- Sebanyak 80,68 persen menjawab pernah, kira-kira empat dari setiap lima orang.
- Dari skor itu, 14,25 persen responden digolongkan miskin, kira-kira satu dari tujuh orang.
- Pada laki-laki, rasio peluang miskin bagi yang pernah lapar mencapai 2,461.
- Kira-kira seperlima, dan hampir empat perlima sisanya tidak diterangkan oleh sekolah maupun kesehatan.
Daftar Isi
Dapur yang pernah kehabisan makanan ketika seseorang masih kanak-kanak dan rumah tanpa jamban siram ketika orang yang sama sudah beruban tampak seperti dua perkara dari dua zaman yang tidak bersangkut paut. Sebuah telaah atas 4.233 warga desa berusia 60 tahun ke atas di Tiongkok menyandingkan keduanya, lalu mendapati bahwa lapar pada masa kecil berkaitan dengan kemiskinan yang datang berpuluh tahun sesudahnya.
Telaah itu ditulis Haitang Zhao dan Ge Bai dengan judul Childhood starvation and elderly poverty in rural China: the mediating effect of human capital in adulthood, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keduanya bekerja di School of Marxism, Chengdu University of Technology, di Kota Chengdu. Bahan yang mereka olah berasal dari China Health and Retirement Longitudinal Study gelombang 2014 dan 2018, survei yang dikelola Peking University, dan dibatasi pada orang yang tercatat sebagai penduduk desa.
Latarnya adalah sebuah capaian dan sebuah kecemasan. Tiongkok menyatakan kemiskinan absolut terhapus pada 2020, tetapi menurut kedua penulis sebagian besar orang lanjut usia di desa masih rentan jatuh atau kembali miskin. Kajian tentang kemiskinan orang tua selama ini, tulis mereka, lebih banyak menoleh ke hal yang dekat dengan hari tua, seperti sokongan keluarga dan akses ke pasar kerja, dan jarang mundur sampai ke masa kanak-kanak.
Di Satu Sisi, Pertanyaan tentang Dapur Masa Kecil
Sisi pertama diukur dengan satu pertanyaan sederhana: ketika masih kanak-kanak, sebelum berumur 17 tahun, pernahkah ada masa keluarga Anda tidak punya cukup makanan. Sebanyak 80,68 persen menjawab pernah, kira-kira empat dari setiap lima orang. Kedua penulis mengaitkan besarnya angka itu dengan Kelaparan Besar Tiongkok 1959–1961, dan menyebut sebagian besar orang tua di desa mengalami kekurangan yang berat pada masa kecil mereka.
Lamanya lapar juga dicatat, dengan membagi masa kecil menjadi tiga tahap, yakni umur 0 sampai 5, 6 sampai 12, dan 13 sampai 17 tahun. Rata-rata responden melaporkan lapar pada 1,451 tahap dari tiga tahap itu. Mereka sendiri kini berumur rata-rata 68,18 tahun, dengan yang tertua 98 tahun; 93,76 persen beretnis Han, 92,82 persen menikah, separuhnya tinggal serumah dengan anak, dan 43,23 persen ikut mengasuh cucu.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Di Sisi Lain, Enam Wajah Kemiskinan Hari Tua
Sisi kedua jauh lebih berlapis. Kemiskinan orang tua dalam telaah ini bukan hanya soal uang, melainkan hilangnya kemampuan dasar untuk hidup yang bermakna, dan karena itu diukur lewat enam segi: keadaan ekonomi, jaminan sosial, kesehatan, standar hidup, kesejahteraan batin, dan keikutsertaan dalam pergaulan. Dari segi uang, seseorang dianggap kekurangan bila pendapatannya tidak melebihi separuh nilai tengah pendapatan bersih per kepala rumah tangga dalam setahun.
Segi lain dibaca dari benda dan keadaan sehari-hari. Rumah diperiksa listriknya, jamban siramnya, air ledengnya, tempat mandinya, bangunannya, dan bahan bakar memasaknya. Orangnya ditanya apakah menerima pensiun dan punya asuransi kesehatan sosial, apakah mengidap penyakit menahun tanpa obat yang diperlukan, apakah sulit menjalani kegiatan harian, apakah sebulan terakhir ikut kegiatan sosial, dan apakah puas dengan pernikahan serta hubungannya dengan anak.
Semua itu dirangkum menjadi satu skor kekurangan dari nol sampai satu. Rata-ratanya 0,30, yang oleh kedua penulis disebut tingkat kekurangan berlapis yang sedang di kalangan orang tua desa, dengan nilai tertinggi 0,889. Dari skor itu, 14,25 persen responden digolongkan miskin, kira-kira satu dari tujuh orang. Jumlah yang pernah lapar, dengan begitu, jauh lebih besar daripada jumlah yang kini miskin.
Ketika kedua sisi dipertemukan, arahnya searah. Peluang miskin pada mereka yang pernah lapar tercatat 1,794 kali peluang mereka yang tidak, dihitung sebagai rasio peluang setelah umur, jenis kelamin, etnis, status menikah, dan keadaan keluarga ikut ditimbang. Setiap tambahan satu tahap lapar menaikkan rasio itu 1,195 kali. Skor kekurangan pun lebih tinggi 0,032 pada kelompok yang pernah lapar.
Tidak semua umur menanggung jejak yang sama. Lapar pada umur 6 sampai 12 tahun berkaitan paling tegas dengan kemiskinan hari tua, dengan rasio 1,680. Lapar pada umur 0 sampai 5 tahun dan 13 sampai 17 tahun juga menunjuk ke arah yang sama, masing-masing 1,181 dan 1,247, tetapi keduanya tidak bermakna secara statistik. Kedua penulis membacanya sebagai tanda bahwa akibat jangka panjang lapar berbeda dari satu tahap tumbuh ke tahap lain.
Kaitan itu bertahan ketika mereka membandingkan orang yang serupa ciri-cirinya. Di antara pasangan sepadan itu, bagian yang miskin 0,149 pada kelompok yang pernah lapar dan 0,104 sampai 0,118 pada pembandingnya, selisih 3,1 sampai 4,5 poin persentase. Mereka juga menghitung bahwa suatu faktor yang luput diukur baru bisa menghapus kaitan ini bila ia berhubungan dengan lapar dan kemiskinan sekuat rasio 2,67.
Pada Laki-laki, Kaitannya Lebih Tebal
Perbandingan berikutnya memisahkan laki-laki dari perempuan, dua kelompok yang jumlahnya nyaris sama, 2.115 dan 2.118 orang. Pada laki-laki, rasio peluang miskin bagi yang pernah lapar mencapai 2,461. Pada perempuan angkanya 1,475. Keduanya bermakna secara statistik dan keduanya menunjuk arah yang sama, tetapi kedua penulis menyebut kaitan pada laki-laki lebih kuat secara bermakna daripada pada perempuan.
Penjelasan yang mereka ajukan bersandar pada pembagian kerja. Laki-laki secara tradisional menjadi tenaga kerja utama rumah tangga, tulis mereka, dan lebih terpapar risiko pasar kerja pada hari tua. Naskah tidak menguji penjelasan itu dengan data tersendiri. Naskah juga tidak menyatakan perempuan luput dari jejak lapar; angka pada perempuan tetap di atas satu, hanya lebih tipis.
Pada Kelahiran 1950-an, Kaitannya Memudar
Pada perbandingan kedua, pemisahnya adalah dasawarsa lahir. Di antara 290 responden kelahiran 1920-an sampai 1930-an, rasio peluang miskin bagi yang pernah lapar tercatat 2,533, yang tertinggi dari semua kelompok. Di antara 1.456 responden kelahiran 1940-an angkanya 1,776. Di antara 2.487 responden kelahiran 1950-an, kelompok terbesar dan termuda, angkanya 1,392 dan tidak lagi bermakna secara statistik.
Kedua penulis menafsirkan pudarnya kaitan itu dengan hati-hati. Menurut mereka, konteks sejarah dan kelembagaan mungkin meredam akibat jangka panjang dari kekurangan pada awal hidup. Yang mereka tunjuk adalah perubahan kelembagaan setelah 1949 dan masa reformasi dan keterbukaan sesudahnya, yang membawa kestabilan sosial, layanan publik yang meluas, dan pertumbuhan ekonomi yang cepat, sehingga sebagian beban itu barangkali tertahan bagi mereka yang lahir belakangan.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Jalan Pertama Lewat Bangku Sekolah
Lalu lewat jalan apa lapar seorang anak sampai ke hari tuanya? Kedua penulis memeriksa dua jalan, dan yang pertama adalah sekolah. Rata-rata pendidikan responden setara dengan belum tamat sekolah dasar, dan mereka menyelesaikan jenjang tertingginya pada umur rata-rata 9,918 tahun. Mereka yang pernah lapar berpendidikan lebih rendah, sedangkan setiap kenaikan jenjang pendidikan berkaitan dengan peluang miskin yang lebih kecil, dengan rasio 0,854.
Dari seluruh kaitan antara lapar dan kemiskinan, jenjang pendidikan tertinggi menjelaskan 6,16 persen dan umur ketika jenjang itu diselesaikan menjelaskan 3,29 persen. Jalan sekolah, dengan demikian, menanggung 9,45 persen. Teori yang dipakai kedua penulis menyebut anak yang lapar lebih mungkin meninggalkan sekolah lebih awal untuk menyokong keluarga, lalu membawa kekurangan itu ke pekerjaan dan penghasilan pada usia paruh baya.
Jalan Kedua Lewat Badan yang Pernah Sakit
Pada jalan kedua, yang ditanyakan adalah riwayat badan semasa dewasa. Sebanyak 8,53 persen responden pernah cedera hingga meninggalkan cacat atau keterbatasan, 17,17 persen pernah terbaring di ranjang atau terkurung di rumah sebulan atau lebih karena sakit, dan 18,19 persen pernah berhenti bekerja selama itu. Mereka yang pernah lapar lebih berpeluang mengalami ketiganya, dengan rasio 1,843, 1,352, dan 1,424.
Ketiga riwayat itu pada gilirannya berkaitan dengan kemiskinan hari tua, dengan rasio 1,682, 1,406, dan 1,627. Cedera menjelaskan 3,75 persen dari seluruh kaitan, terbaring sakit 3,92 persen, dan berhenti bekerja 4,84 persen, sehingga jalan badan menanggung 12,51 persen. Dua jalan itu bersama-sama menjelaskan 21,96 persen. Kira-kira seperlima, dan hampir empat perlima sisanya tidak diterangkan oleh sekolah maupun kesehatan.
Kedua penulis menempatkan angka itu dalam keadaan desa yang lebih luas. Mereka mengutip data CLASS 2018 bahwa 81,68 persen orang tua desa paling tinggi berpendidikan sekolah dasar dan bergantung pada kerja kasar berupah rendah, dengan akses terbatas ke layanan publik dan jaminan sosial. “Akibatnya, kelaparan masa kecil tidak teredam secara efektif; ia justru berkembang menjadi kekurangan modal manusia yang kian mengikis ketahanan di usia lanjut,” tulis Haitang Zhao dan Ge Bai, peneliti School of Marxism di Chengdu University of Technology, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari sana mereka mengusulkan tiga langkah yang bersambung. Di hulu, lapar masa kecil dikenali sejak dini dan pemantauan gizi dimasukkan ke layanan perawatan orang tua bagi para penyintas kelaparan. Di tengah, negara menanam modal pada pendidikan, layanan kesehatan, pelatihan kerja, dan perawatan orang tua. Sebagai dasar bagi keduanya, mereka menyebut sistem terpadu yang berpusat pada keluarga dan bekerja sepanjang hayat.
Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah
Batas telaah ini diakui penulisnya sendiri. Lapar masa kecil dan riwayat sekolah serta kesehatan semasa dewasa digali dari ingatan responden, sehingga bisa meleset atau salah ukur. Datanya tidak memungkinkan perubahan dari waktu ke waktu diikuti, sehingga sebab dan akibat tidak dapat dipastikan. Hal lain yang tidak diukur, seperti sifat kepribadian, sokongan sosial pada masa kecil, dan cara orang menilai daya pikirnya sendiri, mungkin ikut bekerja.
Beberapa hal dalam naskah patut dicocokkan pembaca. Teks menyebut 49,96 persen responden perempuan, padahal dalam tabel angka itu melekat pada kode laki-laki dan sama dengan 2.115 dari 4.233 orang. Bagian data menyatakan persetujuan etik tidak diperlukan, sedangkan bagian pernyataan menyebut persetujuan itu diberikan komite Peking University. Angka lapar dikaitkan dengan kelaparan 1959–1961, padahal responden kelahiran 1920-an dan 1930-an melewati masa kecilnya sebelum itu.
Maka dapur yang kosong dan rumah tanpa jamban siram itu ternyata tidak sejauh yang tampak, meski jarak di antaranya tidak tertutup seluruhnya. Sekolah dan badan menjelaskan seperlima, laki-laki menanggung lebih tebal daripada perempuan, dan angkatan 1950-an lebih tipis daripada angkatan sebelumnya. Di satu sisi ada lapar yang dialami empat dari lima orang; di sisi lain ada kemiskinan yang menimpa satu dari tujuh, dan telaah ini hanya menerangi sebagian jalan di antara keduanya.















