- Penelitian mengikuti 731 lansia di 24 lokasi relokasi pengentasan kemiskinan di Shanxi dalam tiga putaran 2023 sampai 2024.
- Skor rasa percaya dan saling bantu yang sangat rendah maupun sangat tinggi sama-sama berkaitan dengan indeks lemak perut yang lebih tinggi.
- Titik belok lengkung U berada di skor modal sosial relasional 6,211 pada skala 0 sampai 12.
- Para peneliti menyebut skor ini hanya untuk penapisan risiko dan tidak dapat menggantikan diagnosis klinis.
Daftar Isi
Dianrui Yao merancang sebuah penelitian tentang para lansia yang dipindahkan dari kampung miskin ke permukiman baru di Provinsi Shanxi, Tiongkok. Bersama Le Yang, ia mengumpulkan dan menganalisis data orang-orang berusia 60 tahun ke atas dalam tiga putaran antara 2023 dan 2024. Yang mereka telusuri adalah kaitan yang menurut tim ini belum punya bukti langsung dalam konteks relokasi tersebut: hubungan antara modal sosial, termasuk rasa percaya dan saling bantu, dengan obesitas.
Hasilnya tidak berupa garis lurus. Yao dan rekan menemukan bahwa lansia dengan skor rasa percaya dan saling bantu yang sangat rendah maupun sangat tinggi sama-sama berkaitan dengan indeks lemak perut yang lebih tinggi. Titik terendahnya berada di skor 6,211 pada skala 0 sampai 12. Hubungan berbentuk huruf U itu, tulis para peneliti, juga muncul ketika peserta dipilah menurut jenis kelamin, usia, dan penghasilan.
Temuan itu dimuat dalam artikel Dianrui Yao dan rekan dari Sekolah Manajemen, Universitas Kedokteran Shanxi, berjudul Social capital and obesity: a longitudinal study among older adults after relocation for poverty alleviation in China di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Le Yang, yang juga bernaung di Pusat Penelitian Manajemen dan Kebijakan Kesehatan universitas yang sama, menjadi penulis korespondensinya. Xinjing Cao, Hang Li, dan Qi Yu melengkapi tim tersebut.
Mengikuti 731 Lansia di 24 Permukiman Pindahan
Program yang diteliti tim Yao adalah Relokasi Pengentasan Kemiskinan, proyek pemerintah Tiongkok yang memindahkan warga miskin desa dari wilayah yang sulit dihuni ke tempat dengan kondisi hidup dan peluang berkembang yang lebih baik. Menurut catatan para peneliti, Shanxi memindahkan lebih dari 362.000 warga miskin terdaftar selama Rencana Lima Tahun ke-13, 2016 sampai 2020. Pemindahan dilakukan secara terpusat atau tersebar ke beberapa lokasi.
Data Yao berasal dari survei di 24 lokasi relokasi di Shanxi. Putaran pertama berlangsung Juni sampai Agustus 2023, putaran kedua Maret sampai April 2024, dan putaran ketiga Oktober sampai November 2024. Dari 1.464 lansia yang terdaftar di awal, 731 orang lengkap mengikuti ketiga putaran. Usia rata-rata mereka 71,58 tahun, dan 356 di antaranya perempuan.
Gambaran yang dicatat Le Yang dan rekan tentang 731 lansia itu menunjukkan kelompok yang lemah secara ekonomi. Sebanyak 70,7 persen berpenghasilan pribadi paling banyak 500 yuan per bulan, dan 68,7 persen hanya bersekolah sampai tingkat dasar atau lebih rendah. Sebanyak 72,6 persen mengidap penyakit tidak menular, sementara 67,6 persen menilai kesehatannya sendiri buruk.
Baca juga Lapar di Masa Kecil Membuntuti Warga Desa Tiongkok hingga Tua
Catatan lain dari tim Yao memperlihatkan sisi yang berbeda. Sebanyak 78,8 persen peserta rutin berolahraga, 92,2 persen puas dengan hidupnya, dan 67,2 persen tidak menunjukkan gejala depresi. Hampir semua, 93,7 persen, dipindahkan secara terpusat. Sebanyak 83,1 persen tinggal di komunitas permukiman baru, dan 91,1 persen sudah menetap lima tahun atau lebih.
Menimbang Rasa Percaya dan Kebiasaan Saling Bantu
Untuk mengukur modal sosial, yakni sumber daya yang bisa diakses seseorang lewat hubungan sosial dan keterlibatan di komunitas, Yao memakai tiga dimensi. Dimensi struktural menghitung jaringan kerabat dan teman serta keikutsertaan dalam kegiatan sosial. Dimensi relasional menimbang rasa percaya dan timbal balik. Dimensi kognitif menangkap rasa memiliki, kekompakan, serta nilai bersama di permukiman baru.
Dimensi relasional disusun tim Le Yang dari dua belas pernyataan. Para lansia ditanya apakah mereka percaya kepada keluarga, teman, tetangga, dan kader komunitas, serta apakah kebijakan lanjutan relokasi dirasa adil. Mereka juga ditanya apakah tetangga saling membantu, apakah ada teman bicara saat cemas, dan apakah ada yang menolong ketika sakit. Skornya berkisar 0 sampai 12.
Selama tiga putaran, Yao memetakan lintasan skor tiap orang. Pada dimensi relasional, 618 lansia berada di kelompok rendah-stabil dan 113 di kelompok tinggi-stabil. Pola serupa muncul pada dimensi kognitif, dengan 640 orang di kelompok rendah-stabil dan 91 di kelompok tinggi-stabil. Pada dimensi struktural, kelompok tinggi-stabil justru yang terbesar, yakni 575 orang.
Le Yang dan rekan membaca pola itu dengan hati-hati. “Temuan kami menunjukkan bahwa potensi jaringan sosial yang meluas di komunitas baru tidak dengan sendirinya berubah menjadi modal sosial relasional dan kognitif yang lebih kuat,” tulis mereka (diterjemahkan dari bahasa Inggris). Menurut tim, banyak lansia pindahan masih memegang hukou, catatan kependudukan, di daerah asal sehingga tidak tercakup sebagian layanan kesejahteraan setempat.
Pergaulan yang tampak ramai pun, menurut Yao, belum tentu dalam. “Perluasan yang tampak ini menutupi kekurangan dari sisi mutu, karena interaksinya tetap dangkal dan sering terbatas pada lingkaran tertutup sesama pendatang,” tulis tim tersebut. Lingkaran itu, kata para peneliti, memberi bantuan penting, tetapi jarang dibangun di atas rasa percaya yang dalam atau rasa memiliki terhadap komunitas baru.
Mengukur Lemak Perut, Bukan Sekadar Berat Badan
Untuk sisi tubuh, Yao tidak hanya bersandar pada indeks massa tubuh. Ia memakai Body Roundness Index, indeks kebulatan tubuh yang menggabungkan tinggi badan dan lingkar pinggang lalu memodelkan bentuk badan sebagai elips. Menurut tim, indeks ini memberi gambaran lebih lengkap tentang sebaran lemak di rongga perut. Pengukurannya dilakukan tenaga medis profesional, misalnya perawat.
Alasan pilihan itu dijelaskan Yao di bagian pengantar artikelnya. Indeks massa tubuh, tulis tim, tidak bisa membedakan otot dari lemak, sedangkan lingkar pinggang saja tidak memperhitungkan tinggi badan. Mereka juga mencatat bahwa pada indeks massa tubuh yang sama, orang Asia kerap punya lemak dalam perut lebih banyak dan lebih mudah mengalami obesitas perut.
Sebaran indeks itu pada lansia pindahan dicatat Le Yang dan rekan dengan rinci. Sebagian besar, 74,83 persen, berada di rentang 3,36 sampai 5,73. Kuartil kedua, dengan nilai 3,36 sampai 4,61, menjadi kelompok paling ramai dengan 29,69 persen peserta, sementara kuartil teratas menampung 25,17 persen. Dari sisi indeks massa tubuh, 25,9 persen tergolong kelebihan berat dan 8,8 persen obesitas.
Baca juga Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi
Titik Balik di Skor 6,211
Tahap berikutnya adalah membandingkan kelompok. Dalam model yang sudah memperhitungkan usia, penghasilan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, penyakit kronis, gejala depresi, hingga indeks massa tubuh, Yao menemukan kelompok modal sosial relasional tinggi-stabil berkaitan dengan indeks kebulatan tubuh yang lebih tinggi daripada kelompok rendah-stabil. Nilai betanya 0,379, dengan selang kepercayaan 95 persen 0,026 sampai 0,731.
Dimensi lain tidak menunjukkan hal serupa. Tim Le Yang tidak menemukan hubungan bermakna antara dimensi struktural maupun kognitif dengan indeks tersebut. Jenis relokasi, terpusat atau tersebar, juga tidak mengubah hubungan itu secara bermakna. Ketika indeks massa tubuh dikeluarkan dari model, hubungan dimensi relasional dengan indeks kebulatan tubuh tetap bermakna, dengan nilai beta 0,414.
Yao lalu memeriksa apakah hubungan itu lurus atau melengkung. Analisis ambang menunjukkan titik belok di skor modal sosial relasional 6,211, dengan selang kepercayaan 95 persen 4,823 sampai 8,732. Di bawah titik itu, setiap kenaikan satu poin skor berkaitan dengan penurunan indeks sebesar 0,126. Di atasnya, arahnya berbalik: setiap satu poin berkaitan dengan kenaikan 0,093.
Titik itu bukan angka tengah. Menurut Yao dan rekan, rata-rata skor modal sosial relasional peserta 9,317 dengan simpangan baku 3,578, sehingga 6,211 berada kira-kira 3,1 poin di bawah rata-rata dan jatuh di ujung bawah sebaran. Pada titik belok itu, indeks kebulatan tubuh yang diperkirakan model sebesar 4,224, nilai terendah pada lengkung U tersebut.
Lengkung yang Bergeser Menurut Jenis Kelamin, Usia, dan Sekolah
Le Yang dan rekan kemudian memilah peserta ke dalam beberapa kelompok. Lengkung U muncul pada laki-laki dan perempuan, tetapi titik beloknya berbeda: skor 5,25 pada laki-laki dan 7,48 pada perempuan. Pada pemilahan usia, titik belok berada di skor 6,27 bagi yang berusia 72 tahun atau kurang, dan 7,18 bagi yang lebih tua dari 72 tahun.
Pola serupa terlihat ketika Yao memilah peserta menurut penghasilan pribadi bulanan. Titik belok berada di skor 6,33 bagi yang berpenghasilan paling banyak 500 yuan, 7,78 bagi kelompok 501 sampai 1.000 yuan, dan 4,57 bagi yang berpenghasilan di atas 1.000 yuan. Para peneliti menegaskan bahwa lengkung U tetap muncul meski letak titik beloknya bervariasi.
Pendidikan memberi cerita lain. Menurut tim Yao, lengkung U terutama tampak pada lansia berpendidikan sekolah dasar atau lebih rendah, dengan titik belok 6,84. Pada lulusan sekolah menengah atas ke atas, indeks justru terus menurun seiring naiknya skor modal sosial relasional. Pada lulusan sekolah menengah pertama, arahnya terus naik, dan keduanya berbentuk garis lurus.
Yao menawarkan dugaan untuk kedua ujung lengkung itu, sambil menegaskan bahwa jalurnya tidak diukur langsung dalam penelitian ini. Pada skor rendah, rasa percaya yang tipis diduga berkaitan dengan tekanan batin, gejala depresi, dan makan untuk melampiaskan emosi. Pada skor tinggi, pergaulan yang erat diduga memperkuat kebiasaan makan bersama, termasuk budaya saling mendorong orang lain untuk makan.
Tim Le Yang juga menyinggung tekanan ekonomi. Lansia pindahan umumnya menanggung beban keuangan, dan menurut para peneliti, kegiatan sosial yang sering dapat mendorong mereka memilih makanan murah tetapi tinggi kalori, ditambah budaya menjamu tamu ala desa. Pada lulusan sekolah menengah atas ke atas, tim menduga kesadaran kesehatan yang lebih kuat membantu mereka menjaga pola hidup sehat saat bergaul.
Baca juga Lansia China yang Tetap Bekerja Lebih Jarang Merasa Tak Berguna
Pesan untuk Dokter Komunitas di Permukiman Relokasi
Dari temuan itu, Yao dan rekan menyarankan dokter komunitas di lokasi relokasi memasukkan pertanyaan seputar rasa percaya dan saling bantu ke dalam pemeriksaan kesehatan rutin. Lansia yang skornya secara konsisten jauh di bawah 6,211, atau menyimpang jauh dari kisaran normal, disarankan ditandai sebagai kelompok berisiko tinggi dan dirujuk untuk pemeriksaan klinis lanjutan.
Le Yang dan rekan memberi batas yang tegas pada saran itu. “Modal sosial relasional hanya dipakai untuk penapisan risiko dan pemilahan populasi, dan tidak dapat menggantikan diagnosis klinis,” tulis mereka (diterjemahkan dari bahasa Inggris). Ambang yang ditemukan, menurut tim, juga perlu diuji ulang pada populasi dan situasi penerapan yang berbeda sebelum dipakai lebih luas.
Yao mengakui sejumlah keterbatasan. Masih mungkin ada faktor pengganggu yang belum sepenuhnya terkendali, dan modal sosial serta penyakit kronis diukur lewat pengakuan peserta sendiri. Survei hanya dilakukan di Tiongkok, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi kelompok ras atau etnis lain. Peserta relokasi tersebar, yang hanya 6,3 persen, terlalu sedikit untuk dibandingkan secara andal.
Karena itu, Dianrui Yao dan rekan meminta temuan mereka dibaca sebagai langkah awal. “Hasil penelitian ini harus dipandang sebagai temuan pendahuluan, dan keberlakuannya perlu diverifikasi lebih lanjut pada peserta yang lebih besar dan lebih beragam,” tulis mereka. Untuk sementara, bagi 731 lansia di 24 permukiman Shanxi itu, skor 6,211 menandai titik dengan lemak perut paling rendah.














