- Dalam kepercayaan suku Sakai, penyakit dapat terjadi akibat hubungan yang tidak harmonis antara manusia dan makhluk halus.
- Sarana utama penyembuhan itu bernama Mahligai 9 Teingkek, jalinan daun angin-angin yang disusun sembilan tingkat ke atas.
- Olang-olang adalah nama tari yang mengiringi ritual pengobatan, dimainkan bersama musik bebano dan tetawak atau gong.
- Pada 2019, Dikai Sakai yang nyaris punah masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau.
Daftar Isi
- Penyakit Dipahami sebagai Hubungan yang Retak
- Kemantan, Perantara yang Dipercaya Seluruh Kampung
- Mahligai Sembilan Tingkat dari Daun Angin-angin
- Tabuhan Odok dan Syair Dikai Membuka Jalan
- Islam Datang, Kepercayaan Lama Tetap Dijaga
- Di Mana Penjelasan Naskah Ini Berhenti
- Tarian yang Sejak Awal Memang Obat
Tarian lazimnya dipentaskan untuk ditonton, sedangkan gong ditabuh untuk meramaikan suasana. Di pedalaman Riau, pada orang Sakai, keduanya dipakai untuk urusan yang jauh lebih genting, yaitu mengobati orang sakit. Para penari mengepak-ngepakkan kedua tangan seperti burung terbang, bergerak di antara orang yang sedang diobati di dalam hutan, sementara mantra ditembangkan berulang-ulang oleh seorang sesepuh.
Ritus itu diuraikan Sri Sutrianti dalam artikel Tradisi Ritus Pengobatan Suku Sakai dan Maknanya, yang dimuat Jurnal Dekonstruksi volume 10 nomor 02 tahun 2024. Sutrianti, yang dalam naskah tercatat berafiliasi dengan Universitas Terbuka, menelusuri bagaimana daun, bunyi, syair, dan gerak disusun menjadi satu cara penyembuhan yang diwariskan turun-temurun di pedalaman Siak, Bengkalis, dan Minas.
Yang ia cari adalah logika di balik upacara itu: mengapa sebuah tarian bisa dianggap obat. Jawabannya, menurut naskah tersebut, terletak pada cara orang Sakai memahami asal penyakit. Begitu asal penyakit itu dipahami, setiap unsur upacara, dari jalinan daun sampai tabuhan, menemukan tugasnya masing-masing. Sutrianti menggambarkan suku Sakai sebagai suku terasing yang tampaknya jauh dari pengaruh budaya modern, dan karena itu masih memegang nilai warisan leluhurnya.
Penyakit Dipahami sebagai Hubungan yang Retak
Dalam kepercayaan suku Sakai, tulis Sutrianti, penyakit dapat terjadi akibat hubungan yang tidak harmonis antara manusia dan makhluk-makhluk halus di sekitarnya. Sakit, dengan kata lain, tidak dipandang sebagai urusan tubuh semata. Ia adalah tanda bahwa ada yang retak antara seseorang dan alam tempatnya hidup, sehingga yang perlu dipulihkan adalah hubungan itu.
Karena itu, cara mengobatinya pun bukan dengan melawan, melainkan dengan mengundang. Roh-roh baik dipanggil untuk membantu penyembuhan. Naskah itu menyebut roh yang diundang tersebut akan mengawasi orang-orang yang berniat tidak baik, sekaligus menarik roh-roh yang mengganggu orang yang sedang sakit. Seluruh upacara pada dasarnya adalah undangan yang disusun rapi, dengan raga, sukma, dan alam diperlakukan sebagai satu jalinan.
Cara pandang ini berakar pada keyakinan yang lebih luas tentang alam. Sutrianti mencatat bahwa orang yang menolak sistem alam akan menanggung ketidakharmonisan hidup, dan terjangkit penyakit adalah salah satu bentuknya. Bencana alam disebut sebagai bentuk yang lain. Masyarakat adat, tulisnya, akan selalu memperhitungkan keterhubungan dirinya dengan alam. Unsur alam itu bahkan membentuk simbol kepercayaan, seperti kekuasaan laut, api, dan padi.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Kemantan, Perantara yang Dipercaya Seluruh Kampung
Undangan kepada roh baik tidak bisa disampaikan sembarang orang. Tugas itu dipercayakan kepada sesepuh masyarakat adat yang dianggap mampu menghubungkan manusia dengan kekuatan alam dan lingkungannya. Orang Sakai menyebutnya Kemantan, yang menurut naskah itu populer dikenal sebagai dukun. Keterampilan mengobati ia peroleh sebagai warisan dari leluhurnya. Menjadi penghubung antara kehendak masyarakat dan kekuatan semesta yang abstrak itu, tulis Sutrianti, tentu tidak mudah.
Persoalannya, undangan itu harus mengikuti aturan yang sudah diwariskan nenek moyang. Kemantan bekerja dengan keyakinan penuh pada mantra yang ditembangkannya, pada tetabuhan, dan pada tari-tarian. Dengan kemampuan transnya, tulis Sutrianti, Kemantan sampai pada hubungan batin yang menyambungkan kekuatan roh baik dengan orang yang diobatinya. Trans itu ia sebut sebagai puncak dari dimensi kesadaran manusia.
Naskah itu merangkum susunannya menjadi empat unsur. Ada orang sakit, yang mewakili masyarakat suku Sakai. Ada Kemantan sebagai mediator. Ada media fisik seperti daun angin-angin. Lalu ada roh-roh baik sebagai acuan kepercayaan. Keempatnya disebut sebagai kesatuan utuh yang memusat pada satu keyakinan abstrak, yang menjadi acuan tertinggi bagi masyarakat suku Sakai.
Mahligai Sembilan Tingkat dari Daun Angin-angin
Sarana utama penyembuhan itu bernama Mahligai 9 Teingkek, atau sembilan tingkat. Wujudnya jalinan daun-daunan khusus bernama daun angin-angin, yang diambil dari hutan dan disusun sebanyak sembilan tingkat ke atas. Sutrianti menyebut komponen inilah yang memegang peran cukup penting dalam pengobatan, dan bilangannya berasal dari pengalaman yang dihayati masyarakat adat setempat.
Yang membuatnya bekerja, dalam kepercayaan itu, adalah apa yang berada di puncaknya. Menurut keyakinan sang Kemantan, di tingkat kesembilan itulah putri dari makhluk halus terlihat duduk di atas singgasana untuk membantu proses penyembuhan yang sedang berlangsung. Jalinan daun tersebut, dengan demikian, berfungsi seperti tangga yang mempertemukan Kemantan dengan penolongnya. Di atas tingkatan tertinggi itulah, menurut naskah, ada roh yang menentukan kesembuhan seseorang dari sakitnya.
Daun dipilih bukan tanpa alasan. Dalam pengobatan, tulis Sutrianti, suku Sakai memakai media alam seperti dedaunan yang tidak berhubungan dengan produk kimiawi. Naskah itu juga mendaftar media penghubung lain yang dipakai dalam upacara, yaitu air, pepohonan, angin, api, asap, syair, bebunyian, dan tarian. Keterhubungan dengan alam semesta, menurutnya, tidak hadir begitu saja, melainkan selalu lewat media semacam itu.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Tabuhan Odok dan Syair Dikai Membuka Jalan
Daun saja tidak cukup. Upacara itu juga memakai mantra berupa wirid dan bebunyian sebagai penghubung dengan makhluk halus yang baik. Tetabuhan bernama Odok disebut sebagai salah satu syarat utamanya. Bunyi Odok, menurut naskah tersebut, digunakan sebagai media yang mampu memberikan energi bagi orang yang diobati. Pengobatan ini, tulis Sutrianti, menjadi ciri khas budaya Sakai karena melibatkan kepercayaan terhadap roh nenek moyang.
Lalu datang tariannya. Olang-olang adalah nama tari yang mengiringi ritual pengobatan, dimainkan bersama musik bebano dan tetawak atau gong, sambil melafalkan syair mantra yang oleh orang Sakai dinamakan Dikai. Mantra dilafalkan berulang-ulang seiring gerakan seperti burung terbang. Tari ini, catat Sutrianti, sekaligus berfungsi sebagai hiburan bagi suku Sakai. Para penarinya ia gambarkan hanyut ke dalam irama gong dan tembang mantra.
Syairnya dikutip utuh dalam naskah, dan burung itu hadir sejak baris-baris awal. Dua baris penutupnya berbunyi “Pulang ruh pulanglah insan pulanglah badan soto nyawo” dan “Pulang katokan dalam kalimat la ilahaillah”. Sutrianti membaca kepakan itu sebagai gambaran burung yang bebas, yang melepaskan diri dari cengkeraman, sebagaimana orang sakit diharapkan lepas dari penyakitnya.
Di titik inilah seni mendapat tugasnya. Kemantan, menurut naskah itu, tidak mungkin terhubung dengan makhluk halus bila jiwa yang pasrah dan bersih tidak menyertai ritual. “Seni menjadi semacam alat pembersih diri dari kekotoran diri manusia,” tulis Sri Sutrianti, S.Pd., dalam naskahnya.
Islam Datang, Kepercayaan Lama Tetap Dijaga
Orang Sakai mayoritas beragama Islam. Namun, tulis Sutrianti, mereka masih mempertahankan kepercayaan leluhur atau agama adatnya. Ia merujuk buku Syahrial De Saputra, yang menyebut ciri orang Sakai adalah agama yang diselimuti keyakinan animisme, kekuatan magis, dan tenung. Kebudayaan Melayu dan datangnya Islam, menurut naskah itu, ikut mewarnai agama asli tersebut. Meski begitu, kepercayaan lama tetap dijaga sebagai nilai yang tidak bisa dilepaskan begitu saja.
Dalam pandangan mereka, alam terdiri atas lima tingkat, dan tingkat tertinggi dihuni makhluk halus. Namanya bermacam-macam: hantu atau antu-antu, peri, jembalang, mambang, serta semua roh para leluhur. Yang membuatnya rumit, kata antu bagi orang Sakai tidak sama dengan hantu dalam kebudayaan Melayu. Antu mengacu pada semua makhluk gaib, sehingga roh dalam ritus pengobatan tidak dilihat secara spesifik.
Kepercayaan itu bertahan cukup lama untuk dicatat negara. Pada 2019, Dikai Sakai, yang disebut naskah cukup langka dan nyaris punah, masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Riau. Sutrianti menulis penetapan itu disahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bagi Sutrianti, bertahannya ritus itu ketika agama-agama dari luar berdatangan adalah catatan penting yang layak digali untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Di Mana Penjelasan Naskah Ini Berhenti
Uraian tersebut punya batas yang jelas. Sutrianti menyatakan penelitiannya memakai studi literatur dan pengalaman, dengan gambar yang diambil dari majalah dan penerbitan lokal di Riau. Tidak ada Kemantan, penari, atau orang sakit yang disebut namanya, sehingga pembaca tidak mendengar langsung suara pelaku ritus. Sebagian besar rinciannya bertumpu pada satu majalah daring dan satu buku.
Ada pula beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya. Nama syair itu ditulis Dikai, sedangkan judul sumber yang dirujuk menulisnya Dikei, dan di bagian lain muncul istilah pengobatan dzikir. Afiliasi penulis tertera Fakultas Biologi, padahal kajiannya antropologi budaya. Hubungan antara lima tingkat alam dan sembilan tingkat Mahligai juga tidak dijelaskan. Syair Dikai pun dimuat tanpa terjemahan, sehingga artinya tidak bisa dipastikan dari naskah saja.
Tarian yang Sejak Awal Memang Obat
Kejanggalan di awal tadi, tarian yang dipakai mengobati, ternyata hanya janggal bila sakit dipahami sebagai urusan tubuh. Dalam cara pandang yang digambarkan Sutrianti, sakit adalah hubungan yang retak dengan makhluk halus, dan hubungan hanya bisa dipulihkan lewat perantara. Daun yang disusun sembilan tingkat, tabuhan Odok, syair Dikai, dan kepakan tangan para penari adalah bahasa perantara itu. Di dalam hutan pedalaman Riau, burung dalam tari Olang-olang terbang agar penyakit ikut lepas.















