka namai Conservative Users, pengguna hemat. Peluang anggota kelompok ini minum dari botol air kemasan hanya 15,2 persen, memakai gelas sekali pakai 10,0 persen, dan memanaskan minuman di microwave 1,5 persen.
Kelompok terbesar, 42 persen responden, adalah Portable Beverage Users, orang-orang yang minumannya serba botolan dan mudah dibawa. Peluang mereka minum dari botol air kemasan 79,1 persen, dari botol plastik isi ulang 73,1 persen, dan dari kemasan plastik lain 67,5 persen. Kebiasaan yang melibatkan panas ada pada mereka, tetapi tidak menonjol: memanaskan minuman di microwave 23,0 persen dan menyimpan botol di tempat panas 45,3 persen.
Kelompok ketiga, 24 persen responden, disebut Frequent Disposable Cup Users. Botol bukan ciri mereka, sebab peluang minum dari botol air kemasan hanya 10,9 persen, sementara peluang memakai gelas sekali pakai untuk minuman panas melonjak sampai 85,4 persen. Kebiasaan lainnya berada di tengah, antara kelompok hemat dan kelompok terakhir, misalnya 33,8 persen untuk memanaskan minuman di microwave.
Kelompok terakhir paling kecil, hanya 9 persen, dan diberi nama Universal karena melakukan hampir semuanya. Peluang mereka minum dari botol air kemasan 84,9 persen, memanaskan minuman di microwave 94,3 persen, menyimpan botol di tempat panas 83,6 persen, dan memakai gelas sekali pakai tercatat penuh, 100 persen. Bagi para penulis, pola inilah yang mengkhawatirkan, karena minum dari plastik yang sering berpadu dengan paparan panas.
Tahu, tetapi tidak selalu menjauh
Pengetahuan memang berkaitan dengan kelompok mana seseorang berada. Dibanding mereka yang tidak tahu, orang yang tahu bahwa wadah plastik bisa melepaskan partikel memiliki peluang 80 persen lebih kecil untuk masuk kelompok minuman botolan dan 89 persen lebih kecil untuk masuk kelompok serba plastik, dengan kelompok hemat sebagai pembanding. Dari situ para penulis meminta edukasi diperkuat, terutama soal memanaskan dan menyimpan wadah.
Di situlah persoalannya, sebab pengetahuan itu sudah dimiliki 77 persen responden, sedangkan kelompok minuman botolan saja mencakup 42 persen dari mereka semua. “Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatkan kesadaran saja mungkin tidak cukup untuk mengurangi risiko paparan mikro dan nanoplastik,” tulis Seulki Kim, Kazi Albab Hussain, dan Yusong Li dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Sama pentingnya, menurut mereka, memahami alasan di balik pilihan itu.
Alasan semacam itu tidak ditanyakan dalam survei, sehingga para penulis hanya bersandar pada penelitian terdahulu. Orang, menurut riset yang mereka rujuk, kerap memilih air kemasan ketimbang air keran karena warna, bau, dan rasa, karena praktis, karena harga, karena cemas pada mutu air, atau karena mengikuti kebiasaan orang di sekitarnya. Daftar itu memperlihatkan betapa banyak hal selain pengetahuan yang ikut menentukan.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Pekerjaan, kesehatan, dan gelar sarjana
Justru sebaliknya dari dugaan bahwa pilihan wadah semata urusan pengetahuan, cara hidup tampil sebagai pembeda yang kuat. Orang yang bekerja memiliki peluang 177 persen lebih tinggi untuk masuk kelompok minuman botolan dibanding kelompok hemat, dan pada orang yang menilai kesehatannya cukup atau buruk angkanya 825 persen lebih tinggi. Para penulis menduga minuman kemasan lebih mudah dijangkau dan lebih praktis bagi kedua golongan itu.
Kelompok gelas sekali pakai menyimpan kejutan lain. Mereka yang menikah atau tinggal bersama pasangan dan mereka yang bergelar sarjana atau lebih tinggi justru lebih mungkin berada di kelompok ini ketimbang di kelompok hemat. Padahal, tulis para peneliti, orang berstatus sosial ekonomi lebih tinggi semula diperkirakan lebih jarang menjalani kebiasaan semacam itu, karena dianggap punya akses lebih luas pada informasi.
Kelompok serba plastik punya ciri yang berbeda lagi. Responden kulit putih non-Hispanik berpeluang 98 persen lebih rendah untuk masuk ke dalamnya, yang berarti kelompok ras dan etnis lain lebih sering berada di sana. Usia dan jenis kelamin, sebaliknya, tidak berkaitan dengan kelompok mana pun, meski penelitian terdahulu tentang air kemasan melaporkan kaitan itu. Naskah menyimpulkan bahwa polanya tidak mengikuti satu tangga yang rapi.
Yang tidak bisa dikatakan survei ini
Para penulis sendiri membatasi klaimnya. Temuan ini, tulis mereka, tidak boleh dipakai untuk menetapkan sebab dan akibat, dan tidak dapat diberlakukan bagi wilayah lain atau bagi Amerika Serikat secara keseluruhan karena datanya hanya mewakili penduduk Nebraska. Semua jawaban juga berasal dari pengakuan responden sendiri, bukan dari pengamatan langsung. Karena 89,3 persen responden berkulit putih non-Hispanik, kelompok ras dan etnis lain tidak bisa dipilah satu per satu.
Batas yang paling menentukan menyangkut hal yang tidak diukur. Penelitian ini tidak menghitung berapa banyak partikel yang benar-benar masuk ke tubuh tiap kelompok, dan para penulis mengakui paparan bisa sangat berbeda di dalam kelompok yang sama, bergantung pada jenis plastik, umur wadah, dan cara penyimpanan. Jawaban pun diringkas menjadi pernah atau tidak pernah, sehingga orang yang sesekali memakai botol disamakan dengan yang memakainya lima kali sehari.
Dari sana lahir saran yang melampaui penyuluhan. Informasi tentang cara pakai yang aman, misalnya tidak memanaskan makanan atau minuman dalam wadah plastik, menurut para penulis perlu disertai upaya membuka akses pada pilihan yang lebih aman. Mereka menyebut kerja sama pemerintah dan industri untuk mengembangkan bahan yang lebih aman dan terjangkau sebagai hal yang sangat penting bagi warga yang pilihannya terbatas.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Beberapa hal yang layak diperiksa di naskah
Ada beberapa ketidakselarasan kecil yang bisa dicek pembaca. Judul artikel menyebut wadah makanan, padahal keenam kebiasaan yang diukur seluruhnya menyangkut minuman. Pertanyaan survei tentang microwave menyebut gelas sekali pakai, sedangkan tabel menamainya pemanasan minuman dalam wadah plastik. Tabel juga memberi label kesadaran akan risiko kesehatan, sementara pertanyaannya hanya menanyakan apakah responden tahu wadah plastik bisa melepaskan partikel.
Naskah juga menyebut pemakaian botol pada kelompok gelas sekali pakai serupa atau sedikit lebih tinggi daripada kelompok hemat, padahal untuk botol air kemasan angkanya lebih rendah, 10,9 persen berbanding 15,2 persen. Bagian hasil mengaitkan kelompok itu dengan rumah mobil dan kesehatan yang kurang baik, tetapi pembahasan hanya mengulang soal pernikahan dan pendidikan. Penghuni rumah mobil sendiri hanya 1,3 persen dari seluruh responden.
Yang tersisa adalah pertanyaan yang oleh naskah ini dibiarkan terbuka. Empat kelompok itu memperlihatkan siapa yang memegang botol, siapa yang memegang gelas sekali pakai, dan siapa yang memanaskan keduanya, tetapi tidak mengapa. Bila tiga dari empat orang sudah tahu bahwa plastik melepaskan partikel ke dalam minuman mereka, apa sebenarnya yang membuat botol itu tetap berada di tangan?














