Pasien Diabetes Korea yang Punya Tempat Berobat Tetap Lebih Patuh

A A

Ilustrasi ujung jari dengan setetes darah didekatkan ke alat ukur gula darah digital [Foto: Roy Zuo/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Pasien yang memiliki sumber perawatan tetap punya peluang 16 persen lebih tinggi untuk patuh minum obat.
  • Pasien yang perjalanannya singkat lebih teratur berkunjung, tetapi lebih kecil kemungkinannya menjalani tes HbA1c dan tes lipid.
  • Pasien di wilayah dengan aksesibilitas tertinggi punya peluang 12 persen lebih tinggi menjalani tes HbA1c.
  • Pasien yang terutama berobat ke rumah sakit tersier punya peluang 29 persen lebih tinggi menjalani tes HbA1c dibanding pasien klinik.
  • Yang diukur dalam penelitian ini adalah proses perawatan, bukan hasilnya.
Daftar Isi
  1. Penyakit yang Menuntut Kesetiaan
  2. Langganan Tetap dan Kebiasaan yang Terjaga
  3. Dekat di Jalan, Jauh dari Tes
  4. Ke Mana Pasien Berobat Ikut Menentukan
  5. Peta Layanan dan Tangga yang Menanjak
  6. Batas yang Diakui Para Peneliti

Semakin dekat rumah seorang pasien ke tempat berobat, semakin lengkap pula perawatan yang ia terima; begitulah anggapan yang terasa wajar bagi siapa pun yang pernah mengantre di ruang tunggu. Catatan puluhan ribu pasien diabetes di Korea Selatan tidak sepenuhnya membenarkannya, sebab mereka yang tinggal dekat memang lebih rajin datang, tetapi justru lebih jarang menjalani tes yang dianjurkan untuk memantau penyakitnya.

Gambaran yang berliku itu disusun Rangkyoung Ha, Chang-yup Kim, dan Kyunghee Jung-Choi dalam artikel Regional-level spatial accessibility and diabetes management in South Korea: a multilevel analysis using national longitudinal data, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ha bekerja di National Health Insurance Service di Wonju dan di Seoul National University, Kim di Graduate School of Public Health universitas yang sama, sedangkan Jung-Choi di Ewha Womans University College of Medicine di Seoul.

Mereka mengikuti 81.588 orang dewasa yang baru didiagnosis diabetes tipe 2 pada 2014, lalu melihat dari tahun ke tahun, sejak 2015 sampai 2019, apakah pasien-pasien itu meminum obatnya, datang berobat secara teratur, dan menjalani dua tes pemantauan. Hasilnya membelah urusan merawat diabetes menjadi dua wilayah yang ternyata digerakkan oleh hal yang berlainan, yakni kebiasaan pasien di satu sisi dan keputusan pemberi layanan di sisi lain.

Penyakit yang Menuntut Kesetiaan

Diabetes, tulis ketiga peneliti itu, tidak dapat disembuhkan, sehingga pengelolaan yang terus-menerus menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah komplikasi dan kematian dini. Di Korea Selatan, sekitar 4,9 juta orang dewasa, atau 13,8 persen penduduk dewasa, diperkirakan hidup dengan diabetes pada 2020, dan penyakit ini termasuk dalam sepuluh penyebab kematian utama di negeri itu.

Namun, pengendaliannya masih jauh dari memadai. Hampir 40 persen penderita, menurut data yang mereka kutip, tidak mengetahui diagnosisnya, dan hanya kira-kira satu dari sepuluh orang yang berhasil mengendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol sekaligus. Komplikasinya pun tidak ringan, mulai dari stroke, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit ginjal, kehilangan penglihatan, sampai amputasi tungkai bawah.

Karena itulah hubungan yang bertahan lama antara pasien dan pemberi layanan dipandang sebagai tiang penyangga perawatan penyakit menahun. Dalam naskah ini hubungan tersebut diukur lewat keberadaan sumber perawatan tetap, yaitu tempat berobat yang paling diandalkan seorang pasien dari waktu ke waktu, semacam langganan yang ia datangi untuk sebagian besar keperluan kesehatannya. Sekitar 79 sampai 80 persen pasien yang diteliti tergolong memiliki langganan semacam itu.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Langganan Tetap dan Kebiasaan yang Terjaga

Di sinilah temuan pertama berdiri paling tegak. Pasien yang memiliki sumber perawatan tetap punya peluang 16 persen lebih tinggi untuk patuh minum obat, dan peluang 39 persen lebih tinggi untuk berkunjung secara teratur, dibanding pasien yang berpindah-pindah tempat berobat. Kunjungan teratur dalam naskah ini berarti sedikitnya satu kali rawat jalan pada setiap triwulan dalam setahun.

Pasien diabetes Korea, sekilasPasien diabetes Korea, sekilasPasien diabetes Korea, sekilasDiabetes tipe 2, diikuti 2015-201981.588pasienbaru didiagnosis2014+16%patuh obatbila punyalangganan+39%rutin datangbila punyalangganan+12%tes HbA1cdi wilayah aksestertinggiJalan risetnyaDiagnosis 2014Diikuti 2015-2019Empat indikator
Sumber: Rangkyoung Ha, Chang-yup Kim, Kyunghee Jung-Choi, Regional-level spatial accessibility and diabetes management in South Korea: a multilevel analysis using national longitudinal data, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hubungan itu, kata para penulis, sejalan dengan penelitian terdahulu di Korea yang mereka rujuk. Data Korea Health Panel tahun 2012 menunjukkan bahwa memiliki sumber perawatan tetap berkaitan dengan kepatuhan minum obat pada pasien penyakit menahun, dan hal serupa tercatat pada orang berusia 65 tahun ke atas. Penelitian lain mendapati pasien diabetes yang setia pada satu fasilitas lebih mungkin menjaga kepatuhannya, terutama mereka yang berobat ke klinik.

Justru sebaliknya yang terjadi pada tes pemantauan. Pasien yang memiliki langganan tetap tercatat 2 persen lebih kecil kemungkinannya menjalani tes hemoglobin A1c, atau HbA1c, dan 5 persen lebih kecil kemungkinannya menjalani tes lipid. Para peneliti merangkumnya dengan hati-hati: sumber perawatan tetap menopang perawatan rutin, tetapi tidak berkaitan secara positif dengan tes untuk memantau komplikasi.

Dekat di Jalan, Jauh dari Tes

Ukuran kedekatan memperlihatkan belokan yang sama. Rata-rata waktu tempuh pasien menuju tempat berobat selama lima tahun itu sekitar 23 menit, dan kira-kira 73 persen pasien hanya memerlukan 15 menit atau kurang. Mereka yang perjalanannya singkat ini punya peluang 4 persen lebih tinggi untuk berkunjung teratur, sehingga, menurut para penulis, kemudahan fisik tampak menopang kesinambungan perawatan.

Di situlah persoalannya, sebab kelompok yang sama tercatat 7 persen lebih kecil kemungkinannya menjalani tes HbA1c dan 3 persen lebih kecil kemungkinannya menjalani tes lipid dibanding pasien yang perjalanannya lebih dari 15 menit. “Agak paradoksal, pasien-pasien ini lebih kecil kemungkinannya menerima tes HbA1c dan panel lipid,” tulis Ha, Kim, dan Jung-Choi dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Mereka tidak memastikan sebabnya, dan hanya menyebut bahwa hubungan terbalik itu mungkin mencerminkan perbedaan ketersediaan sumber daya kesehatan atau perbedaan kebutuhan yang dirasakan pasien. Temuan ini, mereka akui, agak tidak sejalan dengan penelitian terdahulu di negara lain yang mendapati pasien yang tinggal lebih jauh dari layanan primer memiliki kendali gula darah yang lebih buruk, meski penelitian-penelitian itu mengukur hasil kesehatan jangka pendek, bukan proses perawatan.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Ke Mana Pasien Berobat Ikut Menentukan

Jenis tempat berobat ternyata membawa selisih yang jauh lebih lebar. Sekitar 65 persen pasien paling sering mendatangi klinik, disusul rumah sakit umum, rumah sakit, rumah sakit tersier, dan fasilitas kesehatan publik. Dibanding pasien klinik, mereka yang terutama berobat ke rumah sakit tersier punya peluang 29 persen lebih tinggi menjalani tes HbA1c dan 18 persen lebih tinggi menjalani tes lipid.

Pasien rumah sakit umum mencatat angka tes 9 sampai 10 persen lebih tinggi daripada pasien klinik. Namun, di ujung yang lain, pasien yang mengandalkan fasilitas kesehatan publik, yakni pusat kesehatan masyarakat dan cabang-cabangnya, tercatat 19 persen lebih rendah untuk tes HbA1c dan 15 persen lebih rendah untuk tes lipid. Kepatuhan minum obat dan kunjungan teratur, sebaliknya, umumnya lebih rendah pada pasien rumah sakit daripada pasien klinik.

Peluang dites dibanding pasien klinikPeluang dites dibanding pasien klinikPeluang dites dibanding pasien klinikMenurut tempat berobat yang paling sering didatangiRS tersierFasilitas publik+29%-19%Tes HbA1c+18%-15%Tes lipid
Sumber: Rangkyoung Ha, Chang-yup Kim, Kyunghee Jung-Choi, Regional-level spatial accessibility and diabetes management in South Korea: a multilevel analysis using national longitudinal data, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menyandingkan angka itu dengan penelitian kualitatif di Korea yang mereka kutip. Pasien diabetes dalam penelitian tersebut mengaku memilih rumah sakit tersier karena fasilitas dan peralatannya lebih unggul serta lingkungannya lebih menyenangkan, sedangkan klinik dipilih terutama karena mudah dijangkau, tetapi kerap dipandang kurang memiliki keahlian khusus dan sistem perawatan terpadu.

Peta Layanan dan Tangga yang Menanjak

Lalu ada lapisan yang berada di luar kuasa pasien, yaitu seberapa banyak tenaga kesehatan layanan primer tersedia di suatu wilayah dibanding jumlah penderita diabetes yang tinggal di sana, dengan jarak ikut diperhitungkan. Ukuran yang disebut aksesibilitas spasial ini ternyata tidak berkaitan secara bermakna dengan kepatuhan minum obat maupun kunjungan teratur, dua hal yang oleh para peneliti digolongkan sebagai hasil yang digerakkan perilaku pasien.

Namun, pada tes pemantauan, yang mereka golongkan sebagai hasil yang digerakkan pemberi layanan, muncul tangga yang menanjak. Pasien di wilayah dengan aksesibilitas tertinggi punya peluang 12 persen lebih tinggi menjalani tes HbA1c dan 3 persen lebih tinggi menjalani tes lipid dibanding pasien di wilayah dengan aksesibilitas terendah. Untuk HbA1c kenaikan itu bertahap dari satu kelompok wilayah ke kelompok berikutnya, sedangkan untuk tes lipid hubungan yang bermakna baru tampak pada kelompok wilayah teratas.

Dari situ para penulis menduga bahwa perbaikan aksesibilitas sedikit demi sedikit berkaitan dengan kenaikan pemantauan gula darah yang ajek, sementara kaitannya dengan tes lipid mungkin baru terlihat ketika infrastruktur kesehatan wilayah mencapai tingkat tertentu. Mereka menyebut penelitian di Tiongkok dan Amerika Serikat yang menunjukkan arah serupa, yakni ketersediaan dokter di suatu daerah berkaitan dengan pemakaian layanan rawat jalan dan pemeriksaan diabetes.

Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien

Bila seluruh temuan itu dibaca bersama, tulis ketiga peneliti, tampak perpisahan arah antara faktor wilayah dan faktor perorangan. Struktur layanan kesehatan di suatu wilayah agaknya terutama membentuk proses yang ditentukan pemberi layanan, sedangkan memiliki sumber perawatan tetap menopang keterlibatan pasien dan kesinambungan perawatan. Keduanya, menurut mereka, mungkin bekerja melalui jalur yang berbeda.

Simpulan mereka pun menunjuk ke luar perilaku pasien, sebab kesenjangan antarjenis fasilitas dan antarwilayah itu mereka baca sebagai ketimpangan sistemik dan hambatan struktural bagi perawatan yang adil. “Memastikan sumber daya kesehatan terdistribusi secara merata tetap penting untuk memperbaiki hasil perawatan diabetes dan mempersempit kesenjangan antarwilayah,” tulis Ha, Kim, dan Jung-Choi. Kesetaraan itu, lanjut mereka, mungkin memerlukan upaya terpadu yang sekaligus membangun kapasitas layanan primer dan memperkuat kesinambungan perawatan.

Batas yang Diakui Para Peneliti

Naskah ini mencatat sejumlah keterbatasannya sendiri. Data asuransi yang dipakai tidak memuat tingkat pendidikan, perilaku kesehatan, dan status sosial ekonomi wilayah, padahal ketiganya dapat memengaruhi akses maupun pengelolaan diabetes. Alamat rumah pasien pun tidak tersedia secara rinci, sehingga jarak dihitung dari titik pusat permukiman di tingkat kota kecil, kecamatan, dan kelurahan, dan waktu tempuh hanya memperhitungkan perjalanan dengan kendaraan, bukan berjalan kaki atau angkutan umum.

Ada pula batas yang lebih mendasar, yakni bahwa yang diukur adalah proses perawatan, bukan hasilnya. Kepatuhan minum obat, kunjungan teratur, dan tes pemantauan memang langkah antara yang penting, tetapi tidak langsung menggambarkan kendali gula darah, kunjungan ke unit gawat darurat, atau rawat inap akibat diabetes. Para penulis juga tidak menguji bagaimana faktor wilayah dan faktor perorangan saling memengaruhi, dan mereka mengakui sebagian keragaman antarwilayah mungkin masih tersisa tanpa terjelaskan.

Para penulis menutup dengan arah penelitian berikutnya. Menurut mereka, penelitian mendatang perlu memeriksa apakah perbaikan pada indikator proses itu berkaitan dengan hasil yang lebih baik, termasuk kendali gula darah, berkurangnya kunjungan ke unit gawat darurat, dan turunnya rawat inap akibat diabetes. Analisis interaksi, lanjut mereka, dapat membantu menjelaskan mekanisme yang menghubungkan struktur layanan wilayah, pemanfaatan layanan oleh perorangan, dan hasil pengelolaan diabetes.

Bagikan

Baca Juga

Darah Tinggi Lebih Dulu Datang daripada Diabetes pada Warga India
Guru Periksa Mata Murid, 7 dari 10 Kasus Gangguan Terjaring
Overdosis dan Jatuh Jadi Cedera Termahal di Amerika Serikat
Asap Rokok di Rumah Dihirup Hampir Seperlima Remaja Arab Saudi
Rokok Biasa Masih Lebih Dicari di Google daripada Rokok Elektrik
Pemegang Asuransi Tambahan di Swiss Lebih Sering Operasi Perut