- Survei nasional Uganda 2023 mengukur kolesterol total 3.694 orang dewasa berusia 18 sampai 69 tahun.
- Perempuan memiliki kolesterol total lebih tinggi daripada laki-laki, dengan koefisien beta 0,273.
- Warga desa memiliki kolesterol total lebih rendah daripada warga kota, dengan koefisien beta minus 0,175.
- Sekitar 97,6 persen orang dewasa Uganda pada 2023 belum pernah memeriksakan kadar kolesterolnya.
Daftar Isi
Pada 2014, survei dasar faktor risiko penyakit tidak menular di Uganda mencatat bahwa kolesterol tinggi dialami 6,7 persen orang dewasa, dengan 4,4 persen pada laki-laki dan 8,9 persen pada perempuan. Pada tahun yang sama, sekitar 98,8 persen orang dewasa di negeri itu belum pernah memeriksakan kadar kolesterol darahnya. Sembilan tahun kemudian, pada 2023, angka yang terakhir itu nyaris tidak bergeser, yakni 97,6 persen.
Menurut para penulis, faktor yang berhubungan dengan kolesterol total di tingkat nasional Uganda masih sedikit diketahui. Celah itulah yang diangkat Saidi Appeli dari Departemen Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Olahraga Uganda di Kampala, bersama Saadick Mugerwa Ssentongo dari Baylor College of Medicine Children’s Foundation di Kampala dan Jonathan Izudi dari Muni University di Arua serta Mbarara University of Science and Technology.
Hasil kerja mereka terbit dengan judul Total cholesterol and the associated factors among adults aged 18–69 years in Uganda: analysis of the 2023 national population-based non-communicable disease survey data di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Mereka mengolah data survei nasional faktor risiko penyakit tidak menular Uganda yang dikumpulkan pada Februari hingga Maret 2023 dari 3.694 orang berusia 18 sampai 69 tahun, yang kolesterol totalnya diukur dari setetes darah ujung jari.
Dari Survei 2014 ke Survei 2023
Sebelum masuk ke temuan, Appeli dan rekan lebih dulu menata latarnya. Mereka mengutip angka hiperkolesterolemia, istilah untuk kolesterol total yang tinggi, sebesar 25,5 persen di Afrika sub-Sahara secara keseluruhan dan 38 persen di Nigeria. Di Uganda sendiri, angka 6,7 persen pada 2014 itu berdiri di tengah deretan faktor risiko lain yang prevalensinya naik antara 2014 dan 2023.
Antara 2014 dan 2023, gula darah tinggi naik dari 1,5 persen menjadi 3,3 persen, kelebihan berat badan dan obesitas dari 19,3 persen menjadi 24,1 persen, konsumsi alkohol saat ini dari 28,5 persen menjadi 31,1 persen, dan kurang aktivitas fisik dari 26,6 persen menjadi 31,9 persen. Menurut para penulis, kenaikan itu diperparah oleh kebiasaan jarang memeriksakan kesehatan, yang tercermin pada hampir semua orang dewasa yang belum pernah mengecek kolesterolnya.
Riset kolesterol sebelumnya di Uganda pun terbatas. Dua penelitian yang pernah meneliti kolesterol total dilakukan di Uganda Barat Daya dan Uganda Tengah, keduanya dengan sampel yang relatif kecil, dan salah satunya sudah berumur hampir sepuluh tahun. Upaya pencegahan penyakit tidak menular di negeri itu, tulis mereka, lebih banyak tertuju pada tekanan darah, gula darah, aktivitas fisik, rokok, dan alkohol.
Di titik itulah mereka menaruh alasan penelitiannya. “Pengelolaan kolesterol mendapat perhatian yang relatif lebih sedikit, baik dalam kerangka program maupun kebijakan,” tulis Appeli dan rekan dalam pendahuluan makalah, dalam terjemahan bebas. Dengan sampel nasional, mereka menyebut penelitian ini, sepanjang pengetahuan mereka, sebagai yang pertama memakai data representatif orang dewasa Uganda berusia 18 sampai 69 tahun untuk menelaah kolesterol total.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Potret 3.694 Orang Dewasa pada 2023
Peserta survei 2023 berusia median 36 tahun, dengan separuh dari mereka berada di rentang 27 sampai 49 tahun. Dalam tabel karakteristik, jumlah orang dicatat tanpa pembobotan, sedangkan persentase di dalam kurung sudah dibobot sesuai desain survei. Sebanyak 2.268 orang (58,7 persen) adalah perempuan, 2.892 orang (78,5 persen) tinggal di desa, dan 2.123 orang (56,5 persen) tidak pernah menempuh pendidikan formal. Mayoritas, yakni 2.518 orang (68,4 persen), menikah atau hidup bersama pasangan.
Dari sisi kesehatan, 2.238 peserta (60,7 persen) memiliki indeks massa tubuh normal, 607 orang (16,2 persen) tergolong kurus, 525 orang (14,7 persen) kelebihan berat badan, dan 324 orang (8,4 persen) obesitas. Sebanyak 845 orang (22,7 persen) hipertensi, sedangkan yang tergolong diabetes menurut gula darah puasa hanya 90 orang (2,5 persen).
Kebiasaan makan peserta juga tercatat. Hanya 438 orang (11,7 persen) yang makan sedikitnya lima porsi buah sehari, dan lebih sedikit lagi, 218 orang (5,8 persen), yang makan sedikitnya lima porsi sayur sehari. Di antara peserta analisis ini, 2.115 orang (57,8 persen) mengonsumsi alkohol, sementara perokok saat ini hanya 288 orang (8,2 persen).
Kolesterol total mereka berada pada median 2,96 milimol per liter, dengan separuh peserta di rentang 2,54 sampai 3,66 milimol per liter. Rata-ratanya 3,10 milimol per liter, dengan simpangan baku 0,83. Angka terendah yang tercatat 0,61 milimol per liter dan yang tertinggi 5,59 milimol per liter, sebaran yang menurut para penulis mendekati normal. Angka-angka inilah yang kemudian diuji terhadap usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pendidikan, dan kondisi kesehatan tiap peserta.
Usia dan Perempuan, dari Tiongkok sampai India
Setelah faktor-faktor lain disetarakan dalam analisis regresi berganda, usia berhubungan positif dengan kolesterol total. Setiap pertambahan satu tahun usia berhubungan dengan kolesterol total yang lebih tinggi, dengan koefisien beta 0,009. Appeli dan rekan menyebut temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu di Tiongkok, dan menduga hal itu bisa dijelaskan oleh kemampuan tubuh membuang kolesterol dari aliran darah yang menurun seiring bertambahnya usia.
Temuan berikutnya menyangkut jenis kelamin, dan hasilnya berlawanan dengan sebagian riset sebelumnya. Perempuan memiliki kolesterol total lebih tinggi daripada laki-laki, dengan koefisien beta 0,273. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan variasi kolesterol perempuan lebih rendah, dan satu penelitian lain bahkan melaporkan kadar kolesterol perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki.
Di India, Anish dan rekan tidak menemukan perbedaan kolesterol yang bermakna antara laki-laki dan perempuan dewasa muda dengan aktivitas fisik rutin yang setara. Appeli dan rekan menawarkan dua kemungkinan penjelasan untuk Uganda: perempuan cenderung memiliki lemak perut lebih banyak, dan tugas mengasuh serta mengurus rumah tangga mungkin menyisakan sedikit waktu bagi mereka untuk bergerak.
Kota, Desa, dan Survei Afghanistan 2018
Tempat tinggal ikut membedakan. Warga desa memiliki kolesterol total lebih rendah daripada warga kota, dengan koefisien beta minus 0,175. Para penulis menyebut hasil ini sejalan dengan penelitian di Myanmar serta sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis, dan menduga penyebabnya adalah makanan di desa yang lebih sedikit diolah serta lebih kaya serat dibandingkan makanan di kota.
Pendidikan juga membedakan kadar kolesterol total. Peserta berpendidikan menengah dan berpendidikan tinggi atau universitas memiliki kolesterol total lebih tinggi daripada mereka yang tidak bersekolah formal, dengan koefisien beta 0,283 pada kelompok pendidikan tinggi atau universitas. Pendidikan dasar tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dalam analisis yang sama.
Di sini Uganda berbeda dari Afghanistan. Survei nasional penyakit tidak menular STEPS 2018 di Afghanistan tidak menemukan hubungan bermakna antara kolesterol total dan tingkat pendidikan. Appeli dan rekan menduga temuan di Uganda itu berkaitan dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi pada orang berpendidikan, yang membuka akses ke makanan cepat saji dan disertai aktivitas fisik yang berkurang.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Pernikahan dan Wilayah, dari Nigeria sampai Uganda Barat
Status pernikahan juga muncul dalam hasil. Mereka yang menikah atau hidup bersama pasangan memiliki kolesterol total lebih tinggi daripada yang belum pernah menikah, dengan koefisien beta 0,106, sementara kelompok berpisah, bercerai, atau ditinggal pasangan tidak menunjukkan hubungan bermakna. Temuan serupa pernah dilaporkan survei komunitas di Uganda barat dan penelitian pada orang dewasa di Nigeria.
Namun, untuk temuan ini para penulis tidak menawarkan penjelasan pasti. “Alasan di balik temuan ini belum jelas dan diperlukan penelitian tambahan,” tulis Appeli dan rekan dalam bagian pembahasan, dalam terjemahan bebas. Para penulis tidak menyebut faktor tertentu yang mungkin menjelaskan hubungan antara status pernikahan dan kolesterol total, dan menyerahkannya kepada penelitian berikutnya.
Wilayah tempat tinggal juga membedakan. Dibandingkan Uganda Tengah, penduduk wilayah utara memiliki kolesterol total lebih rendah dengan koefisien beta minus 0,117, dan wilayah barat lebih rendah lagi dengan koefisien beta minus 0,208. Wilayah timur tidak menunjukkan hubungan bermakna. Survei komunitas di Uganda barat daya sebelumnya juga mencatat angka kolesterol tinggi yang lebih rendah.
Berat Badan, Gula Darah, dan Tekanan Darah
Untuk berat badan, para penulis mencatat hasilnya sejalan dengan penelitian terdahulu tentang indeks massa tubuh dan kolesterol total. Dibandingkan peserta dengan indeks massa tubuh normal, peserta obesitas memiliki kolesterol total lebih tinggi dengan koefisien beta 0,156 dan yang kelebihan berat badan 0,138. Sebaliknya, peserta kurus memiliki kolesterol total lebih rendah dengan koefisien beta minus 0,139.
Penderita diabetes memiliki kolesterol total lebih tinggi daripada peserta dengan gula darah normal, dengan koefisien beta 0,281, dan peserta hipertensi juga lebih tinggi dengan koefisien beta 0,186. Para penulis mencatat temuan serupa dari penelitian penderita diabetes tipe 2 di Ghana dan dari survei hipertensi serta kolesterol di Polandia, yang sama-sama sejalan dengan hasil di Uganda.
Beberapa faktor tidak bertahan dalam analisis akhir. Merokok dan makan sedikitnya lima porsi buah sehari tidak lagi berhubungan bermakna setelah faktor lain disetarakan, sedangkan status pekerjaan, konsumsi alkohol, makan sayur, dan aktivitas fisik tidak berhubungan dengan kolesterol total sejak analisis awal yang menguji tiap faktor secara terpisah.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Yang Belum Terjawab sejak 2023
Para penulis menyebut sejumlah keterbatasan. Data potong lintang tidak dapat membuktikan sebab-akibat, sehingga semua temuan di atas adalah hubungan, bukan penyebab. Masih ada faktor pengganggu yang tidak terukur, dan aktivitas fisik hanya diukur dari apakah pekerjaan peserta melibatkan kegiatan berintensitas sedang, sehingga hasil nihil untuk aktivitas fisik perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Keterbatasan lain adalah kemungkinan bias informasi selama pengumpulan data, termasuk kecenderungan peserta menjawab sesuai harapan sosial. Penelitian ini juga hanya mengukur kolesterol total, tanpa memisahkan kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida, yang menurut para penulis bisa memiliki hubungan berlawanan dengan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, mereka menyarankan penelitian berikutnya menelaah tiap komponen lemak darah secara terpisah, dan penelitian kualitatif tentang keragaman pangan untuk menerangkan perbedaan antarwilayah. “Upaya mengurangi beban penyakit kardiovaskular di Uganda sebaiknya berfokus pada penurunan kolesterol dan pengelolaan faktor risiko yang mendasarinya,” tulis Appeli dan rekan dalam simpulan, dalam terjemahan bebas.
Dalam pembahasan, mereka memilah faktor-faktor itu. Usia dan jenis kelamin disebut sebagai penentu yang tidak dapat diubah, sedangkan indeks massa tubuh, diabetes, dan hipertensi termasuk yang dapat diubah. Tingkat pendidikan, status pernikahan, tempat tinggal, dan wilayah disebut sebagai faktor struktural atau kontekstual tambahan yang juga dapat diubah.














