- Jika dijumlahkan, sekitar 85 persen responden pernah bekerja dalam keadaan sakit.
- Hanya 33,7 persen responden berhak atas upah ketika sakit, 50,8 persen tidak berhak, dan 15,5 persen tidak tahu.
- Responden bertanda burnout 8,45 kali lebih mungkin mempertimbangkan keluar dibanding yang tidak.
- Responden yang cemas empat kali lebih mungkin tetap bekerja saat sakit dibanding yang kecemasannya minimal.
Daftar Isi
- Delapan puluh lima persen tetap datang bekerja, sementara hanya sepertiga yang berhak atas upah saat sakit
- Di balik meja bar dan panggung musik, hampir dua dari tiga responden menunjukkan tanda depresi
- Ketika kecemasan datang, peluang tetap bekerja dalam keadaan sakit naik sampai empat kali lipat
- Burnout dan keinginan pergi, angka delapan kali lipat yang menjadi temuan paling mencolok
- Hanya seperempat yang benar-benar bekerja malam, dan angka yang bergeser dari abstrak ke tabel
Tetap berangkat, atau tinggal di rumah. Pilihan itu disodorkan kepada 181 pekerja ekonomi malam di Bristol, Inggris, dalam satu pertanyaan sederhana: dalam peran Anda sekarang, pernahkah Anda tetap pergi bekerja walau merasa tidak enak badan? Hanya sembilan orang menjawab tidak pernah. Sebanyak 79 orang menjawab sering, dan 74 orang lainnya menjawab kadang-kadang.
Jawaban itu tercatat dalam Characterising mental health and organisational outcomes in Bristol’s night time economy workforce: a cross-sectional online survey karya Yvanna Todorova, Aron Sherry, Denis M. Ngina, Denise Kendrick, Jo Leonardi-Bee, Lynn Stanley, Carly Heath, Lauren B. Sherar, Elizabeth Orton, Jane Bourke, dan Holly Blake. Naskah itu terbit di BMC Public Health tahun 2026, masih dalam proses terbit sehingga belum bervolume dan bernomor.
Jika dijumlahkan, sekitar 85 persen responden pernah bekerja dalam keadaan sakit. Naskah menyebut gejala ini presenteeism, yaitu datang bekerja ketika sedang sakit. Para penulisnya berasal dari Loughborough University, University of Nottingham, Bristol City Council, dan University College Cork di Irlandia, dengan Holly Blake, profesor kedokteran perilaku di University of Nottingham, sebagai penulis korespondensi.
Survei daring itu berjalan antara Agustus 2024 dan Januari 2025, sebagai bagian dari evaluasi yang lebih besar atas Thrive at Night, program yang dikembangkan Bristol City Council lewat kemitraan Bristol Nights dan diluncurkan pada 2022. Yang ditanyakan bukan hanya soal masuk kerja saat sakit, tetapi juga kecemasan, depresi, kelelahan kerja, dan keinginan untuk berhenti.
Delapan puluh lima persen tetap datang bekerja, sementara hanya sepertiga yang berhak atas upah saat sakit
Ekonomi malam dalam naskah itu berarti kerja yang berpusat pada kegiatan antara pukul 18.00 dan 06.00. Pada 2023, sektor ini menyumbang 4,1 persen ekonomi Inggris atau 93,7 miliar pound sterling. Sebanyak 23 persen pekerjanya, atau 452.000 pekerjaan, berada di restoran, pub, dan tempat hiburan. Karena itulah para penulis menilai kelompok ini perlu dipetakan tersendiri.
Responden di Bristol paling banyak bekerja di bar atau pub, 43,7 persen, lalu ruang musik 37,0 persen dan restoran 22,1 persen. Sebanyak 54 persen perempuan dan 41 persen berusia 25 sampai 34 tahun. Bartender menjadi peran yang paling sering disebut, 35,4 persen. Hanya 27,6 persen yang bekerja murni pada malam hari, sedangkan mayoritas mencampur giliran siang dan malam.
Ikatan kerja mereka pun longgar. Hanya 37,6 persen bekerja penuh waktu. Sebanyak 28,7 persen terikat kontrak nol jam, yakni tanpa jaminan jam kerja, 17,7 persen paruh waktu, dan 16,0 persen pekerja lepas. Hanya 48,1 persen dibayar di atas upah layak Inggris, dan 88 persen bekerja di organisasi berukuran mikro sampai menengah.
Hak dasar saat sakit juga jarang dimiliki. Hanya 33,7 persen responden berhak atas upah ketika sakit, 50,8 persen tidak berhak, dan 15,5 persen tidak tahu. Soal istirahat, sepertiga responden mengaku tidak pernah atau jarang mendapat jeda selama bekerja malam. Sebanyak 10,5 persen menjawab tidak pernah, dan 22,7 persen menjawab jarang.
Para penulis merangkum gambaran itu dengan lugas. “Pekerja ekonomi malam memandang tempat kerja mereka serba cepat, dengan sedikit atau tanpa jeda istirahat maupun upah sakit,” tulis Todorova, Blake, dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Kuesioner tentang kondisi kerja juga memperlihatkan skor kecepatan kerja 69,1, salah satu yang tertinggi di antara sepuluh ukuran lingkungan kerja yang dipakai.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Di balik meja bar dan panggung musik, hampir dua dari tiga responden menunjukkan tanda depresi
Kesejahteraan jiwa responden berada di bawah garis. Skor rata-rata WHO-5, alat ukur kesejahteraan jiwa dari Organisasi Kesehatan Dunia, hanya 45,6, sementara ambang kesehatan mental yang baik adalah 50. Sebanyak 59,1 persen responden berada di bawah ambang itu. Hanya 40,9 persen, atau 74 orang, yang tergolong memiliki kesejahteraan jiwa yang baik.
Angka depresi dan kecemasan tidak kalah tinggi. Sebanyak 63,5 persen responden, atau 115 orang, menunjukkan tanda depresi. Kecemasan tingkat sedang dialami 21,0 persen dan tingkat berat 16,0 persen, sehingga lebih dari sepertiga responden cemas pada tingkat sedang sampai berat. Hanya 35,4 persen yang kecemasannya tergolong minimal, sedangkan 27,6 persen lainnya cemas ringan.
Kelelahan kerja atau burnout menunjukkan pola serupa. Sebanyak 54,7 persen responden, atau 99 orang, menunjukkan satu tanda burnout atau lebih. Sebanyak 76,2 persen mengaku pernah mengalami kesehatan mental yang buruk dalam pekerjaan mereka sekarang, dan 87,3 persen pernah melihat rekan kerja mengalami hal yang sama. Hanya 23 responden yang tidak pernah melihatnya.
Selisih antara yang burnout dan yang tidak terlihat jelas. Responden bertanda burnout memiliki skor WHO-5 rata-rata 35,1, sedangkan yang tanpa tanda burnout 58,3. Median skor cemas mereka 10,0 berbanding 4,0, dan median skor depresi 3,0 berbanding 1,0. Dedikasi terhadap pekerjaan pun lebih rendah, 3,1 berbanding 3,8, dan semua selisih itu bermakna secara statistik.
Ketika kecemasan datang, peluang tetap bekerja dalam keadaan sakit naik sampai empat kali lipat
Pertanyaan soal berangkat saat sakit itu kemudian dipasangkan dengan kondisi jiwa responden. Responden yang cemas empat kali lebih mungkin tetap bekerja saat sakit dibanding yang kecemasannya minimal. Responden bertanda depresi 3,44 kali lebih mungkin, dan yang bertanda burnout 2,85 kali lebih mungkin. Perhitungan itu sudah memperhitungkan jenis kelamin, pendidikan, usia, dan etnis.
Satu ukuran justru tidak bergerak. Kesejahteraan jiwa yang buruk tidak berkaitan bermakna dengan kebiasaan bekerja saat sakit, dengan rasio odds 1,68 dan nilai p 0,240. Namun dari arah sebaliknya, responden yang kadang atau sering bekerja saat sakit memiliki skor WHO-5 rata-rata 43,7, lebih rendah dari 56,3 pada mereka yang tidak pernah atau jarang.
Median skor cemas pada kelompok yang bekerja saat sakit 7,0, dua kali lipat dari 3,5 pada kelompok yang tidak. Upah sakit juga terbaca pada kecemasan. Median skor cemas responden yang berhak atas upah sakit 6,0, yang tidak berhak 7,0, dan yang tidak tahu haknya 10,5. Hak upah sakit itu tidak berkaitan dengan depresi maupun kesejahteraan jiwa secara umum.
Para penulis menjelaskan mengapa angka ini penting bagi pemilik usaha. Menurut mereka, bekerja dalam keadaan sakit dapat memperlambat pemulihan, menaikkan risiko absen di kemudian hari, dan menambah risiko keselamatan kerja karena peluang salah atau kecelakaan meningkat. Kepergian pekerja, di sisi lain, berarti hilangnya tenaga terampil dan terganggunya produktivitas organisasi.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Burnout dan keinginan pergi, angka delapan kali lipat yang menjadi temuan paling mencolok
Pertanyaan berikutnya lebih berat: pernahkah kesehatan mental yang buruk membuat Anda mempertimbangkan berhenti? Dari 138 responden yang mengaku pernah mengalami kesehatan mental buruk di tempat kerja, 73 orang menjawab ya. Jumlah itu setara sekitar 40 persen dari seluruh responden, angka yang oleh para penulis disebut sebagai niat keluar yang menonjol.
Burnout menjadi titik baliknya. Responden bertanda burnout 8,45 kali lebih mungkin mempertimbangkan keluar dibanding yang tidak. Responden dengan kesejahteraan jiwa buruk 4,84 kali lebih mungkin, yang cemas 3,53 kali, dan yang bertanda depresi 2,70 kali. Keempat kondisi itu juga berkaitan dengan dedikasi kerja yang lebih rendah, paling tajam pada kesejahteraan jiwa yang buruk.
Jeda istirahat ikut menentukan. Di antara responden yang tidak pernah atau jarang beristirahat saat kerja malam, 66,7 persen mempertimbangkan keluar, sedangkan pada yang kadang beristirahat 43,8 persen. Usia juga berpengaruh. Pada kelompok 25 sampai 34 tahun, 61,3 persen mempertimbangkan keluar, sementara pada kelompok 35 sampai 44 tahun hanya 28,0 persen.
Pola kontrak memperlihatkan jarak lain. Pekerja lepas mencatat kesejahteraan jiwa tertinggi, skor WHO-5 54,3, dan dedikasi kerja 4,0. Pekerja kontrak nol jam berada di skor 40,54 dengan dedikasi 3,2. Dedikasi pekerja yang bekerja murni malam hari 3,1, sedangkan yang bekerja murni siang hari 4,0. Responden termuda, di bawah 25 tahun, mencatat dedikasi terendah, 3,0.
Dari seluruh angka itu para penulis menarik satu kesimpulan pokok. “Kesehatan mental yang buruk lazim ditemukan di kalangan pekerja ekonomi malam dan berkaitan dengan kebiasaan bekerja saat sakit, keterlibatan kerja, serta niat untuk keluar,” tulis mereka dalam abstrak berbahasa Inggris. Mereka menilai sektor ini membutuhkan intervensi kesehatan mental yang dirancang khusus.
Alasannya praktis. “Banyak peran di ekonomi malam, seperti bartender, penyelenggara acara, atau petugas keamanan, bukanlah pekerjaan kantoran dengan jam kerja teratur, sehingga sebagian unsur program kesehatan mental di tempat kerja, misalnya jalan kaki saat makan siang, mungkin tidak menjawab kebutuhan sektor ini,” tulis para penulis. Mereka menyebut Thrive at Night dan Night Club sebagai upaya yang sudah dimulai.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Hanya seperempat yang benar-benar bekerja malam, dan angka yang bergeser dari abstrak ke tabel
Para penulis mengakui batas penelitian mereka. Hanya sekitar seperempat responden yang bekerja murni pada malam hari, dan belum ada kriteria baku tentang siapa yang disebut pekerja ekonomi malam. “Pada akhirnya, tim peneliti harus bergantung pada pengakuan peserta sendiri sebagai ’pekerja malam’,” tulis mereka. Target 383 responden juga tidak tercapai, karena yang menuntaskan survei hanya 181 orang.
Sampelnya juga tidak sepenuhnya mencerminkan kota. Sebanyak 83 persen responden beridentitas White British, lebih tinggi dari 72 persen di populasi Bristol. Survei hanya tersedia dalam bahasa Inggris, jawabannya dilaporkan sendiri sehingga bisa terpengaruh stigma, dan karena data dikumpulkan pada satu waktu, kaitan antara kesehatan mental dan niat keluar tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat.
Beberapa angka di dalam naskah perlu dicocokkan dengan cermat. Rasio odds kecemasan terhadap niat keluar tertulis 3,54 di abstrak, tetapi 3,53 di bagian hasil. Selang kepercayaan kesejahteraan jiwa buruk terhadap dedikasi kerja tertulis minus 1,12 sampai minus 0,52 di abstrak, sedangkan di bagian hasil minus 1,06 sampai minus 0,51. Skor WHO-5 ditulis 45 di teks, tetapi 45,6 di Tabel 2.
Penyebut untuk niat keluar juga berbeda. Tabel 2 menghitung 73 orang itu sebagai 52,9 persen dari 138 responden, sementara Tabel 3 mencatat angka yang sama sebagai 40,3 persen dari 181. Nama universitas komite etik disamarkan menjadi “[XXX]” di bagian metode, tetapi ditulis University of Nottingham di bagian deklarasi, dan kalimat tentang hadiah voucher 250 pound tercetak dua kali berturut-turut.
Selisih itu tidak mengubah arah temuan, tetapi layak diingat oleh siapa pun yang mengutip angkanya. Pertanyaan yang membuka survei itu tetap tercatat dengan jawaban yang sama: sembilan orang tidak pernah berangkat dalam keadaan sakit, 79 orang sering melakukannya. Di Bristol, sebagian besar dari mereka tetap datang ke bar, pub, dan ruang musik dalam keadaan sakit.















