Kaitan Jalan Kaki dan Kualitas Hidup Pudar Saat Lansia Dihitung

A A

Jalur pejalan kaki di tepi sungai Cheonggyecheon, pusat kota Seoul, pada malam hari [Foto: lumoplank/Wikimedia Commons, CC0]

  • Rata-rata partisipasi jalan kaki di 229 distrik Korea Selatan tercatat 50,36 persen orang dewasa.
  • Partisipasi jalan kaki berkorelasi positif dengan skor kualitas hidup EQ-5D, dengan r sebesar 0,27.
  • Setelah proporsi warga 65 tahun ke atas dimasukkan, kaitan jalan kaki dengan kualitas hidup tidak lagi bermakna.
  • Nilai R kuadrat naik dari 0,113 pada model ketiga menjadi 0,223 pada model keempat.
Daftar Isi
  1. Cara Distrik Dibandingkan: Lewat Rata-rata, Bukan Orang
  2. Jalan Kaki, Stres, dan Kualitas Hidup Bergerak Searah
  3. Proporsi Lansia Berkorelasi dengan Dua Angka Sekaligus
  4. Empat Model Bertahap dan Kaitan yang Memudar
  5. Jalan Kaki Ikut Searah dengan Murung dan Stres
  6. Mengapa Stres Tidak Bisa Dibaca sebagai Kabar Baik
  7. Batas Data Tingkat Distrik dan Langkah Berikutnya

Orang yang rajin berjalan kaki biasanya dibayangkan lebih bugar, lebih tenang, dan lebih puas dengan hidupnya. Di peta distrik Korea Selatan, gambaran itu tidak serapi yang dibayangkan. Distrik yang lebih banyak warganya berjalan kaki memang cenderung mencatat kualitas hidup terkait kesehatan yang lebih tinggi, tetapi distrik yang sama juga mencatat lebih banyak warga yang merasa stres dan murung. Selain itu, stres justru bergerak searah dengan kualitas hidup yang lebih tinggi.

Pola yang terasa terbalik itu dipetakan oleh Soo-jin Choi dari Departemen Pendidikan, Zhejiang University, Hangzhou, Tiongkok, dalam artikel Walking participation and health-related quality of life: an ecological analysis across 229 districts in Korea. Tulisan itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Choi memakai data agregat publik tahun 2024 dari layanan statistik Korea (KOSIS) dan Survei Kesehatan Masyarakat Korea untuk orang dewasa berusia 19 tahun ke atas, lalu membandingkan angka antardistrik, bukan antarorang.

Ukuran yang dipakai pun sederhana. Partisipasi jalan kaki adalah persentase orang dewasa di tiap distrik yang berjalan kaki minimal 30 menit sehari, lima hari atau lebih dalam seminggu. Kualitas hidup diukur dengan indeks EQ-5D, yang merangkum lima sisi kesehatan: kemampuan bergerak, merawat diri, menjalankan kegiatan sehari-hari, rasa nyeri atau tidak nyaman, serta rasa cemas atau murung. Skornya berkisar dari 0 untuk keadaan terburuk sampai 1 untuk sehat penuh.

Cara Distrik Dibandingkan: Lewat Rata-rata, Bukan Orang

Karena itu, setiap distrik hanya diwakili satu angka untuk tiap ukuran. Rata-rata partisipasi jalan kaki di 229 distrik itu 50,36 persen. Rentangnya lebar: distrik terendah mencatat 25,9 persen, distrik tertinggi 78,9 persen. Ukuran aktivitas fisik sedang hingga berat, yang mengikuti anjuran nasional Korea berupa 150 menit aktivitas sedang atau 75 menit aktivitas berat per minggu, rata-ratanya lebih rendah, yaitu 24,63 persen.

Angka kesehatan jiwa bergerak di kisaran berbeda. Rata-rata 6,62 persen orang dewasa per distrik melaporkan suasana hati murung selama dua minggu berturut-turut atau lebih dalam setahun terakhir, sedangkan 20,93 persen melaporkan stres harian yang tinggi. Proporsi warga berusia 65 tahun ke atas rata-rata 26,42 persen, dengan rentang 10,9 sampai 47,5 persen antardistrik. Ukuran inilah yang kemudian dimasukkan Choi sebagai penyesuaian dalam model terakhirnya.

Skor kualitas hidup justru nyaris seragam. Rata-ratanya 0,938, dengan distrik terendah 0,889 dan tertinggi 0,975. Choi menyebut angka itu menunjukkan kualitas hidup yang relatif tinggi di seluruh distrik dengan variasi antarwilayah yang sederhana, dan sempitnya ruang gerak skor tersebut nantinya ia catat sebagai salah satu hal yang membatasi kekuatan analisisnya.

Baca juga Berhenti Naik Angkutan Umum, Langkah dan Ingatan Lansia Surut

Jalan Kaki, Stres, dan Kualitas Hidup Bergerak Searah

Langkah pertama Choi adalah melihat ukuran mana yang naik dan turun bersama. Partisipasi jalan kaki berkorelasi positif dengan skor EQ-5D, dengan koefisien r sebesar 0,27, yang menurut Choi berarti distrik dengan lebih banyak pejalan kaki cenderung juga mencatat kualitas hidup lebih tinggi. Choi mengingatkan bahwa analisis ekologis semacam ini tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat.

Kaitan tiap ukuran distrik dengan skor kualitas hidup EQ-5DPartisipasi jalan kaki: Korelasi Pearson r dengan EQ-5D +0,27; MVPA (aktivitas fisik sedang-berat): Korelasi Pearson r dengan EQ-5D +0,01; Gejala depresi: Korelasi Pearson r dengan EQ-5D −0,04; Stres yang dirasakan: Korelasi Pearson r dengan EQ-5D +0,20; Proporsi warga usia 65+: Korelasi Pearson r dengan EQ-5D −0,44.Kaitan tiap ukuran distrik dengan skorkualitas hidup EQ-5DKoefisien korelasi r, 229 distrik Korea Selatan, data 2024−0,4−0,20,20,40Partisipasi jalan kaki+0,27MVPA (aktivitas fisik sedang-berat)+0,01Gejala depresi−0,04Stres yang dirasakan+0,20Proporsi warga usia 65+−0,44Analisis ekologis tak dapat menetapkan sebab-akibat.
Sumber: Soo-jin Choi, Walking participation and health-related quality of life: an ecological analysis across 229 districts in Korea, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Aktivitas fisik sedang hingga berat memberi gambaran lain. Korelasinya dengan EQ-5D hampir nol, r sebesar 0,01, walaupun ukuran ini berkorelasi positif lemah dengan partisipasi jalan kaki, r sebesar 0,21. Proporsi gejala depresi juga tidak berkorelasi bermakna dengan kualitas hidup, dengan r sebesar −0,04, sementara depresi dan stres saling berkorelasi positif dengan r sebesar 0,39.

Persoalannya muncul pada stres. Persentase warga yang merasa stres tinggi berkorelasi positif dengan EQ-5D, r sebesar 0,20. Partisipasi jalan kaki sendiri berkorelasi positif dengan stres, r sebesar 0,32, dan dengan gejala depresi, r sebesar 0,19. Choi menulis bahwa hubungan di tingkat distrik antara jalan kaki dan indikator kesehatan jiwa mungkin berbeda dari hubungan yang biasa ditemukan di tingkat perorangan.

Proporsi Lansia Berkorelasi dengan Dua Angka Sekaligus

Yang membuatnya rumit adalah komposisi usia penduduk. Proporsi warga berusia 65 tahun ke atas berkorelasi negatif dengan partisipasi jalan kaki, r sebesar −0,41, sekaligus berkorelasi negatif dengan skor EQ-5D, r sebesar −0,44. Choi membaca pola ini sebagai isyarat bahwa struktur usia distrik mungkin menjelaskan sebagian kaitan antara jalan kaki dan kualitas hidup yang terlihat di awal.

Maksudnya, distrik dengan lebih banyak warga lanjut usia cenderung mencatat lebih sedikit pejalan kaki rutin, dan distrik yang sama cenderung mencatat skor kualitas hidup lebih rendah. Menurut Choi, komposisi demografis mungkin menjelaskan bagian penting dari kaitan antara jalan kaki dan kualitas hidup yang terlihat di awal. Kemungkinan itu ia periksa lewat empat model regresi yang disusun bertahap.

Empat Model Bertahap dan Kaitan yang Memudar

Choi menyusun empat model dengan EQ-5D sebagai ukuran yang hendak dijelaskan. Pada model pertama, yang hanya memuat jalan kaki dan aktivitas fisik sedang hingga berat, partisipasi jalan kaki berkaitan bermakna dengan skor EQ-5D yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,000440. Aktivitas fisik sedang hingga berat tidak berkaitan bermakna, dengan nilai p sebesar 0,46. Model ini menjelaskan 7,7 persen variasi kualitas hidup antardistrik.

Model kedua hanya memuat dua ukuran kesehatan jiwa. Gejala depresi berkaitan negatif dengan EQ-5D, dengan koefisien −0,001168, sedangkan stres berkaitan positif, dengan koefisien 0,001264. Model ini menjelaskan 5,9 persen variasi kualitas hidup antardistrik, lebih kecil daripada model pertama.

Pada model ketiga, keempat ukuran dimasukkan bersamaan. Jalan kaki tetap berkaitan bermakna dengan kualitas hidup yang lebih tinggi dengan koefisien 0,000389, depresi tetap berkaitan negatif dengan koefisien −0,001279, stres tetap berkaitan positif dengan koefisien 0,000916, dan aktivitas fisik sedang hingga berat tetap tidak bermakna. Model lengkap ini menjelaskan 11,3 persen variasi kualitas hidup antardistrik.

Baca juga Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia

Pada model keempat, Choi menambahkan proporsi warga berusia 65 tahun ke atas. Kaitan jalan kaki dengan kualitas hidup melemah menjadi koefisien 0,000107 dan tidak lagi bermakna secara statistik, dengan nilai p sebesar 0,332. Kaitan stres ikut melemah menjadi 0,000122 dan tidak bermakna, dengan p sebesar 0,731, sementara proporsi lansia sendiri berkaitan negatif dan bermakna dengan EQ-5D, dengan koefisien −0,000788.

Daya jelas model justru naik cukup besar. Nilai R kuadrat naik dari 0,113 pada model ketiga menjadi 0,223 pada model keempat, yang oleh Choi dibaca sebagai tanda bahwa struktur usia distrik menjelaskan bagian berarti dari perbedaan kualitas hidup antarwilayah. Kaitan gejala depresi dengan kualitas hidup pada model ini tercatat dengan koefisien −0,001028 dan p di bawah 0,10, di atas batas kemaknaan 0,05 yang dipakai Choi.

Daya jelas empat model regresi terhadap skor EQ-5DModel 1: aktivitas fisik 0,077; Model 2: kesehatan jiwa 0,059; Model 3: model lengkap 0,113; Model 4: ditambah usia 65+ 0,223.Daya jelas empat model regresi terhadapskor EQ-5DNilai R kuadrat, N = 229 distrik0,00,10,2Model 1: aktivitas fisik0,077Model 2: kesehatan jiwa0,059Model 3: model lengkap0,113Model 4: ditambah usia 65+0,223Di Model 4 kaitan jalan kaki tak lagi bermakna, p 0,332.
Sumber: Soo-jin Choi, Walking participation and health-related quality of life: an ecological analysis across 229 districts in Korea, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Jalan Kaki Ikut Searah dengan Murung dan Stres

Choi kemudian menguji apakah partisipasi jalan kaki berkaitan positif dengan ukuran kesehatan jiwa distrik. Hasilnya, jalan kaki berkaitan dengan gejala depresi yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,0338 dan p sebesar 0,007, serta dengan stres yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,1013 dan p kurang dari 0,001. Riset tingkat perorangan, tulis Choi, umumnya melaporkan aktivitas fisik berkaitan dengan depresi dan stres yang lebih rendah.

Analisis tambahan yang memperhitungkan struktur usia distrik menghasilkan arah hubungan yang secara umum serupa. Namun, kaitan jalan kaki dengan kualitas hidup tetap memudar setelah proporsi warga 65 tahun ke atas dimasukkan. Struktur usia itu sendiri berkaitan negatif dan bermakna dengan kualitas hidup, yang menurut Choi menandakan komposisi demografis bisa menjelaskan sebagian perbedaan kualitas hidup antardistrik.

Mengapa Stres Tidak Bisa Dibaca sebagai Kabar Baik

Kaitan positif antara stres dan kualitas hidup disebut Choi sebagai salah satu temuan paling menonjol. Pola ini berbeda dari kebanyakan studi perorangan, yang umumnya melaporkan stres berkaitan dengan kualitas hidup yang lebih rendah. Ia menduga kaitan itu mungkin mencerminkan perbedaan komposisi atau konteks antardistrik, misalnya distrik tertentu yang sekaligus mencatat rata-rata stres dan rata-rata kualitas hidup lebih tinggi karena perbedaan komposisi atau konteks yang tidak diukur langsung dalam studi ini.

Choi menegaskan penjelasan tersebut hanya penjelasan ekologis hipotetis, bukan mekanisme yang sudah terbukti, dan ia menolak tafsir bahwa stres baik bagi kesehatan. “Temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa stres bermanfaat bagi kualitas hidup terkait kesehatan pada tingkat perorangan,” tulis Choi, dalam terjemahan dari naskah berbahasa Inggris.

Persoalan ini, menurut Choi, mirip dengan perdebatan klasik tentang kekeliruan ekologis, ketika hubungan yang terlihat pada tingkat penduduk belum tentu berlaku bagi orang per orang. Kebalikannya juga berlaku, karena temuan pada tingkat perorangan belum tentu menjelaskan pola antarwilayah. Hasil studinya karena itu diminta dibaca sebagai kaitan pada tingkat distrik, bukan sebagai mekanisme sebab-akibat yang bekerja pada diri setiap orang.

Baca juga Ozon Udara Terkait Rabun Usia Tua di Kota Korea, Bukan di Desa

Ada satu catatan lain tentang aktivitas yang lebih berat. Dalam model pertama, ketiga, dan keempat, ukuran aktivitas fisik sedang hingga berat tidak berkaitan bermakna dengan kualitas hidup. Choi menafsirkan bahwa pada tingkat distrik, ukuran itu mungkin tidak menangkap perbedaan kualitas hidup antarkomunitas sebaik ukuran jalan kaki. Ia juga menekankan pentingnya memperhitungkan komposisi demografis saat membaca kaitan ekologis semacam ini.

Batas Data Tingkat Distrik dan Langkah Berikutnya

Choi mencatat sejumlah keterbatasan studinya. Analisis ekologis tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat dan tidak dapat digeneralisasi ke kondisi perorangan. Rancangannya juga tidak mampu memisahkan penjelasan komposisi, yakni perbedaan ciri penduduk antardistrik, dari penjelasan konteks yang berkaitan dengan lingkungan dan struktur wilayah, sehingga kedua kemungkinan itu masih bercampur dalam angka yang sama.

Sejumlah faktor yang mungkin penting tidak tersedia dalam data, di antaranya status sosial ekonomi, tingkat urbanisasi, akses layanan kesehatan, modal sosial, keamanan lingkungan tempat tinggal, dan ciri lingkungan binaan. Skor EQ-5D di Korea juga cenderung menumpuk di ujung atas skala, sehingga variasinya terbatas dan, menurut Choi, sebagian bisa menjelaskan nilai R kuadrat yang relatif kecil pada model-modelnya.

Untuk penelitian berikutnya, Choi menyarankan penambahan ukuran tingkat distrik seperti pendapatan, indeks kelayakan berjalan kaki, kondisi lingkungan, indikator ekonomi, dan faktor sosial. Data semacam itu diharapkan membantu menjelaskan mengapa indikator kesehatan jiwa berperilaku berbeda dari satu komunitas ke komunitas lain. Ia juga mendorong riset lanjutan tentang bagaimana ciri demografis dan konteks distrik berkaitan dengan pola kualitas hidup dan kesehatan jiwa antarwilayah.

Dalam simpulannya, Choi menulis bahwa partisipasi jalan kaki berkaitan dengan kualitas hidup pada model-model awal, tetapi kaitan itu banyak melemah setelah struktur usia distrik diperhitungkan, dan komposisi demografis mungkin menjelaskan porsi penting perbedaan kualitas hidup antardistrik. Gejala depresi yang lebih tinggi berkaitan dengan kualitas hidup yang lebih rendah, sedangkan stres menunjukkan kaitan positif pada tingkat ekologis. Choi menyimpulkan partisipasi jalan kaki mungkin berguna sebagai penanda pola kualitas hidup suatu wilayah, bukan bukti langsung bahwa menambah kebiasaan berjalan saja akan memperbaiki kualitas hidup sebuah distrik.

Bagikan

Baca Juga

Son Disorot, Timnas Korea Selatan Dilanda Keretakan
Karyawan Kasino Makau Paling Tenang Bila Tangguh dan Didukung
Setahun Usai Gempa Noto, Penyintas yang Kesepian Lebih Tertekan
Warga Fukushima Bergejala Trauma Lebih Kerap Sulit Mengunyah
Menu Serba Nasi Remaja Korea Terkait Obesitas dan HDL Rendah
Pasien Diabetes Korea yang Punya Tempat Berobat Tetap Lebih Patuh