- Dari semua pemilahan itu hanya satu yang secara statistik sungguh mengubah besarnya kaitan, yakni wilayah tinggal, dan arahnya berlawanan dengan dugaan yang paling mudah.
- Suhu udara rata-rata, sebaliknya, nyaris kembar di kedua kelompok, 12,92 dan 12,93 derajat Celsius, sehingga yang membedakan mereka bukan sekadar hangat atau dinginnya tempat tinggal.
- Kedekatan itu tidak menghapus perbedaan soal kota dan desa, yang tetap menjadi milik data Korea sendiri.
- Ciri kota yang mana, naskah itu tidak sanggup menjawab.
Daftar Isi
Udara kotor selalu dibayangkan sebagai urusan paru-paru, sesuatu yang dihirup, mengendap di dada, dan baru terasa ketika napas memendek. Mata jarang masuk ke dalam bayangan itu, padahal sebuah telaah atas belasan ribu orang dewasa di Korea mendapati bahwa ozon, gas yang tidak tampak dan tidak keluar dari knalpot mana pun, berkaitan dengan rusaknya bagian retina yang membuat orang lanjut usia kehilangan penglihatan tengahnya.
Telaah itu ditulis KeunKyun Kim, Seohyun Ahn, dan Hyun-Jin Kim dengan judul Long-term ambient ozone exposure and prevalence of age-related macular degeneration in Korean adults: a nationwide cross-sectional study with stratified analyses, terbit di BMC Public Health tahun 2026 dalam versi yang belum bernomor volume. Ketiganya bekerja di Cancer Big Data Center, National Cancer Control Institute, National Cancer Center di Goyang-si, Republik Korea, dan bahan yang mereka olah adalah catatan 13.985 peserta survei kesehatan dan gizi nasional Korea berusia 40 tahun ke atas, yang diperiksa antara 2017 dan 2021.
Penyakit yang mereka persoalkan bernama degenerasi makula terkait usia, kelainan retina yang berjalan pelan dan, menurut naskah itu, menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang tidak bisa dipulihkan pada orang lanjut usia di seluruh dunia. Penderitanya ditaksir sekitar 196 juta orang pada 2020 dan diperkirakan menjadi 288 juta pada 2040, sementara penglihatan tengah yang direnggutnya membatasi kegiatan sehari-hari, mengikis kemandirian, dan kerap berujung pada depresi serta keterasingan sosial.
Gas yang Naik Ketika Polutan Lain Turun
Rokok, keturunan, dan penyakit jantung serta pembuluh darah sudah lama dikenal sebagai faktor risikonya, tetapi para penulis menilai ketiganya sulit diandalkan untuk menurunkan beban penyakit, sebab keturunan tidak bisa diubah dan perubahan perilaku sukar dipertahankan. Karena itu perhatian beralih ke paparan yang mengenai semua orang sekaligus, yakni udara, dan di antara pencemar udara mereka memilih ozon, oksidan kuat yang mampu memicu stres oksidatif dan peradangan pada jaringan.
Pilihan itu punya alasan setempat. Ozon, tulis mereka, adalah pencemar sekunder yang terbentuk lewat reaksi fotokimia di udara, berbeda dari partikel halus dan nitrogen dioksida yang selama ini lebih sering diteliti dalam kaitannya dengan penyakit ini, dan kadarnya di Korea terus naik justru ketika beberapa pencemar utama lain berhasil ditekan. Kerusakan oksidatif pada lapisan pigmen retina sendiri disebut naskah sebagai mekanisme kunci penyakit tersebut, sehingga gas pengoksidasi itu masuk akal dicurigai.
Namun, bukti yang ada tidak searah. Telaah terdahulu atas survei yang sama untuk tahun 2008 sampai 2012 malah melaporkan kaitan terbalik, yakni makin tinggi ozon makin jarang penyakitnya, sedangkan dua penelitian yang lebih baru di China menemukan kaitan positif. Para penulis menganggap taksiran lama itu berasal dari data lebih dari satu dasawarsa silam dan mungkin tidak lagi mencerminkan udara Korea masa kini, lalu memeriksanya ulang dengan catatan yang lebih mutakhir.
Baca juga Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea
Satu dari Tujuh Peserta, dan Siapa Mereka
Dari seluruh peserta, 1.999 orang atau 14,3 persen, kira-kira satu dari tujuh, terbukti mengalami degenerasi makula berdasarkan foto bagian belakang bola mata mereka. Kelompok ini lebih tua, sebab hampir separuhnya, 49,1 persen, berusia 65 sampai 80 tahun, sedangkan pada peserta lain hanya 21,8 persen; lebih banyak pula laki-lakinya, 53,7 persen berbanding 45,4 persen.
Garis sosialnya sama tegas. Mereka yang tidak tamat sekolah dasar mencapai 30,3 persen di kelompok penderita dan 16,6 persen di kelompok lain, mereka yang berpendapatan rumah tangga di separuh terbawah 53,1 persen berbanding 39,3 persen, dan pekerja luar ruangan 39,4 persen berbanding 29,8 persen. Katarak dua kali lebih sering, 28,5 persen berbanding 14,4 persen, begitu pula beban dua penyakit penyerta atau lebih, 37,3 persen berbanding 22,9 persen.
Di tengah perbedaan sebanyak itu, udara yang mereka hirup pun tidak sama. Rata-rata kadar ozon setahun terakhir di tempat tinggal para penderita tercatat 32,69 bagian per miliar, sedangkan di tempat tinggal peserta lain 31,35 bagian per miliar, selisih yang bermakna secara statistik. Suhu udara rata-rata, sebaliknya, nyaris kembar di kedua kelompok, 12,92 dan 12,93 derajat Celsius, sehingga yang membedakan mereka bukan sekadar hangat atau dinginnya tempat tinggal.
Kaitan yang Menyusut tetapi Tidak Hilang
Hitungan kasarnya cukup mencolok: setiap kenaikan kadar ozon sebesar satu rentang antarkuartil, yakni 9,52 bagian per miliar untuk rata-rata setahun, berkaitan dengan peluang 1,26 kali lebih besar untuk mengalami degenerasi makula. Angka itu tentu belum adil, karena penderita lebih tua, lebih miskin, dan lebih sakit, dan setelah umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, wilayah tinggal, rokok, alkohol, gerak badan, berat badan, penyakit penyerta, dan suhu ditimbang bersama, kaitan itu menyusut.
Yang tersisa lebih sederhana, tetapi bertahan. Peluang itu menjadi 1,11 kali untuk paparan setahun, 1,12 kali untuk tiga tahun, dan 1,10 kali untuk lima tahun, masing-masing dengan rentang ketidakpastian yang tidak menyentuh angka satu, yaitu 1,02 sampai 1,20, 1,04 sampai 1,22, dan 1,02 sampai 1,19. Ketika partikel halus PM2,5 ikut dimasukkan ke dalam hitungan, hasilnya tidak berubah berarti, dan kaitan itu tetap bermakna pada ketiga jangka paparan.
Arah yang sama terlihat pada hampir semua golongan peserta, walau kekuatannya berlainan. Pada laki-laki peluangnya 1,16 kali dan bermakna, pada perempuan 1,08 kali dengan rentang yang masih melintasi angka satu; pada peserta berusia 65 sampai 80 tahun 1,15 kali, pada pemilik katarak 1,21 kali, dan pada mereka yang menanggung dua penyakit penyerta atau lebih 1,17 kali. Para penulis menduga kesehatan mata dan tubuh yang sudah terganggu memperbesar kerentanan terhadap kerusakan oksidatif dan peradangan yang dipicu ozon.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Desa yang Lebih Berozon, Kota yang Lebih Terkait
Di situlah persoalannya berbelok. Dari semua pemilahan itu hanya satu yang secara statistik sungguh mengubah besarnya kaitan, yakni wilayah tinggal, dan arahnya berlawanan dengan dugaan yang paling mudah. Pada 9.902 warga tujuh kota metropolitan, Sejong, dan Provinsi Gyeonggi, peluang itu mencapai 1,32 kali dengan rentang 1,18 sampai 1,48, sedangkan pada 4.083 warga provinsi lain angkanya 0,97 dengan rentang 0,86 sampai 1,09, alias tidak ada kaitan yang bisa dibedakan dari kebetulan.
Justru sebaliknya yang terjadi pada kadar gasnya. Warga desa menghirup ozon yang lebih pekat pada semua jangka paparan, rata-rata 37,1 bagian per miliar selama tiga tahun berbanding 27,7 bagian per miliar di kota, sehingga tempat yang ozonnya lebih rendah itulah yang memperlihatkan kaitan dengan penyakit mata. Pola ini juga bertolak belakang dengan dua penelitian di China yang dikutip naskah, yang menemukan kaitan lebih kuat di perdesaan dan menjelaskannya dengan tingginya ozon di kawasan pertanian.
“Kaitan yang lebih kuat pada warga perkotaan, meski kadar ozon di udara lebih tinggi di wilayah perdesaan, mengisyaratkan bahwa ciri lingkungan perkotaan lain mungkin turut menyumbang pada kaitan yang teramati,” tulis Hyun-Jin Kim, peneliti Department of Public Health & AI di Graduate School of Cancer Science and Policy, National Cancer Center, bersama dua rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu membelokkan seluruh bacaan, sebab ozon yang semula menjadi tersangka tunggal kini hanya salah satu penghuni udara kota.
Ciri kota yang mana, naskah itu tidak sanggup menjawab. “Namun, faktor lingkungan atau perilaku tertentu yang mendasari perbedaan kota dan desa ini masih belum jelas dan perlu diselidiki lebih lanjut,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Yang mereka pastikan hanyalah apa yang bukan penjelasannya, yaitu kadar ozon yang lebih tinggi, karena kadar setinggi itu ada di desa dan di sana kaitannya tidak muncul.
Mengapa Hasil Lama Berbunyi Sebaliknya
Pertentangan dengan telaah Korea terdahulu dijelaskan para penulis lewat dua kemungkinan. Yang pertama adalah waktu, sebab kadar ozon di negeri itu naik banyak dalam beberapa dasawarsa terakhir dan pola paparan penduduk boleh jadi sudah bergeser sejak survei 2008 sampai 2012. Yang kedua adalah batasan penyakitnya, karena hitungan mereka mencakup tahap dini maupun tahap lanjut, sedangkan telaah lama itu, menurut bagian pembahasan, memusatkan diri pada tahap dini.
Dengan hasil baru ini, temuan Korea bergeser mendekati riset di tempat lain. Sebuah meta-analisis yang mereka rujuk mencatat peluang gabungan 1,06 kali untuk kaitan ozon dan degenerasi makula, dan sebuah penelitian di China yang mengikuti pesertanya dari waktu ke waktu mendapati risiko kasus baru meningkat pada paparan ozon yang lebih tinggi, juga setelah partikel halus diperhitungkan. Kedekatan itu tidak menghapus perbedaan soal kota dan desa, yang tetap menjadi milik data Korea sendiri.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Batas yang Diakui dan yang Patut Dicocokkan
Batas penelitian ini diakui para penulisnya sendiri. Data dipotret pada satu waktu sehingga sebab dan akibat tidak dapat ditetapkan dan kemungkinan arah terbalik tidak tersingkir; kadar ozon ditaksir sebagai rata-rata wilayah menurut alamat, bukan diukur pada tiap orang, dan perpindahan rumah selama masa paparan tidak dihitung. Polusi dalam ruangan, paparan di tempat kerja, pola makan, dan sinar ultraungu, yang datanya tidak tersedia, juga tidak dapat ditimbang.
Beberapa hal dalam naskah patut dicocokkan pembaca. Bagian latar menyebut telaah lama menemukan kaitan terbalik terutama pada tahap dini, sedangkan bagian pembahasan menyebut telaah itu hanya meneliti tahap dini. Pada peserta berusia 40 sampai 64 tahun batas bawah rentangnya tepat 1,00, tetapi kaitan disebut teramati di kedua kelompok umur. Tabel ciri peserta pun memuat 698 penderita di antara 4.083 warga desa dan 1.301 di antara 9.902 warga kota, kira-kira 17 dan 13 persen bila dihitung sendiri, perbandingan yang tidak dibahas.
Maka yang tertinggal adalah gambaran yang tidak rampung: gas yang kadarnya lebih tinggi di desa, penyakit yang kaitannya hanya terbaca di kota, dan retina belasan ribu orang yang dipotret sekali tanpa pernah diikuti. Apakah ozon sendiri yang bekerja pada mata warga kota, ataukah ia sekadar menandai sesuatu yang lain di udara perkotaan yang belum diukur siapa pun, dan apakah kaitan itu masih bertahan bila orang yang sama diperiksa lagi bertahun-tahun kemudian?















