- Di ujung rentang pengamatan, peluang tetap bebas dari hipertensi tinggal kurang dari 30 persen.
- Perempuan kota mencatat awal hipertensi tercepat, sekitar usia 30 tahun, dengan penurunan paling curam.
- Prevalensi diabetes memuncak 16,05 persen pada usia 65-74 tahun, lalu turun menjadi 11,38 persen.
- Menurut kedua penulis, riwayat keluarga adalah prediktor terkuat bagi kedua penyakit, terutama pada tahun-tahun awal.
- Datanya satu putaran survei, sehingga tidak dapat dipakai menarik hubungan sebab-akibat.
Daftar Isi
Pertanyaan itu diajukan berhadap-hadapan, dari pewawancara kepada orang berusia 45 tahun ke atas di desa dan kota India. Pernahkah seorang tenaga kesehatan mendiagnosis Anda mengidap tekanan darah tinggi? Bila jawabannya ya, menyusul pertanyaan berikutnya: kapan pertama kali, tahun berapa atau pada usia berapa. Hal yang sama ditanyakan untuk diabetes atau gula darah tinggi.
Jawaban 60.643 orang atas pertanyaan itu diolah Aditi Chakraborty dan Suryakant Yadav dari International Institute for Population Sciences di Mumbai. Hasilnya terbit sebagai A life course perspective on evolving hypertension and diabetes risk among older Indians di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor 1571, tahun 2026. Datanya berasal dari Longitudinal Ageing Study in India, survei tahun 2017-18.
Dari usia yang disebut para responden, tersusun dua garis yang menurun. Garis pertama adalah peluang seseorang tetap bebas dari darah tinggi, garis kedua peluang tetap bebas dari diabetes. Keduanya turun seiring umur. Tetapi garis darah tinggi turun lebih awal dan lebih curam.
Di ujung rentang pengamatan, peluang tetap bebas dari hipertensi tinggal kurang dari 30 persen. Untuk diabetes, peluang itu masih sekitar 65 persen. Kedua penulis membaca selisih itu sebagai tanda bahwa beban hipertensi lebih berat sepanjang hidup orang dewasa. Darah tinggi, dalam data ini, datang lebih dulu.
“Studi ini menegaskan bahwa hipertensi dan diabetes menempuh jalur perjalanan hidup yang berbeda tetapi saling bertumpang tindih pada orang dewasa tua dan lansia India berusia 45 tahun ke atas,” tulis Chakraborty dan Yadav dalam simpulan naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Jalur yang berbeda itu paling jelas terlihat ketika jawaban dipilah menurut tempat tinggal.
Kota
Di kota, garis itu mulai turun paling awal. Perempuan kota mencatat awal hipertensi tercepat, sekitar usia 30 tahun, dengan penurunan paling curam. Peluang mereka tetap bebas dari darah tinggi tinggal 20 persen di akhir pengamatan. Laki-laki kota menyusul rapat, mulai turun sedikit lebih lambat pada sekitar usia 40 tahun, dan berakhir pada kisaran 30 persen.
Angka prevalensi mengikuti arah yang sama. Di antara warga kota berusia 45–54 tahun, 24,26 persen mengidap hipertensi. Pada kelompok 65–74 tahun angkanya menjadi 49,29 persen. Angka diagnosis hipertensi di kota memuncak pada usia 55–64 tahun, yakni 17,18 persen.
Diabetes pun lebih banyak ditemukan di kota pada semua kelompok usia. Prevalensinya memuncak 30,30 persen pada warga kota berusia 65–74 tahun. Angka diagnosisnya memuncak lebih awal, 9,58 persen pada usia 55–64 tahun. Setelah faktor lain diperhitungkan, tinggal di kota berkaitan dengan rasio prevalensi 1,136 untuk hipertensi dan 1,527 untuk diabetes.
Ada satu belokan di kota. Untuk angka diagnosis hipertensi, tinggal di kota tidak bermakna pada usia 45–54 tahun, lalu berbalik menjadi pelindung sejak usia 55 tahun. Kedua penulis menduga hal itu mencerminkan kesadaran kesehatan yang lebih besar dan perubahan gaya hidup yang tepat waktu pada warga kota yang lebih tua.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Desa
Pindah ke desa, garisnya lebih landai. Laki-laki dan perempuan desa menunjukkan awal penyakit yang lebih lambat dan laju yang lebih pelan, dengan perempuan lebih rentan daripada laki-laki. Untuk diabetes, warga kota kembali lebih awal dan lebih curam daripada warga desa. Beda antara laki-laki dan perempuan pada diabetes hanya tipis.
Prevalensi hipertensi di desa bergerak dari 16,62 persen pada usia 45–54 tahun ke 28,41 persen pada usia 75 tahun ke atas. Angka diagnosisnya memuncak justru di kelompok tertua itu, 14,08 persen. Untuk diabetes pada usia 65–74 tahun, prevalensi warga desa 9,91 persen. Di kota, pada kelompok usia yang sama, 30,30 persen.
Kedua penulis tidak membaca desa sebagai tempat yang lebih sehat begitu saja. Menurut mereka, laju yang lebih lambat di desa mungkin mencerminkan perbedaan paparan risiko gaya hidup. Mungkin pula mencerminkan kesintasan selektif, yakni orang yang lebih sehat yang bertahan sampai usia tua di lingkungan perdesaan.
Soal layanan kesehatan ikut dicatat sebagai keterbatasan. Akses layanan dan cakupan diagnosis berbeda antarwilayah, dan hal itu bisa memengaruhi usia diagnosis yang dilaporkan. “Negara bagian dengan sistem kesehatan yang lebih kuat mungkin menunjukkan deteksi yang lebih dini, bukan kejadian penyakit sesungguhnya yang lebih tinggi,” tulis Chakraborty dan Yadav.
Usia 55 sampai 64
Dari tempat, jawaban itu dipilah menurut umur. Prevalensi hipertensi naik ajek, dari 19,08 persen pada usia 45–54 tahun menjadi 34,01 persen pada usia 75 tahun ke atas. Angka diagnosisnya naik-turun dan tertinggi di kelompok tertua, 14,7 persen.
Diabetes menempuh lintasan lain. Prevalensinya naik dari 8,02 persen pada usia 45–54 tahun ke puncak 16,05 persen pada usia 65–74 tahun, lalu turun menjadi 11,38 persen pada usia 75 tahun ke atas. Angka diagnosisnya memuncak lebih awal lagi, 6,13 persen pada usia 55–64 tahun, kemudian berangsur turun.
Mengapa dua penyakit itu berpisah jalan di usia lanjut? Kedua penulis menjelaskan pola hipertensi dengan teori beban kumulatif: faktor risiko menumpuk seiring waktu sehingga beban membesar di usia tua. Lintasan diabetes mereka kaitkan dengan risiko yang bersaing, ketika kematian oleh sebab lain mengurangi jumlah orang yang masih berpeluang terkena diabetes pada usia lebih lanjut.
Ada pula efek generasi. Menurut naskah, kelompok yang kini paling tua mengalami kondisi gizi, lingkungan, dan layanan medis yang berbeda dari orang dewasa tua masa kini. Karena puncak diagnosis diabetes jatuh pada usia 55–64 tahun, kedua penulis menyebut usia paruh baya sebagai jendela penting untuk pemeriksaan metabolik.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Berat badan
Selain ditanyai, responden survei itu diukur tinggi dan berat badannya. Dari ukuran tubuh itulah muncul tangga yang paling terjal. Pada orang dengan obesitas, prevalensi hipertensi sudah 36,75 persen di usia 45–54 tahun dan mencapai 73,65 persen di usia 75 tahun ke atas.
Untuk diabetes, orang dengan obesitas mencatat puncak prevalensi 40,42 persen pada usia 65–74 tahun. Pada kelompok usia yang sama, prevalensi orang berbadan kurus 4,06 persen dan orang berberat normal 13,66 persen. Angka diagnosis diabetes pada orang dengan obesitas memuncak 12,57 persen di usia 55–64 tahun.
Setelah faktor lain diperhitungkan, tangga itu tetap berdiri. Dibandingkan orang berbadan kurus, rasio prevalensi hipertensi adalah 1,936 pada orang berberat badan lebih dan 2,205 pada orang dengan obesitas. Untuk diabetes, rasio pada obesitas 2,717. Kaitan berat badan dengan diagnosis paling kuat pada usia 45–54 tahun dan melemah pada usia lebih lanjut.
Dua penyakit itu juga saling menyertai. Di antara pengidap diabetes, prevalensi hipertensi 47,6 persen pada usia 45–54 tahun dan melewati 70 persen pada dua kelompok tertua. Adanya diabetes berkaitan dengan rasio prevalensi hipertensi 1,887. Arah sebaliknya lebih besar: adanya hipertensi berkaitan dengan rasio prevalensi diabetes 2,742.
Kaitan itu berubah menurut umur. Pada usia 45–54 tahun, diabetes berkaitan dengan rasio diagnosis hipertensi 2,121, lalu angkanya menyusut menjadi 1,458 pada usia 75 tahun ke atas. Sebaliknya, hipertensi berkaitan dengan rasio diagnosis diabetes 2,901 pada usia 45–54 tahun, memuncak 3,179 pada usia 55–64 tahun, dan masih 2,867 di kelompok tertua.
Keluarga
Pewawancara juga menanyakan ayah, ibu, saudara kandung, anak, dan cucu: adakah di antara mereka yang pernah didiagnosis hipertensi atau diabetes. Jawaban atas pertanyaan itu ternyata menjadi penanda yang kuat. Menurut kedua penulis, riwayat keluarga adalah prediktor terkuat bagi kedua penyakit, terutama pada tahun-tahun awal.
Pada usia 65–74 tahun, prevalensi hipertensi orang yang keluarganya punya riwayat darah tinggi adalah 57,91 persen. Pada yang tidak punya riwayat, 27,93 persen. Untuk diabetes, jaraknya lebih lebar: 41,56 persen berbanding 12,13 persen. Rasio prevalensinya 1,482 untuk hipertensi dan 2,108 untuk diabetes, lebih dari dua kali lipat.
Di dalam keluarga itu, laki-laki dan perempuan memikul beban yang berbeda. Prevalensi hipertensi perempuan naik dari 22,22 persen pada usia 45–54 tahun menjadi 39,54 persen pada usia 75 tahun ke atas, sedangkan laki-laki tertua 28,2 persen. Untuk diabetes arahnya terbalik. Rasio prevalensi perempuan 0,708 dibandingkan laki-laki.
Pekerjaan dan harta ikut membedakan. Orang yang masih bekerja mencatat rasio prevalensi lebih rendah, 0,845 untuk hipertensi dan 0,781 untuk diabetes, dibandingkan yang tidak pernah bekerja. Prevalensi kedua penyakit naik seiring tingkat kekayaan. Di kelompok terkaya berusia 75 tahun ke atas, prevalensi hipertensi mencapai 43,32 persen.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Lembar jawaban
Tidak semua jawaban berbunyi seperti yang diduga. Kurang gerak dan gangguan tidur berkaitan dengan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi, dan kaitan kurang gerak dengan diagnosis hipertensi menguat seiring umur, dari rasio 1,148 ke 1,277. Tetapi pemakai tembakau dan peminum alkohol justru mencatat prevalensi yang lebih rendah daripada yang bukan pemakai.
Kedua penulis meminta pola itu dibaca hati-hati. Menurut mereka, hasil yang berlawanan dengan dugaan itu kemungkinan muncul karena responden kurang melaporkan kebiasaannya, karena bias kesintasan, atau karena sebab dan akibat yang terbalik. Pada kelompok usia 65 tahun ke atas, pemakaian tembakau baru tampak bermakna sebagai prediktor diagnosis hipertensi.
Naskah itu mencantumkan batasnya sendiri. Seluruh analisis bersandar pada ingatan responden tentang diagnosis dokter, sehingga terbuka bagi salah ingat. Datanya satu putaran survei, sehingga tidak dapat dipakai menarik hubungan sebab-akibat. Karena tidak memakai ukuran laboratorium untuk diabetes, angka yang muncul cenderung lebih rendah daripada keadaan sebenarnya.
Dari situ kedua penulis menarik saran. Strategi kesehatan masyarakat, tulis mereka, perlu berfokus pada pengenalan dini orang berisiko tinggi, pengelolaan berat badan, dan pemeriksaan terpadu untuk kondisi jantung dan metabolik. Intervensinya disesuaikan dengan umur dan dengan kerentanan sosial serta gaya hidup.
Begitulah jawaban atas pertanyaan kapan pertama kali didiagnosis tersusun dalam naskah itu. Untuk darah tinggi, jawabannya datang lebih awal dan terus bertambah sampai usia tertua. Untuk diabetes, jawaban paling banyak jatuh pada usia 55–64 tahun. Di kota, kedua jawaban itu datang lebih cepat daripada di desa.















